
"Tuan, dia sudah ada di sini." lapor Nako setelah ia mendapat kabar dari asisten Liam.
Delvano tersenyum kecut, pria itu benar-benar datang di saat-saat terakhir. Ia sudah selesai diperiksa, bahkan berjam jam yang lalu. Dengan hasil yang memang mengharuskannya untuk segera dioperasi.
Wajah cantik Tiara kembali menguasai pikirannya, hingga dilema menyeruak relung terdalamnya. Benarkah ini keputusan terbaik? dengan membiarkan Tiara gelisah sendirian tak mengetahui apapun tentangnya.
Bagaimana jika Delvano tak lagi mengingat Tiara saat terbangun nanti?
Atau bagaimana jika Tiara membencinya lantaran ditinggalkan tanpa penjelasan?
Lebih parahnya, mereka tak lagi bertemu dan Tiara berpaling pada yang lain.
Di tengah pikirannya yang terus berkecamuk, terdengar suara pintu yang dibuka dari luar.
Liam, pria yang sudah Delvano tunggu-tunggu, kini ada di hadapannya. Pria itu tak memakai jas, ia mengenakan pakaian santai cenderung berantakan. Entah apa yang terjadi pada Liam.
"Kau memang benar-benar menantang kesabaranku!" desis Delvano di detik pertama Liam memasuki ruangannya.
Delvano tak tau saja, hal apa yang sudah Liam hadapi agar bisa menemui dirinya.
Pria itu tetap membungkuk hormat, tak menghiraukan gerutuan sang CEO yang kini tengah duduk di ranjang khusus pasien.
Dapat Liam akui. Meski sedang tak berdaya sekalipun, aura Delvano masih tetap kuat menyihir setiap orang yang ada di hadapannya.
Liam tersenyum smirk, ia membuka jaketnya dan dengan segera sang asisten membantunya. Kemudian menduduki kursi tunggu di samping ranjang pasien tanpa diminta.
"Harusnya kau berterima kasih padaku Tuan Delvano yang terhormat. Aku..."
"Aku menerima tawaranmu!" sambar Delvano cepat.
"Kau yakin?"
Netra biru terang Liam menatap sekeliling, kemudian memberi isyarat pada Delvano melalui matanya.
__ADS_1
Delvano langsung paham, ia kemudian memerintahkan Nako untuk mengosongkan ruangan, kecuali dirinya dan juga Liam.
"Tapi Tuan..."
"Kenapa? Kau mengkhawatirkan sesuatu? Atau kau takut Tuanmu mati sia-sia di tanganku?" sarkas Liam sinis.
Nako tak menjawab, ia lebih memilih keluar ruangan, diikuti dengan yang lainnya.
Ada rasa cemas di hati Nako, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan yakin pada Tuannya.
"Aku tak percaya kau sungguh-sungguh menaruh curiga padaku sepenuhnya, ku rasa kau terlalu sibuk degan wanitamu, Tuan."
Krekk!
Brak!!
Pergerakan Delvano terlalu cepat. Ia berdiri, mencekik kasar leher Liam hingga mengakibatkan infusan di tangannya terlepas, dengan tiang penyangga yang membentur ke bawah lantai sana.
"Aku terpakasa meninggalkan Negaraku bukan untuk mendengar ocehanmu tentang istriku! Tawaranmu sudah aku terima, jadi jangan menyeret wanitaku dipembicaraan ini!" berang Delvano menatap nyalang Liam.
"Jadi benar? Kau sudah sadar dari amnesiamu brengsek!"
"Akkkk..."
Cengkraman tangan Delvano menguat, dan Liam mulai kesulitan bernapas. Ia seolah memancing di air yang keruh, memancing emosi Delvano yang saat ini dalam keadaan buruk.
"P-pikirkan baik-baik. Mengapa kau kesulitan mencari berbagai informasi tertentu yang seharusnya mudah saja kau dapatkan." ucap Liam terbata.
"Katakan dengan jelas!!" teriak Delvano naik pitam.
"K-kau terlalu terpaku pada kecurigaanmu terhadapku, jika kau benar-benar menyelidiki keluarga Gilbert. Maka fokusmu tidak akan hanya pada satu putranya saja. "
Cekikan di leher Liam mulai mengendur, pria itu terbatuk-batuk akibat oksigen yang menyentak masuk alat pernapasannya.
__ADS_1
"Sial" umpat Liam dalam hati.
"Gilbert mempunyai 2 pewaris?" gumam Delvano, seraya mundur perlahan.
Kala itu, Delvano benar-benar sedang dikuasai emosi. Sebenarnya, Liam sempat mengirimkan pesan melalui ajudannya. Namun sepertinya pesan penting itu tak pernah sampai ke telinga Delvano.
Liam bahkan mencoba mencari jalan pintas, ialah mengirim email ke perusahaan Delvano yang berisikan permintaan janji temu, juga sebagian informasi yang melarang Delvano untuk mendatangi undangan.
"Aku tak pernah mengenal Elmira secara pribadi."
...*...
...*...
Sementara di luar sana, semua orang tampak tegang. Tuan Gunz dan Nyonya Bellena sudah ada di sana sejak beberapa jam yang lalu.
Pasangan baya itu sudah menemui Delvano sebelumnya, juga sang putri yang berpamitan untuk kembali ke Negara mereka atas permintaan Delvano.
Sementara Nako berdiri di ujung lorong sana, ia terlihat menelfon dengan seseorang yang entah siapa.
"Dokter Tama, apa yang terjadi?"
Gurat kepanikan di wajah tampan dokter Tama begitu kentara, hingga Nyonya Bellena tak segan untuk bertanya.
Pasalnya, dokter Tama dan timnya berjalan tergesa hendak memasuki ruangan Delvano.
"Maaf Nyonya, tidak ada waktu lagi. Jadwal operasi Delvano terpaksa kami ubah."
"Apa maksudmu? Bukankah harusnya dilakukan nanti malam? Ada apa? Apa putraku baik-baik saja?"
"Maaf."
Pertanyaan beruntun sang Nyonya besar tak dihiraukan oleh dokter Tama, ia terus berjalan meninggalkan sosok seorang Ibu yang tengah mengkhawatirkan putranya.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi di dalam, hingga alarm pertanda pasien darurat telah menyala.