
Membicarakan keluarga Mahawira memang tak pernah ada habisnya. Termasuk tentang Tiara dan juga Alana. Hidup yang dijalani keduanya saat ini berbanding terbalik dengan 1 tahun lalu.
Khususnya Tiara. Hidup di Negeri orang tanpa adanya keluarga dari pihak dirinya. Membuat Tiara merasa bagitu asing dengan orang-orang sekitarnya.
Ingin rasanya ia sekali saja kembali ke masa-masa di mana dulu ia masih tinggal di Desa terpencil jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Zalara akan selalu jadi tempat paling berharganya, ia lahir dan juga besar di sana. Tiara juga mulai merindukan orang-orangnya. Terutama sang Paman.
Menurut informasi yang didapatkan dari orang-orang Delvano kala itu. Pak Aris sudah kembali ke Desa tak lama setelah Aryan keluar dari rumah sakit. Sepertinya pria baya itu memang tak betah berlama-lama tinggal di bangunan mewah. Ia lebih suka tinggal sederhana di rumah kayu dengan suasana asri khas pedesaan.
Sejujurnya, Tiara sangat sedih saat pertama kali mendengarnya. Sebab Pak Aris pergi begitu saja, tanpa berpamitan terlebih dahulu padanya.
Tiara jadi berpikir bahwa Pak Aris masih membencinya, karna dianggap lebih berpihak pada Delvano. Padahal, ia hanya ingin bertindak sesuai kewajibannya.
"Maafkan aku Paman." lirih Tiara. Matanya terpejam menikmati angin malam yang menerpa wajah cantiknya.
Meski luka fisiknya sudah sembuh, namun kilasan berbagai kejadian yang menimpanya tak bisa ia lupakan begitu saja. Diawal, Tiara cukup kesulitan melawan perang batin yang begitu mengganggu pikirannya.
Sebab Delvano tak mengunjunginya di 2 bulan pertama. Meski saat itu Tiara tak membuka suara, namun hatinya tetap bisa meraskan apapun yang diterimanya.
Bahkan Tiara sempat berpikiran buruk tentang Delvano. Karena menurut Tiara, sesibuk apapun seseorang akan meluangkan waktunya untuk dia yang diinginkannya.
Komunikasi mereka saat itu memang terbilang jarang, sebab Delvano tahu bahwa keadaan Tiara masih sama seperti sebelumnya.
"Kau sedang apa sayang? Ayo masuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan."
Suara yang terdengar berat dan indah itu mengagetkan Tiara, membuyarkan lamunannya. Ia menatap pada orang tersebut kemudian menyodorkan tangannya.
"Tarik aku." Pintanya dengan manja.
Tiara melemparkan senyum manisnya, ia masih duduk di undakan tangga yang menghubungkan ke kolam renang.
"Manja sekali. Haruskah aku gendong?"
"Aku berat."
"Kau meragukan kekuatanku, Nyonya?" sahut Delvano seraya menyeringai nakal.
Dengan mudah Delvano mengangkat tubuh sang istri dengan ringan. Namun ia tak membawa Tiara ke dalam kamar seperti yang ia katakan sebelumnya. Ia malah mendudukan istrinya itu di atas pangkuannya.
"Hei. Kau bilang angin malam tak bagus untuk kesehatanku, lalu ini apa?"
__ADS_1
"Aku akan memelukmu. Seperti ini," ucap Delvano dengan mengeratkan belitan tangannya. "Jadi kau tidak akan kedinginan." katanya lagi.
"Kau sedang menggodaku?" bisik Tiara seraya mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh sang suami.
"Hem, katakanlah seperti itu." Jawab Delvano lalu mengecup pipi Tiara yang kini sudah kembali chubby, setelah sebelumnya ia kehilangan banyak berat badan.
2 tahun sudah mereka melewati semua kenangan pahit itu. Kini Tiara sudah kembali ke Tanah Air dengan keadaan yang jauh lebih baik.
Di sini sangat sepi, hanya ada mereka berdua. Juga para maid dan bodyguard saja yang meramaikan suasana. Delvano sengaja membangun mansion yang baru, menyesuaikan dengan kenyamanan sang istri. Ia tak ingin membawa Tiara kembali ke mansion utama, lantaran khawatir istrinya itu akan mengingat peristiwa menyakitkan di masa lalu.
...*...
...*...
Hari ini, tiba saatnya Delvano mengambil langkah yang selama ini ia tunda-tunda. Yakni memperkenalkan sang istri secara langsung ke hadapan publik.
Semua para awak media sudah berkumpul di depan lobi perusahaan paling besar itu. Jepretan dari lensa camera para wartawan mulai terdengar kala sang bintang memasuki area yang sudah disiapkan.
Sebuah karpet merah yang membentang langsung ke arah mobil sang Big Boss. Iring-iringan para petinggi perusahaan menyusul dari belakang mengikuti mobil yang dikendarai Nako.
"Kau sudah siap Ara?" tanya Delvano lembut. Ia menggenggam kedua jemari sang istri, lalu mengecupnya mesra.
Anggukan mantap Tiara Delvano anggap sebagai jawaban, ia mengerti bahwa istrinya itu sedang gugup. Sebab ini pertama kalinya wanita cantik dengan gaun merah muda itu berdiri di hadapan banyak orang, dengan kamera yang akan menyorot langusng padanya.
"Jangan berkata seperti itu, kau semakin membuatku gugup sayang."
"Ayo," Ajak Delvano dengan sisa kekehannya.
"Rileks sayang." kata Delvano lagi.
Pria dengan tubuh gagahnya itu keluar lebih dulu. Delvano nampak semakin mempesona dengan balutan jas formal rancangan designer terbaik di seantero kota.
"Ternyata Nyonya Muda jauh lebih cantik dilihat langsung dari pada di foto."
"Kau benar, mereka pasangan yang serasi."
"Ah. Yang satu tampan, dan satunya cantik. Sangat cocok."
Semua orang berbisik memuja, tak sedikit pula yang menaruh rasa iri terhadap pasangan yang tengah penomenal itu.
Kembalinya Tiara memang mencuri perhatian banyak khalayak. Selain kecantikan yang dimilikinya, sikap baik dan ramah Tiara pun mendapat decak kagum dari publik.
__ADS_1
Tiara berjalan dengan anggun, ia menggandeng tangan sang suami menuju tangga lobi di atas sana.
"Tuan, tolong perkenalkan wanita cantik yang ada di samping anda." Pinta salah satu wartawan yang ada di sana.
"Ini istriku, wanitaku, rumahku, duniaku. Mutiara Anandhita, Nyonya Muda Mahawira. Satu-satunya wanita yang akan mendampingiku." Ucap Delvano lantang.
Semua orang semakin riuh, di iringi flash kamera yang terus mengambil gambar pemandangan sempurna ini.
Sedang Tiara hanya mengukir senyum di wajahnya. Ia sudah tak segugup tadi, perlahan sudah bisa menguasai dirinya sendiri.
"Terimakasih semua sambutannya, aku akan selalu mendampingi suamiku apapun yang terjadi."
Suara yang mengalun lembut dari mulut Tiara seolah menyihir semua yang ada di sana. Banyak dari mereka yang hanya mengarahkan kameranya pada Tiara saja, menimbulkan gelenyar tak rela dari Delvano.
Meski sejujurnya Delvano merasa bangga pada Tiara yang dengan berani dan mampu mengimbanginya. Tak salah memang, sebab selama ini wanitanya itu sering berlatih di depan cermin dengan didampingi Alana.
"Kau hebat sayang." Bisik Delvano di telinga Tiara.
Keduanya kini sudah tiba di ruangan Delvano. Pria itu menarik sang istri agar duduk di pangkuannya.
"Jangan lakukan apapun, ini di kantor sayang." Cegah Tiara. Sebab tangan Delvano sudah tak terkontrol, merayap ke segala arah tanpa aba-aba.
"Memangnya kenapa? Ini kantorku, aku bebas melakukan apa saja." Balas Delvano seraya melancarkan aksinya.
"Tap..."
Tiara tak mampu menyelesaikan perkataannya, sebab Delvano sudah lebih dulu membungkam mulut Tiara dengan ciumaannya yang sedikit tergesa.
"Lakukan." Serak Delvano.
Ia mempersilakan sang istri agar meminpin. Matanya benar-benar tak lepas dari wajah Tiara selama permainan mereka berlangsung. Rasanya ia ingin setiap hari melihat ekspresi kepuasan itu dari wajah istrinya. Hanya karna dirinya.
Ia akan melakukan apa saja agar kebahagiaannya dan juga Tiara tak terusik lagi oleh siapapun.
...END...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih banyak untuk semua dukungan teman-teman, para pembaca Delvano dan Mutiara yang sudah setia mengikuti dari awal. Tadinya bab mereka masih ada beberapa, berhubung akhir-akhir ini kesehatan othor sering drop jadi aku rasa memang sebaiknya diselesaikan saja ceritanya.
Sampai ketemu lagi di novel berikutnya. Love you all. 🥰🥰🥰
__ADS_1