
"Si-siapa kau?..."
Mata Tiara melotot kaget. Ia memundurkan langkahnya berusaha menjauh dari jangkauan orang tersebut.
Menelan salivanya susah payah, Tiara menggeleng lemah saat melihat orang itu mengeluarkan sebuah pisau dari balik jubahnya. Setengah wajahnya ditutupi topeng hingga Tiara tidak dapat melihat dengan jelas. Terlebih susana malam yang gelap mempersulit semuanya.
"Pergi!" seru Tiara lantang.
Tiara berjalan mundur, ia kesulitan bernapas hingga rasanya pergerakannya melambat akibat dikuasai rasa takut. Kakinya terasa berat dan sulit digerakkan.
Sosok berjubah hitam itu perlahan mendekati Tiara dengan pisau di tangannya. Ia menarik sudut bibirnya, melempar senyum sinis pada Tiara. Wanita di hadapannya benar-benar bodoh dan mudah dipermainkan. Sama sekali tidak berubah, masih sama seperti dulu. Naif, dan sembrono.
Sementara itu Tiara masih bergelut dengan pemikirannya yang mulai kacau. Tubuhnya melemas, maksud hati ingin berlari, namun kakinya malah tersandung bebatuan dan seketika Tiara terjatuh duduk di atas kerikil bercampur tanah yang lembab.
Keadaan itu dimanfaatkan orang tersebut, ia mempercepat langkahnya membuat Tiara refleks berteriak dan berdiri.
"Aaaaaaaa!!"
Tiara beranjak, entah kenapa tubuhnya terasa lebih berat 2 kali lipat dari yang sebenarnya. Susah sekali membawa diri dan mengendalikan perasaannya.
Sedikit saja Tiara terlambat, sudah pasti ia akan tertangkap. Untungnya hal itu tidak teradi sebab Tiara sudah lebih dulu berlari.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi.
"Toloooong!" hal itu hanya bisa Tiara teriakan dalam hati. Tenggorokannya serasa tercekat, ia kesusahan mengeluarkan suara bahkan untuk sekedar mengambil napas di situasi seperti ini rasanya sangat sulit. Sesak rasanya.
Sosok berjubah hitam itu terus berusaha menjangkau Tiara. Ia semakin melebarkan langkah tatkala wanita di hadapannya sedikit lagi akan mendekati kendaraannya.
"Jangan sampai lolos, jangan sampai lolos." bathinnya.
"Aaaaaa!!! Pergi!!"
Tiara berteriak histeris, ia menatap lekat pada pintu mobil di tengah kakinya yang terus berusaha mengikis jarak. Ia terus berlari mencoba menguasai diri dari rasa takutnya.
Grebb!!
Tiara berhasil menyentuh pintu mobil, namun sayangnya di saat bersamaan orang berjubah hitam itu pun berhasil meraih pergelangan tangan Tiara.
Refleks Tiara menepis dengan kasar!.
__ADS_1
Plak!
Punggung tangan Tiara tak sengaja mengenai wajah orang itu hingga menampar pipinya cukup keras. Seketika kepalanya tertoleh ke samping. Ia menahan kegeramannya dengan menggertakan giginya hingga berbunyi nyaring.
"Sialan!" umpatnya berdesis.
Dengan cepat ia memperbaiki posisinya, ia kembali ingin menangkap Tiara namun sialnya wanita itu menggunakan kesempatan emas tersebut dengan baik.
Tiara segera membuka pintu mobil lalu menutupnya secepat kilat.
Blam!!
Napas Tiara terengah. Dadanya naik turun berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Tubuh Tiara sudah gemetar, ia memegang stir mobil dengan begitu erat.
"Ha? Pergi ke mana orang itu?" gumam Tiara bingung.
Sosok berjubah hitam itu tiba-tiba hilang. Tiara tidak dapat menemukan dimana keberadaan orang itu sekarang. Sudah pergi? ataukah masih berada di sekitarnya? atau ... ada di jok belakang mobilnya?.
Seketika Tiara menengok ke belakang.
Set!
Di saat seperti ini ia harus kuat dan berani. Tiara kembali menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Sepertinya orang aneh itu sudah tidak ada, mungkin karena kelelahan atau berubah pikiran.
Akan tetapi di saat Tiara memalingkan wajah kembali ke depan, orang itu sudah berdiri di sana dengan menenteng batu yang berukuran cukup besar.
Sontak Tiara menjerit ketakutan.
"Aaaaaa!!!"
Manusia berjubah hitam itu mengangkat batu seukuran kepala anak kecil, ia siap menghantam mobil milik Tiara menggunakan benda keras tersebut.
Tiara refleks menyalakan mesin dan menginjak pedal gas, ia memundurkan kendaraannya dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya orang itu berhasil melempar batu dan mengenai kaca depan mobil milik Tiara.
Brak!!!
Crak!!!
"Aaaaaa."
__ADS_1
Tiara terus berteriak seraya mempercepat laju mobilnya, sebab orang itu terus berlari mengejar kendaraan Tiara dengan laju mundur. Teriakan Tiara terus melengking, terlebih pada saat ia merasakan ban mobil belakangnya terperosok entah ke dalam lubang, atau mungkin selokan yang cukup dalam.
Tiara tak dapat memperkirakannya, sebab ia tidak bisa melihat apapun di belakang sana. Otomatis pergerakan mobilnya terhenti, meski berkali-kali Tiara mencoba kembali meyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Namun mobilnya tidak berpindah sama sekali, hanya roda ban belakang saja yang terus berputar menambah lubang tersebut semakin dalam dan menyusahkan Tiara.
"Kumohon, kumohon, kumohon." Tiara terus melapalkan satu kata itu.
Siapapun tolong Tiara, ia tak ingin lagi mengalami kejadian nahas itu terulang kembali seperti malam kelam kala itu. Sungguh. Ingatan Tiara tertarik pada peristiwa mengerikan di masa lalu. Tiara menggeleng keras, ia sudah meneteskan air mata dengan keringat dingin yang mulai bercucuran dari pelipisnya.
"Toloooong!!" Ucapnya terisak.
Kakinya melemas kala ia menangkap sosok tadi semakin mendekat ke arahnya. Tiara jadi bertanya-tanya dalam hatinya. Apa salahnya? mengapa orang itu seakan ingin menelannya hidup-hidup? apa tujuan orang itu mengajaknya bertemu di tempat seperti ini?.
Ah, ini jelas kebodohannya. Hanya karena ia terlalu cemas pada keadaan sang suami, Tiara sampai dibutakan dengan sesuatu yang nyatanya mengancam keselamatannya sendiri. Harusnya ia bisa menebak bahwa mungkin saja ini adalah jebakan seseorang yang tidak menyukai keberadaannya di keluarga Mahawira, atau ulah orang iseng yang hanya ingin menciptakan berita.
Ah, malang sekali. Harusnya Tiara berpikir ulang sebelum menyalakan mesin tadi ketika masih berada di parkiran mansion.
"I got you, sweety." ucap seseorang di balik pilar sana. Bukan, itu bukan si pemilik jubah hitam. Ia adalah seorang pria yang sejak tadi menyaksikan adegan kejar-kejaran 2 orang di hadapannya. Ia bahkan tertawa keras saat Tiara terjatuh duduk tadi.
Pria itu mengubah posisi yang tadinya bersandar seraya melipat dada kini ia menegakkan tubuh lalu berjalan perlahan. Pria tersebut berjalan pincang, ia menyeret sebelah kakinya yang sudah tidak lagi bisa ia gunakan dengan seharusnya.
Akibat ulah seseorang di masa lalu, kini ia jadi cacat seumur hidupnya. Dan itu sungguh membuatnya frustasi.
"Kali ini kau tidak akan bisa lepas dariku, tikus kecil." gumamnya disertai senyum yang mengerikan. Sebab tak hanya kakinya saja yang mengalami kecacatan, wajahnya pun terlihat berantakan dan menakutkan. Permukaan kulitnya nampak terlipat hingga ke ujung matanya, Seperti bekas kecelakaan atau sengaja dirusakkan. Entahlah.
"Tidak! Kumohon menjauh! Menjauh!" seru Tiara dari dalam mobilnya.
Sosok berjubah hitam itu sama sekali tak peduli, ia berjalan mantap mendekati pintu mobil tepat di sebelah Tiara. Berusaha membuka pintu namun sayangnya tidak bisa, sebab Tiara sudah lebih dulu menguncinya.
Tak kehabisan akal. Orang itu kembali menggunakan batu untuk menghancurkan kaca jendela mobil milik Tiara.
Tiara menggeleng keras, sementara si pemilik jubah hitam menyeringai. Ia mengangkat batunya, dan...
.
.
.
Brakkk!!!
__ADS_1