Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Gebuan Cinta Delvano


__ADS_3

Ciu man mereka semakin intens dan terburu-buru. Bahkan kini Tiara sudah berada di atas pangkuan Delvano sembari terus saling menye sap, decap bibir keduanya terus menggema di dalam mobil milik Delvano.


"Enghh.." Tiara melenguh, mer emas pelan rambut belakang Delvano seiring cum buan pria itu yang semakin liar dan tak terkendali.


"Aku merindukanmu Ara." ucap Delvano berat. Sungguh Delvano tak sanggup lagi menahan pembengkakan di bawah sana.


Iris mata keduanya saling mengunci, dengan napas yang tersengal-sengal. Tiara mengambil kesempatan itu untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Tiara bisa merasakan gebuan cinta yang terpancar dari mata Delvano, ia tau betul dengan apa yang di inginkan suaminya. Dengan penuh has rat, Tiara memberanikan diri untuk kembali melabuhkan ciu mannyan lebih dulu.


Delvano menarik sudut bibirnya, tentu ia menyambut baik dengan menarik tengkuk Tiara untuk memperdalam ciu mannya.


Dengan gerakan cepat, Delvano memposisikan bagian intinya yang sudah sangat sesak menginginkan lebih. Ia menjaga kontak matanya dengan Tiara yang kini terlihat sangat seksi di matanya ketika ia menyentaknya kuat.


Beruntung Delvano memarkirkan mobilnya di parkiran bagian dalam mansion hingga kegiatan keduanya aman dari gangguan mata para penghuni di sana.


Tapi tidak dengan seorang pria yang sejak tadi berada dibalik tembok besar di samping mansion sana. Ia menyeringai puas dengan apa yang di lihatnya saat ini.


"I got you." ucapnya hanya dengan gerakan bibir saja.


"Sayang." erang Delvano frustasi saat ritme gerakannya semakin cepat.


"Kak."


"Kau membuatku gila Ara." bisik Delvano saat ia mendapatkan pelepasannya. Lega. Itu yang dirasakannya.


"Aku sangat mencintaimu Ara."


"Tidak Kak, ini salah. Dia... Istrimu..."


"Kau adalah istriku!."


"Tidak, posisiku tidak cukup layak untukmu Kak. Bahkan pernikahan kita saja tidak tercatat, jadi..."


"Aku akan mengurusnya!." pungkas Delvano cepat.


Demi Tuhan Delvano tidak ingin kehilangan Tiara. Ia tau, bahwa mendayung di dua perahu sekaligus ialah hal yang mustahil dilakukan. Tapi Delvano tidak ingin gegabah mengambil keputusan, yang akan ia sesali di kemudian hari.

__ADS_1


"Turunkan Aku!." rengek Tiara.


"Tidak akan." sahut Delvano seraya menggendong tubuh Tiara keluar dari mobil, wanita menempel erat seperti koala dalam dekapan Delvano.


"T-tuan!."


"Jaga matamu!."


Nako segera menundukkan pandangan saat ia menyadari keadaan dua orang itu dalam keadaan yang masih berantakan.


Sementara Tiara hanya diam, menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Delvano.


"Ah, sial." umpat Nako dalam hati.


Ia tadinya ingin memberikan laporan pada Big Bossnya, tapi sepertinya ia harus menundanya.


"Jangan biarkan orang itu lolos!." geram Delvano seraya memberikan isyarat yang hanya dia dan Nako saja yang tau.


Nako tersentak. Delvano sepertinya sudah mengetahui penggangu itu sudah mulai melancarkan aksinya.


...*...


...*...


"Berita di luar sana semakin tidak terkendali akibat kejadian tadi pagi Tuan, hal itu juga sudah sampai ke telinga Tuan dan Nyonya besar."


Delvano mengeraskan rahangnya kuat, ia tentu tau rumour murahan itu akan terjadi. Di tambah dengan kejadian di jalan tadi yang pastinya menyita banyak perhatian banyak pihak.


"Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?." desis Delvano tajam.


"Tapi saya rasa ini juga ada hubungannya dengan kejadian kecelakaan Anda waktu itu."


"Shittt!"


Delvano geram dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mengingat bagian puzzle lain yang hilang dari memorinya.


Selain rekan bisnisnya yang masih jadi ancaman, Delvano juga kesulitan menentukan sikap pada Elmira dan juga si kecil Aiden. Ia sama sekali tidak bisa merasakan apapun saat berdekatan dengan wanita itu, benarkah hubungan merek sebelumnya baik-baik saja?.

__ADS_1


"Arghhhh!!! Sial!!!." Teriaknya menggema di seisi ruangan.


Brakkk!!!..


Delvano menendang meja berkualitas tinggi itu dengan penuh emosi.


"ini menyiksakuku Nako!, kau tau aku tidak ingin terus menyakiti istriku.!."


"Apa yang kau ketahui mengenai hubunganku dan Elmira?, apa tidak ada yang bisa kau jelaskan?." tanya Delvano terengah di sela emosinya.


"Sebelum Tuan berangkat ke undangan bisnis, Anda dan Nyonya Elmira terlibat cekcok di mansion Anda yang satunya. Hanya saja, saya tidak mendengar dengan jelas apa yang Tuan dan Nyonya perdebatkan."


"Selidiki semuanya!."


"Apa ada hal, benda atau apapun itu yang memancing ingatan Tuan?."


"Tidak, aku bahkan tidak bisa memikirkan apapun. Hanya saja, aku tidak mengerti mengapa pakainku lebih banyak di sini daripada di tempat Elmira."


"Ini adalah tempat pribadi Anda Tuan, maksud Saya... ini tenpat perkumpulan khusus saat kita harus membicarakan hal penting. Contohnya seperti sekarang." ujar Nako yang dengan setia berdiri di hadapan Tuannya.


"Perkumpulan?."


"Ya, Tuan. Anda, dan teman-teman Anda."


"Siapa?."


"Saat ini, Anda harus lebih fokus pada kesehatan Anda Tuan. Kamar yang di tempati Nona Tiara adalah ruangan paling pribadi Anda. Tidak ada satu orangpun yang Tuan perbolehkan masuk ke dalam sana, termasuk saya. Mungkin Tuan bisa memulainya dari sana." tutur Nako panjang lebar.


Delvano adalah manusia paling keras kepala, ia tidak ingin memberikan luka baru yang akan menghancurkan Tuannya dengan sebagian kecil yang ia ketahui.


Namun entah sadar atau tidak, hal itu akan jadi Bom Waktu di kemudian hari.


...*...


...*...


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2