Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Harapan yang patah


__ADS_3

Mutiara Anandhita, gadis biasa yang hanya memiliki harapan sederhana. Hidup bahagia bersama orang terkasih, tanpa ada jiwa lain yang harus menanggung perih.


Tapi sekarang, apa yang harus gadis malang itu lakukan?, haruskah ia pergi setelah suaminya menemukan keaslian jati diri?, tidak hanya sudah memiliki kekasih hati, bahkan pria yang ia cintai itu sudah beristri.


"Siapa nama anda Nona?." tanya Elmira seraya menyentuh tangan Tiara.


Keduanya masih berdiri di tempat yang sama.


"Aku.." Tiara hampir tak bisa bernapas dengan benar, wanita itu masih terguncang sebab kenyataan ternyata tak seindah harapan.


"Jangan salah paham, aku hanya ingin berterimakasih dengan benar. Apa yang kau butuhkan?, aku pasti akan memberikannya." tutur Elmira, ia sempat menelisik keseluruhan penampilan wanita yang ia rasa usianya jauh lebih muda darinya.


Elmira menyunggingkan senyum, jelas wanita dihadapannya ini berada jauh dibawahnya. Sama sekali tida sekelas dengan dirinya, yang adalah wanita sosialita di kalangan atas.


"Tidak nyonya,terimakasih." ucap Tiara yang mulai bisa menguasai dirinya.


Ia melirik sekilas pada pria yang tengah berbaring itu. Benarkah kau akan diam saja?, tak adakah kata yang ingin kau sampaikan padaku?, jerit Tiara dalam hati.


"Uang!, kau pasti butuh uang Nona, setidaknya untuk mengganti pengeluaranmu selama suamiku menumpang ." tutur Elmira.


"Nyonya, sepertinya nona ini butuh istirahat. Biar saya yang akan mengantarnya." timpal Nako tiba-tiba.


"Tuan Nako benar, saya memang harus pergi dari sini."


Kilatan kekelaman disertai gertakan gigi yang beradu tertahan itu membuktikan betapa hatinya kini terasa sesak, hingga menghantam jantungnya yang seperti diremas kuat. Harus pergi?.

__ADS_1


"Ya, benar. Delvano juga masih butuh istirahat, dokter bilang ingatannya memang sudah kembali meskipun belum pulih sepenuhnya. Kau tau sayang, tadi aku sempat terkejut saat kau bertanya siapa aku ketika pertama kali kita bertemu tadi." Elmira terkekeh seraya kembali mendekati ranjang Delvano.


"Saya pamit Tuan, Nyonya." ucap Nako membungkuk hormat.


Ia segera bergegas dari sana, menyusul Tiara yang sudah lebih dulu pergi.


...*...


...*...


Entah kalimat apa yang mampu mewakili perasaan Tiara saat ini. Menumpang?, suami?, bahkan perempuan itu menawarkannya imbalan.


Aku tidak butuh semua itu!, aku hanya ingin suamiku!. Semua itu hanya bisa Tiara teriakkan dalam hati.


Para pria berbadan kekar itu tengah menghadang para awak media yang ingin menerobos masuk.


"Ikut saya Nona."


Tiara sedikit tersentak dengan suara berat yang berada tepat disamping telinganya.


Dia adalah Nako, pria itu mengarahkan Tiara untuk melewati pintu samping rumah sakit.


"Pakai ini."


"Untuk apa?."

__ADS_1


Dahi Tiara mengerut bingung, kenapa ia harus menutupi wajahnya dengan masker?.


"Anda harus mengikuti perkataanku jika ingin tetap aman Nona."


"Bagaimana caranya?, bahkan aku sendiri tidak mempercayaimu Tuan. Kita tidak saling kenal."


Tiara segera mengembalikan benda itu pada Nako, kemudian ia berbalik badan hendak pergi.


"Maaf Nona, kita harus segera pergi dari sini."


Tanpa aba-aba, Nako segera memangku Tiara seperti karung beras. Teriakan histeris Tiara sama sekali tidak pria itu hiraukan. Ini darurat!.


"Maaf Tuan, aku terpaksa melakukan ini." ucap Nako dalam hati.


Ia di perbolehkan melakukan apapun jika keadaan sudah mendesak bukan?, itu yang selalu Delvano perintahkan padanya selama ini.


Pemberitaan Delvano diluar sana masih belum surut, bahkan semakin panas tak terkendali.


Tiara ada di dalam video 30 detik itu, maka bukan tidak mungkin gadis berwajah polos itu akan jadi incaran orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


...*...


...*...


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2