
Di ruangan pasien yang menyerupai kamar hotel itu sudah di isi oleh beberapa orang. Nako, dokter Tama dan tim, serta gadis cantik yang kini terlihat begitu menempel manja di samping Delvano.
Nako yang sejak tadi gatal ingin mengingatkan sang gadis, lagi-lagi hanya bisa mengangguk pasrah sebab Delvano selalu memberi isyarat larangan untuknya.
"Biarkan!"
Begitulah cara Delvano menolak niatan Nako yang sudah gemas, ingin menyeret gadis cantik bak lintah itu.
"Siapkan dirimu, kita akan mulai pemeriksaan menyeluruh sebentar lagi." peringat dokter Tama.
"Aku harus bertemu si brengsek itu dulu!"
"Pikirkan dulu kesehatanmu. Untuk urusan penandatanganan perwalian, kau tetap harus mendatangkan Tuan Gunz dan Nyonya Bellena."
"Adiku saja sudah cukup!"
"Tidak bisa. Lagipula aku sudah memberitahukan perihal kondisimu yang sebenarnya, kemungkinan keduanya sedang dalam perjalanan kemari."
Mendengar hal itu, sontak Delvano mendengus kasar.
"Huhh, kau sangat menyebalkan!"
"Ini bukan masalah sepele Vano! Keluargamu harus tau," sergah dokter Tama merasa sangat jengkel.
"Kau harus ingat resiko terburuk dari operasimu. Apa kau tak ingin menyampaikan kata-kata terakhirmu?"
"Brengsek!" umpat Delvano.
Candaan dokter Tama berhasil memancing ekspresi Delvano yang sejak tadi terus saja menegang kaku. Di saat seperti ini, ia merasa beruntung lantaran masih ada sosok sahabat yang bisa sedikit mencairkan suasana.
Setelah memperingatkan Delvano, dokter Tama beserta tim keluar dari ruangan. Kali ini, pria keras kepala itu tak lagi bisa mengelak, sebab kondisinya semakin melemah, bukan pilihan yang bagus jika terus dibiarkan.
__ADS_1
Namun sebelum operasi dilakukan, Delvano tetap saja harus melewati berbagai prosedur. Setelah dokter ahli mendapati hasil rekam medis pasien, barulah tindakan seperti apa yg harus diberikan.
Sepeninggal para tim medis, Delvano kembali merenungi ucapan dokter Tama.
Ya, harusnya Delvano memikirkan hal terburuk dari hasil operasi nanti. Kalau saja semua berjalan lancar? lalu bagaimana jika ini adalah akhir dari hidupnya?.
Bukankah kehadiran keluarga adalah hal paling penting di saat-saat seperti ini?.
Namun begitu, Delvano tetap pada keputusannya. Ia tak ingin Tiara tau, wanita itu pasti akan histeris dan berlari padanya tanpa memikirkan apapun.
Delvano sangat mencintai sang istri. Bagaimana ia bisa benar-benar terpisah dari belahan jiwanya? Delvano tak ingin akhir kisah cintanya dengan Tiara berujung menyedihkan seperti ini.
Akhirnya, Delvano memutuskan menyuruh sang adik agar kembali saja ke Negaranya untuk menemani Tiara. Istrinya itu pasti akan sangat kesepian, terlebih Nyonya Bellena tidak akan ada di sampingnya untuk sementara waktu.
"Kembalilah, temani istriku di sana!"
Beruntung, di saat seperti ini sang adik bisa diajak kerja sama. Wanita cantik dengan balutan pakaian casual itu langsung menyetujui permintaan sang kakak.
Gadis cantik itu tidak buta informasi, ia cukup tau semua hal yang sudah terjadi pada sang kakak. Termasuk, pernikahan antara Delvano dan juga Tiara.
...*...
...*...
"Aku ingin melihat wajah istriku lebih dulu." pinta Delvano dengan tatapan kosongnya.
Nako langsung mengerti maksud dari Tuannya, ia segera meraih ponsel dan segera menghubungi yang bersangkutan. Namun berkali-kali Nako mencoba, panggilan tetap tak terhubung.
"Ponsel Nyonya Tiara masih belum aktif Tuan."
Delvano semakin cemas, sebab sejak kemarin Tiara tak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Hubungi pelayan yang ku tugaskan mengawasinya!"
"Baik."
Setelah panggilan tersambung, Nako segera menjelaskan tujuannya, dan meminta si pelayan agar segera mengubahnya ke panggilan video.
Nampak pelayan tersebut mengarahkan kameranya pada sosok wanita cantik yang kini tengah duduk manis seraya merangkai bunga.
Wajah pucat Delvano seketika berseri, sorot mata penuh kerinduan dengan rasa mendalam itu begitu membuat iri para perawat wanita yang kini turut menyaksikan pemandangan mengharukan ini.
"Ara..." lirih Delvano menyentuh layar pipih di hadapannya.
"Tunggu aku sayang, aku akan segera kembali." bathin Delvano.
Seperti telephati yang saling berkaitan antara kedua insan, Tiara seolah bisa merasakan adanya kehadiran sang pemilik hati di dekatnya.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segela arah. Mencari sosok terkasih yang begitu ia dambakan.
"Sayang..." gumam Tiara.
Tiba-tiba hatinya terasa perih tersayat sembilu. Sesak dan denyut kepedihan itu mulai merayapi rongga dadanya.
"Apa yang terjadi padamu sayang..." lirih Tiara seraya menyentuh dadanya.
Bulir bening itu menetes sendirinya, mengeluarkan rasa sakit yang membuncah membelenggu jiwa.
Tiara mulai terisak, ia tak lagi menggenggam bunga-bunga yang ia rangkai sebelumnya. Tiara meringis pelan, dan melihat jarinya yang terkena duri dari salah satu tangakainya.
"Apa aku begitu lemah? Mengapa hanya karna tertusuk duri saja aku sampai menangis seperti ini?" ucap Tiara pada dirinya sendiri.
Tiara berdiri dari duduknya, kemudian menatap pada rangkaian bunga yang sudah tergeletak di atas meja. Bunga yang sebelumnya ia rangkai indah itu kini sudah tak berbentuk lagi. Semuanya berantakan, dan Tiara harus menyusun ulang.
__ADS_1
Namun, beberapa kali Tiara mencoba. Hasilnya tak seindah semula. Semuanya kacau, dan Tiara semakin menangis segukan.
Dan semua yang terjadi pada Tiara disaksikan jelas oleh Delvano. Pria itu sama kacaunya, ia menangis dalam diam disertai kepalan tangannya yang sesekali memukuli dadanya yang terasa semakin sesak.