
(FLASHBACK)
"Uhuk!"
"Uhuk!"
Delvano semakin menyeringai iblis. Ia berjalan santai mengikuti jejak Louis yang berusaha lari darinya.
Tempat ini berada di belakang mansion utama yang terhubung ke hutan luas, dengan tebing curam yang berada di ujung sana. Delvano nyatanya belum puas, sebelum ia benar-benar menyaksikan akhir dari hidup pria itu. Ia terus saja berjalan, membawa pisau lipatnya dengan seringaian yang mengerikan.
Sedangkan di depan sana Louis lari tergopoh-gopoh seraya memegangi perutnya yang mengalirkan banyak darah. Belum lagi beberapa peluru yang bersarang di kaki kanan dan bahu kirinya.
Ia hanya bisa menahan semua luka itu, tubuhnya seakan sudah kebas dan hampir tak merasakan apapun lagi. Sialnya, Delvano tak menyerah sama sekali.
Di tengah ketakutannya, Louis terus berusaha menyibak jalanan dan menelusuri hutan semakin dalam. Ia tak peduli, ke mana kakinya akan sampai. Yang penting bisa terhindar dari amukan Delvano.
"Ashh! Sial!" Desis Louis mulai lelah.
"Lari lah, badjingan!" Sarkas Delvano dengan sorot mata tajam menatap pergerakan pria yang beberapa kali kehilangan keseimbangannya.
Sedikitpun Delvano tak menaruh rasa iba. Di malam yang dingin ini, hujan seakan menjadi saksi dan mengiringi segala luapan emosi sang CEO.
Srak!
Bruk!
"Arghh!!!" Erang Louis. Ia tersungkur, akibat tersandung akar pepohonan yang besar. Louis memberingsut mundur, kembali mencoba berdiri.
"Ja-jangan dekati aku. Menjauh!" Sentak Louis. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan, wajahnya semakin pucat dengan bibir yang sudah berubah membiru.
Pria dengan tubuh jangkungnya sama sekali tak menanggapi permintaan mangsanya. Delvano benar-benar menikmati setiap rontaan, kekhawatiran, serta ketakutan yang jelas terlihat dari wajah Louis.
Namun tetap saja Delvano belum merasa puas. Ia ingin benar-benar menyaksikan kehancuran Louis hingga ke dasarnya. Ialah mental sekaligus akalnya.
"Lihat dirimu sekarang. Kau begitu terlihat miris sekaligus menjijikan!" Ucap Delvano dingin. Berjalan mendekati Louis, Delvano berjongkok dan menahan satu tangannya di atas paha kanan miliknya.
__ADS_1
"Kau seolah lupa dengan apa yang sudah kau perbuat pada istri dan adikku sialan! Dan ini tidak seberapa. Kecemasan yang kau rasakan saat ini tidak lebih parah dari Alana, adikku yang masa depannya sudah kau hancurkan!"
Sret!
Krek!
"Aaaaaa!!!"
Louis menjerit. Bahkan terdengar menangis yang sangat memilukan, pria itu meraung dan mengaum. Ia memegangi kakinya yang sudah benar-benar koyak. Sebab dengan santainya Delvano merobek sela-sela jemari kakinya hingga putus, dengan pisau lipat berbentuk cerulitnya.
Tak ada rasa bersalah sedikitpun di hati Delvano, ia semakin liar menggunakan tangannya untuk memuaskan hasrat iblisnya. Terlebih, semua itu diiringi tawanya yang mengerikan menggema ke penjuru hutan.
Gelap, sepi, dan hujan. Alam seakan mendukung dan merestui aksi sadis sang CEO yang tengah dikuasai segala emosi.
"Bagaimana? Kaget?" Tanya Delvano di sisa tawanya. "Kau berurusan dengan orang yang salah, Louis. Jadi jangan salahkan aku lalu bertindak seolah kaulah yang paling tersakiti." Desis Delvano dingin.
Dari kejauhan. Liam, Nako dan yang lainnya berusaha mencari keberadaan Delvano dan juga Louis. Mereka sudah memasuki hutan, namun setelah hampir satu jam perjalanan nyatanya kedua orang tersebut belum juga mereka temukan.
Liam sendiri sangat kualahan, ia sama sekali tidak mengetahui area ini. Di antara kakinya yang terus melangkah, Liam mulai resah dan juga kalut. Terus menebak hal apa yang bisa saja terjadi terhadap keduanya.
"Yang benar saja Nako. Apa kau benar-benar tidak mengetahui semua area di mansion utama Mahawira ini?" Tanya Liam serayak dedaunan. "Melelahkan!" Keluhnya.
Belum lagi gelapnya malam membuat pandangan menjadi terbatas. Hanya cahaya dari kilat dan petir saja yang sesekali menyambar.
...*...
...*...
Pada malam di mana rombongan Liam tengah berusaha mencari keberadaan Delvano dan juga Louis, Alana dan Tiara yang keberadaannya sudah ditangani rumah sakit cukup menggemparkan para tim dokter ahli kandungan dan juga dokter spesialis pasien gawat darurat lainnya.
Hanya dengan mendengar nama 'Mahawira' saja, pihak rumah sakit seketika panik dan heboh menerima kedua pasien tersebut. Nasib karir mereka seolah dipertaruhkan, berusaha melakukan yang terbaik agar tidak berakibat fatal hingga memposisikan pekerjaannya berada di ujung tanduk.
"Siapa yang bertanggung jawab?" Tanya salah seorang dokter.
"Saya kurang tahu dok, Tuan Nako hanya mengantarkan kemudian pergi lagi." Sahut seorang suster jaga.
__ADS_1
"Lalu bagaimana aku bisa bertindak kalau walinya saja tidak ada. Orang kaya memang selalu seenaknya."
"Tapi kalau kita tidak menanganinya sekarang, Tuan Mahawira pasti akan marah dok."
Keduanya terua berdebat, saling melempar pendapat yang tidak ada habis. Sampai mereka tak menyadari ada seorang pria yang baru saja tiba dan mencuri dengar obrolan keduanya.
"Apa yang kalian perdebatkan. Ha??" Bentaknya emosi.
Dokter dan suster tersebut seketika terdiam, mereka menoleh ke asal suara.
"Do-dokter Tama." Sapa keduanya gugup.
"Apa kalian sudah tidak waras? Kalian mempermasalahkan hal yang tidak penting. Kedua pasien di sana adalah pemilik rumah sakit ini. Keluar dari sini jika kalian memang tak ingin lagi bekerja di rumah sakit ini." Geram dokter Tama.
Setelah itu dokter Tama segera beranjak dari sana, tak menghiraukan ucapan permintaan maaf dari kedua orang tersebut.
Ia terus berjalan, menuju ruangan di mana Alana dan juga Tiara berada.
Dokter tampan itu segera kembali ke Tanah Air, menyusul sang sahabat tak lama setelah urusannya di rumah sakit tempat Delvano dirawat selesai ia tangani.
Dan di ujung tebing yang sangat curam ini, seorang pria tengah berjuang mempertahankan antara hidup dan matinya.
Semesta seakan sengaja memperlambat kematian Louis, memberikan pelajaran yang amat pedih sebelum pria itu benar-benar tiada dari muka bumi.
"Selamat menikmati detik perdetik akhir hayatmu sialan! Jangan takut kau akan meregang nyawa tanpa teman, aku akan di sini menyaksikan kematian, dan juga mendengarkan tarikan napas terakhirmu." Tutur Delvano santai, namun kejam.
Merangkak di antara bebatuan, Louis terus mendekati bibir jurang tanpa penghalang. Sedikit saja ia kehilangan keseimbangan, maka sudah dipastikan tubuh setengah hidup itu akan terjun bebas ke dasar sana.
"Aku tidak sudi mati di tanganmu brengsek! Ini akan jadi persemayamanku selamanya," Ucap Louis sedikit terbata. "Tapi tak masalah, aku sudah cukup puas dengan adik kecilmu. Dia tidak akan mungkin bisa melupakanku." Imbuhnya menyeringai.
"Biadaapbb!" Teriak Delvano seraya melempar pisau lipatnya sekuat tenaga ke arah Louis.
Crak!!
"Akk!!"
__ADS_1
Pisau lipat kecil berbentuk cerulit itu menancap tepat di dada Louis. Matanya hampir keluar, lalu menyemburkan darah segar dari mulutnya.
Tubuh dingin Louis terpental ke belakang, kemudian jatuh ke dasar jurang sana.