Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Extra Part 9


__ADS_3

"Enghhh."


"Sssshhh."


Perlahan mata itu terbuka, pandangannya sayu dan semua yang dilihatnya nampak buram. Pusing kini menjalari kepalanya, tangannya memijat kening seraya berusaha untuk bangun.


Tiara berhasil duduk, ia memutar pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Dimana ini? Seingatnya ia berada di mobil tengah bertahan menyelamatkan dirinya dari sosok berjubah hitam. Lalu bagaimana bisa ia berada di tempat ini, rumah siapa inii?.


Saat itu Tiara benar-benar ketakutan, tatkala si pemilik jubah hitam berhasil membuka pintu mobil. Tentunya karena upaya orang tersebut yang bisa dikatakan hampir menghancurkan kendaraan mewah milik Tiara.


Dari sekian banyak ingatan itu, satu hal yang Tiara ingat betul. Sosok berjubah hitam yang dilengkapi topeng itu jelas memakai perona bibir. Itu artinya, orang itu adalah seorang perempuan. Namun sayangnya Tiara betul-betul tak bisa menebak siapakah wanita dibalik topeng misterius itu.


Sadar akan kehadiran seseorang, Tiara beringsut mundur memasang mode waspada. Takut-takut jikalau yang datang ialah perempuan bertopeng itu lagi.


"Anda sudah bangun, Nyonya Muda." Mengukir senyum ramah, lalu pria itu menundukan setengah kepala pada wanita di hadapannya. Dengan pakaian santai serba hitam, ia mengenakan topi, t-shirt dan juga celana jeans berwarna senada, juga sepatu berlambangkan ceklis di sisi kiri-kanannya berwarna putih bersih.


Jelas pria itu bukan orang sembarangan.


"Darren?" Lirih Tiara mengernyit heran. Mengapa ada Darren di sini? Apa yang sebenarnya terjadi?.


"Saya diperintahkan menjaga Nyonya Muda untuk sementara waktu." Tutur Darren menambah tanya bagi Tiara.


Tiara hendak kembali mengajukan pertanyaan, tetapi seseorang berpakaian dokter dan juga seorang pelayan di belakangnya tampak membawa nampan dengan 2 mangkuk makanan di atasnya.


"Anda sudah merasa lebih baik, Nyonya?" Dokter Tama segera mendekati sofa panjang yang digunakan Tiara. Ia duduk di sisi lain sofa sebab Tiara seakan tengah memindai semua orang. Wanita itu masih ketakutan.


Sementara pelayan tadi segera pergi dari sana setelah meletakkan makanan di atas meja yang berada di tengah-tengah sofa yang mengelilinginya.


"Rileks, Nyonya. Anda sudah berada di tempat yang aman, say..."

__ADS_1


"Tunggu. Ada yang bisa menjelaskan situasi ini terlebih dahulu? Bagaimana kejadian sebenarnya? Mengapa aku bisa ada di sini? Dimana suamiku?"


Darren dan Dokter Tama menyunggingkan senyum mendengar pertanyaan beruntun dari sang Nyonya. Dokter Tama menarik napas, lalu membuka suara.


"Nyonya langsung tak sadarkan diri sesaat setelah orang itu berhasil membuka pintu mobil anda, beruntung Darren datang tepat waktu," kata Dokter Tama seraya meraih semangkuk sup hangat di atas meja, kemudian menyendo dan mengarahkannya ke mulut Tiara.


"Permisi, Nyonya." Ucapnya meminta izin.


"Lanjutkan ceritamu, kenapa malah menyuapiku. Aku tidak lapar." Tolak Tiara agak ketus. Yang benar saja, saat ini makanan tidak begitu penting untuknya. Tiara hanya ingin mendengar cerita lengkapnya dan yang utama ia ingin tahu dimana keberadaan suaminya.


Apakah Delvano baik-baik saja? Tiara sudah sangat merindukannya. Bahkan berkali-kali lipat dari biasanya.


"Baik, saya akan melanjutkan cerita asal Nyonya mau memakan sup ini, bagaimana?" Tawar Dokter Tama menatap wajah kelelahan Tiara. Sungguh, Tiara tampak cantik natural dilihat dari jarak sedekat ini. Sejak awal, dokter Tama memang tidak pernah meragukan akan pesona dari Nyonya Muda Mahawira tersebut. Terlalu sulit untuk menjabarkan seberapa mengaguminya ia pada wanita cantik di hadapannya ini.


Tiara bak sebuah bintang jauh di atas sana, ia bisa dengan mudah memandang keindahannya, namun sungguh tak mampu ia genggam wujudnya.


...*...


...*...


Berbicara soal Delvano. Saat ini pria itu tengah berada di suatu tempat, yakni mansion pribadinya yang dahulu pernah ditempati Pak Aris dan juga Tiara.


Jadilah beberapa hari ini para pelayan yang bekerja di sana kembali dikejutkan atas kedatangan sang Tuan yang tiba-tiba. Mereka disibukkan dengan berbagai persiapan dan juga pekerjaan. Semua orang seakan 2 kali lipat lebih lelah menghadapi segala keinginan aneh Delvano dari pada mengurus bangunan megah itu sendiri.


Tak terkecuali Nako.


Pria yang beberapa tahun ini selalu setia mendampingi sang Big Boss juga ikut jadi sasaran Tuannya. Delvano bertingkah sangat tak biasanya akhir-akhir ini, malah terlampau aneh menurut Nako. Pria yang kini memiliki tatto hampir memenuhi lengan kirinya itu nampak semakin maskulin dan menggoda.


Sayangnya, Delvano tengah kurang sehat, wajahnya sedikit pucat akibat tak henti-hentinya memuntahkan setiap makanan yang masuk ke mulutnya. Padahal semua itu adalah jenis makanan yang ia minta dengan tergesa sebelumnya. Kalau sudah seperti itu, Delvano tak mau tahu, semua yang ia inginkan harus segera tersedia di atas meja. Saat itu juga.

__ADS_1


Belum cukup sampai di situ. Nako harus tetap sedia 24 jam di samping sang Tuan, sebab pria itu akan mengutarakan keinginannya di waktu yang terbilang random. Jam 1 malam, atau yang lebih parah jam 3 dini hari.


Jenis makanannya pun beragam. Mulai dari asinan tanpa kuah, salad buah tanpa keju, atau bakso dan kawan-kawannya. Dengan sabar Nako menyanggupi, lebih tepatnya terpaksa mengiyakan.


"Aku ingin istirahat, jangan ganggu aku sebelum kau 'kupanggil." Perintah Delvano membuat Nako agak tersentak dari lamunannya.


"Baik, Tuan." Sahut Nako, kemudian undur diri dari kamar Tuannya.


Delvano baru keluar dari kamar mandi, ia kembali memuntahkan seluruh isi perutnya hingga terasa pahit di ujung tenggorokan. Setelah menghabiskan air hangat yang sudah disediakan pelayan, Delvano berjalan mendekati ranjangnya.


Tetapi pria yang tak mengenakan atasannya itu tidak berniat beristirahat seperti yang dikatakannya tadi pada sang asisten. Pria itu malah meraih laptop, ia kembali mengamati perkembangan berita yang satu minggu ini menguasai tranding topik di seluruh Media.


Tidak seperti sebelumnya. Jika dulu Delvano akan mendatangi langsung perusahaan stasiun Televisi dan Studio untuk memberi tekanan dan ancaman. Kali ini ia memilih untuk menghancurkan semua yang mengusiknya dan juga sang istri di belakang layar. Tanpa peringatan, tanpa aba-aba. Mereka harus menerima konsekuensi dari apa yang sudah diperbuat. Delvano tak ingin lagi berbasa-basi, ia tak ingin lagi berbelas kasih pada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.


Saat itu Delvano terpaksa menerima ajakan Kaira, sebab gadis keras kepala itu rupanya sengaja melibatkan sang ayah yang merupakan salah satu pemegang saham cukup berpengaruh di MHW Company untuk mendekati pria pujaannya.


Terang saja Delvano berpikir ulang untuk menolak, lantaran bahasan pekerjaan lah yang dijadikan alasan Ayah dan anak tersebut. Sama sekali tidak terjadi apapun antara dirinya dan juga Kaira.


Tetapi sayangnya semua penjelasan itu belum bisa ia utarakan langsung pada sang istri. Sebab entah kenapa setiap ia ingin melakukannya, moodnya selalu saja turun hingga membuatnya tiba-tiba ingin marah-marah tidak jelas.


Entah jenis hormon seperti apa yang mempengaruhi Delvano, yang pasti ia masih belum ingin menemui Tiara. Yang ia lakukan hanya memantau segala gerak-gerik istrinya melalu CCTV dan jiga GPS yang terhubung ke ponsel Tiara, sehingga memudahkannya mengetahui apa saja kegiatan yang dijalani wanita yang sangat ia cintai itu.


Delvano juga yang pertama kali menyadari ketika bahaya tengah mengintai Tiara, ia segera memerintahkan teman-temannya sebab tepat pada saat itu ia tengah kerepotan dengan kondisinya sendiri. Beruntung keduanya datang tepat waktu, meski si pemilik jubah itu berhasil kabur, namun setidaknya Tiara berhasil diselamatkan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Punten, Babang Delvano mau lewat.. 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️


__ADS_1


__ADS_2