Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Jangan menyentuhnya!


__ADS_3

"Jelaskan!."


"Saya benar-benar tidak tau Tuan, saat itu saya sempat koma selama kurang lebih satu bulan." jawab Nako masih berdiri di ujung ruangan sana.


"Lanjutkan!."


"Saya tidak bohong, saya benar-benar koma Tuan!."


"Hmm,lalu?!."


Ayolah, sampai kapan pria angkuh itu terus meng-interogasinya dengan cara aneh seperti ini.


Haruskah Nako menjawab dengan posisi menghadap ke tembok seperti ini?, yang benar saja. Bahkan satu kakinya diwajibkan terangkat keatas seperti anak Sekolah Dasar yang sedang diberi hukuman.


"Saya mengambang di lautan lepas selama kurang lebih 5 hari berlandaskan puing kapal, untungnya saya masih bisa selamat."


"Dan kau tidak berusaha mencariku!." sahut Delvano santai, namun menusuk!.


Pria itu tetap fokus dengan kegiatannya yang sedang bersiap memakai pakaian khususnya.


Nako hampir kehilangan kesabarannya, ia ingin memaki tapi pria itu masih sayang dengan nyawanya.


Ini sudah dua hari Delvano di rawat, namun pria keras kepala itu tentu tidak akan menuruti perkataan dokter, yang mengharuskannya beristirahat selama satu minggu full.


"Mereka semua tau saya ada bersama anda saat itu, orang-orang itu bisa saja memanfaatkan situasi untuk menggali informasi lebih dari saya. Tidak ada pilihan lain, selain saya mencari anda secara sembunyi-sembunyi." tutur Nako jujur.


"Berbaliklah!." ucap Delvano acuh, seraya berdiri dengan gagahnya.


"Anda mau kemana Tuan!?." tanya Nako setelah berbalik badan. Meski ia tau bahwa Delvano tidak akan betah berlama-lama di rumah sakit. Tapi ia cukup terkejut melihat penampilan Big Bossnya saat ini.


"Menurutmu!!?."


"Bagaimana dengan Tuan dan Nyonya besar?!."


Nako bisa mengerti alasan Delvano melarang kedua orang tuanya datang ke rumah sakit.


Sejak Tuan Gunz dan Nyonya Bellena mengetahui kabar Delvano, kesehatan mereka sempat menurun, hingga dokter pribadi keluarga Mahawira menyarankan mereka untuk menunggu di rumah saja.


"Aku akan menemui mereka nanti. Sedangkan Elmira.." Delvano memdesah pelan, ia bahkan kembali duduk di bibir ranjang pasien.


"Meskipun aku belum mengingat semuanya, tapi aku tau dialah yang paling berhak atas diriku saat ini, bocah kecil itu juga pasti merindukanku."

__ADS_1


Jeda sejenak.


"Tapi aku juga merindukannya." lanjut Delvano seraya mengepalkan kedua tangannya.


Nako merasa dejavu dengan situasi ini, tapi lagi-lagi ia tidak bisa berbuat apapun selain jadi pendengar yang baik.


...*...


...*...


"Ini apa tuan?!." Nako mengernyit bingung dengan benda panjang yang ada di jok bagian belakang.


"Mainanku!." Delvano menjawab acuh, sembari melepas masker, serta topi hitamnya. Ia kini sudah duduk di dalam mobil miliknya.


"Anda...


Nako cukup mengerti dengan kata 'mainan' yang di maksud Bossnya.


"Hanya untuk berjaga-jaga." sahut Delvano cepat.


Tidak ada yang tau kapan orang-orang pengecut itu akan kembali muncul, kali ini Delvano akan lebih hati-hati menghadapi apapun ke depannya.


"Pastikan video itu menghilang di media manapun!, dan sebelum itu selesai, jangan biarkan istriku keluar sedikitpun!." turut Delvano tegas.


"Maksud anda Nyonya Elmira atau.....


Bughhh!!!...


"Jangan pura-pura bodoh!!!." sentak Delvano sembari menendang jok kemudi dari belakng.


Pria itu meringis, merasakan pinggangnya yang sedikit terpental. Nako hanya bertanya bukan?, apa salahnya.


"Antarkan aku padanya!.


"Ke....


"Aku akan benar-benar menendangmu ke jalanan jika terus bertanya Nako!!."


Glekk!!..


"Siap Tuan!." Baiklah, sepertinya Nako mulai mengerti.

__ADS_1


Meski Nako mengetahui adanya pernikahan antara Bossnya dengan gadis desa itu, tapi ia sama sekali tidak bisa menebak akan seperti apa hubungan mereka kedepannya. Perbedaan keduanya terlalu mencolok, dan itu tidak baik bagi Tiara.


"Apa dia sudah bangun?." tanya Delvano segera setelah ia memasuki rumah megah itu.


"Sepertinya belum Tuan, tapi di dalam ada Tuan dan Nyonya besar." jawab pelayan wanita itu seraya membungkuk sopan.


"Sial!, ini pasti ulah Pak Tua itu!."


Delvano bergegas memasuki ruangan lebih dalam lagi, meski banyaknya pintu, tangga dan beberapa ruangan menakjubkan lainnya. Tapi ia masih cukup hafal dengan seluk beluk rumah tersebut.


"Oh putraku!, aku tau kau mempunyai sembilan nyawa. Kemarilah, aku sangat merindukanmu." seru Nyonya Bellena seraya berdiri dari kursi, kemudian merentangkan tangannya.


"Ayolah Momm, aku hanya beruntung!." desah Delvano, namun ia tetap saja merengkuh wanita paruh baya itu ke pelukannya.


Nyonya Bellena pun menangis haru di pelukan sang putra.


"Tetap saja, nyawamu tinggal delapan lagi." Nyonya Bellena menyunggingkan senyum, saat putra pertamanya itu memberi kecupan singkat di pelipisnya.


"Duduklah, lanjutkan sarapanmu." ucap Delvano, ia hendak bergegas meninggalkan ruangan itu.


"Jadi kau tidak ingin menyapaku?," pria paruh baya itu sejak tadi diam, seolah menunggu giliran. Tapi Delvano seolah tidak melihat keberadaannya yang dudum diujung sana.


"Aku ada urusan lain."


"Maksudmu wanita asing itu?."


Krettt!!


Delvano mengetatkan rahangnya kuat, seraya gigi yang beradu tertahan.


"Jangan pernah berani menyentuhnya sedikitpun!."


"Kau pikir bisa menangani masalah ini seorang diri?."


"Seperti yang sudah-sudah, aku selalu menyelesaikan masalah tanpa harus melibatkanmu secara langsung."


Delvano berbalik badan, kemudian berjalan ke lantai atas sana.


Ia hanya ingin menyelesaikan segala sesuatunya seorang diri, tanpa harus merepotkan sang Daddy yang sudah tak lagi muda itu.


...*...

__ADS_1


...*...


Tbc...


__ADS_2