Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Aku hanya penolong!


__ADS_3

Tiara tak mampu lagi berdiri disana, apa yang ia saksikan saat ini cukup menamparnya keras. Ia kini sadar betul dengan posisinya, Tiara tidak lebih hanya sosok wanita yang kebetulan beruntung dipertemukan dengan Delvano.


Bahkan pernikahan mereka saja berlangsung di saat pria itu tengah tidak mengingat siapa dirinya, hanya dilakukan secara Agama dan tidak tercatat di Negara karna keterbatasan identitas.


"Aku, aku tidak ingin jadi penghalang untuk mereka, hiks!!. Aku juga tidak mungkin merenggut kebahagiaan anak kecil itu."


"Kami berbeda, seperti langit dan bumi." lanjut Tiara sesak.


Tiara terus menangis seraya berjalan menjauh dari kerumunan, hingga ia tidak sadar dengan keberadaannya yang entah dimana.


Nako yang kebingungan mencari Tiara, terus memutari tempat tersebut dengan sesekali mengusap wajahnya kasar.


Ini sangat tidak baik untuk kelangsungan karir dan juga hidupnya, Nako memaki diri dalam hati atas keteledorannya. Sejak awal dia menyadari keberadaan Tiara, namun ia memilih untuk pura-pura tidak tau sebab Nako rasa Nonanya berhak tau kehidupan sang Big Boss.


"Shittt!!!."


Nako merasa tersentak dengan panggilan yang masuk ke ponselnya, buru-buru ia menekan tombol earphonenya.


"Hal...


"Cari dia bre ngsekkk!!." bentak Delvano di menit pertama panggilan tersambung.


"A-aku sedang mencarinya."


"Kerahkan semua orang untuk mencari keberadaannya, kau tau dia bisa saja bertemu dengan orang-orang sialan itu."


"Baik Tuan!."


Dengan segera Nako berlari ke arah mobilnya yang terparkir di ujung jalan sana, ia langsung mengkoordinasi para bawahannya untuk lebih memperluas pencarian.


Delvano sendiri duduk tidak nyaman di tempatnya, posisinya berada di ujung kursi sana di tengah rapat penting yang di hadiri seluruh jajaran direksi.


"10 menit!. Aku tidak ingin bertele-tele dengan pertemuan kali ini!."


"Tapi Boss, rapat baru saja dimulai."


"Maka cepat selesaikan!." ucapnya tegas.


...*...

__ADS_1


...*...


Suara deru mobil-mobil dengan jenis yang sama itu begitu riuh membelah jalanan ibu kota, semua orang yang berada di jalan merasa heran dengan kedatangan iring-iringan mobil tersebut.


Ckiiiiiitttt!!!


Salah satu mobil mengerem kuat yang dengan sengaja menyalip pejalan kaki di depan sana.


Tiara menjerit kaget. Meski ketakutan, tapi ia berusaha mencari tau dengan apa yang terjadi.


"Ka-kalian..."


"Ikut kami Nona."


Tiara menggeleng keras. "A-aku tidak mau."


Dilihat dari cara dan juga pakaiannya, Tiara bisa menebak bahwa mereka adalah orang-orangnya Delvano.


"Mari ikut saya Nona, kita tidak bisa terus di sini karna akan membuat kemacetan dan mengganggu pengguna jalan lainnya." tutur Nako seraya berusah menggapai Tiara.


"Kubilang Aku tidak mau!!!, kalian bisa pergi diri sini!." seru Tiara lantang.


"Pergi, hiks!! kubilang pergi!." Tiara semakin tak terkendali, ia bahkan mundur perlahan berusaha lari dari orang-orang berpakaian formal itu.


"Aku tidak akan kembal... Aaaaaaa!!, lepas!." teriak Tiara, ia memukuli orang yang tiba-tiba menggendongnya diatas bahu.


Brakk!!..


"Akh!!."


Cup!!...


"Hmppphh!, lepmmhhhh-ashhh!." Tiara terus memberontak dari orang yang menghempasnya ke body mobil.


Namun pria itu membungkam mulutnya dengan ciu man kasar dan keras.


"Kau!!.."


"Ikut aku. Atau kau ku setu buhi detik ini juga!."

__ADS_1


Melihat Tiara yang diam membeku, Delvano langsung nenarik tangan Tiara agar masuk kedalam mobil.


"Menyingkir.!!." sentak Delvano pada sang sopir.


"B-baik Tuan!."


Delvano segera duduk di kemudi, ia meninggalkan tempat itu dengan Nako dan para bawahannya yang sudah pergi sejak tadi saat Delvano tiba.


Delvano tadi segera menyusul setelah pertemuan singkatnya selesai, tak ada yang berani membantah jika Delvano sudah memutuskan.


Hampir satu jam berkendara, Delvano menghentikan mobilnya di depan mansion yang ditinggali Tiara.


Selama di perjalanan sampai detik ini, keduanya tidak ada yang bersuara. Hanya tarikan napas lelah Delvano, dan juga isakan kecil Tiara yang mampu membuat hati Delvano berdenyut nyeri.


"A-aku ingin pu-pulang." ucap Tiara tersengal.


"Kita sudah sampai." sahut Delvano datar.


"Tidak. ini bukan rumahku, aku ingin pulang."


Sontak Delvano memejamkan matanya sesaat, ia men desah frustasi seraya membuang muka ke arah jendela sebab tak kuasa menatap mata penuh kekecewaan milik Tiara.


"Tugasku sebagai penolongmu sudah selesai Tuan, kita tak ada ada urusan apapun lagi, kau sudah kembali pada keluargamu. Maka sudah seharusnya aku... hiks!.


Jantung Delvano serasa diremas kuat, sungguh ia tidak tahan mendengar kalimat demi kalimat dari Tiara.


"Jangan bicara seperti itu, kumohon. Aku tau ini berat untukmu, begitupun denganku. Maaf Aku tidak pernah bermaksud mengabaikanmu, selama ini aku juga berusaha untuk mencari cela agar kita bisa bersama tanpa harus membahayakanmu."


Keduanya saling menatap dengan kesakitan yang sama-sama terpancar dari iris mata masing-masing. Lalu, Delvano mengulurkan tangan untuk menghapus air mata di pipi Tiara.


"Berhenti menangis, sayang." ucapnya seraya meraih tangan Tiara, lalu mengecupnya dengan segenap cinta yang ia miliki.


Hanya dalam waktu beberapa detik, Delvano mendaratkan ciu mannya yang lembut dan penuh perasaan. Tiara menyambut ciu man itu dengan mengalungkan tangannya di leher Delvano dan membalas setiap lu matan yang pria itu berikan.


...*...


...*...


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2