
Cinta dan rindu yang sudah menggunung itu kian memupuk di hati Tiara. Sudah dua minggu berlalu, namun kabar yang selalu ia tunggu-tunggu tak kunjung jua didengar.
Entah di mana Delvano berada, setiap kali Tiara mencoba menguhubungi, Nako selalu menyampaikan alasan yang sama.
"Tuan sedang sibuk, tak bisa diganggu."
"Maaf Nona Tiara, Tuan sedang tidak bisa diajak bicara."
"Meeting kali ini cukup lama, Anda bisa menghubungi di lain waktu."
Alasan demi alasan itu sudah sangat Tiara hafal, perasaan Tiara semakin tak menentu meski Nyonya Bellena turut andil menenangkan Tiara melalui sambungan telfon.
Sama halnya dengan Delvano, pasangan lanjut usia itu pun belum juga kembali ke tanah air. Entah ke belahan dunia mana keduanya berlibur, Tiara sama sekali tak dapat memperkirakannya.
Apa seperti itu cara orang kaya menghabiskan uang-uangnya? dengan bepergian tanpa tujuan, yang penting pundi-pundi uang terhabiskan.
Tiara sama sekali tak bisa menebak apapun.
Belum lagi kegilaan Elmira yang nyatanya kian berlanjut, meski ada Alana yang mampu mengimbangi perempuan berbisa itu.
Pembawaan Alana yang kuat dan berani, berbanding terbalik dengan Tiara yang selama ini selalu setia dengan kelembutannya. Hanya sesekali saja ia akan meradang, jika memang sudah tak bisa bersabar. Itupun jarang, sebab memang pada dasarnya hati Tiara begitu rapuh, mudah tersentuh.
Hingga Alana gemas sendiri melihat sikap diam Tiara, padahal saat ini dia lah Nyonya Muda yang sebenarnya. Sayangnya, Tiara menolak percaya meski itu keluar langsung dari mulut sang adik ipar.
"Come on kak, aku sudah mengatakannya berkali-kali. Kau adalah istri satu-satunya kak Vano, jadi apa yang kau takutkan,"
"Jangan mau kalah sama nenek sihir itu, kau juga punya hak di sini. Bahkan kalau perlu, kau bisa menyeretnya ke jalanan sana!"
Alana terus berusaha mempengaruhi Tiara yang saat ini tengah duduk bersila memangku bantalnya.
Saat ini, keduanya tengah mengobrol di atas ranjang milik Tiara. Mereka sudah seperti sahabat dekat yang tengah mengadakan acara pesta piyama.
"Itu tidak benar, aku hanya istri cadangannya saja Al."
__ADS_1
Plak!
Alana menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban polos Tiara. Gadis cantik dengan segudang talenta itu semakin bersemangat untuk mengubah Tiara menjadi warna-warni bak pelangi setelah bumi diguyur hujan.
"Sebelum kakakku kembali, kau harus merubah cara berpikirmu. Kau tau kak? Menjadi bagian dari keluarga Mahawira harus punya jiwa petarung yang kuat, seperti diriku." ujar Alana membanggakan dirinya sendiri.
Tiara tertawa kecil, seraya menggeleng pelan. Alana memang tak ubahnya seperti sang kakak, penuh daya tarik serta menarik.
Pikiran Tiara kembali teringat akan suaminya, kerinduannya sudah tak terbendung, ia ingin sekali berlari dan menghambur ke pelukan yang selalu mampu menenangkan jiwanya.
"Kau tidak tau saja Al, selama ini aku sudah melakukan yang terbaik. Aku tak ingin berperilaku sama seperti dirinya, kejahatan tidak selalu harus dibalas dengan kejahatan. Buktinya, Elmira sering terlihat kacau dan tidak bahagia."
"Aku setuju dengan perkataanmu kak, tapi nenek sihir itu pengecualian. Ayolah, aku tau hatimu baik, tapi jika terlalu baik maka orang-orang akan seenaknya terhadapmu kak,"
"Wake Up... Semua orang punya sisi yang berbeda, termasuk dirimu."
Sudut bibir Tiara terlihat berkedut, lalu tertawa terbahak. Kemudian berucap...
"Kata-katamu terlalu tua untuk ukuran usiamu Alana." ucap Tiara diikuti tawanya yang renyah.
"Aku belum tua kak, aku seksi dan masih muda."
"Kau sudah tua sebelum waktunya Al, pasti karna terlalu lama di Luar Negeri dan pacaran dengan para bule."
"Kau menyebalkan!"
Gelak tawa keduanya menggema ke seisi ruang kamar mewah tersebut, mengundang rasa iri serta dengki bagi perempuan yang sejak tadi menguping di luar sana.
Dikarnakan pintu yang tak tertutup rapat, membuat suara dari dalam kamar bocor keluar. Hingga menyulut rasa penasaran Elmira yang tak henti-hentinya merencanakan hal-hal jahat lainnya.
"Dasar bocah sialan!" desisnya seraya mengepalkan tangan.
...*...
__ADS_1
...*...
Hari-hari Tiara mulai sedikit lebih tenang, sebab ia tak lagi merasa sendiri dalam kesepian. Meski sejujurnya ia mati-matian memendam banyaknya pertanyaan serta rindu yang ia pendam. Tapi Tiara mencoba tetap tegar dalam bertahan.
Berbeda dengan Elmira yang semakin sibuk dengan rencana-rencananya, ia semakin tidak sabar menghadapi kedua wanita yang beberapa hari ini terus memancing emosinya.
Terutama Alana.
Sang adik ipar yang sempat ia remehkan, usia Alana yang jauh dibawahnya membuat Elmira berpendapat bahwa mudah saja ia melawan bocah sialan itu.
Tapi ternyata Elmira salah, sebab gadis kecil yang dulu pernah ia usir secara halus hingga pindah sekolah ke Luar Negeri itu kini menjelma bak wanita dewasa dengan pembawaan yang lebih dominan.
Lihat saja kelakuannya saat ini, Alana sepertinya berhasil mempengaruhi Tiara yang sebelumnya tak pernah berpenampilan seperti ini, bahkan perempuan berparas lugu itu terlihat lebih berani dan menunjukan pesonanya.
Tiara nampak semakin cantik dengan balutan gaun berwarna biru swarovski senada dengan sepatu yang dikenakannya, namun Elmira tak berpikir begitu, ia menghampiri kedua wanita sialan itu dengan keduan tangan yang ia lipat di dada.
"Pikirmu upik abu bisa berubah menjadi cinderella begitu? Jangan mimpi!" selorohnya tiba-tiba.
Alana dan Tiara yang sejak tadi tenang-tenang saja duduk berdua di ruang keluarga itu tampak santai menanggapi mulut tajam Elmira.
Ini memang sudah direncakan keduanya, yang ingin memancing amarah Elmira dan membuatnya tak nyaman berada di mansion.
Namun Elmira ialah Elmira, tidak semudah itu menyerah setelah banyaknya hal yang ia korbankan.
Termasuk harga diri dan juga nama baik keluarga besarnya yang ia pertaruhkan.
"Apa mulutmu akan gatal-gatal jika sehari saja tak menghina orang? Hidupmu terlalu berat Nyonya, bahkan terlihat semakin menyedihkan." balas Alana semakin membuat darah Elmira mendidih.
"Kau...!!!"
"Berhenti bersikap sok berkuasa, apa kau tidak lelah? Kau pikir semua orang akan menghargaimu jika kau terus-menerus bersikap seperti ini?"
Elmira semakin tak terima, ia kini berniat memupuk kebencian pada kedua wanita sok tau itu.
__ADS_1
Melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga tanpa sepatah katapun, Elmira akan membuat perhitungan yang tak akan bisa semua orang bayangkan. Ia kini tak peduli lagi dengan apapun. Yang penting sakit hatinya terbayarkan. Lihat saja!.
Sedang Alana dan Tiara kembali menertawakan tingkah Elmira. Tanpa tau bahwa ketenangan yang beberapa hari ini keduanya rasakan berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di tempat nun jauh di sana.