Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Bab 56 - Kegetiran Seorang Ibu


__ADS_3

"Selamatkan putraku! Kubilang aku akan membunuh kalian semua jika tak mendengarkanku. Kembalikan dia!"


Jerit tangis kepiluan seorang wanita baya yang tengah menangisi jasad putranya, mengiris hati siapa saja yang mendengar dan menyaksikannya.


Melihat sang putra menghembuskan napas terakhirnya, serasa menarik paksa kewarasan dalam jiwanya yang lemah dan rapuh.


Bagaimana tidak, ia melihat sendiri ketika putranya ditembak secara brutal oleh orang yang tak ia kenal. Tubuh ringkih itu berjalan perlahan, menghampiri jasad pria dewasa yang sudah terbujur kaku, bersimbah darah.


"Dia membunuh putraku, apa yang kalian tunggu? kejar dia! Kenapa kalian semua diam saja!" bentaknya di iringi raungan kegetiran.


Semua orang yang ada di sana hanya menunduk diam, tak berani menjawab atau hanya sekedar mengangkat kepala untuk menatap kehancuran yang terpancar dari mata yg sudah merah padam itu.


Tiara pun ikut terisak lirih, ia begitu menghayati film yang penuh misteri berjudul Between Love And Destiny garapan sutradara terkenal, AnnaYoung. Di Negeri tersebut.


Benda pipih keluaran terbaru yang belum lama ia beli itu kini telah basah oleh air matanya sendiri. Tiara menjadi begitu perasa, moodnya sering naik turun akibat terlalu banyak yang ia pendam.


Bahkan pola makan dan tidurnya pun semakin berantakan, membuatnya menjadi lebih mudah lelah dan rentan daya tahan tubuhnya menurun.


Tiara menjadi mudah menangis, ia letih dengan segala pikiran yang terus berkecamuk. Untuk apa segala fasilitas yang ia gunakan ini? untuk apa rumah megah yang ia huni sekarang? jika cintanya hilang dan pergi tanpa berniat pulang.


Air mata yang ia keluarkan seolah tak ada habisnya, ditambah sesak di dada seakan membelenggu tak ada hentinya.


Topeng tebal yang selama ini ia kenakan demi menutupi kepedihannya dihadapan semua orang, dapat ia lepas setelah merenung sendiri hanya ditemani redupnya keremangan malam.


"Ini menyiksaku..." lirihnya tercekat.


Bukan tanpa alasan Tiara seperti ini, semenjak kehadiran Elmira tak lagi ia lihat di bagian mansion manapun, Tiara jadi berpikir jauh entah kemana. Padahal bukankah ini keinginannya? Hidup tenang tanpa ada gangguan wanita ular itu.


Namun siapa sangka, Tiara malah mengira saat ini Elmira tengah menghabiskan waktu bersama dengan kekasih hatinya, Delvano.


Karna memang seperti itulah kalimat yang Elmira sampaikan, ketika mereka bertemu terakhir kali.


"Aku tau...


Tak hanya aku yang ada di hatimu,


Bukan hanya aku yang kau sayang,


Ada dirinya yang juga kau cinta,


Pernahkah kau berpikir,


Bagaimana hatiku saat kau dengannya,


Bagaimana perasaanku,


Kau pikir aku baik-baik saja?


Selama ini...


Ku pendam rasa cemburuku,


Ku tahan rasa sakitku,

__ADS_1


Ketahuilah...


Aku tak setegar yang kau lihat,


Tak sekuat yang kau bayangkan,


Ingin ku akhiri...


Tapi hati ini tak kuasa,


Terlalu besar cinta yang kupunya untukmu,


Kini air mata membasahi wajah sepiku,


Tak bisakah kau memilih diantara kami?"


By_TM


Tiara memeluk dirinya sendiri, berdiri di ujung balkon kamarnya seraya menatap hamparan bintang di atas sana. Semilir angin yang serasa menusuk tulang pun tak ia pedulikan.


Tiara kembali teringat saat aksi Delvano yang diam-diam menyusup masuk ke kamarnya. Bolehkah ia kembali ke masa itu? jika saja waktu dapat diputar ulang, Tiara tak akan berpura-pura tidur ketika Delvano duduk bersimpuh di samping ranjangnya.


"Harusnya saat itu aku memelukmu saja sayang, dan melarangmu pergi." lirihnya.


Ketika Tiara tengah merenungi nasibnya, jauh di bawah sana ada bayangan hitam yang melintasi halaman mansion utama.


Srak!


Tiara memilih untuk kembali ke kamarnya, dan mengunci rapat-rapat pintu balkon.


...*...


...*...


"Makanlah kak, sejak kemarin ku lihat nafsu makanmu berkurang." tegur Alana seraya mengangsurkan piring berisi makanan.


Tiara tak menjawab, ia hanya melempar senyum tipis pada Alana yang kian menelisik wajah kakak iparnya.


"Kau saja."


"Apa kau sakit, hem?" tanya Alana pada Tiara yang kini duduk berhadapan dengannya di meja makan.


Wajah Tiara nampak pucat, ia sekarang bahkan terlihat meringis kesakitan. Entah apa yang wanita itu rasakan, sampai keningnya merengut seperti menahan sesuatu.


"Awsshhh, s-sakit sekali." keluh Tiara seraya meremaas perutnya.


Sontak Alana dibuat panik dengan apa yang terjadi pada Tiara, sebab ini pertama kalinya ia melihat kondisi Tiara yang seperti ini.


Prank!


Alana bergegas berdiri, saat tangan Tiara tak sengaja menyenggol gelas hingga jatuh dan pecah ke lantai sana.


"Kak Tiara!"

__ADS_1


Berlari memutari meja makan, Alana seketika shock saat berada dihadapan Tiara. Darah yang mengucur dari betis putih mulus itu seolah beriringan menghentikan detak jantung seseorang yang berada jauh di sana.


Delvano, pria yang hampir 3 minggu ini dinyatakan koma pasca operasi bebeapa waktu lalu.


Detak jantungnya tiba-tiba saja berhenti, membuat Nyonya Bellena menangis histeris memohon iba.


kondisi darurat ini memicu keriuhan di dalam ruangan tersebut, para tim medis yang menangani Delvano sebelumnya pun berlarian memasuki ruangan.


Berbagai peralatan medis yang kini terpasang hampir di sekujur tubuh pria yang masih betah dalam tidurnya itu, kini dilepas satu-persatu.


Para perawat serta beberapa dokter ahli pun seketika sibuk dengan tugasnya masing-masing.


"Siapkan alat defibrilator,"


"CEPAT!"


"Baik, dok."


Suara monitor pendeteksi detak jantung terus terdengar nyaring, menambah kegetiran bagi seorang ibu yang sudah setengah sadar di luar ruangan sana.


"150 joule!"


"Baik."


Alat pacu jantung itu terus ditekan oleh dokter ahli, kemudian diangkat selaras dengan detak yang sempat merespon, tapi tak lama berhenti kembali.


Suasana semakin tegang tatkala sang dokter kembali meminta tambahan joule.


"tambah 200 joule!"


Namun tetap saja, jantung Delvano tak merespon sama sekali.


Tiba-tiba dokter Tama menerobos masuk, kemudian mengambil alih, dan mengambil alat pacu jantung tersebut.


"NAIKAN!" pintanya tegas.


Namun para diam saja, mereka terkejut sebab jika kekuatan joule dinaikan maka itu sudah batas akhir dari usaha mereka. Dan jika jantung Delvano tetap tak merespon, maka semuanya selesai.


"KU BILANG NAIKAN!"


"Tapi dok..."


"SIALAN!"


Tangis kegetiran semua orang di luar sana terus mengalun, meratapi nasib yang sedang tak berpihak pada keluarga tersohor itu.


Entah apa yang selanjutnya terjadi di dalam sana, Nyonya Bellena sudah tak sanggup lagi membuka mata.


Semua itu selaras dengan apa yang terjadi di mansion utama. Sejak tadi Alana hanya berteriak minta tolong, namun anehnya mansion tampak sepi, seolah hanya ada mereka berdua di dalamnya.


Entah kemana semua pelayan pergi, Alana mulai merasakan hawa yang tidak beres dengan keadaan yang begitu tenang, tak nampak satu penghuni pun.


"Ada apa ini?"

__ADS_1


__ADS_2