
"Ini semua karena dirimu, kau terlalu ikut campur dengan semua urusanku, Liam!" sentak Alana penuh emosi.
Kini hanya ada Alana dan Liam saja di kamar ini. Delvano dan Tiara sudah meninggalkan ruangan pribadi Alana setelah sebelumnya menasehati wanita dingin itu.
"Aku bertanggung jawab dengan semua yang kau lakukan Alana. Semuanya. Apapun itu. Kau tanggung jawabku, karena kakakmu sudah mempercayakanmu padaku." Jelas Liam tenang.
Menurut Liam, menghadapi wanita seperti Alana memang memerlukan sabar yang luar biasa. Pikiran yang tenang, serta akal yang sehat. Jika tidak, maka belum sehari saja ia akan gila karena harus menghadapi kelakuan unik perempuan keras kepala itu.
"Aku bukan lagi anak kecil!" Dengus Alana.
Gadis itu menatap tajam pada Liam yang masih sabar dan setia berdiri di hadapannya, sementara dirinya duduk di atas ranjang dengan satu kaki menjuntai ke lantai.
"Maksudmu, kau sudah besar begitu?" Tanya Liam menaikkan satu alisnya. Pria itu mulai bersandar ke badan nakas yang ada di sampingnya. Bersidekap dada, dan siap melayani ocehan Alana.
"Apa kau buta? Atau matamu bermasalah, Tuan?" Sinis Alana memicingkan matanya.
Bukannya marah, Liam malah terlihat seperti menyunggingkan senyumnya yang terlihat menawan. Sayangnya Alana tidak menyadari sebab saat ini gadis itu tengah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ya, kau benar. Kau memang sudah besar," Balas Liam datar. "Tapi di bagian-bagian tertentu." Lanjut Liam.
Seketika Alana menoleh pada Liam, ia menajamkan matanya dengan pipi yang memerah. Entah karena menahan amarah atau tersipu. Namun yang jelas saat ini Alana begitu membenci pria berperawakan tinggi itu.
Setelah pria itu merecoki kehidupannya, apa sekarang Liam juga akan menjadi orang yang akan mengomentari segala yang ada pada tubuhnya? bukankah itu tidak sopan?.
"Sepertinya kau memang sudah bosan hidup, sialan!"
__ADS_1
Bughh!
Bugh!!
Bugh!!
Alana melempar apapun yang ada di sekitarnya. Bantal tidur, guling, bahkan selimut pun ia jadikan senjata untuk memukuli Liam. Sedangkan manusia yang memancing emosinya itu hanya diam saja, Liam tampak santai seolah tak terganggu dengan tingkah Alana. Pria itu memasang wajah datar yang terkesan acuh.
Ah. Alana semakin membenci Liam.
"Pergi dari sini!!!" Pekik Alana seraya mendorong tubuh kekar Liam.
Brak!!!
Alana menutup pintu dengan kencang, setelah Liam tak lagi berada di kamarnya. Sikap Liam yang tenang, acuh, bahkan terkesan tak menanggapi amukannya itu semakin menambah rasa dongkol di hati Alana.
Hal itu tentu saja mengagetkan Liam yang saat ini masih berdiri di depan kamar Alana. Sontak saja Liam mengelus dadanya ringan, sepertinya ia harus lebih waspada terhadap macan betina yang ada di dalam sana.
Liam semakin tidak habis pikir dengan perangai gadis itu. Ia jadi menebak-nebak sendiri siapa pria gila yang mau dengan gadis liar seperti Alana.
Gadis itu benar-benar mengerikan.
...*...
...*...
__ADS_1
Satu minggu berlalu. Liam kini sudah kembali ke Tanah Air. Begitupun dengan Delvano dan juga Tiara. Semuanya sudah kembali disibukkan dengan kegiatan dan pekerjaan masing-masing.
Hari ini, Delvano terpaksa harus kembali dibuat pusing oleh kelakuan salah satu bawahannya. Sejak pagi Kaira keluar masuk ke ruangannya dengan berbagai alasan. Bahkan saat ini, wanita itu kembali ke ruangannya dengan alasan mengajak makan siang bersama.
"Kau bisa mengajak rekanmu yang lain. Maaf, aku..."
"Mereka semua sudah ada janji dengan yang lain. Hanya aku sendiri yang tidak ada teman makan siang, 'kupikir Boss akan bersedia menemaniku. Hari ini saja."
Potong Kaira cepat.
Kaira memasang wajah sendu, gadis itu terlihat tidak bersemangat seolah belum makan satu minggu. Ia begitu berharap Delvano akan menerima tawarannya kali ini. Dengan begitu ia bisa menunjukkan kepada semua orang-orang kantor yang akhir-akhir ini menggosipkannya.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Kaira kerapkali mendekati sang Big Boss. Ketekunan Kaira menggaet sosok Delvano sudah menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. Kaira juga mengklaim ke setiap orang yang bertanya, bahwa dirinya memang sedang dekat dengan sang Boss.
Hal itu menyebabkan adanya rumor bahwa memang adanya hubungan khusus antara Kaira dan juga Delvano. Aksi Kaira yang selama ini sering tertangkap basah keluar dari ruangan sang Big Boss menguatkan dugaan orang-orang.
Bukannya terganggu, Kaira malah sangat senang dengan semua itu. Gadis itu tidak keberatan menjadi bahan gosip, ataupun jadi bahan gunjingan sekalipun.
"Kau benar, semua sudah ada janji. Termasuk diriku." Jawab Delvano tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
Sebetulnya Delvano sedang tidak mengerjakan apapun, hanya saja pria dengan kemeja putih polos dengan lengan digulung itu begitu malas jika harus bersitatap dengan perempuan lain selain istrinya.
Sikap Delvano yang acuh tak acuh itu malah semakin membuat Kaira merasa tertantang. Ia begitu takjub dan kagum pada pria yang sok jual mahal seperti Delvano.
Terlebih jika Delvano sedang mode fokus seperti saat ini. Terlihat jauh lebih seksi dan memikat di mata Kaira. Bentuk tubuh proporsional yang di miliki Delvano semakin nampak jelas sebab kemeja yang dikenakan pria itu mencetak jelas bisep kokoh yang menonjol diantara lengannya.
__ADS_1
Belum lagi rambut yang tertata rapi serta kacamata pelindung radiasi menambah kesan maskulin yang terpancar dari sang Big Boss. Delvano adalah sosok pria sempuran yang diidamkan banyak kaum wanita.
Dan Kaira semakin ingin memiliki pria itu.