Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Extra Part 3


__ADS_3

"Kalian dari mana?" Tanya Delvano mengerutkan dahinya. "Kau membawa istriku kemana lagi Momm?" Kata Delvano lagi.


Kedua wanita berbeda generasi itu hanya memasang senyum santai, mereka mendatangi kantor Delvano setelah hampir seharian melakukan segala kegiatan bersama-sama.


Setelah melakukan perawatan yang menghabiskan lebih dari 735 juta per-orang itu keduanya melanjutkan dengan berbelanja sepuasnya di pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut.


Entahlah, Tiara begitu takjub pada semangat Ibu mertuanya yang masih berjiwa muda. Meski usianya sudah lebih dari 54 tahun namun nyatanya masih kuat menjalani serangkaian kegiatan, dan dilanjutkan dengan berburu barang-barang mewah incarannya. Sungguh luar biasa.


Delvano segera beranjak dari kursi kebesarannya, ia berjalan mendekati sang istri, merangkulnya dan memberi kecupaan singkat di dahi.


"Makasih sayang." Ucap Tiara lembut seraya menduduki sofa yang sudah Delvano persilakan dengan menariknya pelan.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Momm." Kata Delvano lagi. Meski ia sudah dapat menebak jawaban apa yang akan didengarnya, namun tetap saja Delvano penasaran.


"Huh, kau ini. Sejak kapan kau menjadi pria bawel dan selalu ingin tahu." Celetuk Nyonya Bellena pada putranya yang kini duduk bersebelahan dengan menantunya.


Delvano menautkan sebelah alisnya, ia sedikit heran dengan jawaban sang Ibu yang kelewat ketus. Ada apa dengan Nyonya Besar tersebut?.


Delvano segera melirik ke arah sang istri, pertanda meminta jawaban dari sikap ibunya saat ini.


"Kami habis perawatan, setelah itu pergi berbelanja. Tapi sayangnya ada satu barang branded yang telat Mommy klaim, jadinya barang incaran Mommy sudah terlanjur diambil orang, sayang." Jawab Tiara pelan namun masih jelas terdengar oleh suaminya.


Delvano membuang napas pelan. Ini sering terjadi namun tetap saja ia tak mengerti. Mengapa wanita seaneh itu, hanya karena tak mendapat barang incaran sampai membuat mood buruk seperti itu. Memang apa istimewanya? Bukankah itu sangat tidak penting.


Namun begitu, Delvano ingin tetap berusaha menenangkan dan menghibur hati sang Mommy. Delvano segera berdiri dan mendekati laci kerjanya. Ia tampak mengambil sesuatu dari sana.


"Ini," ucap Delvano seraya mengangsurkan benda persegi ke hadapan Nyonya Bellena. sebuah Black Card yang nyatanya mampu menerbitkan senyum di wajah yang sudah banyak dipenuhi keriput namun tetap mempesona.


"Gunakan sepuasmu, Momm." Lanjut Delvano kemudian kembali menduduki kursi sebelumnya.


Sebenarnya Nyonya Bellena mempunyai banyak jenis kartu yang sama, namun entah kenapa jika diberi secara cuma-cuma rasanya beda saja. Terlebih, putra kesayangnnya lah yang memberikannya.

__ADS_1


"Kau memang putraku yang paling pengertian Vano." Puji Nyonya Bellena dengan senyumnya yang lebar. Wanita baya itu mengecup pipi kanan sang putra kemudian berpamitan pada sepasang suami istri itu.


Ia sepertinya memang harus segera keluar dari sana sebab Delvano sudah tak lagi menghiraukan ibunya yang berjalan menuju pintu. Fokus pria itu seketika tertuju hanya pada Tiara.


"Huhh, dasar anak nakal. Rupanya kau mengusir ibumu ini secara halus." Dengus Nyonya Bellena pelan.


Wanita baya itu segera pergi dari depan ruangan Delvano, ia ditemani para bodyguard dan asisten pribadi yang senantiasa menemaninya kemanapun sang Nyonya melangkah. Ya, kecuali toilet dan ruangan pribadi lainnya.


...*...


...*...


"Sayang, kau keterlaluan." Ucap Tiara dengan manja. Posisinya kini sudah berada di atas pangkuan Delvano. Ia mendengus kecil seraya memukul lembut dada bidang prianya itu.


"Memang apa yang sudah kulakukan, hem? Aku hanya mencoba mengambil waktu berhargaku denganmu dan memberikan sesuatu yang memang Mommy senangi. Tak salah bukan?" Jawab Delvano dengan senyumnya yang menawan.


Tiara menggeliat kecil diiringi desahaan manja yang berhasil lolos dari mulutnya yang kini sedikit menganga.


"Aku sangat menginginkanmu Ara..." Serak Delvano tepat di telinga istrinya.


Tiara tak kuasa menjawab, wanita itu hanya mengangguk sementara tangannya sudah melingkar di leher kokoh sang CEO tampan tersebut.


Selama kegiatan mereka berlangsung, seseorang di luar sana mengepalkan tangannya seraya menggerutu dan mengumpat. Hukaira Zilgwen, wanita itu sejak tadi mengamati ruangan sang Boss. Bahkan ia pun mengetahui saat kali pertama Nyonya Bellena dan Tiara tiba di sana.


Namun ia begitu jengkel, saat hanya melihat sang Nyonya Besar saja yang keluar dari ruangan tersebut. Lalu dimana wanita sok cantik itu? Sedang apa Tiara di ruangan Bossnya? Mengapa belum keluar juga?.


"Dasar wanita gatal! Bisa-bisanya dia melemparkan diri di waktu petang seperti ini!" Gerutunya sebal.


Meski Kaira tak dapat menyaksikan apa yang tengah terjadi di dalam sana. Tetapi ia sudah dapat memperkirakan apa yang sedang keduanya lakukan di ruangan tertutup dengan durasi yang cukup lama.


Pikiran Kaira semakin kemana-mana, ia hampir menangis lantaran merasa tak rela. Harusnya ia yang ada di ruangan itu, harusnya ia yang saat ini bergumul mesra dengan Delvano. Sang CEO tampan yang terkenal dengan pesona daya pikatnya.

__ADS_1


"Nyonya Kaira, permisi."


Kaira sedikit tersentak dengan kedatangan Office Boy yang tiba-tiba saja datang membawa nampan dengan 2 gelas kopi latte di atasnya.


Sudah pasti untuk Delvano dan juga Tiara bukan?.


Wanita dengan riasan tebal serta dress kurang bahan itu perlahan menggeser tubuhnya bermaksud memberi jalan, namun sedetik kemudian ia terpikir bahwa ini adalah kesempatannya untuk menunjukkan diri ke hadapan Nyonya Muda abal-abal itu.


"Berikan! Biar aku saja!" Ucap Kaira pada OB tersebut.


"Maksud Nyo..."


"Sudah sini cepat, sana pergi! Kau kerjakan yang lain saja!" Sambar Kaira seraya mengambil nampan kopi dari tangan OB yang nampak melongo saja menerima perlakuan aneh dari Wanita di hadapannya.


"Tapi Nyonya itu perkerjaan saya." Jawab sang OB tak enak hati.


Kaira tak lagi mendengarkan, ia melengos begitu saja dan segera memasuki ruangan CEO.


Saat tiba di dalam ruangan, Kaira sedikit tertegun dengan apa yang ia saksikan. Pria yanh selama ini dambakan itu tengah memangku wanita sialan itu di kursi kebesarannya. Hati Kaira terbakar panas, ia menipiskan bibirnya menahan sesak yang tiba-tiba ingin keluar melalui umpatan di mulutnya.


"Sial!" Ucap bathin Kaira.


Sedang Delvano nampak santai dengan kedatangan Kaira, ia tak terkejut sama sekali seolah bisa menebak semua ini akan terjadi.


Dengan wajah dinginnya menatap datar pada Kaira yang kinj berjalan anggun mendekati meja kerjanya.


"Sayang, biarkan aku turun duluuuu." Rengek Tiara dengan suaranya yang manja, bahkan terdengar lebih manja di telinga Delvano.


Delvano menggigit bibir bawahnya, ia begitu gemas dengan tingkah sang istri yang dengan beraninya memainkan peran. Apa katanya? turun? lalu kenapa wanitanya itu malah semakin marapatkan tubuh dengan sang suami? Sungguh menggemaskan.


"Ini kopi anda, Tuan." Ucap Kaira seraya meletakkan 2 gelas kopi ke atas meja kerja Delvano.

__ADS_1


Ia ingin segera keluar dari ruangan. Kupingnya terasa panas dengan hati yang kian berdenyut nyeri. Apalagi melihat reaksi Delvano yang datar saja saat dirinya undur diri. Sungguh sial!.


__ADS_2