Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Ikutlah Denganku


__ADS_3

Sudah di penghujung hari, obrolan Delvano dan Nako baru saja usai. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari pekerjaan hingga masalah demi masalah yang di hadapi Delvano.


Berada di puncak kekuasaan, membuat posisi Delvano diidamkan kebanyakan orang. Terlebih mereka yang haus akan jabatan. Hal itu membuat CEO MHW Company tersebut memiki banyak saingan bisnis bahkan musuh yang berusaha menjatuhkannya.


Kecelakaan 5 bulan lalu adalah salah satu kemalangan Delvano, saat itu ia hendak menghadiri undangan bisnis dari Rival bisnisnya, meski Delvano curiga di awal tapi ia tetap memutuskan untuk pergi lantaran ingin menghindari pertengkarannya dengan Elmira.


Hingga saat ini, Delvano benar-benar belum mengingat semuanya dengan benar. Memori yang hilang itu seperti kepingan puzzle yang balum mampu ia susun. Dan Delvano kesal, kesal pada dirinya sendiri.


"Tidak bisa seperti ini terus, selama aku berusaha mengingat. Kau lakukan tugasmu dengan benar." ucap Delvano pada akhirnya.


"Baik Tuan."


"Satu lagi, aku akan disini malam ini. Pergilah!."


"Maaf, tidak bisa Tuan." ucap Nako menunduk tak nyaman.


Delvano mengernyit tak suka dengan apa yang dia dengar. "Apa maksudmu?."


"Tuan dan Nyonya besar meminta Anda untuk pulang ke kediaman utama... "


Jeda sejenak.


"Tuan dan Nyonya besar juga berpesan agar Anda membawa Nona Tiara menghadap,Tuan." tutur Nako semakin menunduk menyembunyikan raut piasnya yang seolah bersiaga menerima amukan sang Tuan.


Deg!...


Delvano membeku, tubuhnya memanas seiring emosinya yang kembali mencuat. Meski ia sudah memperkirakan hal ini sebelumnya, namun tetap saja ada rasa khawatir yang terselip di antara hatinya yang tetap kukuh untuk mempertahankan Tiara. Apapun yang terjadi.


"Kalau begitu, siapkan segalanya!."


"Baik Tuan."


Nako mengangguk patuh, sebelum akhirnya ia berbalik pergi dan bernapas lega.

__ADS_1


...*...


...*...


Di dalam kamar, Tiara tak bisa diam dengan tenang. Entah apa yang ia pikirkan, saat ini ia duduk merenung di bibir ranjang menunggu kedatangan Delvano.


Ia mengingat kembali percintaan panasnya dengan Delvano beberapa jam lalu di mobil, meski ia tau betul hati Delvano masih tertuju padanya namun, Tiara tak serta merta bisa melupakan posisinya, statusnya yang sudah pasti akan di sembunyikan Delvano dari dunia.


"Bolehkah aku egois, aku ingin di akui." lirih Tiara pelan, air mata sudah menggenang di pelupuk mata indahnya.


Sejurus kemudian, ia teringat akan apa yang di lihatnya pagi tadi. Keluarga kecil yang sempurna tanpa ada cacat cela, lengkap, kaya raya, dan juga dari keluarga konglomerat.


Siapa dirinya?, Tiara hanya perempuan desa biasa yang kebetulan bertemu dengan seorang pangeran berkuda putih.


Tiara kembali terisak, memikirkan seberapa jauhnya perbadingan antara dirinya dan juga sang suami.


"Sayang, kau menangis." Tanya Delvano cemas melihat keadaan Tiara yang menangis sendirian seperti ini.


Mendengar suara Delvano yang sukses menyentaknya, Tiara tidak sadar bahwa suaminya sudah kembali. Ia terlalu hanyut dalam pemikirannya sendiri. Buru-buru ia menghapus sisa air matanya.


Delvano segera mendekatkan diri, kemudian duduk di samping Tiara. Ia cukup mengerti, bahwa Tiara pasti masih mengkhawatirkan banyak hal.


"Aku di sini. Maaf, ada banyak hal yang harus ku urus." ucapnya mengelus kepala Tiara dengan lembut.


"Mau aku ceritakan sesuatu." tanyanya seraya menatap manik mata yang masih basah itu.


Tiara mengangguk. Sekarang ia mulai paham bahwa suaminya bukanlah "Aryan" anak nelayan dari desa Zalara. Ia adalah Delvano Mahawira, seorang pebisnis sukses dengan banyaknya kesibukan yang tak akan pernah Tiara pahami.


"Kau tau, selama ini hampir setiap malam aku menyelinap masuk ke kamarmu." ucap Delvano enteng.


Ia mengulum senyum, saat mendapati ekspresi Tiara yang terkejut.


"Be-benarkah?."

__ADS_1


Delvano mengangguk.


"Aku tau kau selalu menangis di kamar ini sendirian, menahan diri untuk tidak bertindak di luar batas."


Delvano menarik napas dalam, menahan sesak di dadanya yang teringat akan kesedihan Tiara selama satu minggu ini.


"Maafkan aku, karna aku tidak menemuimu langsung Ara."


Delvano tersenyum miris, ia merasa seperti pengecut setiap kali berhadapan dengan wanita yang di cintainya.


"Kenapa?."


Delvano membasahi bibirnya sendiri, tenggorokannya bahkan terasa kering saat ingin membahas hal ini dengan Tiara. Ia tak sanggup.


"Aku hanya belum siap menjelaskan hal yang aku sendiri belum memahaminya sayang."


"Maka dari itu, tetaplah di sisiku. Sampai semuanya jelas, aku ingin kau tetap ada bersamaku Ara." lanjutnya yang kemudian mencium kedua tangan Tiara penuh perasaan.


Katakan Delvano egois, ia tak rela jika harus kehilangan Tiara. Tapi ia juga belum bisa meninggalkan Elmira, selama 5 bulan ini. Perempuan itu sudah setia menunggunya. Belum lagi si kecil Aiden buah cintanya, putranya tidak tau apapun. Rasanya tidak adil jika ia meninggalakn Elmira hanya karna perasaannya sudah berubah.


"Sudah ku katakan sejak awal, aku akan selalu ada di sisimu Kak."


"Kau yakin?." tanya Delvano, ia menatap intens wajah Tiara yang penuh keyakinan. Hatinya kembali terenyuh, Tiara gadis lugu yang ia temui jauh di sana. Wanita itu memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya demi Delvano yang butuh pertolongan.


"Aku yakin." ucap Tiara mantap.


"Kalau begitu, ikutlah denganku."


"Kemana?." ucapnya dengan kening mengkerut.


"Ke Kediaman utama."


...*...

__ADS_1


...*...


Tbc...


__ADS_2