Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Masa Lalu Tiara


__ADS_3

Selesai sarapan di meja makan yang penuh tekanan itu, Tiara segera beranjak dari duduknya. Ia harus segera pergi dari sana, sebelum kembali menyaksikan adegan menyakitkan lainnya.


Ia memang tidak diizinkan untuk melakukan pekerjaan apapun, lantaran Nyonya Bellena sudah mewanti-wanti bahwa Tiara adalah tamu spesial, dan ia berhak menerima pelayanan yang sama dari para pelayan.


Dalam beberapa hari ini pun, kedekatan dua wanita berbeda generasi itu sering kali mencuri perhatian penghuni mansion.


Dan hari ini, Nyonya Bellena semakin ingin mendekatkan diri dengan gadis berwajah lugu itu.


"Tiara," panggil Nyonya Bellena.


"Bisakah setelah ini kau menemaniku berjemur di taman?" tanyanya penuh harap. Ia menahan pergelangan tangan Tiara agar tetap tinggal.


"Sa-saya Nyonya?"


"Mo...mmy, panggil Mommy. Okay?"


Tiara mengangguk, seraya mengulas senyum simpul. Sejak awal Nyonya Bellena memang selalu memperlakukannya seperti keluarga. Entah karna merasa berhutang budi, atau hanya sekedar iba.


Namun begitu ia merasa sangat bersyukur, sebab selama ini ia tak pernah didampingi oleh sosok Ibu sejak balita.


Tiara kecil tidak pernah merasakan kehangatan layaknya anak-anak lain seusianya. Ia hanya diurus oleh Pak Aris yang merupakan adik langsung dari sang Ayah.


Saat Tiara beranjak remaja, ia semakin terbiasa dengan kemandirian yang sudah tertanam dalam dirinya, keadaan mengajarkannya untuk bisa menangani masalahnya seorang diri.


Tiara kecil tidak pernah mengeluh, ia selalu berhasil memendam rasa irinya pada teman-temannya yang selalu didampingi orangtua saat acara sekolah.

__ADS_1


Seperti saat ada rapat orangtua, atau saat dibagikannya raport tahunan. Tiara kecil hanya bisa menahan rasa sesak, sesak lantaran ia merasa tidak seberuntung yang lainnya.


Ia juga ingin dipeluk seperti itu, dipeluk sebagai apresiasi oleh sang Ibu saat nilainya lebih baik. Atau pelukan penenang saat nilainya turun, atau juga karna ia tengah di usili teman sekelesanya.


"Padahal kau bisa meminta padaku Momm, aku punya cukup waktu untuk menemanimu." usul Elmira membuyarkan lamunan Tiara.


Elmira merasa terusik, menyaksiakn interaksi keduanya membuat Nyonya muda tersenyum kecut, ia merasa iri dengan kedekatan antara Nyonya Bellena dengan gadis desa itu.


Memang apa kelebihannya? bukankah kedatangannya saja belum genap satu bulan? lalu mengapa mereka bisa begitu mudahnya dekat dalam waktu singkat.


Elmira bahkan tak pernah sekalipun mengobrol, atau bepergian berdua dengan sang mertua. Seperti yang dilalukan wanita biasa itu.


"Cih! selama ini kau selalu menolak jika aku meminta, karna kau sibuk dengan teman-teman sosialitamu. Jadi aku tidak terbiasa denganmu El,"


"Sudahlah, sekarang ada Tiara yang akan menemani Mommy kemanapun. Jadi kau bisa sepuasnya bermain di luaran sana."


"Apa yang kau katakan Momm?" sungut Elmira tak terima.


"Kenapa, aku benar kan? memang hanya itu yang bisa kau lakukan. Bahkan Aiden saja lebih dekat dengan pengasuhnya daripada dengan Ibunya sendiri. Kau terlalu sibuk dengan duniamu El!" sanggah Nyonya Bellena tak mau kalah.


Melihat situasi yang mulai panas, Delvano segera berdiri dari duduknya.


"Cukup!"


"Aku harus pergi sekarang."

__ADS_1


Seketika situasi langsung mereda, lalu ia berpamitan dengan mencium kening Elmira dan Aiden sebentar.


Bocah anteng cenderung pendiam itu sejak tadi hanya fokus dengan makanannya. Ia sama sekali tidak menghiraukan apapun yang penting ia harus segera menghabiskan makanannya tanpa sisa.


...*...


...*...


Dalam perjalanan menuju kantornya, Delvano lagi-lagi melamun memikirkan air muka gadis itu. Ia mengerang frustasi, merasa sesak terpaksa kembali menyakiti hati sang istri.


Pertengkaran kecil sang Ibu dan Elmira pun menambah kecurigaannya bahwa selama ini hubungan mereka memang tidak sebaik yang di katakan Elmira.


"Nako, kau bilang Liam Gilbert masih berada dalam daftar bukan?" tanya Delvano pada asistennya yang kini tengah fokus menyetir.


"Benar, Tuan."


"Jadi kapan aku bisa bertemu dengannya?"


"Hari ini Tuan, pertemuan Anda dengan Tuan Liam sudah di jadwalkan."


Delvano tersentum sinis, apa akhirnya ia akan menemukan titik terang? rasanya ia sudah tidak sabar untuk menemui pria itu.


...*...


...*...

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2