
Sudah sejak 15 menit yang lalu, keadaan masih belum juga kondusif. Suara tembakan itu terus menggelegar, menerbangkan burung-burung yang sebelumnya hinggap damai di pepohonan.
Tiara berada di tempat yang aman, yakni di pelukan erat sang suami.
Kedua tubuh itu berhimpitan di pojok antara dinding pembatas, juga badan pohon yang besar, cukup untuk Delvano dan Tiara bersembunyi.
Suara tembakan dari peluru yang di lepaskan terus menggema mengerikan pendengaran.
"Dibalik pilar sana!" desis Delvano memberitahu semua bodyguardnya.
Mereka mengikuti arahan sang Big Boss, kemudian berhasil menumbangakan beberapa pria yang juga sama bersenjata.
Nako sendiri cukup kualahan, lantaran tadi sempat menarik tubuh Pak Aris yang belum siap. Sementara Aryan sudah kehilangan kesadarannya
Beruntung, ada dokter Tama yang kini sudah bergabung dan memberikan pertolongan.
Pria itu kehilangan banyak darah, hingga kini keadaannya cukup mengkhawatirkan.
"Menyebar!" titah Delvano pada Nako melalui earphonenya.
Ada sekitar kurang lebih 4 arah asal peluru yang Delvano amati sejauh ini. Ia yakin masih ada lagi yang lainnya.
Mata liarnya terus menyisir bersih ke segala penjuru tempat. Ia menangkap sinyal berbahaya dari arah samping kanannya yang tak tertutupi dengan sempurna.
Selain harus fokus, Delvano juga semakin mengkhawatirkan keadaan Tiara yang terus gemetar. Ia memeluk posesif tubuh mungil sang istri, menelusupkan wajah ketakutan itu di dadanya.
"Kau bersamaku Ara! Tenangkan dirimu. Tidak akan terjadi apapun," ucap Delvano lembut, seraya mengusap mesra punggung Tiara.
"Angkat kepalamu, lihat aku!"
Tiara menurut. Wanita cantik yang dulu selalu hidup dalam ketenangan itu begitu ketakutan dengan apa yang terjadi. Ini lebih menegangkan, ketimbang saat di mobil kala itu.
Delvano mengecup keseluruhan wajah sang istri, melabuhkan kecupan terakhirnya di kelopak mata Tiara yang basah karna air mata.
"Aku mencintaimu sayang, diam di sini dan tunggu aku!"
__ADS_1
"Hem." sahut Tiara disertai anggukan kecil. Ia tak bisa melakukan apapun, dan akan memepercayakan semuanya pada sang suami.
Delvano mencuri ciuman di bibir sang istri, sebelum akhirnya melangkah gesit menyambar salah satu dahan pohon dan mengayunkan tubuhnya melayang ringan, hingga bersembunyi dibalik rimbunnya dedaunan.
"Let's play the games." desis Delvano menyeringai.
Dari atas sini, mata elang Delvano bisa lebih leluasa memantau keadaan. Ia dapat menangkap siluet seseorang yang berada di balik salah satu tumpukan besi tua di ujung sana.
Dengan gerakan terlatih, Delvano meraih terali besi runcing sebagai tambahan pegangannya, ia sempat kesusahan lantaran tak ayal benda tajam itu melukai tangannya yang tak memakai pelindung apapun.
Tapi ini jalan satu-satunya agar Delvano bisa lebih dekat dengan siluet tersebut. Tak ada yang bisa melihat gerak gerik Delvano, sebab tubuhnya terhalang rerimbunan pohon yang tinggi ini. Dan...
Srett!
"Argh!!"
Pria yang berbalut pakaian serba hitam itu mengerang kesakitan, sebab tangannya yang memegang senjata disayat ringan oleh Delvano.
Delvano hanya bisa menggunakan pisau lipat berbentuk cerulitnya, lantaran pistolnya sudah ia tanggalkan tadi.
Srett!
Sayatan di perut pria malang itu memuncrat begitu saja pada tangan si pemilik wajah bengis, yang mampu menggetarkan jiwa.
Brakk!
"Brengsek!"
Kaki jenjang Delvano menendang telak seseorang di belakangnya, pria itu hendak menyerangnya. Namun insting Delvano begitu kuat, hingga menjadi boomerang bagi pria yang kini tersungkur na'as memuntahkan darah kental.
Adegan mengerikan itu tentu disaksikan oleh para penyerang yang lain, mereka gemetar ketakutan oleh kekalapan sang CEO kejam yang menyerang tanpa ampun.
"Ini yang kalian inginkan bukan?!!" seru Delvano menggelegar.
Musuh sesungguhnya Delvano seolah sengaja mengusik ketenangannya, memancing jiwa liar Delvano agar mencuat ke permukaan.
__ADS_1
Para penyerang itu kini sudah berada ditangan seluruh bodyguard Delvano, keberanian yang sejak tadi mereka miliki seolah menguap begitu saja.
Dokter Tama sudah memberikan pertolongan darurat pada Aryan, dan kini sudah memasukannya ke dalam mobil yang dibawa Darren di saat Delvano melakukan perlawanan tadi.
"Bawa semuanya ke tempat eksekusi!"
"Baik, Boss!"
"Sebagian selesaikan ini semua!" titah Delvano tak bisa dibantah.
Keadaan sudah kembali seperti semula, tempat ini sudah bersih tanpa meninggalkan bekas penyerangan sedikitpun.
Setelah membersihkan tangannya, kini Delvano teringat akan keberadaan Tiara.
"Ara!" gumam Delvano.
Ia segera beranjak dari sana, melangkah lebar ke tempat semula ia meninggalkan sang istri. Namun deru suara kendaraan beroda dua tiba-tiba berhenti di hadapannya.
Delvano terkesiap, namun itu tak berlangsung lama sebab ia menemukan Tiara yang menumpangi jok bagian belakang.
"Kak..."
Tiara datang bersama Louis, entah bagaimana pria itu bisa membawa Tiara dengan menggunakan motor besarnya.
"Maaf, aku membawa wanitamu." ucap Louis sopan.
"Hem."
Delvano tak bisa marah, sebab kini ia merasa bersyukur sebab ternyata Louis mau menjaga Tiara, di saat ia sedang tak berada di samping istrinya itu.
...*...
...*...
Tbc...
__ADS_1