Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Penyusup?


__ADS_3

Derap langkah yang perlahan mendekati jendela kamar yang berada di lantai dua itu begitu terlatih dan mantap.


Siluet dengan sosok yang bertubuh tinggi, besar serta tegap. Ia begitu terampil dengan terus berusaha menggapai pagar pembatas balkon kamar milik Tiara.


Salah satu kakinya kini sudah menapak, turun perlahan dan berjalan mendekati pintu serta jendela yang ukurannya cukup besar.


Mencoba mencari celah melalui jendela, namun nihil sebab semuanya tertutup rapat. Tak ingin menyerah, tangannya terus berusaha mencari apapun yang bisa dijadikan alat untuk membuka salah satunya.


Tak juga menemukannya, ia kini berpindah ke pintu balkon tersebut. Sesuai dugaannya, Tiara memang seringkali ceroboh seperti ini. Sebelumnya jendela balkon yang lupa dikunci, sementara pintu ia tutup rapat. Namun malam ini ternyata sebaliknya.


Mansion utama memang terbilang ada di level paling tinggi jika soal keamanan. Namun tetap saja, ini berbahaya jika orang lain berhasil menerobos penjagaan.


Setelah memasuki kamar tidur Tiara, sosok tersebut diam berdiri di salah satu pojok kamar yang terhalang nakas. Ia memperhatikan Tiara dari sana dengan pencahayaan yang hanya dari lampu tidur saja.


"Cantik." ucapnya kala Tiara mengubah posisi tidur yang kini menyamping ke arahnya.

__ADS_1


Tiara menggeliat kecil, kemudian menendang selimutnya tanpa sadar.


Jakun yang naik turun itu menandakan ia cukup kesulitan menelan salivanya, penyebabnya tak lain ialah karna pemandangan indah yang kini ada di hadapannya.


"Kenapa kau memakai pakaian sialan itu sayang?" tanyanya lebih pada diri sendiri.


Sungguh. Gaun tidur dengan tali model spageti itu membuat Tiara nampak lebih seksi dengan panjang hanya menutupi setengah pahanya saja. Bahkan saat ini ujung kain itu terangkat ke atas memperlihatkan kenikmatan yang masih tertutup kain berbentuk segitiga.


Delvano akui, ia memang sudah sangat rindu pada sentuhan sang istri.


Ya, si penyusup itu tak lain ialah Delvano. Ia terpakasa melakukan ini lantaran setelah malam itu Tiara terus menghindar darinya. Sebenarnya bisa saja ia masuk melalui pintu depan, namun ia tak ingin mengambil resiko jika nanti ada yang memergokinya.


"Apa malam ini aku boleh mendominasi permainan?"


Pertanyaan menggoda itu seolah menegaskan bahwa malam-malam sebelumnya mereka selalu melakukan penyatuan. Dan hal itu sama sekali tak pernah terjadi, sebab Delvano tak ingin bermain tanpa adanya rasa cinta.

__ADS_1


Hal itulah yang memicu kecurigaan Elmira semakin besar, hingga ia berpikir bahwa Tiara lah alasan dari keengganan Delvano.


"Aku hanya ingin melindungimu sayang, sedikitpun tak ada maksud lain dari sikapku yang ternyata begitu menyakitimu,"


"Maafkan aku." Bisik Delano seraya berlutut di samping tempat tidur yang ditempati Tiara.


Delvano berdiri, lalu membenarkan selimut Tiara yang menjuntai ke lantai. Ia juga harus ekstra menahan hasraatnya yang tiba-tiba saja mencuat, kala ujung jemarinya tak sengaja bersentuhan langsung dengan kulit mulus Tiara.


"Sial!" geram Delvano frustasi.


Menarik napas dalam, ia kembali ke posisi awal dan mencium kening Tiara lembut. Hanya ini yang bisa ia lakukan hampir setiap malam, setelah itu berdiri hendak meninggalkan kamar Tiara. Namun getar ponsel di saku jaket menghentikan langkahnya.


"Katakan." titahnya setengah berbisik. Ia memilih untuk melanjutkan langkahnya dan keluar tanpa tau wanita yang kini berbaring di balik selimut itu meneteskan air mata di kedua ujung matanya yang terpejam.


...*...

__ADS_1


...*...


Tbc...


__ADS_2