
Warning! ⚠️⚠️⚠️
Dokter Tama segera menyusul, sedang Darren kembali ditugaskan untuk menghandle perusahaan.
Dokter tampan itu begitu terkejut, dengan apa yang terjadi. Setelah mendengar kabar dari Nako, ia segera menghubungi tim dokter yang ada di Negara tersebut.
"Siapkan segalanya! Setelah melakukan pemeriksaan, kita harus segera memberi tindakan terakhir."
Apa yang ditakutkannya selama ini sepertinya terjadi pada sang sahabat. Pria keras kepala itu memang sangat susah diberitahu.
Ini semua salahnya, salahnya yang membiarkan Delvano bertindak sesukanya. Saat pertama kali Delvano kembali, harusnya pria itu melakukan pemeriksaan lanjutan.
Karna menurut pemeriksaan awal, ada cedera otak yang dialami Delvano akibat kecelakaannya kala itu.
Jika hal itu dibiarkan, maka akan membahayakan nyawa Delvano sendiri. Harusnya, Delvano kembali menerima penanganan khusus, jika perlu tindakan operasi, maka harusnya dilakukan sejak awal.
Hanya saja, tindakan operasi cukup beresiko. Jika operasi Delvano berhasil, maka kemungkinan ia akan kembali sehat seperti semula, namun dengan ingatan yang tak pasti kembali, atau hilang selamanya.
Dan jika gagal, Delvano akan mengalami koma yang entah sampai kapan akan sadar.
"Aku tidak memintamu menjalankan operasi saat ini juga, karna hal itu harus melalui prosedur yang cukup panjang. Sudah ku katakan, jalani pemeriksaan menyeluruh, jangan hanya mengandalkan obat pereda nyeri saja." jelas dokter Tama kala itu.
Sudah pasti Delvano menolak. Banyak hal yang harus ia kerjakan setelah kembali, maka ia memilih untuk mengulur-ngulur waktu. Dengan bantuan obat pereda nyeri, ia mampu bertahan hingga sejauh ini.
Dokter Tama tak bisa memaksa, ia hanya bisa memberi nasehat dan mengingatkan sang sahabat agar tak terlalu memforsir diri dan memikirkan hal-hal yang berat.
Bahkan atas permintaan Delvano, dokter Tama perpaksa tak mengatakan semuanya kala Nyonya Bellena dan Tiara mendatanginya di rumah sakit.
...*...
...*...
Sedang dibelahan dunia lainnya.
"Anda tenang saja Tuan, semua urusan sudah ditangani dengan baik. Asisten Tuan Liam juga sudah mengabari bahwa malam ini mereka akan kemari menemui Anda." tutur Nako menjelaskan.
__ADS_1
Delvano menggeleng pelan, bukan itu yang ingin ia dengar saat ini. Tubuh lemah dengan selang infus ditangannya itu membuat pergerakan Delvano terbatas.
Ia kini telah sadar, setelah sebelumnya tiba-tiba pingsan dan mengejutkan semua orang.
Sedang gadis cantik yang semalaman terjaga itu sepertinya sangat kelelahan, ia tertidur pulas, meringkuk seperti bayi di sofa tunggu samping ranjang pasien.
Delvano menatap sekilas, kemudian kembali mengalihkan atensinya pada sang asisten yang berdiri di sampingnya.
"Bagaimana dengan istriku?"
"Nona Tiara aman Tuan, ia ada di mansion utama saat ini." jawab Nako yakin.
Ia sudah mengetahuinya sekarang, Delvano sudah menyerahkan isi dari amplop coklat tersebut. Sepertinya, Nako lupa menyimpannya dengan benar, hingga tersalip di tumpukan berkas penting.
Kini semuanya sudah jelas, bahwa Tiara lah wanita satu-satunya sang Tuan. Namun, gurat kekhawatiran di wajah Delvano begitu kentara, hingga Nako kembali bertanya.
"Apa ada hal lain yang jadi kecemasan Anda Tuan?"
"Cari orang yang tepat untuk menjaga istriku selama aku di sini, pastikan ia bisa dipercaya. Dan terbiasa melakukan tugas darimu."
Delvano berpikir sejenak, pertemuan pertamanya dengan Louis setelah ia kembali tak begitu baik.
Bahkan ia sempat mencurigai pria berpenampilan urakan itu ialah musuhnya, namun setelah ingatannya benar-benar kembali, semua itu sirna dengan sendirinya.
Delvano cukup tau bahwa Louis sahabat yang baik. Hanya saja, pria itu juga pasti punya kesibukannya sendiri.
Namun mengingat kini posisi penjagaan Tiara melonggar, mau tak mau ia harus menerima usulan Nako.
"Hem, kau urus saja." ucap Delvano pada akhirnya.
Dengan segera Nako menghubungi Louis yang berada di tanah air, namun berulang kali Nako mencoba, tak ada satu pun yang dijawabnya.
.
.
__ADS_1
"Ahh, Please honey!" erang sang wanita frustasi.
Sang pria mulai bergerak cepat, erangan dan desahaan keduanya saling bersahutan teredam oleh dinding kamar yang menutupi aktifitas mereka.
"Call my name!"
"Eunghh... Louis."
Lenguhan si wanita seolah jadi penyemangatnya. Hentakan liar pria iti mulai tak terkendali, hingga melesakkan bukti kepuasannya di dalam sang wanita.
"Ouhh. Sayang!" lenguh Louis saat sudah sampai di puncak kenikmatannya.
Napasnya masih terengah, ia melempar senyum nakal pada teman wanitanya.
"Delicious!" ucap Louis seraya berkedip.
Ia kemudian menarik diri, memakai handuk kecil untuk menutupi aset berharganya. Berjalan ke samping nakas, dan mengambil ponselnya yang sejak tadi berdering.
"Hallo."
"..."
"Oke, itu mudah."
Selesai menelfon, Louis kembali meletekan ponsel ke tempat semula. Lalu menghampiri wanita cantik yang kini masih berbaring di tempat tidur.
"Apa yang terjadi?"
"Aku ada tugas khusus." sahut Louis.
Ia kembali meraup bibir seksi itu, melumaat dan menyesaap madunya di sana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Note : apa yang dijelaskan oleh dokter Tama, ialah murni karangan author. Jadi mohon maaf jika tak ada cacatan dalam ilmu kedokteran. 🤭🤭🤭