
Untuk ke sekian kalinya, Tiara harus kembali menyaksikan adegan demi adegan menyakitkan tepat di depan matanya.
Kalau bukan karna dukungan dari Nyonya Bellena, ia sudah lama pergi meninggalkan mansion utama meninggalkan segala kenyataan pahit yang kini membelenggunya.
Terlebih, sejak kecil Tiara diajarkan untuk mandiri, terbiasa menghadapi masalah. Bukan lari membawa luka yang masih menganga basah.
Ia mengepalkan tangannya erat, menelan salivanya yang terasa menusuk tenggorokan. Tiara hendak membuka suara, namun teriakan antusias Aiden menarik kembali suaranya yang hampir tercekat.
"Daddy...!"
Dan teriakan Aiden berhasil menghentikan aktifitas dua orang dewasa yang kini hampir bertelanjaang dada.
Pintu yang terbuka setengah, menandakan bahwa keduanya begitu menikmati kegiatannya hingga tak sadar dengan keadaan.
Delvano dan Elmira nampak salah tingkah di mata Tiara, mereka saling melepaskan diri dengan posisi berdiri. Kancing kemeja yang sudah terbuka semua, serta rambut yang acak-acakan.
Kondisi Elmira pun tak jauh beda dengan Delvano. Wanita itu terlihat biasa saja, sama sekali tak merasa risih saat ketahuan seperti ini.
Namun tak lama ia mengubah ekspresinya secepat kilat, dan meraih tangan Aiden kemudian menariknya dari genggaman Tiara.
"Apa yang kau lakukan! Kenapa kau membiarkan anak sekecil ini melihat adegan dewasa seperti yang baru saja kami lakukan!" marahnya setengah berteriak.
"Maaf Nyonya, saya tidak sengaja."
"Lancang! ini kamar kami, berani sekali kau mendatangi kamar pasangan!"
__ADS_1
Tiara kembali mengepalkan tangannya erat, ia tetap berusaha senetral mungkin menghadapi amarah tidak jelas sang Nyonya Muda.
"Maaf Nyonya, tadi Aiden protes tak ingin makan lantaran ingin menunggu Mommy dan Daddynya." jelas Tiara yang dengan sengaja menekankan kata Daddy, seraya melirik ke arah Delvano sekilas.
"Berarti ini salahmu, harusnya kau membujuknya saja. Bukan malah membawanya ke sini!" dengus Elmira kesal.
Bagaimana tidak, karna kedatangan Tiara dan Aiden yang tiba-tiba, usahanya kembali sia-sia dan gagal, padahal tinggal sedikit lagi. Ia yakin Delvano akan kembali ke pelukannya setelah mereka melakukan penyatuan.
"Sial!" batinnya kesal.
"Sekali lagi saya minta maaf,"
"Tapi Nyonya, tanpa sadar Anda juga sudah dengan sengaja mengajarkan hal yang tidak baik bagi Aiden." ujar Tiara tenang.
"Apa maksudmu?" tanya Elmira tak terima. Berani sekali perempuan desa itu membalas ucapannya.
...*...
...*...
Seharian ini mood Delvano kembali anjlok! ia merutuki dirinya sendiri lantaran tak bisa menahan diri.
"Bodooh, bodooh, bodooh!" dumelnya seraya memukul kepalanya sendiri.
Bagaimana bisa ia hanyut begitu saja dalam godaan Elmira, ia bahkan hampir melakukannya saat itu juga dengan kondisi kamar yang tak tertutup.
__ADS_1
Di sisi lain ia merasa beruntung, sebab Tiara datang di waktu yang tepat. Ia tak bisa menjamin apa yang selanjutnya akan terjadi jika Tiara dan Aiden tak menemuinya ke lantai atas.
Namun begitu tetap saja ia kesal, sebab rencananya hari ini ia ingin memeperbaiki hubungannya dengan Tiara. Tapi dengan kejadian tadi pagi, ia yakin istri kecilnya itu sudah pasti akan menolaknya kembali.
"Semua tidak seperti apa yang kau lihat sayang." lirih Delvano menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil.
Ia menutup mata sejenak, memijit kepalanya yang tiba-tiba saja pening.
Nako yang berada di balik kemudi ikut prihatin dengan kondisi sang Tuan. Sedari tadi Delvano terus menyalahkan diri sendiri, tanpa menyadari bahwa dia juga adalah korban dalam masalah ini.
"Sudah sampai, Tuan." ucap Nako melirik Delvano dari kaca sepion.
"Aku tak sanggup bertemu dengannya Nako. Raut wajah penuh kesakitan itu sudah terlalu sering aku saksikan,"
"Brengsek!" umpat Delvano memaki dirinya sendiri. Ia menjambak rambutnya kuat-kuat, menyalurkan amarah yang sejak tadi ia tahan.
Dengan kegundahan yang masih menguasai hati, Delvano akhirnya memutuskan untuk tetap melangkahkan kakinya memasuki mansion utama.
Entah sengaja atau tidak, kata hatinya seolah sengaja membawa kaki Delvano ke depan pintu kamar Tiara.
Ia menyandarkan tubuh jangkungnya ke badan pintu yang tertutup rapat, berharap Tiara tau bahwa saat ini ia sedang setengah mati merindukannya. Mengetahui keberadaannya, dan mau mengerti posisinya yang sulit.
Antara cinta dan luka, keduanya masih membelenggu diantara hubungannya dan Tiara.
...*...
__ADS_1
...*...
Tbc...