
Mendengar teriakan tersebut, dengan segera Delvano mengacungkan pistol yang ia ambil tadi.
"Berhenti di sana!" titah Delvano dengan suara baritonnya.
Dari jarak yang terbentang, ia dapat melihat kepanikan yang terpancar dari wajah pria paruh baya itu.
"Jangan sakiti putraku!"
Pak Aris mulai luruh, ia menangis getir menatap keadaan sang putra tercinta yang satu tahun ini ia sangka telah tiada. Namun, kenyataannya tak begitu.
Ya, pria penguntit yang berhasil Delvano tahan itu ialah Aryan. Putra satu-satunya Pak Aris yang hilang saat berlayar mencari ikan satu tahunan lalu.
Aryan tak meninggal, pria muda tersebut tak terseret ombak seperti yang dikatakan para saksi yang tak lain adalah orang-orang suruhan sang dalang utama.
Mereka diperintahkan untuk memberi kesaksian palsu, hingga menyebarkan berita kematian Aryan untuk menutupi jejak pria tersebut.
"A-ayah!" gumamnya kecil.
Dia Adalah Aryano Raharris, seorang pecandu judi di Desa Zalara. Aryan sering kalah, yang kemudian terbelit hutang.
Ia didesak untuk segera membayarkan hutang piutang oleh kawan berjudinya, dan mengancam akan menghabisi nyawa Aryan jika tak mampu membayar.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Aryan dipertemukan dengan seseorang dari kota besar yang kaya raya, dan bersedia melunasi hutang-hutangnya.
Dengan syarat, ia harus menghancurkan tanah Zalara setelahnya.
Tentu Aryan menolak! sebab biar bagaimanapun Zalara adalah tempat lahirnya, dimana di sana masih ada keluarganya yang tinggal, serta jutaan kenangan yang tak bisa dilupakan.
Aryan kembali berpikir keras, bagaimana caranya keluar dari permasalahannya yang cukup pelik.
Akhirnya, ia menyerahkan diri pada si pria kaya dan mau dijadikan budak, asal Aryan dibantu keluar dari Desa Zalara tanpa meninggalkan jejak.
Awalnya Aryan terkejut, dengan tugas-tugas yang diserahkan padanya. Ia diharuskan menyingkirkan setiap orang yang dianggap pesaing dari pria kaya itu.
__ADS_1
Namun seiring berjalannya waktu, Aryan mulai terbiasa dengan profesi barunya. Nama panggilannya pun berubah, setelah ia diangkat jadi asisten langsung sekaligus kepala bodyguard.
Ano. Penggalan nama yang diambil dari nama aslinya.
Bahkan Ano adalah orang yang dengan sengaja menaruh rakitan Bom di dalam kapal pesiar yang ditumpangi Delvano kala itu. Ia diperintahkan untuk membunuh seluruh penumpang serta para awak kapal sekaligus.
Dia ada di sana, bersama anak buahnya yang lain. Ano cukup cerdik, ia segera meninggalkan kapal beberapa detik sebelum ledakan itu terjadi.
Sialnya, usaha Ano gagal. Delvano selamat hingga membuat si pria kaya murka. Ano kembali ditugaskan untuk kembali mengincar nyawa Delvano, namun ia terkecoh setelah mengetahui Pak Aris dan Tiara berada di kediaman mangsanya.
Fokus Ano terbagi, antara segera membunuh Delvano atau menyelamatkan pak Aris dan Tiara lebih dulu. Ano pikir, kedua keluarganya dijadikan tawanan sama sepertinya, lantaran Delvano sudah mengetahui identitas aslinya.
...*...
...*...
"Kau salah! Aku Ano, bukan Aryan!" kilahnya tak ingin sang Ayah memaksakan diri mendekatinya.
Tapi sungguh. Delvano sedikitpun tak berniat mencelakai Pak Aris yang sudah berbaik hati menyelamatkannya, namun jika pria paruh baya itu berbuat ulah. Delvano tak akan segan memberinya peringatan kecil.
Siapapun mengetahui, bahwa darah jauh lebih kental dari pada air.
"Selamatkan putraku, siapapun tolong!" teriak Pak Aris berharap salah satu dari mereka mau berbelas kasih padanya.
Meski pria malang itu menampik, tapi ia yakin bahwa itu adalah Aryan, putranya.
Tangan yang sejak tadi membidik tegap, tiba-tiba saja luruh turun ke bawah. Jantung Delvano serasa berhenti, saat menangkap sosok sang istri yang berjalan mendekat ke arahnya.
Dengan langkah tergesa, Delvano menyambut kedatangan Tiara dan menjatuhkan senjatanya begitu saja.
"Sayang!"
Panggil Delvano dengan guratan kecemasan.
__ADS_1
Mengapa Tiara kemari? kenapa tak menunggunya saja di mansion utama? siapa yang membawanya ke mansion ini? bagaimana ia harus menjelaskan tentang sepupunya yang ia tahan. Delvano tak ingin Tiara salah paham.
"Kau bilang akan menemuiku, tapi kau tak datang kak. Aku mencemaskanmu!" terang Tiara seraya berjalan semakin mendekati suaminya.
Hampir semalaman Tiara tak bisa memejamkan matan, entah mengapa ia begitu mengkhawatirkan Delvano setelah dijanjikan pertemuan namun nyatanya pria itu tak datang, bahkan hingga fajar menjelang.
Tiara memutuskan untuk mencari keberadaan Delvano setelah sebelumnya ia mendapatkan pesan singkat misterius di ponselnya.
Bunyi pesan singkat tersebut berisi ancaman hilangnya nyawa Delvano, juga menyertakan lokasi tempat Delvano berada.
Sontak saja Tiara panik, tanpa berpikir panjang ia minta pada supir pribadinya agar diantarkan ke alamat yang tertera. Yang ternyata adalah mansion pribadi Delvano sendiri.
Delvano merentangkan tangan, bersiap menyambut sang wanita ke pelukannya. Ia ingin memberi kehangatan kecil, berharap bisa menyalurkan ketenangan bagi Tiara yang dirundung cemas.
Namun beberapa langkah sebelum Tiara sampai, letupan kerass dari timah panas yang menargetkan Tiara melesat secepat kilat.
Beruntung Delvano sigap menarik tubuh sang istri hingga limbung ke pelukannya, peluru tersebut hanya menggores kecil kaki mulus Tiara.
"BERLINDUNG!"
Teriak Delvano mengeluarkan suara baritonnya.
Pagi hari yang harusnya dimulai dengan aktifitas menyenangkan setiap orang itu tak berlaku bagi Tiara hari ini.
Seluruh anggota bodyguard dari Nako berpencar mencari tempat tersembunyi, mereka mulai menyiapkan semua senjata yang selalu mereka bawa kemanapun, guna menghadapi keadaan darurat seperti ini.
Mereka yakin ini adalah serangan mendadak dari musuh sebenarnya, dan akan melalui proses yang cukup panjang.
...*...
...*...
Tbc...
__ADS_1