
Setelah berhasil keluar dari rumah sakit, akhirnya mobil yang di tumpangi Tiara berjalan menembus jalanan ibu kota yang ramai.
Tiara duduk pasrah di jok bagian belakang, sementara Nako duduk resah di balik kemudi, ia mulai khawatir dengan kondisi gadis dibelakangnya yang mulai terisak lirih.
"Kenapa kau diam saja Kak, hiks!!. Apa sekarang kau melupakanku setelah mengingat siapa dirimu yang sebenarnya." gumam Tiara seraya merapatkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Tidak ada yang bisa Nako lakukan, meski hanya sekedar kata-kata menenangkan. Ia tidak selancang itu, apalagi saat ini sambungan masih terus berlangsung dengan seseorang di ujung telfon sana.
Nako bahkan bergerak tak nyaman, saat umpatan itu terdengar jelas di telinganya yang terpasang earphone.
"Jangan lakukan apapun, dan jaga matamu brengsekk!!."
Glekk!!..
"Aku tak melakukan apapun Tuan." desis Nako dengan tetap menjaga volume suaranya serendah mungkin.
Belum sehari pria itu kembali, tapi sudah berhasil merepotkannya seperti ini!. Nako tidak ingin gila di usia muda, ia harus segera menyelesaikan tugasnya untuk kemudian melanjutkan tugas yang lainnya.
Setelah perjalanan kurang lebih 35 menit, akhirnya kendaraan mewah tersebut memasuki sebuah bangunan megah yang letaknya sedikit jauh dari keramaian kota. Suasananya jauh lebih tenang, tentunya dilengkapi dengan penjagaan ketat dari si pemilik tempat.
"Anda bisa istirahat di sini Nona, jika butuh sesuatu kau bisa memanggil pelayan yang ada di sini. Mereka akan melayanimu dengan baik." tutur Nako yang kini berada di luar pintu sebuah kamar.
"Terimakasih." jawab Tiara seraya mengangguk kecil dan tersenyum tipis. Rasanya ia tidak memiliki tenaga, bahkan untuk sekedar bertanya.
Tiara kemudian menutup pintu, setelah Nako undur diri.
Tiara tidak tau, kemana Nako membawanya. Bangunan yang dipijaknya terlalu besar untuk bisa dikatakan rumah. Terlalu banyak pintu dan langit-langit yang tinggi menjulang, dengan pilar kokoh sebagai penyangganya.
Wanita itu kembali terisak mengingat kini ia tinggal seorang diri, Tiara bahkan tidak tau kemana Pak Aris pergi, karna saat di rumah sakit tadi, ia tak lagi mendapatkan pamannya itu berada di kursi tunggu. Ia kacau, hancur, hingga tak lagi bisa berpikir jernih.
__ADS_1
"Aku harus apa sekarang Kak?, apa yang harus aku lakukan ditempat asing ini tanpamu. Aku tidak tau apapun." ucap Tiara lirih.
Di atas lantai marmer yang dingin itu, Tiara meringkuk seperti anak kecil, meratapi kesedihannya. Tangisannya semakin kencang, tak lagi bisa ia tahan.
...*...
...*...
tok..tok..tok!.
Tiara menggeliat kecil dari tidurnya, ia merasa terganggu dengan suara ketukan pintu yang terdengar sejak tadi.
"eunghhh." lenguhnya seraya berusaha membuka mata.
Ia menyibak selimut tebal dengan kualitas terbaik itu dari tubuhnya, Tiara tertegun.
Bukankah sebeleumnya ia tidur dilantai?, lantas siapa yang memindahkannya ke tempat tidur?, Tiara juga terkejut dengan pakaian yang ia kenakan yang kini sudah berganti dengan gaun tidur berbahan sutra.
tok..tok..tok!
Pintu kembali diketuk dari luar, sebab Tiara tak juga membuka pintu.
"Nyonya, sudah waktunya sarapan. Anda sudah ditunggu."
"Iya, sebentar." sahut Tiara dari dalam.
Ceklek!..
"Semua orang sudah menunggu anda di meja makan Nyonya." terang seorang pelayan, ia tidak berani mengangkat kepala saat wanita yang tetap terlihat cantik, meski baru bangun tidur itu membuka pintu.
__ADS_1
"Semua orang?, siapa?." tanya Tiara lembut, seraya Mengerut bingung.
"Dan tolong, panggil saja Tiara, aku tidak terbiasa dengan panggilan seperti itu nyonya." Tiara masih cukup tau diri untuk tidak menerima semua pelayanan dan kemewahan yang di suguhkan untuknya.
"Apa ini adalah imbalan yang dia maksud?." bathin Tiara.
Ia tersenyum kecut, saat kembali mengingat kejadian di rumah sakit.
"Maaf Nyonya, saya tidak berani." sahut wanita baya itu sopan.
"A-anda bisa berganti pakaian terlebih dahulu nyonya, mari saya bantu." sambungnya gugup.
"Jadi kau adalah orang yang tadi malam mengganti pakaianku?!." selidik Tiara.
Pelayan tersebut mengangguk kecil, ia sudah berkeringat dingin, lantaran mata tajam di ujung lorong sana seolah menghunus jantungnya.
"Baguslah, Lagipula bukankah memang hanya ada aku dan para pekerja saja yang berada di rumah ini." ucapnya sendu.
Memangnya apa yang Tiara harapkan?, tidak mungkin Delvano ada di sini, pria itu pasti tengah berbahagia, berkumpul dengan keluarganya.
Bahkan bayangan liar Tiara kini mulai jauh, sekedar memikirkan kebersamaan suaminya dengan wanita lain, yang juga berstatuskan istri sama sepertinya.
"Aku tidak sanggup Kak, karna aku sadar posisiku tidak cukup kuat untuk bertahan!."
monolog Tiara dalam hati.
...*...
...*...
__ADS_1
Tbc...
Like, vote dan comment ya 🙏