Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Kecurigaan Darren


__ADS_3

Sekembalinya dari tepi pantai, Delvano memutuskan untuk mengantarkan Tiara ke Mansion utama keluarga Mahawira.


Setelah menyampirkan jas ke pundak sang istri, Delvano lalu mendaratkan ciuman sayang di kening wanita yang sangat ia cintai itu.


Hubungan keduanya berangsur membaik, setelah perdebatan yang cukup panjang. Tiara berjanji untuk tidak lagi berpikiran buruk mengenai sikap dingin Delvano, meski rasanya sulit ia lakukan.


Ia seolah kembali diingatkan dengan statusnya yang hanya istri kedua. Bukan satu-satunya yang akan dijadikan sebagai prioritas utama.


Delvano sendiri tak tinggal diam, ia terus meyakinkan Tiara bahwa apa yang dilakukannya semata hanya sandiwara belaka.


Ia tak ingin Elmira kembali menaruh curiga, hingga mengancam ketenangan atau bahkan ketenangan Tiara.


Dari apa yang ia amati, Elmira bukan tipikal perempuan yang akan diam saja jika apa yang ia genggam telah diusik. Maka dari itu ia harus tetap berhati-hati sebelum mendapat bukti konkrit keterlibatan Elmira mengenai segala yang menimpanya.


Delvano akui akhir-akhir ini ia cukup kesulitan menahan diri pada pesona Elmira. Bukan karna atas dasar cinta, melainkan murni karna naluri kelelakiannya.


"Maka dari itu jangan terus menghindariku Ara, aku bisa gila jika terus berpuasa." ucap Delvano dengan kekehan di ujung kalimatnya.


Semburat merah yang terpancar dari kedua pipi Tiara menambah rasa gemas Delvano, sampai ia tak tahan untuk mencuri ciuman di bibir mungil yang selama ini dirindukan.


Pikiran Delvano terus berkelana, seraya memfokuskan pandangannya ke jalanan yang terbentang di hadapannya. Tujuannya ialah mansion pribadinya yang kini sudah dipenuhi oleh semua orang-orangnya.


Tadi Darren sudah mengabari bahwa semua sudah menunggu kedatangannya.


Namun tanpa diduga sebuah motor tiba-tiba berhenti menghadang laju kendaraannya.


Ckiiittttt!


Dengan terpaksa Delvano menginjak pedal rem secara mendadak, sampai ia hampir terpelanting menabrakan kepalanya ke arah depan.


"Ashhh." Ringis Delvano memegangi kepalanya.


"Sial!" desisnya kemudian menurunkan sebagian kaca mobil.


Delvano tak menaruh curiga sama sekali, sebab ini masih jam 10 malam, dengan suasana yang cukup ramai, banyak pejalan kaki serta kendaraan yang berlalu lalang.


"Kau baik-baik saja Tuan?" tanya si pengendara motor tersebut, menghampiri mobil Delvano.


Kalimat tanya yang seharusnya menunjukan kekhawatiran ternyata berbeda dengan mimik wajahnya yang terkesan santai. Pria tersebut bahkan tersenyum kecil dibalik helmnya yang tertutup rapat.


"Apa kau sudah gila?!!!" bentak Delvano keras.

__ADS_1


"Ini jalanan umum, dan apa yang kau lakukan membahayakan semua orang!" peringat Delvano dengan mata yang menelisik.


Mencoba mencari tau bagaimana rupa pengendara tersebut, namun tak bisa lantaran memakai helm yang tertutup rapat dengan kaca film yang gelap. Belum lagi pakaian yang di kenakan ialah pakaian serba hitam khusus yang cukup rapi.


"Maaf Tuan, aku sedang terburu-buru,"


"Sepertinya kau tak apa, aku harus segera melanjutkan perjalanan sebab sudah banyak orang yang menungguku."


Delvano mengernyit heran, ia kembali menutup kaca mobil setelah orang tersebut beranjak pergi dengan motor besarnya.


...*...


...*...


Sesampainya di sana.


Para penjaga gerbang utama segera menyambut kedatangan sang Tuan, membukakan pagar besi dengan tinggi menjulang tersebut.


Tubuh jangkung dengan bentuk proporsional itu menginjakan kakinya di halaman luas mansion, ia mengedarkan pandangan ke setiap penjuru arah. Dan menemukan satu kendaraan beroda dua yang berhasil mencuri perhatiannya.


Benar, itu adalah motor yang sama. Tadi Delvano sempat memperhatikan nomor polisi kendaraan yang tiba-tiba berhenti menghadangnya di tengah jalan.


Sebelum bergabung dengan yang lainnya, Delvano menyambangi Pak Aris lebih dulu di kamarnya. Ia menyapa sebentar, yang di sambut baik oleh pria paruh baya tersebut.


Ia juga menanyakan kabar Tiara selama ikut tinggal di mansion utama. Meski sesekali mereka bertukar kabar melalui sambungan telfon, namun tetap saja Pak Aris penasaran.


"Aku percayakan Tiara padamu Nak, selama dia sanggup bertahan maka paman hanya bisa mendo'akan hubungan kalian. Agar segera menemukan titik terang dan menjalani hidup dengan tenang."


Delvano mengangguk mengaminkan, ia cukup paham mengapa Pak Aris mengetahui permasalahannya, pastinya dari berita yang tersebar meski tidak semuanya benar.


Obrolan singkat itu berakhir, sebab Darren terus menghubungi Delvano melalui telfon.


"Aku kesana sekarang!" sahut Delvano cepat.


Keluar dari pintu utama, kemudian berjalan menyusuri samping bangunan mansion menuju tangga yang gelap dan memasuki lift. Hingga mengantarnya ke ruang bawah tanah yang cukup bersih dan luas.


Kedatangan Delvano mencuri perhatian semua orang, mereka beranjak dari duduknya kemudian membungkuk hormat.


Di ruangan itu tidak hanya ada satu set sofa mewah, namun juga ada berbagai alat permainan seperti meja billiard, meja tennis, dan mini golf.


Di sana sudah ada Nako, Darren, Tama alias si dokter tampan yang menangani Delvano. Serta sosok pria tampan lainnya yang berdiri di ujung sofa sana.

__ADS_1


"Selamat datang Boss!" seru semua orang.


Delvano hanya mengangguk kecil, sebagai respon penyambutannya. Ia berjalan santai namun penuh dengan kharisma.


Auranya tak main-main, saat ini Delvano tengah serius menelisik penampilan seseorang yang ia temui tadi di tengah jalan.


Nako mempersilakan Tuannya duduk, namun dengan tegas Delvano menolak.


"Kita ketemu lagi." ucap pria itu menyeringai.


Delvano mengangkat satu alisnya, kemudian mendengus kasar.


"Huh! jadi kau memang sengaja melakukannya."


"See, aku memang sedang terburu-buru Tuan." kilahnya merentangkan tangan.


"Wait! Kalian sudah bertemu?" tanya Darren keheranan.


"Kami bertemu di jalan, aku hanya memberi penyambutan kecil padanya. Sayang sekali, sepertinya dia juga tak mengingatku."


"Ini Louis, teman kita." ujar Darren memperkenalkan.


"Jadi aku juga mempunyai teman sepertinya?"


Pria yang namanya disebutkan hanya terkekeh kecil, ia sama sekali tak mempermasalahkan sikap ketus Delvano. Seolah terbiasa dan paham akan watak pemimpin MHW Company tersebut.


Dokter Tama yang sejak tadi hanya memperhatikan, mulai penasaran dengan apa yang terjadi. Sebab Delvano nampaknya kurang nyaman akan kehadiran Louis diantara mereka.


Delvano dan Louis berjabat tangan, seolah ini pertama kalinya mereka bertemu. Sebab ingatan Delvano belum pulih sepenuhnya, dan sepertinya nama Louis termasuk hal yang otak Delvano tolak untuk di simpan dalam memorinya.


Kini semua orang sudah menduduki sofa masing-masing, kecuali Nako yang tetap berdiri patuh di samping Tuannya.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"


Darren yang merasa terpanggil pun menegakkan duduknya, lalu menjelaskan perihal yang ingin ia sampaikan.


"Mengenai penembakan di basement, kau yakin pelakunya adalah orang suruhan Liam?"


"Maksudmu?"


"Bagaimana kalau ini ulah istri pertamamu? maksudku, Elmira bukan wanita sembarangan Van. Dia bisa melakukan apapun."

__ADS_1


Kalimat tuduhan Darren memang cukup mendasar, namu Delvano tak ingin langsung menunjukan wajah curiganya di hadapan Elmira. Ia ingin tau sejauh mana wanita itu melangkah, sebelum Delvano bertindak dan membalikkan keadaan.


Tbc...


__ADS_2