
**Selamat Membaca
🦋🦋🦋🦋🦋**
"Moreo adalah temanku, kami besar dan hidup di lingkungan yang sama. kami memang tidak terlalu dekat, tapi Moreo teman yang baik." Tutur Tiara sembari berpegangan ke pundak kokoh Aryan.
"Akhsss!!. Pelan-pelan Kak, perih." ringis Tiara.
"Hmm." Aryan mengusap kaki Tiara dengan lembut, kemudian ia meniupnya.
"Jangan di angkat kak!." cegah Tiara pada Aryan yang hendak mengangkat kakinya ke atas paha pria itu.
Saat ini, Aryan tengah berjongkok mengobati luka di telapak kaki Tiara yang sebelumnya di gigit kepiting hingga berdarah, meski tidak terlalu dalam tapi tetap terasa sakit dan perih.
Beruntung Tiara bertemu dengan Moreo di sana, ketika ia hendak menemui Pak Aris yang baru memarkirkan perahunya.
Aryan tak bisa menemaninya, karna pria itu harus menemani Pak Sifuh dirumah yang mengontrol kesehatannya seperti biasa, namun kemudian pria tua itu malah berlanjut bertamu dengan mengajaknya mengobrol seputar masalah desa nelayan yang mereka tempati.
Melihat Tiara yang tengah kesakitan, serta berjalan dengan sedikit pincang. Moreo mencoba membantu dengan membawakan sebagian keranjang, dan memberikan satu tangannya pada Tiara, agar gadis itu bisa berpegangan selama perjalanan pulang.
"Bagaimana aku bisa membalutkan perban ini di kakimu, jika tidak diangkat terlebih dahulu."
"Diam, dan menurutlah!." perintah Aryan.
Akhirnya Tiara hanya bisa pasrah menerima, ia tak akan mampu melawan pria itu.
"Terimakasih kak." ucap Tiara setelah Aryan menyelesaikan kegiatannya. Tapi, ayolah..ini hanya luka kecil biasa, tidak harus di perban dan di perlakukan seperti orang lumpuh.
Tiara masih bisa berjalan, meski harus membutuhkan pegangan. Tapi apa yang dilakukan Aryan amat berlebihan, bahkan saat ini pria itu sudah menggendong Tiara ala pengantin, hanya karna Tiara berucap ingin ke dapur.
"Turunkan aku Kak, aku bisa berjalan sendiri." pinta Tiara lembut, ia tak ingin menyinggung maksud baik pria itu yang hanya akan kembali membuatnya marah setelah sebelumnya ia susah payah menenangkan singa jantan itu.
Berkali-kali ia harus menjelaskan dengan teramat lembut, tentang Moreo yang hanya ia anggap teman saja.
Pria itu tak terlalu berekspresif memang , tapi justru Tiara semakin ketakutan dengan diamnya Aryan saat pertama kali mulai membahas pembahasan tersebut.
Alhasil ia berceloteh sendiri, sedang Aryan sibuk dengan luka di kaki Tiara. Ia sendiri tak kuasa menanyakan perihal Hanna yang entah bagaimana bisa berada dirumahnya, bersama Aryan.
"Apa yang kau butuhkan, hmm?." tanya Aryan lembut pada Tiara yang kini sudah ia turunkan di atas kursi kayu di dapur.
Ia mengusap lembut pipi yang sedikit mengembung lucu, lantaran Tiara tengah memberengut kesal karna Aryan sejak tadi diam tak banyak bicara padanya.
Cupp!!
Aryan menge-cup ringan bibir manyun Tiara yang terlihat menggemaskan baginya.
"Jangan lakukan hal ini didepan siapapun, wajah lugu ini, senyum manis ini, bahkan kau tidak ku perbolehkan mengerucutkan bibirmu ini di hadapan pria manapun." tukas Aryan sembari jemarinya yang menelusuri seluruh permukaan wajah cantik Tiara.
Meski Tiara tak mengerti, tapi ia tetap tersenyum kemudian mengangguk dengan polosnya.
__ADS_1
"Jadi, kau ingin apa?, minum? atau kau ingin makan sesuatu?." tawar Aryan, ia masih setia berjongkok didepan Tiara yang dengan antengnya memainkan jemari besar Aryan.
"Aku ingin buah itu." tunjuk Tiara pada buah anggur yang ada di belakang Aryan. Pria itu kemudian mengambilkannya, lantas ia menyuapkannya pada mulut Tiara.
Tiara tersenyum senang, ia bahagia karna setelah sekian lama ia bisa merasakan bagaimana rasanya di perhatikan, dan di beri perlakuan khusus dari seseorang.
Hatinya berbunga, rasa aneh itu kembali muncul dan berangsur mekar dengan indah bak bunga mawar.
Pak Aris yang sejak tadi berada tak jauh dari merekapun ikut tersenyum melihat kedekatan Tiara dan Aryan.
Sejujurnya, ia cemas. Lantaran identitas pria itu yang masih belum diketahui. Ia tak ingin ada masalah di kemudian hari, hingga keponakannya itu akan patah hati.
...****...
Brakk!!!..
"Sampai kapan berita orang mati itu akan di naikkan?!!, suap semua media agar orang-orang sialan itu berhenti menjadikannya sebagai topik utama!!. Kalau perlu, kau ancam mereka!!. Dasar bo-dohh!!." teriaknya murka.
"Maaf Tuan, posisi kita tidak cukup kuat untuk menyentuh keluarga konglomerat itu." ucapnya menunduk takut.
Bughhh!!..
"Bo-doh!!, kau sama sekali tak berguna Ano!!." Pria berbadan kekar itu tak ragu untuk melayangkan tinjuan pada perut bawahannya yang sudah seperti budak itu.
"Maksudmu aku tak cukup berkuasa,begitu!!????."
Bughh!!..
"B-baik,T-tuan." ucapnya tergagap.
...*****...
Tiara hendak menaiki sepeda Pak Aris. Hari ini ia ingin kembali mencoba menggunakan kendaraan yang sudah usang itu. Lantaran harus pergi ke pasar ikan untuk menemui sang Paman.
"Kakimu sudah lebih baik Tiara?." Moreo tiba-tiba datang dengan kedua tangannya yang penuh dengan kantong plastik, entah apa isinya.
"Moreo? ya, seperti yang kau lihat. Kakiku sudah sangat sehat." Jawab Tiara, ia masih diam di atas sepedanya lantaran masih menunggu seseorang.
"Lucu sekali, kau menanyakan perihal kejadian yang sudah 2 minggu berlalu." Tiara tertawa kecil, begitupun dengan Moreo.
Meski pria itu tau dia sedang di sindir, tapi ia tak dapat pungkiri, hatinya senang melihat Tiara tertawa karenanya.
"Kau habis berbelanja?, barang bawaanmu banyak sekali." Tiara melihat beberapa kantong plastik yang sejak tadi di bawa Moreo.
"Untukmu,terimalah." Moreo menyodorkan semua kantong-kantong itu pada Tiara.
"Benarkah?!. wah, kau baik sekali Moreo." tanya Tiara dengan mata yang berbinar, ia tersenyum lebar, kemudian meneriman apa yang di sodorkan Moreo untuknya.
Tiara hendak membuka salah satu isi kantong dengan senyumnya yang masih mekar, namun ia tak dapat melanjutkan, sebab aura keruh dengan tatapan tajam itu kini berdiri dengan gagahnya di ambang pintu sana.
__ADS_1
Aryan menyenderkan tubuh tingginya ke badan pintu dengan santai, dengan aura yang bertolak belakang.
Glekk!!..
Tiara menelan salivanya kasar, dengan segera ia mengembalikan kantong-kantong itu pada Moreo yang mengernyit heran.
Srakkkk!!!..
"Maaf Moreo, aku tidak bisa menerimanya."
Tiara tak enak hati, tapi ia rasa itu keputusan yang tepat. Sebab ia tak ingin kembali didiamkan oleh sang singa.
Meski kecewa, Moreo tetap tersenyum menerima, senyum yang sangat di paksakan. Ia cukup mengerti alasan di balik penolakan Tiara.
Tiara menghampiri Aryan yang masih betah berdiri di tempatnya, pria itu tak lagi menatap tajam seperti tadi, kali ini ia menatap lekat penuh minat. Dan Tiara tetap gugup dibuatnya.
"Kau tau hukuman apa yang pantas untuk orang yang tak menurut Ara!?." ucap Aryan setelah Tiara berada tepat di hadapannya.
Gadis itu menggeleng, ia mencoba mencari aman dengan tidak menatap langsung manik mata Aryan.
"Di ikat!." ucap Aryan.
Tiara mengerutkan kening, apa maksud Aryan?.
"Kau harus ku ikat, diikat sekencang mungkin, hingga kau tak bisa lepas barang sesentipun dariku."
Aryan mulai mengubah posisinya, ia berdiri tegak, mendekati Tiara kemudian menautkan tangannya ke jemari Tiara.
"Maksud Kak Aryan?!." tanya Tiara tak mengerti.
"Seperti ini."
"Akhh!!."
Aryan menyilangkan tangan Tiara, dan mengurung tubuh mungil gadis itu dengan tangan serta tubuh tegapnya. Kini Tiara terkunci dalam rengkuhannya.
Aryan tersenyum puas melihat raut kaget Tiara saat ini.
"Kak..
"Apa?,hmm." Aryan menarik Tiara hingga menempel erat dengannya.
"Jadilah Milikku Mutiara Anandhita."
Degg!!...
Entah apa yang Pria itu pikirkan, rasa takut kehilangan yang begitu besar membuatnya tak lagi bisa berpikir panjang.
Perse-tan dengan identitas aslinya, ia tak peduli lagi. Andai suatu saat segala kekhawatiran itu menjadi kenyataan, setidaknya Tiara akan selalu bersamanya. Apapun yang terjadi, gadis itu akan ada di sampingnya dibelahan dunia manapun mereka akan tinggal.
__ADS_1
...Tbc......
Jangan lupa like&comment, serta masuk favorit ya. 🙏❤