Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Bab 50 - Mutiara Vs Elmira 2


__ADS_3

Keesokan harinya, Elmira semakin seenaknya saja pada Tiara. Keterdiaman wanita berparas lugu itu memberikan keuntungan bagi Elmira yang ingin sepuasnya menyerang bathin Tiara.


"Wanita sepertimu tak pantas memakai gaun sebagus ini!"


"Siapa yang mengizinkanmu duduk santai di taman? Sana pergi!"


"Kau benar-benar merasa pantas bersaing denganku? Huhh, yang benar saja. Wanita buruk rupa sepertimu tak pantas disandingkan dengan wanita berkelas seperti diriku!"


Elmira berharap Tiara tak tahan, tak betah untuk tetap tinggal, hingga memutuskan pergi tanpa diminta.


Tapi, ditengah rencananya itu. Sebenarnya Elmira sama seperti Tiara yang mempertanyakan keberadaan Delvano yang tidak ada kabar sejak kemarin.


Hanya saja Elmira bersikap seolah mengetahui semuanya, karna tak ingin Tiara beranggapan bahwa dirinya tak sepenting itu bagi Delvano.


"Kau tak tau kan, kami menghabiskan malam bersama di tempat yang indah. Delvano mengajaku untuk bercinta di sana, karna tak ingin ada gangguan." akunya tanpa tau malu.


"Kami bercinta semalaman, saling menyalurkan hasraat dan gairaah. Dia begitu gagah dan seksi saat berada di atasku..."


Tiara tak menggubris sedikitpun celotehan Elmira yang tak berkesudahan, suara wanita itu seperti angin lalu bagi Tiara. Sebab saat ini pikiran Tiara sedang tak ditempat, ia memikirkan suaminya yang entah ada di mana.


Delvano tak pernah seperti ini sebelumnya, alih-alih cemburu dan berpikiran sempit. Tiara lebih merasakan khawatir yang begitu besar. Ia takut terjadi hal yang tidak-tidak pada suaminya itu.


"Apa kau sudah selesai bicara Nyonya?..."


"Aku harus kembali ke dalam, karna matahari sudah mulai naik." tutur Tiara seraya meletakan selang air yang sebelumnya ia gunakan untuk menyiram tanaman bunganya.


Sontak sikap santai Tiara itu menyulut emosi Elmira, ia tak terima sebab ia merasa diremehkan oleh gadis desa itu.


"Kau semakin kurang ajar!" ucap Elmira sinis.

__ADS_1


"Dengar semuanya! Aku adalah Nyonya Muda yang sebenarnya di sini. Jadi, kalian jangan tertipu dengan kehadirannya, wanita desa ini hanya menumpang di sini. Kemudian tanpa rasa malu dia menggoda suamiku!" seru Elmira menegaskan status Tiara di hadapan para pelayan.


Semua pelayan yang ada di sana mulai berbisik-bisik, mereka mulai membanding-bandingkan antara Elmira dan juga Tiara.


"Kalian sudah tidak waras jika masih mau memperlakukan wanita ini dengan baik, dia tidak lebih sebagai parasit dan wanita malam saja,"


"Hanya aku, hanya aku yang pantas mendampingi suamiku. Aku yakin saat ini suamiku hanya sedang termakan rayuannya saja, dia tidak benar-benar menginginkan wanita ini,"


"Aku akan berusaha menyadarkannya kembali, aku akan membawanya kembali ke pelukanku. Kalian tidak ingin kan punya Nyonya Muda yang problematik sepertinya? Memalukan!"


Para pelayan sepertinya mulai memikirkan ucapan Elmira, mereka saling melempar pendapat yang berakhir memecah belah menjadi 2 kubu.


Ada yang berpihak pada Elmira sebagai istri sah sang Tuan Muda di mata mereka, ada juga yang tetap berada di pihak Tiara. Mereka merasa iba terhadap wanita cantik dan lembut itu, selama ini Tiara cukup menarik perhatian semua pelayan lantaran pembawaannya yang sopan dan ramah.


Bahkan berkat kehadiran Tiara, Nyonya Besar tak lagi marah-marah jika mendapati kesalahan kecil dari para pekerja. Karna akan selalu ada Tiara yang menengahi dan menenangkan Nyonya Bellena.


"Aku tidak akan percaya begitu saja, Nona Tiara selama ini selalu bersikap baik padaku."


"Halahh! Tidak ada wanita baik yang merebut pria dari wanita lainnya. Buka mata kalian!" timpal salah satu pelayan wanita di sana.


Perdebatan mereka terus berlanjut, sampai pekerjaan mereka selesai begitu saja.


Di sisi lain, Nyonya Bellena dan Tuan Gunz pun turut mencari tau keberadaan sang putra, mereka tak ingin peristiwa mengerikan kala itu terulang kembali.


Tuan Gunz menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk mencari informasi, hingga tak butuh waktu lama, mereka melaporkan bahwa Delvano melakukan perjalanan ke Luar Negeri dalam rangka menemui rekan bisnisnya.


Tuan Gunz dan Nyonya Bellena pun akhirnya lebih tenang, namun selang 3 hari, Delvano tak kunjung kembali.


"Hubungi asistennya, kenapa kau lamban sekali Gunz!" keluh Nyonya Bellena.

__ADS_1


Ini seperti dejavu, yang mana membuat sang Nyonya Besar kembali cemas.


"Jaga bicaramu Belle, jangan memperkeruh keadaan. Putra kita baik-baik saja, jangan berlebihan!" ujar Tuan Gunz mengingatkan.


Sebenarnya, Tuan Gunz sudah tau semuanya. Namun ia tak mungkin menceritakannya pada sang istri.


Ia sudah menghubungi Nako, dan keadaan Delvano saat ini tengah kritis. Jika sang istri tau, sudah pasti ia akan memaksa untuk menyusul sang putra saat ini juga.


...*...


...*...


Saat semua orang menduga-duga, Delvano saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati. Akibat ketergesaannya, sesampainya di sana ia kembali tak sadarkan diri.


Jelas saja Nako panik, satu-satunya orang yang bisa ia mintai tolong di tempat asing ini, ialah bocah kecil itu.


Wanita cantik yang selama ini menduduki posisi princess di keluaraga Mahawira.


Setelahnya, Nako juga menghubungi dokter Tama. Ia tak ingin kelimpungan menangani masalah ini sendirian.


Di luar dugaan, dokter Tama begitu terkejut dengan apa yang Nako sampaikan. Dokter muda itu langsung menodongnya dengan banyak pertanyaan, serta umpatan.


"Kau sudah gila? Ha?" bentak dokter Tama melalui sambungan telfon.


"Mengapa kau membawa pria keras kepala itu bepergian jauh tanpa seizinku?"


"Maaf Tuan, saya hanya menjalankan perintah."


"Apa kau sebodoh itu?!!!"

__ADS_1


Nako yang tak tau apapun hanya mendengarkan saja ocehan sang dokter. Ia hanya melaksanakan perintah sang Tuan, yang tak ingin menerima bantahan.


"Tetap bersamanya sampai aku tiba di sana!"


__ADS_2