
Ditempat yang asing itu, Tiara kebingungan dengan apa yang ia saksikan saat ini. Ada banyak orang berpakaian formal serba hitam berjejer di dekat pintu ruang rawat suaminya.
Bahkan sopir yang tadi membantunya, masih setia disana tak beranjak sedikitpun. Pria itu ikut bergabung dengan para pria berbadan kekar lainnya, yang berjumlah kurang lebih tujuh orang.
Tiara berdiri dari duduknya, kemudian bertanya pada sopir tadi.
"Permisi Tuan, apa yang sedang kalian lakukan disini?. Maksudku, yang di dalam sana adalah...
"Maaf Nona, silakan anda duduk tenang di sana!." pungkas pria itu menunjuk kursi tunggu di belakang Tiara.
"Tapi Tuan!..."
"Nako, panggil saya Nako Nona." ucapnya seraya membungkuk hormat.
"Untuk saat ini, tolong jangan lakukan apapun sebelum Boss kami memberi perintah." lanjutnya sopan, pria itu menatap lekat pada Tiara yang kini suduh kembali duduk tenang di samping Pak Aris yang tetidur bersedekap dada.
Perjalanan yang cukup panjang, membuat pria paruh baya itu kelelahan hingga tak kuasa menahan kantuk.
"Boss!?." lirih Tiara mengernyit heran. Guratan penuh tanya itu begitu jelas terlihat di wajah cantiknya yang lelah.
Nako mengangguk "Maksud saya, Tuan Delvano. Ini untuk kebaikan kita semua Nona, bersabarlah." terang Nako, ia akan menghandle banyak hal sebelum Delvano benar-benar sadar.
Ia yakin, wanita yang saat ini berhadapan dengannya bukanlah orang biasa. Dilihat dari bagaimana keduanya begitu intim dan dekat saat di mobil tadi.
Nako tak ingin mengambil resiko. Sebelum Delvano memerintah, ia tidak berani mengambil keputusan apapun mengenai wanita cantik dengan aura yang penuh daya pikat itu.
__ADS_1
Berkali-kali ia harus menundukkan pandangannya, tatkala iris mata mereka tak sengaja bersitatap. Wanita itu berbahaya!.
...*****...
Tiara butuh udara segar, ia butuh air untuk sekedar menetralisir rasa pening di kepalanya. Suaminya masih berada didalam, pintu ruangan itu belum juga kembali terbuka padahal waktu sudah berjalan selama hampir satu setengah.
Setelah selesai dengan kegiatannya di toilet, Tiara pun kembali ke ruangan Aryan. Senyumnya merekah, hatinya merasa lega sebab pintu itu sudah terbuka lebar.
Para pria berbadan kekar tadi sudah tidak ada disana, hanya tersisa Nako berdiri di samping pintu bagian dalam.
Tiara mempercepat langkahnya, ia sudah sangat rindu pada pria yang satu minggu ini resmi jadi suaminya.
"Kak, kau sudah sad.....
Sejenak, tubuh Tiara terasa mebeku, organnya seolah tak lagi berfungsi. Gadis berwajah polos itu berdiri mematung di ambang pintu.
"Aku tidak selemah itu." ucapnya seraya mengangkat bahu Elmira lembut.
Ya, dia adalah Elmira Maurens. Istri dari seorang Delvano Mahawira.
Wanita cantik yang berbalutkan dress indah berharga selangit itu tampak begitu elegant, dengan aksesoris, tas serta sepatu hak yang menunjang penampilannya semakin memukau.
"Aku tau, kau tidak mungkin begitu saja meninggalkanku dan putra kita."
Sungguh!, Jantung Tiara serasa berhenti berdetak, ia ingin bicara tapi lidahnya terasa kelu.
__ADS_1
Cukup!!, Tiara tidak sekuat itu.
Ia mundur satu langkah, hendak meninggalkan ruangan.
"Kau yang di sana!, tunggu!."
Suara wanita yang mengalun indah itu mampu menghentikan langkahnya.
Meski berat, namun Tiara memilih untuk berbalik, tanpa ia sadari tangannya sudah mengepal erat sejak tadi.
"Ya..?."
sahut Tiara yang terdengar seperti cicitan, padahal ia sudah berusaha menormalkan suaranya. Tenggorokannya serasa tercekat, mengganggu pernapasannya.
"Kau yang menolong suamiku?, ah, aku tidak tau harus memberi imbalan berupa apa. Terimakasih, kau sudah menyelamatkannya." tutur Elmira seraya tersenyum ramah.
"S-suami?." lirih Tiara. Air mata kepahitan itu sudah menggenang di pelupuk mata Tiara, sekuat tenaga ia harus menahannya, karna itu akan terlihat aneh.
"Ya, dia adalah suamiku."
...*...
...*...
...*...
__ADS_1
Tbc..