Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Bab 54 - Princess Mahawira


__ADS_3

Ketegangan yang terjadi di Negara lain sana, ternyata tak jauh beda dengan keadaan mansion utama saat ini.


Tak adanya Tuan dan Nyonya Besar, seakan memberi angin segar bagi sosok Elmira yang haus akan posisi dan kekuasaan. Ia tak segan memerintah para pelayan mansion, meminta ini dan itu. Serta melarang berbagai hal yang tak disukainya.


Apa yang keluar dari mulut Elmira seolah dijadikan aturan baru yang harus dipatuhi seisi bangunan megah tersebut.


Bahkan Elmira melarang semua pelayan agar tak lagi melayani Tiara. Sekarang, mansion utama keluarga Mahawira tersebut berada didalam genggamannya.


"Sekali saja kalian tak mematuhi perintahku, aku tak akan segan untuk menendang kalian dari mansionku!" serunya seraya bertolak pinggang.


Elmira bak seorang Ratu di sebuah kerajaan, memerintah para pelayan namun dengan kesan angkuh dan otoriter. Gaun yang ia kenakan serta sepatu berbahan kaca berkualitas tinggi itu menambah kesan mewah dan indah di pandangan mata.


Sayangnya, hal itu sirna begitu saja akibat pembawaan bengis yang ia suguhkan ke hadapan semua orang. Berhari-hari Elmira berperilaku semena-semena seperti itu, hingga Tiara lelah menghadapi sikap tak masuk akal wanita congkak itu.


Hingga pada akhirnya sosok Louis datang menyambangi kediaman utama keluarga ternama tersebut.


Pria itu memperkenalkan diri sebagai bodyguard baru dari Tiara, sekaligus sahabat baik Delvano.


Ia mengaku ditunjuk langsung oleh sang sahabat yang saat ini tengah berada di Luar Negeri karna urusan pekerjaan.


CEO MHW Company itu sedang menyelesaiakan masalah perusahaan yang tentunya membutuhkan banyak waktu.


"Kau bisa memanggilku Nona, kapanpun kau butuh bantuan." ucap Louis sopan.


Sebenarnya, Tiara sudah mendengar hal itu dari Nyonya Bellena. Wanita baya yang ia sebut Mommy itu memberikan penjelasan padanya selembut mungkin sebelum akhirnya ia pun berpamitan untuk pergi berlibur, bersama Tuan Gunz.


Tentu Tiara tidak semudah itu percaya, ia kemudian meminta bantuan pada pelayan wanita yang selama ini setia mendampinginya. Ia melakukannya secara diam-diam di belakang Elmira.


Kalau tidak, sudah pasti wanita itu akan menegurnya. Lebih parahnya, ia bisa saja memecat pelayan tersebut dengan mudahnya.


"Rami, bisakah kau membantuku?"

__ADS_1


"Tentu, Nyonya."


"Apa kau bisa membantuku menghubungi Tuan Nako? Aku ingin bicara dengan suamiku."


Rami-si pelayan yang usianya memasuki kepala tiga itu tampak sedikit terhenyak, ia hampir saja menjatuhkan piring yang sedang ia bersihkan.


"Bi-bisa, Nyonya." jawabnya terbata.


Tiara tak begitu memperhatikan, sebab ia tengah fokus melihat sekitar. Jika pun ketahuan, ia akan tetap mempertahankan Rami apapun yang terjadi.


Setelah panggilan berhasil tersambung, Tiara segera mempertanyakan keberadaan Delvano.


Seperti yang sudah Tiara perkirakan, Delvano sedang tak bisa diganggu lantaran tengah sibuk dengan pekerjaannya. Begitulah, alasan yang Nako sampaikan.


"Apa dia tak merindukanku? Sibuk sekali." keluh Tiara masam.


Rami cukup prihatin, mendapati wajah murung Tiara yang akhir-akhir ini selalu menghiasi paras cantik bak boneka hidup itu.


Sebenarnya, meski Elmira berulang kali mengingatkan akan memecat para pelayan yang menentangnya, namun tak sedikit diantara mereka yang sembunyi-sembunyi tetap melayani Tiara seperti biasanya.


Sikap murung Tiara terus berlanjut hingga keesokan harinya. Semua itu ternyata menarik perhatian Louis, ia menghampiri sang Nyonya Muda Kedua yang sampai detik ini identitasnya masih disembunyikan dari publik.


"Jika berkenan, kau bisa ikut denganku berjalan-jalan sebentar." tawar Louis tiba-tiba.


Tiara yang sedang melamun pun langsung menoleh ke asal suara.


"Jalan-jalan? Kemana?" tanya Tiara dengan suaranya yang lembut seperti biasa.


Louis sempat terpaku sesaat, sebab baru kali ini ia berbicara sedekat ini dengan Tiara. Ia mengambil kursi, dan duduk di hadapan wanita cantik itu.


Dress selutut dengan warna broken white serta rambut Tiara yang digerai indah itu, menambah kesan manis dengan riasan tipis di wajah oriental milik Tiara.

__ADS_1


"Hanya di sekitaran mansion saja. Apa kau tidak tau? Tak jauh dari sini ada danau yang memang bagian dari milik keluarga suamimu."


Tiara tersenyum lembut, yang mana membuat debar jantung Louis mendadak tak beraturan. Namun dengan sekejap ia menepikan perasaan aneh itu.


Ajakan Louis sebenarnya cukup menarik bagi Tiara, tapi ia memutuskan untuk menolak, sebab tak ingin menimbulkan masalah jika Elmira sampai tau.


Bisa saja Elmira akan memanfaatkan kecerobohan Tiara dan melaporkan yang tidak-tidak pada Delvano. Dan tentu akan semakin menguntungkan wanita itu.


...*...


...*...


Mansion utama hari ini nampak cukup tenang, sebab sang Ratu otoriter tengah sibuk di luar mansion. Entah apa yang dilakukan wanita itu, hingga sore ia baru kembali dan membuat kegaduhan di pekarangan sana.


Wanita itu tengah berdebat dengan seorang gadis muda yang baru keluar dari mobilnya.


"Singkirkan mobil rongsokanmu wanita tua!" bentak gadis itu seraya melepas kaca mata hitamnya.


Penampilannya begitu mencolok, tak kalah dengan kendaraannya yang begitu mentereng.


Ia adalah Alana Gunz, adik dari Delvano. Putri satu-satunya keluarga Mahawira itu masih terhitung remaja. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Alana sudah merintis kariernya sebagai model. Ia juga terdaftar sebagai salah satu mahasiswi kampus ternama di Negara asing sana.


Sosok Alana cukup dikenal, sebab ia cukup aktif di media sosial. Namun gadis itu tak memilih mencantumkan nama Mahawira di belakang namanya, sebab ia ingin lebih bebas berekspresi tanpa adanya embel-embel nama keluarga.


Kedatangan Alana yang tiba-tiba sontak membuat Elmira tak suka. Karna sepengetahuannya, Alana adalah jelmaan Delvano namun dalam bentuk wanita.


Brak!!


"Apa yang kau lakukan, ini mobilku!" bentak Elmira tak kalah keras.


Bagaimana tidak, tanpa aba-aba kaki jenjang Alana menendang badan mobil Elmira hingga lecet.

__ADS_1


"Sampah ini menghalangi jalanku!" ucap Alana santai.


Keributan itu nyatanya tak hanya disaksikan oleh para pekerja dan penjaga saja, melainkan juga Tiara yang berdiri di dekat pintu utama sana. Ia berdecak kagum akan keberanian gadis cantik tersebut.


__ADS_2