Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Si Penguntit


__ADS_3

Brugh!


Dorongan itu cukup keras hingga mengakibatkan luka memar pada bagian lutut dan wajahnya yang hampir tak berbentuk.


Pria ini masih saja bungkam meski Nako memukul telak tanpa ampun. Sabar itu sudah tak lagi ia rasa, sebab kini amarahlah yang menguasainya.


Jika bukan karna ada orang yang berkuasa di belakang pria penguntit itu, tidak mungkin dengan beraninya ia mengintai mansion orang paling berpengaruh di seantero negeri.


Keadaan pria itu sangat memprihatinkan, dia tersungkur di atas lantai kotor ini dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.


Nako hendak kembali melayangkan pukulan, namun urung ketika ia menangkap pergerakan kecil sang Tuan.


Raut wajah kelam serta sorot mata tajam, Delvano berjalan perlahan tegap menguarkan aura permusuhan yang nyata.


"Bicara, atau mati?" desisnya.


"Cih!, kau pikir aku peduli..."


"Bunuh saja aku, maka kupastikan kau tidak akan mendapatkan petunjuk apapun!" tantangnya menyeringai.


Sedikitpun Delvano tak gentar, ia bahkan membalas seringaian itu dengan senyuman sinis meremehkan.


"Kau terlalu berani!" dengusnya seraya mengikis jarak.


Dengan geram Delvano menginjak tangan kanan pria itu higga terdengarlah bunyi nyaring dari tulang jemari yang patah.


Krekk!


"Aaa!!!"


Pekikan si penguntit itu menggema ke seisi ruang gelap nan lembab, ini adalah ruang kosong yang cukup tersembunyi sebab berada di bagian mansion paling dalam. Ruang bawah tanah.


"Katakan!"


Dengan tubuh yang gemetar, si penguntit masih menunjukan sikap angkuhnya. Ia mengerang tertahan saat Delvano kembali menekan jemari itu tanpa ampun.


"Argh!!. Lepas brengsek!"


"Kau yang memintanya!"

__ADS_1


"Ak-aku tak tau apapun!" kilahnya.


Delvano tersenyum smirk. Sepertinya, si penguntit ini memang tak lagi peduli pada nyawanya. Ia mengeluarkan sebuah kartu kecil berupa kartu pengenal dari saku jubahnya. Lalu melemparnya ke hadapan pria itu.


Sejenak, tubuh si penguntit membeku. Ia bahkan tak sadar saat Delvano melepas tekanannya. Kemudian berucap...


"Teruslah bersembunyi, sampai waktu tak lagi sudi menerima penyesalanmu!"


Delvano mundur satu langkah, kemudian berdiri tegap menunjukan kuasanya.


"Kau bisa lakukan apapun padanya!"


Nako mengangguk paham. Sejurus kemudian ia menarik kerah baju belakang pria itu dengan kasar.


"Berdiri!"


"Tu-tunggu! a-apa maksudmu?!!"


"Heiii!!. Kembali brengsek!!"


Pria itu terus berteriak, namun Delvano tak menghiraukannya. Ia terus berjalan dan menghilang dibalik pintu besi di ujung sana.


"Kau akan benar-benar dinyatakan tiada jika terus melawan!" lanjut Nako dengan wajah datarnya.


Bungkamnya si penguntit, membuat Nako semakin yakin dengan identitas asli pria itu. Untuk sementara ia akan menahannya, sesuai perintah Delvano.


Nako cukup mengerti akan kegundahan sang Tuan saat ini. Perasaan mendalam itu sepertinya membuat Delvano terpaksa menahan kekalutannya seorang diri.


...*...


...*...


Mobil Rubicon milik Delvano melaju kencang, sebab jalanan cukup lengang di jam 2 dini hari.


Ia menghela napas berat, seraya mengusap wajah penuh frustasi.


Delvano kembali mengingat kejadian tadi siang saat Nako memberikan laporan.


"Kau sudah mendapatkannya?."

__ADS_1


"Anda harus melihat ini Tuan."


Nako menyodorkan sebuah berkas ke hadapan Delvano. Berkas tersebut berisikan rincian pertemuan yang di lakukan oleh seseorang yang masuk ke daftar list sebagai dalang dari penyerangan tempo lalu.


Mulai dari kecelakaan yang di alami keduanya, penguntit di mansion Delvano, penyerangan malam itu dan yang terakhir, hubungan antara Delvano dan Elmira.


Delvano cukup yakin, tiga poin di awal memang berkaitan. Tapi bagaimana dengan Elmira?.


Takdir seolah ingin bermain-main dengannya. Ia lelah memikirkan banyak hal, ia lelah harus terus menekan perasaannya, ia juga lelah harus terus menahan diri agar tak hilang kendali.


Ia kembali ke mansion utama tepat di jam 3 lewat 35 menit dini hari.


Dengan gerakan kasar ia melepas dasi yang serasa mencekik lehernya, kemudian membuka satu kancing kemeja atasnya berharap sesak itu memudar sendirinya.


Berjalan gontai menaiki anak tangga, ia ingin menemui Elmira dan si kecil Aiden. Delvano sadar betul keduanya memiliki hak penuh atas dirinya.


Elmira dan Aiden sangat membutuhkannya. Ia akan mengganti semua waktu yang hilang saat ia tak ada di samping mereka selama ini.


Selesai menemui keduanya, ia kembali keluar kamar dengan penampilan yang masih sama berantakannya. Tujuannya kini adalah ruang kerjanya yang terletak di lantai satu, ia tak bisa tidur sebab pikirannya masih saja berkecamuk.


Namun, tepat saat ia menutup pintu kamar Elmira, saat itu pula Tiara keluar dari kamarnya.


Deg!


Keduanya saling menatap, saling mengunci dengan jarak yang tercipta.


Tiara berdiri di ujung lorong sana, sementara Delvano berada di ujung lorong lainnya.


Lagi-lagi Tiara menatap nanar pada pria yang selama ini memberi luka sekaligus rindu untuknya.


Tanpa mengucap satu patah kata pun, Delvano melengos pergi menambah perih di hati Tiara yang masih basah menganga penuh kesakitan.


Kepercayaan diri itu mulai mengikis, janji yang pernah terucap dari mulut manis Delvano seolah tak lagi berarti kini.


Akhir-akhir ini Tiara memang tak bisa tidur nyenyak, ia sering terbangun di malam hari tanpa alasan. Jika sudah begitu, ia akan keluar kamar untuk berjalan-jalan sekitaran mansion tanpa tujuan.


...*...


...*...

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2