My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 10 Lokasi Proyek


__ADS_3

Marya dan juga team sedang menunggu kedatangan Stefa dan Judith di Lobby Hotel. Menurut jadwal,


hari ini mereka akan meninjau lokasi dimana proyek pembangunan Hotel


berlangsung. Dari kejauhan, terlihat Stefa dan Judith sedang berjalan ke arah


Marya dan team.


Tanpa mau membuang waktu, mereka segera berangkat ke lokasi dimana proyek akan berlangsung. Selama


perjalanan, Stefa diberikan arahan dan beberapa penjelasan dari Marya dan juga


team nya mengenai hal apa saja nantinya yang akan di lakukan disana.


Stefa dan Judith tampak menyimak. Marya menjelaskan menggunakan Bahasa Inggris agar Judith mampu


menyimak dan paham mengenai proyek tersebut. Hari ini jalanan terlihat sedikit


macet, sehingga membuat perjalanan mereka sedikit lambat menuju lokasi.


“Sepertinya kita akan terlambat, Stefa!” ucap Marya.


“Tak masalah. Kita akan membahas beberapa hal lainnya mengenai proyek ini. Dan aku berharap kalian


mampu membantuku dan juga sekretarisku.” jawab Stefa nampak tidak terlalu


mempermasalahkan kemacetan yang menghambat perjalanan mereka.


Setibanya di lokasi proyek. Mereka disambut dengan beberapa petinggi dari Star Company dan juga


team yang bergelut langsung di dalam keberlangsungan proyek. Mereka saling


memperkenalkan diri serta posisi penting apa yang mereka pegang.


Seorang pria berusia sekitar 46 tahunan yang dikenal dengan nama Bambang, mendampingi Stefa dan


Judith untuk mengecek langsung lokasi tersebut dan menjelaskan hal-hal penting


yang harus mereka lakukan ke depannya.


Beberapa poin-poin penting sudah Judith catat di buku keramatnya sebagai catatan dan untuk


mempermudah mereka melakukan laporan ke kantor pusat. Stefa berjalan ke area


dimana disana sedang dilakukan perataan tanah.


Disana memang agak sedikit berbahaya dan rawan, sebelumnya Stefa sudah diberitahu oleh Pak Bambang


agar tidak terlalu mendekat ke area tersebut. Namun bukan Stefa namanya jika ia


hanya diam saja dan melihat dari jarak jauh.


“Sebaiknya anda tidak mendekat ke sana Ms.Stefa! Disana sedikit berbahaya.” Pak Bambang mencoba memperingatkan


Stefa agar tidak mendekat kesana.


“Tidak apa-apa. Aku harus melihatnya langsung untuk memastikan lahan ini cocok atau tidak dengan


proyek ini.” jawab Stefa dan berjalan ke area tersebut.


Baru beberapa langkah, Stefa hampir saja terjatuh karena kondisi tanah tidak stabil. Namun sebuah lengan


menahan pinggang Stefa agar tidak terjatuh.


“Terima kasih.” ucap Stefa saat posisinya sudah kembali berdiri tegak.


“Sama-sama.” jawab orang itu.


Stefa mendongakkan kepalanya saat orang itu menjawab Stefa. Barulah Stefa menyadari siapa yang


barusan telah menolongnya dari tragedi dirinyahampir mencium tanah akibat

__ADS_1


terjatuh.


“Berhati-hatilah Ms.Stefa!” ucap orang itu yang tak lain adalah Pak Bambang.


Stefa menganggukkan kepalanya tanda iapaham, dan ia harus berhati-hati saat melangkah. Kembali ia


berjalan di sekitar area itu yang masih setia ditemani oleh Pak Bambang dan


yang lainnya. Saat Stefa hampir terjatuh, semua orang hampir saja terkena


serangan jantung mendadak.


Bersyukurlah Pak Bambang dengan sigap langsung menarik dan menahan pinggang Stefa agar tidak


tersungkur ke tanah. Tak jauh dari posisi mereka saat ini, Revaldo sedang


memperhatikan orang-orang yang berada disana.


Termasuk kecerobohan yang Stefa lakukan tadi. Ia hampir saja berlari ke arah Stefa jika saja ia tak


melihat bahwa Pak Bambang sudah menolongnya.


“Dasar wanita ceroboh.” ucap Revaldo.


Akhirnya sesi peninjauan lokasi proyek di hari pertama berakhir dengan baik dan memuaskan.


Beberapa masukkan yang diberikan oleh Stefa mendapat tanggapan yang baik dari


pihak Star Company. Hanya saja semua keputusan harus berdasarkan persetujuan


Revaldo dan juga David.


Mereka tiba di Hotel tepat pada pukul 5 sore. Semuanya terlihat begitu lelah, tapi berbeda dengan


Stefa yang terlihat biasa-biasa saja. Apalagi ekspresi wajahnya yang selalu


dingin. Bahkan saat ia hampir tersungkurpun. Wajahnya tidak menunjukkan raut


“Terima kasih untuk kerja keras kalian hari ini. Selamat beristirahat!” putus Stefa saat semuanya


sudah sampai di Hotel.


Semuanya membubarkan diri termasuk Marya, Pak Bambang dan juga seluruh teamnya. Harusnya hari ini


Revaldo ikut hadir memantau peninjauan proyek tersebut. Namun niatnya ia


urungkan, ia ingin melihat Stefa dari posisi teramannya.


Segera Stefa dan Judith masuk ke dalam lift dan menekan salah satu tombol untuk mencapai lantai dimana


mereka menginap. Mereka berpisah di depan pintu kamar masing-masing. Saat masuk


ke dalam kamar, Stefa dikejutkan dengan sebuah bouquet bunga yang cukup besar.


Stefa mengambil kertas yang terselip di antara bunga-bunga itu.


‘Kamu cantik hari ini. Tapi kau ceroboh. Jangan membuatku khawatir,sayang!’


Stefa sempat terkejut saat membaca isi secarik kertas itu. Tapi di detik kemudian, dia kembali bersikap


tak acuh. Ia tidak perduli dari mana asal bunga itu, siapa pengirimnya, dan apa


maksud dari isi yang tertera di dalam kertas itu.


Dibuangnya bunga itu ke dalam tempat sampah yang berada di pojokkan dekat dengan pintu arah kamar


mandi. Stefa merebahkan tubuhnya sesaat di atas tempat tidur. Membuang nafas


seolah beban nya dapat berkurang.


Stefa mengambil handphone miliknya dan membaca jadwal apa saja yang akan mereka lakukan esok

__ADS_1


hari. Kembali Stefa membuang nafasnya, rupanya besok ia harus menghadap si


pemilik Star Company.


Stefa mengetikkan sebuah pesan untuk Judith. Ia ingin Judith yang datang menghadap si pemilik


Star Company untuk menanyakan kerja sama ataupun yang berkaitan dengan


proyeknya. Besok, Stefa berencana untuk pergi ke salah satu tempat. Judith


langsung membalas pesan bahwa ia menyanggupi permintaan Stefa.


Ditaruhnya handphone miliknya di atas tempat tidur tak jauh dari posisinya sekarang, barulah Stefa


bangkit dari posisi ternyamannya saat ini. dan berjalan melangkah ke dalam


kamar mandi.


“Ah sepertinya aku ingin berendam lebih lama.” gumam Stefa sambil melangkah ke dalam kamar mandi.


Selama Stefa berada di dalam kamar mandi, seseorang masuk menyelinap ke dalam kamar. Entah dari mana


orang itu mendapatkan akses untuk masuk ke dalam. Karena kamar hotel disana


menggunakan sebuah kartu untuk bisa masuk ke dalam. Mengedarkan pandangannya ke


seluruh penjuru kamar untuk mencari keberadaan si pemilik kamar tersebut.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Barulah ia sadar jika si pemilik kamar


sedang menikmati waktunya untuk membersihkan tubuhnya. Ia menghempaskan


tubuhnya di atas sofa yang terletak di antara tempat tidur dan juga jendela.


Stefa keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi sampai setengah pahanya.


Handuk putih melilit di atas kepala Stefa untuk menahan air agar tidak menetes


ke lantai.


Stefa belum menyadari ada seseorang di dalam kamarnya selain dirinya. Karena memang di kamar itu


tidak adasiapapun selain dirinya. Ekor mata Stefa menangkap sesuatu, dan ternyata


pintu kamar hotelnya telah terbuka. Ia berjalan ke arah pintu, dan sedikit


menyembulkan kepalanya keluar untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain


selain dirinya.


Stefa pikir, dirinya telah teledor karena tidak menutup pintu kamar sampai rapat. Dan kembali


berjalan ke arah lemari untuk mengambil satu set pakaian dalamnya dan baju


ganti. Merasa tidak ada siapapun, Stefa membuka handuk yang menjadi pembungkus


tubuhnya serta handuk yang melilit di kepalanya.


Stefa mengambil salah satu kaos dengan ukuran big size yang


menjadi andalannya. Kaos berlengan panjang dan mampu menutup tubuh sampai


sebatas lutut. Stefa duduk di depan meja rias yang menjadi salah satu fasilitas


di dalam kamar tersebut.


Rupanya orang yang tadi berani menerobos masuk ke dalam kamar Stefa sedang mati-matian menahan nafas


karena melihat adegan dari awal sampai akhir dimana Stefa sedang mengganti


pakaian.

__ADS_1


__ADS_2