
Marya dan juga team sedang menunggu kedatangan Stefa dan Judith di Lobby Hotel. Menurut jadwal,
hari ini mereka akan meninjau lokasi dimana proyek pembangunan Hotel
berlangsung. Dari kejauhan, terlihat Stefa dan Judith sedang berjalan ke arah
Marya dan team.
Tanpa mau membuang waktu, mereka segera berangkat ke lokasi dimana proyek akan berlangsung. Selama
perjalanan, Stefa diberikan arahan dan beberapa penjelasan dari Marya dan juga
team nya mengenai hal apa saja nantinya yang akan di lakukan disana.
Stefa dan Judith tampak menyimak. Marya menjelaskan menggunakan Bahasa Inggris agar Judith mampu
menyimak dan paham mengenai proyek tersebut. Hari ini jalanan terlihat sedikit
macet, sehingga membuat perjalanan mereka sedikit lambat menuju lokasi.
“Sepertinya kita akan terlambat, Stefa!” ucap Marya.
“Tak masalah. Kita akan membahas beberapa hal lainnya mengenai proyek ini. Dan aku berharap kalian
mampu membantuku dan juga sekretarisku.” jawab Stefa nampak tidak terlalu
mempermasalahkan kemacetan yang menghambat perjalanan mereka.
Setibanya di lokasi proyek. Mereka disambut dengan beberapa petinggi dari Star Company dan juga
team yang bergelut langsung di dalam keberlangsungan proyek. Mereka saling
memperkenalkan diri serta posisi penting apa yang mereka pegang.
Seorang pria berusia sekitar 46 tahunan yang dikenal dengan nama Bambang, mendampingi Stefa dan
Judith untuk mengecek langsung lokasi tersebut dan menjelaskan hal-hal penting
yang harus mereka lakukan ke depannya.
Beberapa poin-poin penting sudah Judith catat di buku keramatnya sebagai catatan dan untuk
mempermudah mereka melakukan laporan ke kantor pusat. Stefa berjalan ke area
dimana disana sedang dilakukan perataan tanah.
Disana memang agak sedikit berbahaya dan rawan, sebelumnya Stefa sudah diberitahu oleh Pak Bambang
agar tidak terlalu mendekat ke area tersebut. Namun bukan Stefa namanya jika ia
hanya diam saja dan melihat dari jarak jauh.
“Sebaiknya anda tidak mendekat ke sana Ms.Stefa! Disana sedikit berbahaya.” Pak Bambang mencoba memperingatkan
Stefa agar tidak mendekat kesana.
“Tidak apa-apa. Aku harus melihatnya langsung untuk memastikan lahan ini cocok atau tidak dengan
proyek ini.” jawab Stefa dan berjalan ke area tersebut.
Baru beberapa langkah, Stefa hampir saja terjatuh karena kondisi tanah tidak stabil. Namun sebuah lengan
menahan pinggang Stefa agar tidak terjatuh.
“Terima kasih.” ucap Stefa saat posisinya sudah kembali berdiri tegak.
“Sama-sama.” jawab orang itu.
Stefa mendongakkan kepalanya saat orang itu menjawab Stefa. Barulah Stefa menyadari siapa yang
barusan telah menolongnya dari tragedi dirinyahampir mencium tanah akibat
__ADS_1
terjatuh.
“Berhati-hatilah Ms.Stefa!” ucap orang itu yang tak lain adalah Pak Bambang.
Stefa menganggukkan kepalanya tanda iapaham, dan ia harus berhati-hati saat melangkah. Kembali ia
berjalan di sekitar area itu yang masih setia ditemani oleh Pak Bambang dan
yang lainnya. Saat Stefa hampir terjatuh, semua orang hampir saja terkena
serangan jantung mendadak.
Bersyukurlah Pak Bambang dengan sigap langsung menarik dan menahan pinggang Stefa agar tidak
tersungkur ke tanah. Tak jauh dari posisi mereka saat ini, Revaldo sedang
memperhatikan orang-orang yang berada disana.
Termasuk kecerobohan yang Stefa lakukan tadi. Ia hampir saja berlari ke arah Stefa jika saja ia tak
melihat bahwa Pak Bambang sudah menolongnya.
“Dasar wanita ceroboh.” ucap Revaldo.
Akhirnya sesi peninjauan lokasi proyek di hari pertama berakhir dengan baik dan memuaskan.
Beberapa masukkan yang diberikan oleh Stefa mendapat tanggapan yang baik dari
pihak Star Company. Hanya saja semua keputusan harus berdasarkan persetujuan
Revaldo dan juga David.
Mereka tiba di Hotel tepat pada pukul 5 sore. Semuanya terlihat begitu lelah, tapi berbeda dengan
Stefa yang terlihat biasa-biasa saja. Apalagi ekspresi wajahnya yang selalu
dingin. Bahkan saat ia hampir tersungkurpun. Wajahnya tidak menunjukkan raut
“Terima kasih untuk kerja keras kalian hari ini. Selamat beristirahat!” putus Stefa saat semuanya
sudah sampai di Hotel.
Semuanya membubarkan diri termasuk Marya, Pak Bambang dan juga seluruh teamnya. Harusnya hari ini
Revaldo ikut hadir memantau peninjauan proyek tersebut. Namun niatnya ia
urungkan, ia ingin melihat Stefa dari posisi teramannya.
Segera Stefa dan Judith masuk ke dalam lift dan menekan salah satu tombol untuk mencapai lantai dimana
mereka menginap. Mereka berpisah di depan pintu kamar masing-masing. Saat masuk
ke dalam kamar, Stefa dikejutkan dengan sebuah bouquet bunga yang cukup besar.
Stefa mengambil kertas yang terselip di antara bunga-bunga itu.
‘Kamu cantik hari ini. Tapi kau ceroboh. Jangan membuatku khawatir,sayang!’
Stefa sempat terkejut saat membaca isi secarik kertas itu. Tapi di detik kemudian, dia kembali bersikap
tak acuh. Ia tidak perduli dari mana asal bunga itu, siapa pengirimnya, dan apa
maksud dari isi yang tertera di dalam kertas itu.
Dibuangnya bunga itu ke dalam tempat sampah yang berada di pojokkan dekat dengan pintu arah kamar
mandi. Stefa merebahkan tubuhnya sesaat di atas tempat tidur. Membuang nafas
seolah beban nya dapat berkurang.
Stefa mengambil handphone miliknya dan membaca jadwal apa saja yang akan mereka lakukan esok
__ADS_1
hari. Kembali Stefa membuang nafasnya, rupanya besok ia harus menghadap si
pemilik Star Company.
Stefa mengetikkan sebuah pesan untuk Judith. Ia ingin Judith yang datang menghadap si pemilik
Star Company untuk menanyakan kerja sama ataupun yang berkaitan dengan
proyeknya. Besok, Stefa berencana untuk pergi ke salah satu tempat. Judith
langsung membalas pesan bahwa ia menyanggupi permintaan Stefa.
Ditaruhnya handphone miliknya di atas tempat tidur tak jauh dari posisinya sekarang, barulah Stefa
bangkit dari posisi ternyamannya saat ini. dan berjalan melangkah ke dalam
kamar mandi.
“Ah sepertinya aku ingin berendam lebih lama.” gumam Stefa sambil melangkah ke dalam kamar mandi.
Selama Stefa berada di dalam kamar mandi, seseorang masuk menyelinap ke dalam kamar. Entah dari mana
orang itu mendapatkan akses untuk masuk ke dalam. Karena kamar hotel disana
menggunakan sebuah kartu untuk bisa masuk ke dalam. Mengedarkan pandangannya ke
seluruh penjuru kamar untuk mencari keberadaan si pemilik kamar tersebut.
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Barulah ia sadar jika si pemilik kamar
sedang menikmati waktunya untuk membersihkan tubuhnya. Ia menghempaskan
tubuhnya di atas sofa yang terletak di antara tempat tidur dan juga jendela.
Stefa keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi sampai setengah pahanya.
Handuk putih melilit di atas kepala Stefa untuk menahan air agar tidak menetes
ke lantai.
Stefa belum menyadari ada seseorang di dalam kamarnya selain dirinya. Karena memang di kamar itu
tidak adasiapapun selain dirinya. Ekor mata Stefa menangkap sesuatu, dan ternyata
pintu kamar hotelnya telah terbuka. Ia berjalan ke arah pintu, dan sedikit
menyembulkan kepalanya keluar untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain
selain dirinya.
Stefa pikir, dirinya telah teledor karena tidak menutup pintu kamar sampai rapat. Dan kembali
berjalan ke arah lemari untuk mengambil satu set pakaian dalamnya dan baju
ganti. Merasa tidak ada siapapun, Stefa membuka handuk yang menjadi pembungkus
tubuhnya serta handuk yang melilit di kepalanya.
Stefa mengambil salah satu kaos dengan ukuran big size yang
menjadi andalannya. Kaos berlengan panjang dan mampu menutup tubuh sampai
sebatas lutut. Stefa duduk di depan meja rias yang menjadi salah satu fasilitas
di dalam kamar tersebut.
Rupanya orang yang tadi berani menerobos masuk ke dalam kamar Stefa sedang mati-matian menahan nafas
karena melihat adegan dari awal sampai akhir dimana Stefa sedang mengganti
pakaian.
__ADS_1