
Bab 2
Batalnya Petunangan
Kini di
dalam ruangan yang dipakai untuk merias wajah Stefa sebelumnya, orang tua
Marshal sudah hadir disana. Mereka duduk dengan sangat elegan dan berkelas.
Menujukan mereka berasal dari kasta mana.
“ Jadi,
apa yang terjadi sebenarnya sayang ? “ tanya mama Marshal
“
Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada anda Mrs. Dan Mr. Baraq. Aku ingin
acara pertunangan ini dibatalkan. Karena ada alasan tertentu yang tidak bisa di
toleransi olehku. “
Kedua
orang tua itu begitu tercengang mendengar perkataan calon menantunya itu.
“
Dibatalkan ? Apa yang terjadi ? Kenapa pertunangan ini harus dibatalkan ? “
kini ayah Marshal bertanya dengan tidak sabarannya
Stefa
tidak langsung menjawab, ia malah memberikan handphonenya kepada kedua orangtua itu. Diraihnya handphone
itu dari tangan Stefa.
Kini
ekspresi ayah Marshal berubah, tatapannya menjadi tajam dan tak bersahabat.
Rahangnya mengetat. Mukanya sudah merah padam menahan amarah yang begitu besar.
“ Apa
yang kamu lihat ? Aku ingin melihatnya juga ! “ mama Marshal merebut handphone
milik Stefa yang berada di tangan suaminya itu. Dan kini, mereka bedua sudah
nampak kesal dan menahan amarah.
“
Bajingan! Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung, tidak tahu malu. “ Umpat ayah
Marshal.
“ A-apa
yang harus kita lakukan sekarang? Tidak mungkin acara ini dibatalkan dan
dilanjutkan. Bagaimana dengan reputasi keluarga besar kita nantinya? “ kalut
mama Marshal
“ Apa
ini waktunya untuk memikirkan reputasi keluarga, huh? Anak sialan itu. Akan
__ADS_1
kupastikan dia menerima akibatnya. Berani-beraninya dia bertingkah seperti
seorang bajingan. Sudah jelas dia akan segera bertunangan. “
Stefa
sudah mengambil handphone miliknya. Ia diam mendengarkan segala umpatan dan
kekesalan kedua orang tua Marshal. Ia tidak perduli, tidak perduli dengan
reputasi keluarga mereka. Ia bahkan tidak perduli dengan segala cemoohan yang
akan diterimanya nanti.
“
Tenanglah Mr. Baraq! Mari kita selesaikan ini dengan baik, karena awalnyapun
baik. “ Stefa menghembuskan nafasnya.
“ Mari
kita batalkan pertunangan ini. Kalian tidak perlu memberitahukan Marshal
tentang aku yang mengetahui kelakuannya itu! Aku cukup tahu, jika posisiku
tidak sebanding dengan posisi Marshal. “
“ Tapi,
nak. Marshal harus tahu bahwa pertunangan ini batal karena ulahnya yang
memalukan itu.” Jawab mama Marshal.
Stefa
menggelengkan kepalanya. “ Tidak apa. Biarkan ia tidak tahu tentang
berani bersumpah bahwa aku tidak akan menjelekkan nama baik keluarga Baraq. “
Kedua
orangtua itu setuju dengan Stefa. Bukan karena reputasi keluarganya, melainkan
tentang kebenaran yang harus ditutupi. Mereka yakin, jika Marshal memang
sengaja melakukan itu. Tidak mungkin Marshal akan melakukan kesalahan secara
tidak sengaja, ini pasti sudah direncanakan sebelumnya.
Ayah dan
Mama Marshal berpamitan untuk kembali ke mansion milik mereka. Meninggalkan
Stefa sendirian di ruangan itu. Hanya ada kesunyian dan kegelapan yang menemani
Stefa saat ini. Ia masih tak berani
beranjak dari posisinya sekarang.
Ia ingin
menangis, menangisi semuanya. Seluruh bayangan-bayang, kenangan bersama dengan
Marshal dari awal perkenalan sampai saat dimana ia mengetahui kepahitan. Ia
mengingat semuanya. Ia ingat bagaimana hancurnya hatinya saat ini.
“ Cukup
sampai disini! Aku tidak pernah akan kembali kepadanya, tidak untuk selamanya!
__ADS_1
“ gumam Stefa seraya bangkit dari posisi duduknya.
Ia
melangkah menuju pintu ruangan yang menjadi saksi kepahitannya. Di raihnya handle pintu, kemudian ia melangkah
keluar.
Setibanya
di Royal Apartment, Stefa menekan tombol 25 untuk sampai ke unit apartment
miliknya. Pintu lift pun terbuka, ia berjalan meninggalkan lifr. Menyusuri
lorong, dan sampailah di pintu unit apartment miliknya.
Stefa
menekan tombol dan memasukkan password di sebuah kotak akses.
Bip..Bip..Bip..
Bunyi
itu terdengar tiga kali, dan pintu apartment langsung terbuka. Segera Stefa
masuk ke dalam, ia terus berjalan sampai ia di depan pintu kamar tidurnya. Di
letakkannya clutch bag di sisi meja
rias, ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kesayangannya.
Jangan
samakan Stefa dengan wanita-wanita lainnya yang mudah disentuh begitu saja oleh
pria, sekalipun itu adalah kekasihnya. Stefa adalah wanita baik-baik, tidak
terjamah sedikitpun oleh pria.
Hanya
sekadar batas ciuman saja yang sering Stefa lakukan dengan kekasihnya. Mungkin
itulah kenapa Marshal mengkhianatinya. Karena Stefa tidak bisa menyenangkan
hasrat kelelakian milik Marshal.
Stefa
tahu, jika ia begitu naif tentang percintaan. Tapi sungguh, ia hanya ingin
memberikan mahkotanya hanya untuk suaminya. No
Sex Before Marriage, Never!
Itulah
pedoman yang selalu Stefa genggam dihidupnya. Terlalu polos untuk tinggal di
negara yang bebas seperti di London.
Stefa
memejamkan matanya, satu tangannya menutup matanya. Dadanya terasa sesak, ia
ingin menangis tapi air mata tidak bisa keluar dari matanya. Hatinya seolah
dicabik-cabik, seolah dihujam dengan ratusan bahkan ribuan pedang yang siap
mengoyak seluruh isi hatinya.
__ADS_1