My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 2 Batalnya Petunangan


__ADS_3

Bab 2


Batalnya Petunangan


Kini di


dalam ruangan yang dipakai untuk merias wajah Stefa sebelumnya, orang tua


Marshal sudah hadir disana. Mereka duduk dengan sangat elegan dan berkelas.


Menujukan mereka berasal dari kasta mana.


“ Jadi,


apa yang terjadi sebenarnya sayang ? “ tanya mama Marshal



Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada anda Mrs. Dan Mr. Baraq. Aku ingin


acara pertunangan ini dibatalkan. Karena ada alasan tertentu yang tidak bisa di


toleransi olehku. “


Kedua


orang tua itu begitu tercengang mendengar perkataan calon menantunya itu.



Dibatalkan ? Apa yang terjadi ? Kenapa pertunangan ini harus dibatalkan ? “


kini ayah Marshal bertanya dengan tidak sabarannya


Stefa


tidak langsung menjawab, ia malah  memberikan handphonenya kepada kedua orangtua itu. Diraihnya handphone


itu dari tangan Stefa.


Kini


ekspresi ayah Marshal berubah, tatapannya menjadi tajam dan tak bersahabat.


Rahangnya mengetat. Mukanya sudah merah padam menahan amarah yang begitu besar.


“ Apa


yang kamu lihat ? Aku ingin melihatnya juga ! “ mama Marshal merebut handphone


milik Stefa yang berada di tangan suaminya itu. Dan kini, mereka bedua sudah


nampak kesal dan menahan amarah.



Bajingan! Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung, tidak tahu malu. “ Umpat ayah


Marshal.


“ A-apa


yang harus kita lakukan sekarang? Tidak mungkin acara ini dibatalkan dan


dilanjutkan. Bagaimana dengan reputasi keluarga besar kita nantinya? “ kalut


mama Marshal


“ Apa


ini waktunya untuk memikirkan reputasi keluarga, huh? Anak sialan itu. Akan

__ADS_1


kupastikan dia menerima akibatnya. Berani-beraninya dia bertingkah seperti


seorang bajingan. Sudah jelas dia akan segera bertunangan. “


Stefa


sudah mengambil handphone miliknya. Ia diam mendengarkan segala umpatan dan


kekesalan kedua orang tua Marshal. Ia tidak perduli, tidak perduli dengan


reputasi keluarga mereka. Ia bahkan tidak perduli dengan segala cemoohan yang


akan diterimanya nanti.



Tenanglah Mr. Baraq! Mari kita selesaikan ini dengan baik, karena awalnyapun


baik. “ Stefa menghembuskan nafasnya.


“ Mari


kita batalkan pertunangan ini. Kalian tidak perlu memberitahukan Marshal


tentang aku yang mengetahui kelakuannya itu! Aku cukup tahu, jika posisiku


tidak sebanding dengan posisi Marshal. “


“ Tapi,


nak. Marshal harus tahu bahwa pertunangan ini batal karena ulahnya yang


memalukan itu.” Jawab mama Marshal.


Stefa


menggelengkan kepalanya. “ Tidak apa. Biarkan ia tidak tahu tentang


berani bersumpah bahwa aku tidak akan menjelekkan nama baik keluarga Baraq. “


Kedua


orangtua itu setuju dengan Stefa. Bukan karena reputasi keluarganya, melainkan


tentang kebenaran yang harus ditutupi. Mereka yakin, jika Marshal memang


sengaja melakukan itu. Tidak mungkin Marshal akan melakukan kesalahan secara


tidak sengaja, ini pasti sudah direncanakan sebelumnya.


Ayah dan


Mama Marshal berpamitan untuk kembali ke mansion milik mereka. Meninggalkan


Stefa sendirian di ruangan itu. Hanya ada kesunyian dan kegelapan yang menemani


Stefa saat ini.  Ia masih tak berani


beranjak dari posisinya sekarang.


Ia ingin


menangis, menangisi semuanya. Seluruh bayangan-bayang, kenangan bersama dengan


Marshal dari awal perkenalan sampai saat dimana ia mengetahui kepahitan. Ia


mengingat semuanya. Ia ingat bagaimana hancurnya hatinya saat ini.


“ Cukup


sampai disini! Aku tidak pernah akan kembali kepadanya, tidak untuk selamanya!

__ADS_1


“ gumam Stefa seraya bangkit dari posisi duduknya.


Ia


melangkah menuju pintu ruangan yang menjadi saksi kepahitannya. Di raihnya handle pintu, kemudian ia melangkah


keluar.


Setibanya


di Royal Apartment, Stefa menekan tombol 25 untuk sampai ke unit apartment


miliknya. Pintu lift pun terbuka, ia berjalan meninggalkan lifr. Menyusuri


lorong, dan sampailah di pintu unit apartment miliknya.


Stefa


menekan tombol dan memasukkan password di sebuah kotak akses.


Bip..Bip..Bip..


Bunyi


itu terdengar tiga kali, dan pintu apartment langsung terbuka. Segera Stefa


masuk ke dalam, ia terus berjalan sampai ia di depan pintu kamar tidurnya. Di


letakkannya clutch bag di sisi meja


rias, ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kesayangannya.


Jangan


samakan Stefa dengan wanita-wanita lainnya yang mudah disentuh begitu saja oleh


pria, sekalipun itu adalah kekasihnya. Stefa adalah wanita baik-baik, tidak


terjamah sedikitpun oleh pria.


Hanya


sekadar batas ciuman saja yang sering Stefa lakukan dengan kekasihnya. Mungkin


itulah kenapa Marshal mengkhianatinya. Karena Stefa tidak bisa menyenangkan


hasrat kelelakian milik Marshal.


Stefa


tahu, jika ia begitu naif tentang percintaan. Tapi sungguh, ia hanya ingin


memberikan mahkotanya hanya untuk suaminya. No


Sex Before Marriage, Never!


Itulah


pedoman yang selalu Stefa genggam dihidupnya. Terlalu polos untuk tinggal di


negara yang bebas seperti di London.


Stefa


memejamkan matanya, satu tangannya menutup matanya. Dadanya terasa sesak, ia


ingin menangis tapi air mata tidak bisa keluar dari matanya. Hatinya seolah


dicabik-cabik, seolah dihujam dengan ratusan bahkan ribuan pedang yang siap


mengoyak seluruh isi hatinya.

__ADS_1


__ADS_2