My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 36 Welcome to Japan


__ADS_3

Open PO


My Love Story by Rhesikim


(357 halaman)


Rp. 96.000



Format pemesanan bisa di kirim ke WA +62818331696


Nama


Alamat


Kota


Kelurahan


Kecamatan


Kode pos


Nomer hp


Judul buku


Transfer ke rek 0560368836 an Diana bank bca


***


            Di bandara internasional, Stefa sedang duduk menunggu jam keberangkatan menuju Jepang. Sedari tadi, tante dan juga suaminya tak henti-hentinya menghubungi menanyakan sudah berangkat atau belum. Dan berulang kali juga ia mencoba bersabar dengan sikap tantenya yang sedikit cerewet itu.


            Saat ini Stefa mengenakan pakaian yang terbilang santai. Celana jeans ketat dengan warna khasnya, kaos putih polos yang sedikit kebesaran, bagian depannya ia masukkan ke dalam celana jeans yang ia kenakan. Sepatu sneakers berwarna putih, topi bermodel baseball cap berwarna putih tak luput jadi penyempurna penampilannya kali ini.


            Jam keberangkatan sudah tiba, Stefa segera masuk dan siap untuk menduduki tempat duduk miliknya. Stefa duduk tepat di samping jendela, dengan posisinya yang sekarang Stefa bisa menikmati pemandangan selama perjalanan berlangsung.


            Jarak antara London dan Osaka-Jepang, membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 14 jam atau lebih. Sebelum pesawat meninggalkan landasannya, Stefa memberi kabar pada tantenya bahwa ia sudah berada di dalam pesawat.


            “Permisi, Nona. Pesawat akan segera lepas landas, bisakah anda mematikan handphone milik anda?” salah satu pramugari menghampiri Stefa.

__ADS_1


            “Sure!” balas Stefa kemudian mematikan handphone miliknya. Tak lama, benar apa yang di katakan si pramugari bahwa pesawat akan segera lepas landas. Selama perjalanan, Stefa hanya sibuk memandangi pemandangan dan awan yang terlihat sedang berkumpul di balik jendela. Stefa mengagumi keindahan alam yang telah Tuhan ciptakan di bumi ini.


            Perjalanan menuju Osaka-Jepang masih lama, ia memilih untuk tidur untuk mengistirahatkan segala bentuk pikiran yang bersarang di dalam otaknya.


***


            “Nona, Nona.. Anda sudah sampai di tujuan!” seorang pramugari membangunkan Stefa yang masih betah untuk tidur di dalam pesawat padahal mereka sudah sampai di tempat tujuan.


            “Oh maaf. Aku terlalu lelah dan bosan sampai aku tak menyadari kalau aku sudah tiba. Maafkan aku.” Ucap Stefa tak enak karena membiarkan pramugari itu menungguinya karena ia tertidur cukup lama sampai tak menyadari bahwa pesawat sudah mendarat dengan aman.


            “Tak apa, Nona. Anda butuh bantuan?” tawar pramugari itu lagi dengan senyuman yang ramah.


            “Tidak, terima kasih. Aku bisa sendiri. Sekali lagi aku minta maaf.” Pramugari itu mengangguk seraya tersenyum kembali.


            Stefa segera turun dari pesawat. Di pintu kedatangan, Charlote dan juga Ken-suaminya sudah menunggui Stefa sejak 2 jam yang lalu. Mereka sudah tak sabar bertemu dengan keponakan kesayangan mereka.


            “Tante?!” teriak Stefa saat melihat tantenya sedang berdiri tak jauh darinya.


            “Oh sayang, syukurlah kau sudah sampai dengan selamat.” Charlote segera memeluk Stefa begitu erat dan


bergantian dengan Ken.


            “Kau pasti lelah karena harus menghabiskan beberapa jam di dalam pesawat.” Ucap Ken setelah melepaskan Stefa dari pelukannya.


            Rupanya mereka pandai merawat diri. Dengan pola hidup yang sehat akan memberikan hasil yang maksimal. Umur pun serasa bertambah panjang, tidak ada kerutan seperti kebanyakan orang yang sudah tak muda lagi. Stefa merasa iri melihat tantenya begitu terlihat awet muda.


            “Kau pasti lapar sayangku. Kau ingin makan terlebih dulu?” tawar Charlote saat mereka berjalan menuju mobil milik Ken.


            “Aku ingin makan masakanmu, tante.” Stefa tersenyum tipis. Ia merindukan makanan lezat yang dimasak oleh tangan tantenya sendiri.


            Setibanya di rumah pasangan suami istri itu. Semua barang-barang Stefa di masukkan ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh tantenya. Beberapa pelayan yang sudah kenal dengan Stefa menyapanya dan ada beberapa yang meminta ijin Stefa untuk memeluknya.


            “Selamat datang di Jepang, Nona Stefa.” Ucap kepala pelayan yang berada disana.


            “Terima kasih Bibi Eiko.” Stefa memeluk wanita yang berusia sekitar 50 tahunan itu dengan hangat. Meskipun wanita bernama Eiko itu sudah memiliki rambut yang keseluruhannya hampir memutih, tetap saja wanita itu masih betah untuk bekerja dan menjadi kepala pelayan di rumah milik Charlote dan juga Ken.


            Keluarga Bibi Eiko sudah turun temurun bekerja dan mengabdikan hidup mereka untuk mengurus keluarga besar Ken. Awalnya Bibi Eiko berkeja di rumah utama milik orang tua Ken, namun Ken. Meminta Bibi Eiko untuk tinggal di rumah pribadinya dan menemani Charlote untuk sehari-harinya jika Ken sedang tidak ada di rumah.


            “Istirahatlah dulu, sayang! Tante akan memanggilmu jika makanan sudah siap. Pergilah ke kamarmu, Bibi Eiko akan mengantarmu!” Charlote menyuruh Stefa untuk segera istirahat. Wanita itu tahu jika keponakannya pasti merasakan lelah.


            Stefa hanya mengangguk dan menuruti perintah Charlote. Sedangkan Ken, pria itu sedang sibuk membaca koran di ruang tamu dengan segelas kopi yang terlihat masih mengepul. Charlote mengurus Ken begitu baik, dia akan menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan suaminya.

__ADS_1


            Ken selaku suami, begitu memanjakan Charlote sebagai istrinya. Stefa menginginkan keluarga yang harmonis dan romantis seperti sepasang suami istri itu. Sayangnya, semua keinginan dan harapannya musnah saat pria bernama Marshal itu berbuat tak menyenangkan di hari pertunangan mereka.


            Stefa duduk di atas ranjang empuk dengan ukuran yang cukup besar. Ia meneliti seluruh isi ruangan kamar tersebut dengan seksama. Kamar itu tidak terlalu luas, tapi memberikan kenyamanan tersendiri bagi si penghuni kamar itu. Stefa memeriksa kamar mandi, di dalam sana.


            Tersedia bathtub berukuran besar. Mungkin bisa menampung sampai 2 orang bersamaan di dalamnya. Melihat bathtub, Stefa jadi ingin langsung berendam. Tak lama, Stefa segera meraih handuk dan juga jubah mandinya.


            Melepas seluruh pakaiannya yang sudah melekat dengan keringat. Kakinya satu persatu masuk ke dalam bathtub dan mulai berendam. Stefa melakukan itu sekitar 20 menitan dan tubuhnya menjadi segar kembali. Otot-ototnya mulai merileks tidak sekaku seperti sebelumnya.


            “Sayang, makanan sudah siap!” seru Charlote dari balik pintu kamar tidur Stefa.


            “Aku akan segera turun.” Balas Stefa dari dalam kamar. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya pun masih terlihat basah. Dengan cepat Stefa langsung mengenakan pakaian santai ala rumahan miliknya dan segera turun ke bawah. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa harus mengering ‘kannya terlebih dulu. Ia membiarkan rambutnya yang basah begitu saja.


            Di ruang makan, Charlote dan juga Ken sudah duduk di kursinya masing-masing sedang menunggu Stefa untuk ikut bergabung dan mengisi salah satu kursi di meja makan itu. Melihat Stefa sudah berada di ruang makan, Ken langsung menyuruhnya untuk bergabung.


            Mereka makan bersama dengan begitu tenang. Meskipun sesekali Ken atau Charlote akan membuka obrolan sekadar menanyakan bagaimana mengenai perjalanannya ke Jepang, atau mengenai pekerjaan Stefa saat di Indonesia. Dengan senang hati, Stefa mulai bercerita sedikit demi sedikit. Meskipun waktu yang mereka lewati saat makan bersama lebih banyak diamnya.


            Sebenarnya, di keluarga Ken. Tidak diperbolehkan bersuara saat sedang menyantap makanan atau makan bersama. Namun, Ken dan juga Charlote menghilangkan tradisi kolot itu. Ken merasa, suasanan akan lebih hangat saat mereka mengisi waktu makan dengan sedikit bahan obrolan. Seperti yang telah mereka lakukan tadi.


            Berbeda dengan saat mereka berada di rumah utama milik orang tua Ken. Mereka harus mengikuti segala tradisi di keluarga besar itu. Mereka saling menghormati kebiasaan masing-masing tanpa harus memekasakan kehendaknya sendiri. Orang tua Ken tahu, jika Ken selalu menghilangkan tradisi di meja makan seperti biasanya.


            “Tante, besok aku akan pergi keluar dan menghirup udara segar. Tak apa ‘kan?” tanya Stefa setelah mereka selesai makan. Bibi Eiko memerintah kepada beberapa pelayan untuk segera membereskan meja makan dan membersihkan peralatan makan yang kotor.


            “Tentu saja itu baik untukmu. Kau memang harus menikmati waktumu untuk berlibur disini!” Ken yang menjawab pertanyaan Stefa tadi. Charlote mengangguk menyetujui ucapan suaminya itu.


            “Oh, ya. Waktu di telepon, Paman Ken ingin membicarakan sesuatu. Apa itu?” tanya Stefa penasaran.


            “Sudahlah, nanti saja kita bicarakannya. Lagi pula kau baru tiba disini. Nikmatilah dulu waktumu.” Jawab


Ken dengan entengnya.


            “Baiklah, baiklah. Kalian selalu saja memanjakanku seperti ini.” kemudian Stefa terkekeh diikuti oleh Ken dan juga istrinya.


            Stefa memilih untuk menikmati semilir angin malam di depan balkon kamar miliknya. Tangannya membungkus tubuhnya sendiri untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya sendiri. Di bawah sana, banyak sekali jenis tanaman dan tumbuhan yang di rawat baik oleh keluarga itu. Dan itu menambah kesan alam yang menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan.


            Angin yang berhembus menyentuh kulit wajah Stefa. Wanita itu mulai kedinginan karena terlalu lama berdiri di luar. Beberapa kali wanita itu menggosok kedua lengannya sendiri, kemudian masuk ke dalam kamar tidur dan menutup kaca berukuran besar itu.


            Di kamar itu, tidak ada pintu kayu seperti pintu kamar miliknya yang bisa mengakses ke balkon. Yang ada hanya kaca berukuran sangat besar, yang bisa di buka untuk menikmati ke indahan pemandangan di luar sana dari balkon. Saat malam hari tiba, kaca yang besar itu hanya di tutup dengan menggunakan tirai.


            Jadi saat siang hari, matahari dengan mudah bisa menembus masuk ke dalam kamar milik Stefa. Kamar itu sengaja dibuat tanpa pintu kayu menuju balkon. Pemilik rumah membiarkan kaca besar yang menjadi pembatas antara kamar tidur dengan balkon.


            Membiarkan si penghuni kamar itu menikmati pemandangan malam, menikmati langit malam dari balik kaca besar itu tanpa harus pergi keluar. Awalnya kamar itu akan digunakan untuk keluarga yang datang ke rumah itu dan menginap.

__ADS_1


            Namun, saat Ken meminta Stefa datang ke Jepang. Pria itu mengganti hampir seluruh perabotan yang ada di dalam kamar dan menjadikan kamar itu khusus untuk milik Stefa. Jadi, jika wanita itu sewaktu-waktu datang kembali ke Jepang. Kamar itu sudah bisa ditempati karena sudah menjadi miliknya. Sedangkan kamar tamu atau kamar yang di khususkan untuk keluarga, Ken menempatkan di kamar lainnya.


__ADS_2