My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 37 Surprised


__ADS_3

Open PO


My Love Story by Rhesikim


(357 halaman)


Rp. 96.000



Format pemesanan kirim lewat WA ke nomor admin 0818331696 !!!


Nama


Alamat


Kota


Kelurahan


Kecamatan


Kode pos


Nomer hp


Judul buku


Transfer ke rek 0560368836 an Diana bank bca


***


            Bisa dibilang ini cukup pagi untuk Stefa pergi dari rumah tante dan juga suaminya. Beberapa waktu lalu, Stefa sudah meminta ijin pada pasangan itu bahwa ia akan menghabiskan waktu di luar. Mungkin mengunjungi beberapa tempat wisata terkenal di sana menjadi hal yang bagus untuknya. Masa cutinya memang harus dimanfaatkan dengan baik.


            Percuma jika ia datang ke Jepang, tapi tak memanfaatkan waktunya sama sekali untuk mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal di sana. Stefa lebih menyukai menggunakan transportasi umum di banding harus menggunakan kendaraan pribadi saat ingin mengunjungi tempat wisata.


            Memang, di Jepang kebanyakan orang menggunakan transportasi umum atau menggunakan sepeda. Tak jarang juga dari penduduk Jepang, mereka lebih memilih untuk berjalan kaki untuk mencapai ke tempat tujuan mereka.


            Stefa mengenakan Off Shoulder Top Broken White dengan model Puffed Sleeves dengan Denim Hot Pants. Kali ini Stefa memilih untuk mengenakan sepatu jenis Espadilles yang bisa dibilang sangat comfy jika dipadu-padankan dengan Hot Pants.


            Tempat wisata pertama yang akan Stefa datangi yaitu Dotonbori. Dotonbori adalah salah satu tempat wisata di Osaka yang paling terkenal dengan deretan billboard-billboard raksasanya. Misalnya pelari yang mengangkat kedua tangan lambang dari Glico sang pembuat camilan, lalu patung kepiting bergerak dan billboard-billboard lainnya yang fotogenic.


            Untuk sampai di sana Stefa akan melewati area Shinsaibashi, yaitu area perbelanjaan di mana banyak restaurant dan toko pakaian yang berjajar di sana. Panjangnya mencapai 580 meter. Di sana, Stefa bisa menikmati pesona Osaka yang diringkas di tempat yang setiap harinya dipadati banyak orang itu.


            Selain itu, di sana juga banyak toko yang menyajikan masakan lokal Osaka. Stefa menyambangi satu persatu toko yang ada di sana. Mencicipi setiap toko yang menjual makan lokal Osaka. Ia menikmati setiap langkah demi langkahnya, tak lupa juga Stefa mengambil beberapa foto miliknya dengan sudut yang berbeda. Tak jarang juga, ia akan meminta tolong kepada pejalan kaki lainnya untuk membantunya mengambil foto full body miliknya.


            Satu persatu tempat wisata Stefa datangi. Mulai dari Dotonburi, Kastil Osaka yang Agung, Pasar Kuromon, Floatting Garden Observatory di mana Stefa mampu melihat seluruh pemandangan kota Osaka, Kaiyukan akuarium terbesar di Jepang dan beberapa tempat wisata menarik lainnya.


            Saat malam tiba, tujuan terakhirnya adalah Bianglala Tempozan. Bianglala Tempozan sendiri letaknya tak jauh dari Kaiyukan. Tempat wisata terakhir Stefa terletak di dalam Desa Pelabuhan Tempozan. Ini adalah bianglala terbesar di Jepang yang tingginya kurang lebih 112,5 meter. Waktu yang diperlukan bianglala untuk satu kali putaran adalah 15 menit, dan Stefa sudah bisa menikmati langit dengan santai.

__ADS_1


            Melihat lampu-lampu di kota itu menyala saat malam hari, terlihat seperti bintang-bintang yang bertaburan di


langit. Saat malam hari, melihat dari puncak tertinggi bianglala sangatlah menakjubkan.


            Setelah turun dari bianglala itu, Stefa kembali mengambil beberapa foto miliknya. Namun, sebuah tepukan di pundaknya membuat ia sedikit terkejut.


            “Revaldo?” ucap Stefa terkejut melihat siapa orang yang telah menepuk pundaknya itu.


            “Hai.” sapa Revaldo saat Stefa sudah berhadapan dengannya.


            “Kau. Kenapa bisa ada di sini?” tanya Stefa pada akhirnya karena penasaran akan keberadaan Revaldo di tempat yang sama dengannya.


            “Aku sedang dalam perjalanan bisnis, kebetulan aku juga menghadiri beberapa seminar untuk satu minggu ke depan. Kau sedang apa di sini? Kau sendirian?” Revaldo celingak-celinguk mencari orang yang mungkin datang bersama Stefa.


            “Oh, begitu. Aku sedang jalan-jalan di sini, kebetulan rumah saudaraku tak jauh dari sini. Ya meskipun memerlukan beberapa kali naik transportasi umum. Aku datang sendirian. Kau datang bersama siapa?”


            “Aku datang dengan sekretarisku, tapi hari ini ia aku bebas tugaskan. Bagaimana pun, sekretarisku juga butuh waktunya sendiri, bukan?!” Revaldo menyengir kuda dan dibalas anggukkan oleh Stefa.


            Mereka mulai berjalan beriringan untuk mengitari tempat itu. Mereka juga beberapa kali saling mengambil foto masing-masing dan akan mereka sebarkan dan banggakan di akun sosial media masing-masing.


            Revaldo mengajak Stefa untuk makan malam di salah satu restaurant atau kedai yang wajib didatangi saat ke Osaka – Jepang. Umeda Kamakate Udon adalah tempat tujuan mereka untuk menghabiskan waktu makan malam bersama. Sebenarnya, jika Stefa berangkat sendirian menggunakan kereta. Hanya perlu berjalan kaki sekitar 3 menit dari Stasiun Umeda.


            Sayangnya, ia datang bersama Revaldo yang membawa kendaraan. Di sana, Revaldo dan Stefa disuguhkan dengan nuansa klasik yang khas dari restaurant atau kedai itu. Rasa otentik udon Kansai (di bagian barat Jepang) dan udonnya yang tebal tidak boleh dilewatkan.


            Hidangan tempura yang disediakan di kedai itu juga menjadi salah satu rekomendasi bagi para pengunjung yang datang. Mereka berdua memilih tempat duduk yang kosong, kedai itu cukup ramai mengingat kedai itu sangat terkenal. Beberapa pengunjung rela untuk mengantri demi untuk mendapatkan menu yang khas dari kedai tersebut.


            “Kau mau pesan apa?” tanya Revaldo saat sudah duduk di salah satu kursi yang kosong.


            “Kenapa harus daun perilla dan plum?” tanya Revaldo tak mengerti dengan pesanan yang Stefa inginkan.


            “Kau tak tahu daun perilla dan juga plum?” Stefa malah balik bertanya.


            “Tentu aku tahu. Hanya saja terasa aneh memakan udon tebal dengan tambahan daun perilla dan juga plum.” Revaldo menggaruk tengkuknya yang terasa tidak gatal sama sekali.


            “Aku harus menikmati makanan, tapi aku juga tidak ingin berat badanku menaik drastis. Daun perilla dan plum juga cocok untuk orang yang sedang diet atau menjaga pola makannya. Dan aku termasuk orang itu, aku tak ingin perutku bergelambir karena tak menjaga pola makanku.” Jelasnya panjang lebar yang hanya dibalas dengan anggukkan mengerti. Sebenarnya, Revaldo tak mengerti kenapa wanita harus seribet ini hanya untuk memakan semangkuk udon.


            Tak lama pesanan pun datang. Mata mereka berdua sangat berbinar saat melihat semangkuk udon sudah ada di hadapannya.


            “Wow, sepertinya ini lezat sekali.” gumam Stefa dengan mulai mengaduk-aduk isi mangkuk udon itu.


            Melihat Stefa yang begitu antusias hanya dengan semangkuk udon, Revaldo mengeluarkan handphone-nya dan membidikkan kamera ke arah Stefa yang sama sekali tak ia sadari. Revaldo mengambil beberapa foto Stefa yang sedang menikmati udon pesanannya.


            Revaldo tersenyum tipis saat melihat hasil jepretannya.


            “Kau tak makan?” tanya Stefa membuat Revaldo langsung menyembunyikan handphone miliknya ke bawah meja.


            “A-aku akan makan.” Revaldo buru-buru mengambil sumpit dan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya dengan tergesa-gesa. Revaldo tersedak karena cara makannya yang tergesa-gesa seolah sedang mengikuti lomba makan yang akan kehabisan waktu.


            Stefa membantu menyodorkan segelas air minum ke hadapan Revaldo. Stefa berdiri dari tempat duduknya dan membantu pria itu menepuk-nepuk pelan punggungnya.

__ADS_1


            “Kau merasa baikkan?” tanya Stefa setelah pria itu tak lagi terbatuk-batuk akibat tersedak saat makan.


            Wajah Revaldo memerah merasa malu karena harus tersedak di depan Stefa. Ia mengangguk pelan masih menahan malu, Stefa hanya tersenyum. Dan senyuman itu hanya bertahan untuk beberapa detik saja, karena selanjutnya wanita itu memasang wajah datarnya.


***


            “Kau langsung pulang?” tanya Revaldo setelah mereka berhasil ke luar dari kedai udon itu.


            “Kurasa aku harus pulang. Ini sudah hampir jam 10 malam. Kau menginap di sekitar sini?”


            “Tidak, Hotel tempatku menginap cukup jauh dari sini. Mungkin sekitar 30 menitan lebih. Ayo, aku akan mengantarmu pulang!” ajak Revaldo.


            “Tidak, terima kasih. Aku akan menggunakan transportasi umum, kau bisa kembali ke Hotel dan istirahat!” tolak Stefa saat mendapat ajakan dari Revaldo.


            “Tak masalah, aku akan mengantarmu terlebih dahulu baru setelah itu aku kembali ke Hotel. Ini sudah malam, tak baik jika aku membiarkan seorang wanita pulang sendirian menggunakan transportasi umum.” sejujurnya Revaldo memang sedikit memaksa Stefa untuk mengantarnya pulang. Ia juga ingin tahu di mana rumah saudara yang Stefa maksud itu, siapa tahu di lain kesempatan ia bisa mampir dan bertemu dengan saudara Stefa.


            “Baiklah.” Akhirnya Stefa menyetujui ajakan Revaldo. Pria itu bersorak gembira karena ajakannya tak lagi ditolak Stefa. Mereka memasuki mobil dan mulai meninggalkan kedai itu.


            Ternyata arah rumah Charlote dan juga arah Hotel yang ditempati Revaldo satu jalur. Ini kebetulan yang sangat aneh sepertinya. Bagaimana bisa Revaldo menginap di Hotel yang letaknya tak jauh dari rumah tantenya itu. Jarak dari rumah Charlote ke Hotel hanya memerlukan waktu 10 menitan saja jika menggunakan kendaraan.


            “Kita sudah sampai.” Ucap Revaldo setelah mematikan mesin mobilnya tepat di depan gerbang rumah milik Charlote yang cukup tinggi itu. Gerbang rumah berwarna hitam pekat itu menjadi pembatas antara rumah dan juga jalanan yang dipakai lalu lalang kendaraan.


            “Terima kasih. Tapi aku tak bisa menawarimu masuk ke dalam, karena ini sudah malam. Mungkin kau bisa datang dilain hari.” Balas Stefa sembari membuka sabuk pengaman.


            Entah ada apa dengan sabuk pengaman yang Stefa pakai, tiba-tiba saja sangat sulit untuk dilepas. Tangannya terus bergerak mencoba melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. Revaldo yang melihat Stefa kesusahan membuka sabuk pengaman itu, langsung mendekat setelah sebelumnya ia melepaskan sabuk pengaman miliknya.


            Tubuh pria itu sedikit condong karena harus meraih sabuk pengaman yang masih mengurung tubuh Stefa. Saat bersamaan, Stefa juga mencondongkan tubuhnya dan hampir saja ia tersedak air liurnya sendiri karena wajah mereka hampir berbenturan karena pergerakkan yang berbarengan.


            Untuk sesaat mereka malah saling bertatap-tatapan, deru napas mereka terdengar jelas karena mereka masih di dalam mobil. Suasana di sekeliling juga sepi, mendukung mereka untuk mendengarkan deru napas masing-masing yang malah terdengar cukup jelas.


            Tak ada yang bergerak. Pandangan Revaldo mengunci pandangan mata Stefa. Entah dorongan dari mana, tatapan Revaldo turun ke bawah menuju bibir Stefa. Menelanjangi bibir Stefa dengan pandangan matanya sendiri. Bibirnya yang terlihat seksi seakan menggoda Revaldo untuk mengecupnya walau sesaat.


            Stefa terkesiap saat merasakan benda kenyal dan lembut menempel di bibirnya sepersekian detik. Ia mengerjap-erjapkan matanya karena masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Revaldo berhasil melepas sabuk pengaman Stefa dan mulai kembali duduk normal di kursi kemudinya.


            Ia menatap lurus ke depan. Menetralkan detak jantungnya yang terasa tak normal itu. Kemudian, ia berbalik


menatap Stefa yang masih terbengong karena kecupan singkat dari Revaldo.


            “Maaf, aku tak bermaksud.” ucap Revaldo pada akhirnya. Ia tak ingin jika Stefa marah karena perlakukan tak sopan darinya.


            “Huh, apa?” tanya Stefa setelah sadar dari keterkejutannya.


            “Maaf, aku tak bermaksud bersikap tak sopan padamu. Hanya saja, sanya saja.... Arrgh.” Revaldo tak bisa melanjutkan kalimatnya sendiri. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa pada Stefa. Tidak mungkin ia mengatakan jika bibir Stefa begitu seksi sehingga mampu mengundang dirinya untuk tak mengecup bibir seksi di hadapannya itu.


            “Sebaiknya aku harus masuk.” Stefa tak menjawab ucapan maaf Revaldo. Ia langsung turun setelah berhasil membuka pintu mobil. Ia berjalan beberapa langkah untuk sampai di gerbang rumah. Sebelum ia membuka gerbang, ia berbalik ke belakang untuk melihat Revaldo yang sedang menatapnya dari dalam mobil.


            Kemudian ia berlari kecil menghampiri mobil Revaldo dan mengetuk kaca jendela mobil penumpang. Kaca jendela itu di turunkan setengahnya oleh si pemilik mobil.


            “Terima kasih untuk tumpangannya. Selamat malam.” Tak mau menunggu jawaban dari Revaldo, Stefa kembali berlari kecil ke arah gerbang dan melesak masuk. Revaldo bisa melihat tubuh ramping Stefa sudah ditelan oleh gerbang berwarna hitam pekat itu. Untuk sesaat Revaldo masih berdiam diri di sana, ia kembali membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


            Ia tersenyum sendiri mengingat ia sudah merasakan bibir seksi Stefa yang terasa lembut di bibirnya. Wanita itu terasa menakjubkan baginya, sungguh di sayangkan jika ada pria yang menyia-nyiakan wanita seperti Stefa.


            Pria itu mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya untuk meninggalkan rumah keluarga Stefa. Pria itu tak bisa untuk tidak tersenyum, bahkan saat pria itu masuk ke dalam kamar Hotel yang ia sewa pun. Senyumannya tak luntur sama sekali. Mungkin jika dalam film-film kartun, di sekeliling pria itu ada bunga-bunga yang mengelilinginya untuk menggambarkan suasana hati Revaldo saat ini.


__ADS_2