
Open PO My Love Story by Rhesikim versi cetak
(357 halaman)
Rp. 96.000
Format pemesanan
Nama
Alamat
Kota
Kelurahan
Kecamatan
Kode pos
Nomer hp
Judul buku
Transfer ke rek 0560368836 an Diana bank bca
Online Order
Untuk pembelian versi eBOOK bisa di download melalui Playstore
***
Setelah mengatakan kebenaran pada David, Stefa langsung mengambil barang-barangnya yang berada di ruang kerjanya. Ia mengirimkan pesan pada Brianna untuk mengurus segala keperluan yang berkaitan dengan pengunduran dirinya dari perusahaan itu. Ia sudah mantap untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang selama ini telah menampungnya sampai pada puncak karirnya.
Tanpa bertanya pun, Brianna sudah tahu Stefa akan mengambil keputusan ini cepat atau lambat meskipun ia tidak tahu alasan sesungguhnya Stefa mengundurkan diri. Nyatanya, Stefa tak ingin lagi berada dalam satu perusahaan yang sama dengan David. Ia terlampau kecewa dengan semua janji yang pernah David ucapkan padanya. Meskipun Stefa tidak pernah berharap David akan bertanggung jawab dan menepati janjinya, tetap saja saat ia tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak David. Stefa ingin David menepati janjinya.
Hatinya masih terasa berdenyut sakit saat kembali membayangkan David yang sedang bercumbu dengan wanita yang entah siapa namanya Stefa pun tidak mengetahuinya, yang jelas apa yang ia lihat beberapa waktu lalu telah membuktikan bahwa David adalah pembual dan pembohong besar. Ia tak menyangka jika David adalah seorang pembual dan pembohong besar.
Kenyataannya ia yang harus menelan kesakitan untuk kesekian kalinya karena harus menanggung resiko dari perbuatan David ke depannya. Ia akan menjauhkan bayi itu dari David, menjauhkan dirinya dan bayinya dari jangkauan David dan juga orang-orang yang mungkin sebentar lagi akan David kerahkan untuk mendekatinya lagi. Stefa tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jalan satu-satunya adalah mengatakan semua kebenaran pada Brianna dan juga keluarganya yang masih bersisa tentang kehamilannya.
Meminta perlindungan dari Paman dan juga Tantenya dari jangkauan David dan tak membiarkan pria itu untuk menyentuhnya dan juga bayinya. Biarkan ia berdosa karena telah menjauhkan anak dari ayahnya, tetapi semua itu ia lakukan demi kebaikan dirinya dan juga semuanya. Ia tak mau saat anaknya lahir mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pembual, pecundang dan pembohong besar.
Menjanjikan masa depan dengan sebutan akan bertanggung jawab atas perbuatannya yang pada akhirnya pria itu sendiri yang membohonginya. Sudah cukup ia yang merasakan kesakitan dan tidak perlu lagi anaknya yang menjadi korban kesakitan itu. Ia akan merawat bayi itu dengan baik sesuai dengan ucapan David untuk menjadi anak yang berkualitas.
Setelah meninggalkan perusahaan itu tanpa sepatah kata pun pada bawahannya, ia mengirimkan pesan pada sekretaris sementaranya bahwa ia akan mengirimkan hal-hal apa saja yang perlu wanita itu lakukan dan harus menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa ada yang terlupa sedikit pun. Katakanlah Stefa memang tidak bertanggung jawab pada pekerjaannya karena pergi begitu saja, tapi ia yakin semua orang yang mengalami hal yang sama akan melakukan hal yang sama pula dengan keputusannya saat ini.
__ADS_1
Jangankan untuk memikirkan pekerjaannya, untuk memikirkan nasib anak dan juga dirinya ke depannya sudah membuat ia pusing setengah mati. Menghadapi kenyataan jauh lebih menyakitkan dari pada khayalan tak jelasnya.
“Paman, bisakah Paman dan Tante datang ke London? Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian dan ini penting sekali. Kuharap Paman dan Tante bisa datang ke London secepatnya.” Stefa mengirimkan pesan suara karena nomor Ken tidak bisa dihubungi sehingga panggilannya masuk ke pesan suara.
***
Tepat dua hari setelahnya Ken dan Charlote tiba di London, dan kini mereka sudah tiba di apartemen milik Stefa. Mereka tiba di London beberapa jam yang lalu karena telah mengambil penerbangan lebih awal untuk segera tiba di London karena khawatir dan penasaran akan keadaan Stefa setelah menerima pesan suara di handphone milik Ken.
Mereka memutuskan untuk berangkat ke London setelah memerintahkan orang kepercayaannya untuk menggantikan posisi Ken di perusahaannya selama mereka tidak ada di Jepang. Stefa sangat bersyukur bahwa Ken dan istrinya bersedia datang ke London meskipun ia harus menunggu selama dua hari dari pesan suara terakhirnya.
“Kau benar-benar membuat kami khawatir saja sayang. Apa ada masalah dengan dua pekerjaanmu?” tanya Charlote begitu Stefa duduk tepat di depan wanita itu dan juga Ken.
Tanpa sepatah kata yang ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan dari Tantenya, Stefa malah menyodorkan hasil pemeriksaan dari dokter kandungan beserta foto USG lainnya yang ia dapatkan dari rumah sakit. Sekuat tenaga Stefa harus menahan air matanya agar tak membasahi pipinya di hadapan keluarganya itu, ia menguatkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja meskipun ia tak akan pernah tahu masalah apa lagi yang akan ia hadapi di masa depan.
Ken lebih dulu mengambil lembaran kertas dan foto USG milik Stefa dari atas meja sebelum Charlote mengambilnya lebih dulu. Ken mulai membaca satu persatu lembaran kertas putih itu dengan seksama takut ia salah membaca. Saat ia membaca kebagian akhir, Ken langsung terkesiap karena mendapatkan kenyataan bahwa keponakannya tengah mengandung dengan usia kandungan satu setengah bulan.
Ken menatap Stefa sesaat kemudian tatapan matanya menatap Stefa dengan tatapan sedih dan penuh penyesalan. Ia menyesal untuk kesekian kalinya karena tidak bisa melingungi Stefa dengan baik dari dunia luar yang menurutnya begitu kejam untuk Stefa.
Karena melihat raut wajah Ken seperti itu, Charlote jadi penasaran dengan isi lembaran kertas putih itu dan
mengambil alih dari tangan Ken. Sama seperti Ken, Charlote pun terkesiap saat mengetahui kebenaran dan kenyataannya. Ia memandangi lembaran kertas putih itu bergantian dengan foto hasil USG di tangan lainnya.
Ia langsung berdiri dan berhambur memeluk Stefa kemudian menumpahkan segala tangisannya. Stefa pada akhirnya tidak bisa lagi membendung air matanya, tetap saja pipinya basah karena air mata yang mengucur deras. Jika saja Charlote tidak menangis, ia pun tak akan menangis. Perasaannya begitu sensitif karena pengaruh hormon kehamilannya.
Tak ada yang bersuara satu orang pun yang terdengar hanyalah suara isakan tangis dari dua wanita yang saat ini sedang saling memeluk satu sama lain untuk menumpahkan semua perasaan yang sedang mereka rasakan saat ini. Ken menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang sudah tak sekuat dulu saat ia masih muda.
“Siapa... Siapa ayah dari bayi itu? Apakah pria sialan itu yang melakukannya, hm?” akhirnya Ken mampu menanyakan siapa ayah biologis dari bayi yang saat ini telah bersarang di dalam rahim keponakannya itu.
Stefa melepaskan pelukannya dari Charlote kemudian menatap Pamannya dengan penuh rasa bersalah.
Meskipun ia telah berusaha mati-matian untuk tak menangis dan terlihat kuat, tetap saja ia adalah seorang
wanita dengan perasaaan yang mudah rapuh seperti kebanyakan wanita pada umumnya.
“Tak apa sayang, katakan saja pada kami siapa Ayah dari bayi itu!” Charlote mengusap punggung Stefa dengan tatapan matanya yang lembut dan terasa hangat membuat Stefa merasa dirinya masih memiliki arti untuk orang lain.
“Paman dan Tantemu tidak akan menyalahkan atas apa yang terjadi padamu, Paman yakin ini semua dilakukan oleh sebelah pihak. Aku terlalu tahu siapa keponakanku sendiri, kau tak akan pernah melakukan hal itu sebelum kau memiliki suami. Apa aku benar?!” tutur Ken lagi.
Stefa menelan ludahnya sesaat kemudian menatap Paman dan Tantenya bergantian.
“David. David Fritz yang melakukan itu padaku, Paman. Dia memaksakan kehendaknya saat ia berada di ruangan kerjaku. Kejadian itu telah terjadi sebelum aku datang ke Indonesia untuk menghadiri acara pemotretan. Bahkan saat di detik terakhir aku masih di sana, ia datang menemuiku di tengah malam dan kembali memaksakan kehendaknya. Awalnya kupikir itu hanya mimpi biasa, namun setelah aku terbangun di pagi harinya. Aku
menemukan David berada di dalam kamar Hotelku.” Pada akhirnya Stefa mampu mengucapkan semuanya.
Semua rentetan kejadian yang menimpanya ia ceritakan tanpa ada yang terlewat. Berulang kali Ken harus
mengepalkan telapak tangannya untuk tak mengamuk saat ini juga, Charlote pun sama. Ia berusaha untuk menahan amarahnya yang memuncak setelah mendengar keseluruhan ceritanya.
Sebelumnya Stefa sudah memberitahu Brianna lebih dulu setelah ia pulang dari kantornya. Brianna pun sama terkejutnya seperti Ken dan Charlote saat mengetahui bahwa Stefa telah mengandung anak David. Bahkan Brianna hampir saja menyewa seseorang untuk membunuh David. Sialnya, ia tak seberani dan tak senekad itu untuk membunuh dan mengambil nyawa orang lain. Brianna hanya mampu mengumpat dan menyumpahi David dengan kata-kata jahanamnya itu.
Saat ini Ken merasa bahwa ia harus menemui David dan meminta pertanggung jawaban dari pria itu atas kehamilan keponakannya. Bagaimanapun pria itu telah berjanji akan bertanggung jawab terhadap Stefa dan kehamilannya. Stefa tak akan pernah hamil jika pria itu tak memaksakan kehendaknya terhadap keponakannya.
Ken berdiri dari sofa dan mengambil jasnya yang tersampir di lengan sofa seraya mengambil kunci mobil milik Stefa di tempat biasa di mana Stefa menaruh kunci mobil miliknya.
__ADS_1
“Paman harus menemui ******** terkutuk itu untuk meminta pertanggung jawabannya terhadap kalian berdua. Sayang, jaga Stefa baik-baik!” Ken mencium kening Charlote kemudian mencium kening Stefa lebih lama.
“Tidak, Paman. Kumohon jangan pergi menemuinya! Semuanya akan terasa percuma meskipun Paman datang menemuinya untuk meminta pertanggung jawaban.” Stefa menahan kepergian Ken untuk tidak menemui David.
Ken dan Charlote pun mengerutkan keningnya bingung. “Kenapa aku tak boleh menemuinya? Apa maksudnya dengan terasa percuma?” tanya Ken dengan menggebu-gebu karena sudah terlalu lama menahan kekesalannya terhadap pria yang bernama David Fritz itu.
Stefa kembali menggelengkan kepalanya. “Dia tak akan pernah mampu bertanggung jawab atas kami berdua, sebentar lagi dia akan bertunangan.”
Ken dan Charlote kembali dilanda kebingungan akan pernyataan Stefa yang baru saja mereka dengar.
“Bertunangan? Maksudmu pria itu memiliki wanita lain dan akan bertunangan dengannya, begitu?” kali ini
Charlote-lah yang bertanya seraya menatap Stefa penuh harap akan penyangkalan Stefa.
Stefa tersenyum miris meratapi kenyataan yang sesungguhnya. “Ya, dia sudah memiliki wanita lain dan dalam hitungan hari mereka akan melangsungkan pesta pertunangannya. Kalian akan sia-sia saja bila datang menemuinya. Bahkan aku tak sebanding dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi tunangan pria itu.”
Charlote menunduk sedih kemudian memeluk Stefa, mengusap punggungnya untuk memberikan kekuatan bahwa di dunia ini masih ada Paman dan Tantenya yang selalu menjaga dan mendukung Stefa.
Ken memijit pangkal hidungnya sendiri karena didera dengan berbagai kenyataan yang tak masuk akal untuknya. Lalu bagaimana nasib keponakannya dan bayi yang sedang dikandungnya saat ini? Haruskah ia membiarkan keponakannya menderita begitu saja? TIDAK! Ken tidak akan pernah membiarkan keponakannya menderita begitu saja.
“Siapa wanita yang akan bertunangan dengan pria ******** itu?” tanya Ken setelah ia berhasil menguasai dirinya dari rasa emosi yang hampir memakan akal sehatnya itu.
“Caitlin Felicity Greicy. Dia adalah putri dari seorang keluarga konglomerat terkenal di London, bahkan keluarga mereka memiliki darah bangsawan di mana mereka akan sulit untuk disentuh oleh orang-orang seperti kita. Keluarga kerajaan akan melindungi keturunan yang memiliki darah bangsawan dari mereka. Reputasi, harga diri dan lainnya mereka akan menjaga keluarga Caitlin.” Stefa menyahuti Ken dengan yakin.
“Tidak!” bantah Ken.
“Sebuah keluarga bangsawan biasanya akan lebih bijak dalam menghadapi masalah yang mendatanginya. Aku akan berusaha untuk membuat janji dengan keluarga wanita itu dan menjelaskan kejadian ini. Bagaimanapun juga aku tak akan membiarkan kau dan bayimu tak mendapatkan kesempatan untuk rasa tanggung jawab dari pria itu. Lagi pula keluarga seperti mereka tak akan menerima menantu yang cacat dalam sebuah aspek. Mereka harus tahu siapa calon menantu di keluarga itu.”
“Cukup, Paman! Lagi pula aku tak ingin pria itu bertanggung jawab padaku dan bayiku. Aku hanya ingin Paman dan Tante menjauhkan kami berdua dari jangkauan pria itu. Kalian bisa menempatkanku di mana pun asalkan pria itu tidak menemukan kami.” Pinta Stefa pada akhirnya.
“Kau yakin tak ingin kami menemui keluarga wanita itu?” tanya Charlote menatap Stefa untuk memberikan jawaban yang harus membuat mereka yakin akan keputusan Stefa.
Stefa mengangguk. “Aku yakin, sangat yakin. Untuk masalah pekerjaanku sebagai model, mungkin aku bisa
melanjutkannya. Tapi aku menginginkan penjagaan ketat untuk kami berdua.”
“Sebaiknya kau berhenti dari dunia hiburan itu juga. Jika kau benar-benar ingin menjauhkan dirimu dari pria itu, maka sebaiknya kau tak menampakkan dirimu ke permukaan sekalipun.” Jawab Ken.
Stefa termenung sesaat memikirkan ucapan Ken. Benar juga apa yang dikatakan Ken, jika ia menginginkan David untuk tak menemukannya maka ia tak boleh menampakkan dirinya ke permukaan baik itu sebagai model atau apa pun itu yang malah nantinya mampu memberi celah untuk David menemukannya.
“Baik, aku setuju Paman. Terima kasih karena kalian mau menerima aku dan bayiku yang tak bersalah ini.”
Charlote langsung memeluk Stefa dan kembali meneteskan air matanya. Ken hanya menghela napasnya setelah mengangguk untuk memberikan jawaban pada Stefa. Akhirnya masalah satu persatu bisa ia hadapi, memberitahu keluarganya adalah keputusan yang tepat.
Meskipun dunia mencap Stefa seorang pengecut karena mencoba lari dari David, tetapi sesungguhnya pria itulah yang lebih pengecut dari Stefa. Seorang pria harus bisa memegang kata-katanya sendiri dan membuktikan semuanya, barulah seorang wanita akan mempercayai pria itu.
Tetapi berbeda dengan David, semua yang pria itu katakan padanya semuanya adalah kebohongan semata. Pria itu hanya memberikan gambaran masa depan yang tak jelas. Betapa kasihan wanita yang akan menjadi tunangan David nantinya, wanita itu mungkin akan menjadi korban kesekiannya sama sepeti Stefa yang menjadi korban David.
Bahkan mungkin masih banyak korban-korban lainnya di luaran sana yang tidak Stefa ketahui.
***
Jangan lupa tinggalin like, komen, votenya ya.. Follow juga Instagram author (Rhesirahaku) !!!
__ADS_1
Happy Reading sayangkuuhhh.. Muaah muaah muuaahh