My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 29 What’s Wrong With Me?


__ADS_3

            Karena tidak bisa tidur semalaman membuat lingkaran hitam begitu ketara di bawah mata


Stefa dan membuat si pemilik mata langsung tercengang saat bercermin. Wajahnya


sedikit pucat karena tak bisa tidur dengan baik. Sudah berulang kali Stefa


menjambak rambutnya sendiri.


            Ada yang salah dengan dirinya. Adegan yang sedikit panas terus saja berputar di otak cantiknya seperti kaset yang sudah rusak dan tak perlu lagi di daur ulang.


            “Ya Tuhaaan.. Aku ini kenapa? Saat aku dicampakkan oleh si brengsek itu pun, aku masih bisa tidur dengan nyenyak. Dan sekarang, hanya karena ciuman panasku dengan... dengan..” ucapannya tak


bisa lagi diteruskan dan malah kembali menjambak rambutnya dengan kasar.


            Penampilannya benar-benar sangat kacau. Rambut panjangnya kusut karena sering di jambak, lingkaran hitam di bawah matanya apalagi, dan penampilannya yang mengenakan kaos oblong kebesaran


dengan celana pendek setengah pahanya terlihat kusut.


            Stefa mengambil botol berisikan air mineral dan menenggaknya sampai habis, melempar botol kosong itu ke tempat sampah dengan sekali hentakan. Dia kembali diam masih memikirkan kejadian


semalam. Kepalanya menggeleng berulang kali untuk mengenyagkan pikiran kotornya itu.


            Dia harus mencari sekretarisnya untuk berkonsultasi. Ah tidak. Bukan konsultasi, tapi hanya untuk mencari


solusi. Mungkin saja sekretarisnya itu bisa membantu masalahnya kali ini yang


benar-benar dibuat serius.


            Stefa buru-buru mengambil handphone di dalam kamar dan meninggalkan kamar. Ditekannya tombol angka yang menunjukan lantai kamar dimana Judith menginap. Setelah sampai di lantai yang dituju.


Stefa buru-buru menekan tombol bel dengan tidak sabaran.


            Satu menit, dua menit, sampai lima menit berlalu pun Judith masih tidak membuka ‘kan pintu kamar itu. Kemana sekretarisnya itu pergi? Stefa membuka kenop pintu dan ternyata tidak terkunci.


            “Kenapa pintunya tidak terkunci? Apa Judith lupa tidak menguncinya atau bagaimana?” Stefa bermonolog sendiri dengan dirinya seraya masuk ke dalam kamar Judith yang terasa sepi.


            Stefa berjalan mencari Judith ke seluruh ruangan namun masih tak menemukan sekretarisnya itu. Hanya tinggal satu ruangan yang belum ia periksa, yaitu kamar tidur Judith. Tanpa basa basi dan


rasa curiga, Stefa begitu saja mendorong pintu kamar Judith dan terpekik dan


mengumpat melihat pemandangan di depannya.


            “What the ****?!” umpat Stefa saat melihat dua manusia sedang melakukan aksi


panas di atas ranjang.


            Kedua manusia itu lantas berbalik ke sumber suara dan mendapati Stefa sedang menatapnya dengan horor dan menyelidik.


            “Stefa?” gumam Judith saat menyadari siapa yang dengan lancangnya masuk ke dalam kamar dan mengganggu percintaannya dengan pria yang semalam ditemuinya di pesta.


            “Selesaikan aktivitas kalian! Aku akan menunggu dengan sabar sampai kalian selesai.” Stefa buru-buru berbalik dan meninggalkan Judith dengan pria itu di dalam kamar.


            Judith menghela napasnya kemudian menatap pria itu.


            “Siapa dia?” tanya pria itu.


            “Atasanku sekaligus temanku.” Judith langsung melepaskan diri dari pria itu dan segera mengenakan pakaiannya.


Flashback On


            Cordy Black. Pemilik perusahaan sekaligus Direktur Utama Golden Inc. Pria yang


berusia 30 tahun itu memiliki rambut berwarna pirang dengan mata biru terangnya. Golden Inc bergerak di bidang pertambangan emas, berlian, dan sejenisnya.


            Beberapa cabang perusahaannya sudah hampir tersebar di benua Eropa dan Amerika. Bahkan Cordy memiliki perusahaan perhiasan yang besar dan terkenal. Perhiasan yang Cordy jual tidaklah murah.


Hanya kalangan tertentu yang mampu mendapatkan perhiasan di toko Golden Jewelry-nya.


            Pria itu semalam turut menghadiri pesta yang Revaldo adakan. Beruntung, pria itu semalam datang sendiri ke pesta tanpa membawa wanita yang biasa ia bayar untuk menemaninya ke sebuah acara.


            Disana. Cordy melihat seorang wanita yang menurutnya begitu menarik. Wanita itu bukanlah orang Indonesia. Dilihat dari parasnya pun sudah pasti wanita itu benar-benar bukan orang Indonesia.


            Cordy mendekati wanita itu dan mengajaknya kenalan. Setelah mengetahui nama wanita itu adalah Judith. Cordy mulai melancarkan aksinya untuk menggiring Judith masuk ke dalam lingkaran


pesonanya. Mengajaknya mengobrol dan menghabiskan beberapa gelas sampanye


sampai Judith benar-benar mabuk.


            Begitu pun dengan Cordy yang sedikit mabuk karena telah menghabiskan beberapa gelas sampanye. Cordy membawa Judith ke kamarnya, disana mereka melakukan aksi percintaan semalam yang dikenal


dengan istilah One Night Stand.

__ADS_1


            Pagi sekali Judith terbangun di dalam pelukan seorang pria. Badannya terasa pegal karena percintaannya semalam dengan pria yang dikenalnya saat pesta berlangsung. Pria itu benar-benar hot dan keren. Mampu membuatnya mencapai puncak kenikmatan berulang kali dan mengerang nikmat di bawah tubuh pria itu.


            Judith melepaskan dirinya dari pelukan pria itu dan memunguti pakaiannya yang tergeletak di lantai kamar.


Judith yakin jika saat ini dirinya sedang berada di dalam kamar pria itu.


            “Kau sudah bangun?” tanya pria itu saat melihat Judith sedang mengenakan kembali pakaiannya yang sudah kusut. Untung saja pakaian yang semalam di pakai ke pesta tidak robek. Biasanya, pria


akan merobek paksa pakaian si wanita jika sudah tak tahan untuk melakukan


percintaan.


            Namun berbeda dengan pria yang dikenalnya semalam. Pria itu meskipun sudah tak kuat menahan hasratnya, dengan sabarnya pria itu melepas pakaian Judith dengan pelan-pelan.


            “Ya. Aku harus kembali ke kamarku.” Jawab Judith tanpa menoleh ke arah si pria yang sedang menatapnya dan sedang mengumpulkan nyawanya karena baru saja bangun tidur.


            “Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu!” pria itu langsung bangkit dan mengenakan pakaiannya dengan


terburu-buru takut jika Judith akan meninggalkannya.


            Sesuai dengan ucapannya. Pria itu benar-benar mengantarkan Judith kembali ke kamarnya. Rupanya mereka hanya berbeda satu lantai saja. Kamar Judith yang terletak satu lantai di atas lantai


dimana pria itu menginap.


            Awalnya hanya sekedar basi-basi menyuruh Cordy masuk ke dalam kamarnya untuk menawarkan minuman. Tanpa di duga, Cordy kembali menyerang Judith dengan ciumannya yang begitu panas. Sampai


akhirnya mereka kembali mengulang percintaan mereka di dalam kamar Judith.


Flashback End


            “Stefa?” sapa Judith dan berjalan mendekat ke arah Stefa yang duduk di atas sofa dengan kepala yang tertunduk begitu dalam.


            “Kau sudah selesai, uhm.. dengan aktivitasmu?” tanya Stefa.


            Judith tersenyum dan mengangguk. “Ada angin apa sampai membawamu kemari sepagi ini?”


            “Hell. Ini bukan lagi pagi Nona Judith. Lihat jam di handphone-mu, ini sudah hampir


jam 9!”


            “Ya, ya, ya. Baiklah. Jadi ada apa?” tanya Judith sekali lagi.


            Dengan seribu kebingungannya, Stefa tak kunjung juga mengatakan maksud dan tujuannya datang ke kamar Judith bahkan sampai mengganggu percintaannya dengan seorang pria yang entah dari mana Judith


            “Morning?!” sapa seorang pria yang tak lain adalah Cordy. Dengan wajah tanpa dosa dan tak


punya rasa malu, Cordy menyapa kedua wanita itu dengan berjalan penuh percaya


diri dan duduk di samping Judith setelah mencium pipi Judith.


            Stefa yang melihat itu lantas berdecih karena merasa geli dengan kelakukan kedua makhluk itu.


            “Cordy, kenalkan ini Stefa. Dia atasanku di London. Stefa, kenalkan ini Cordy Black!” Judith akhirnya


memperkenalkan Stefa dengan Cordy bergantian. Keduanya saling berjabat tangan sambil memperkenalkan diri masing-masing.


            “Maaf aku sudah datang sepagi ini dan, ehm.. Aku mengganggu waktu pagi kalian.” Stefa sedikit menekan ‘kan kalimat sepagi ini dan sedikit menyindir Judith. Wanita itu merasa tidak tersindir sama sekali dan


membalas Stefa dengan cengiran bodohnya.


            “Oh tak apa. Lagi pula kami bisa melanjutkannya lagi nanti.” Stefa mendelik saat Cordy begitu lancangnya


mengatakan itu.


            “Cordy, bisakah kami mengobrol berdua? Kau tahu, wanita butuh waktunya sendiri untuk bercerita.” Cordy


mengangguk dan melumat bibir Judith sekilas kemudian membiarkan kedua wanita


itu menghabiskan waktunya untuk mengobrol.


            Cordy kembali ke kamarnya yang berada di lantai bawah. Hanya berbeda satu lantai saja dengan lantai kamar Judith saat ini.


            “Ada apa?” tanya Judith setelah Cordy benar-benar meninggalkan mereka.


            “Aku rasa aku hampir terlibat affair dengan bos besarku sendiri.” Keluh Stefa pada Judith dengan jemari yang saling bertautan.


            Kening Judith mengerut tak mengerti dengan maksud affair yang dikatakan


Stefa. Affair seperti apa yang dimaksud?


            “Maksudmu, affair seperti apa yang kau maksud?”

__ADS_1


            Sesaat Stefa tampak menghela napasnya seolah begitu berat. “Semalam kami terlibat adegan yang sedikit panas, ya tentunya setelah kau meninggalkan kami berdua. Dia menghukumku dan hampir


membuatku klimaks.” Cerita pun mengalir dengan sendirinya. Disana Judith menjadi seorang pendengar yang baik dan membiarkan Stefa sampai selesai menceritakan semuanya. Barulah Judith akan memberikan sedikit saran.


            Judith merangkul bahu Stefa dan memeluknya. “Kau tak perlu memikirkan itu terlalu lama! Itu wajar untuk orang dewasa, dan aku rasa David tahu batasannya denganmu. Dia bisa saja memaksamu


untuk bercinta dengannya semalam, tapi buktinya. Dia hanya hampir membuatmu klimaks saja.” Diakhiri dengan cengiran menggoda Stefa.


            “Bukan itu yang jadi masalahnya, Judith.” Stefa kembali menghela napasnya kemudian menatap Judith.


            “Lalu?”


            “Kau tentu saja tahu di antara kami tak ada hubungan apapun. Tak ada hubungan yang mengharuskan kami melakukan itu. Kami hanya sekedar atasan dan bawahan, karyawan dan bos besarnya. Tak


seharusnya dia melakukan itu apalagi dengan alasan dia menghukumku karena dia melihat aku berciuman dengan Marshal.”


            “Aku yakin kau sudah tahu bahwa David memiliki hubungan dengan seorang wanita yang terlahir dari keluarga konglomerat di London. Apa yang akan wanita itu lakukan jika dia tahu kalau aku


dan David terlibat sesuatu yang tak seharusnya?”


            Kali ini Judith benar-benar tidak bisa mengatakan apapun. Apa yang dikatakan Stefa benar adanya. Melihat David yang memiliki hubungan dengan wanita yang terlahir dari keluarga konglomerat,


sudah pasti akan menimbulkan masalah untuk Stefa jika wanita itu sampai tahu.


            Stefa kembali merutuki kebodohannya. Seolah keluar dari kandang singa dan masuk ke kandang buaya. Lolos dari masalahnya dengan Marshal, dan malah terlibat affair dengan David. Tak masalah jika Deborah alias selingkuhan Marshal datang membuat masalah dengannya. Tapi akan jadi masalah jika wanita


yang menjalin hubungan dengan David datang menemuinya dan mempermalukan dirinya.


            “Aku rasa mulai saat ini kau harus benar-benar memberi jarak dengan David. Aku tak yakin jika wanita itu tak akan tahu dengan apa yang sudah terjadi di antara kalian. Mengingat wanita itu pasti memiliki kuasa.” Mau tak mau Judith memberikan saran seperti itu agar teman sekaligus atasannya itu berada dalam posisi aman.


            Stefa hanya mengangguk seolah paham. Judith menyisir rambut Stefa dengan jemarinya agar tak terlalu kusut. Melihat lingkaran hitam di bawah mata Stefa membuat Judith meringis miris.


            “Kau tak tidur semalam?” tanya Judith dengan jemari yang masih sibuk merapikan rambut Stefa.


            Stefa mengangguk. “Ya.”


            “Astaga. Lihat mata pandamu itu! Kau seperti zombie yang tak mendapatkan makanan selama setahun penuh.” Ejek Judith dan dibalas dengusan Stefa.


            “Kembalilah ke kamarmu, dan berendamlah yang lama. Itu akan sedikit membuatmu rileks dan nyaman. Aku juga harus berendam, tubuhku terasa pegal-pegal karena semalam. Kita akan turun ke


bawah dan sarapan, okay?!” Judith membantu Stefa untuk berdiri dan mendorongnya sedikit ke arah pintu. Membiarkan Stefa keluar dan kembali ke kamarnya sendiri.


            Dengan langkah yang sedikit gontay, terpaksa Stefa harus kembali ke kamarnya. Bebannya sedikit berkurang setelah menceritakan masalahnya kepada Judith. Seharusnya ia tak mengatakan apa pun kepada siapa pun mengenai masalahnya.


            Ini yang pertama dan terakhirnya bagi Stefa. Dia tak akan menceritakan apa pun lagi kepada siapa pun.


            Saat Stefa hampir membuka pintu kamarnya, suara yang begitu Stefa hapal mengejut ‘kannya dan membuat Stefa mematung disana.


            “Kau dari mana saja?” tanya orang itu.


            Stefa langsung berbalik dan mencari arah sumber suara. “A-aku?!” dengan bodohnya Stefa menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya.


            Orang itu berjalan mendekati Stefa dan berdiri tepat di hadapan Stefa yang hanya berjarak sejengkal tangan saja.


            “Kau dari mana saja? Aku mencarimu dari tadi.” Orang itu mengulang lagi pertanyaannya. Nada suaranya terdengar sedikit khawatir. Hati Stefa menghangat saat menangkap nada khawatir dari orang


itu.


            “A-aku habis dari kamar Judith. Kenapa kau mencariku, David?” tanya Stefa dengan kening yang sedikit mengerut.


            David mendengus lantas bernapas lega. “Aku ingin meminta maaf atas apa yang semalam telah aku lakukan kepadamu. Seharusnya aku tak melakukan itu kepadamu, aku benar-benar minta maaf.”


            Stefa tak mengerti kenapa David tiba-tiba meminta kepada dirinya. Lagi pula, apa yang harus dimaaf ‘kan?


Kejadian semalam yang mana yang David maksud ‘kan?


            “Maksudmu?” Stefa benar-benar tak mengerti dengan maksud David.


            “Maksudku. Seharusnya semalam aku tak melakukan apapun terhadapmu, mungkin itu akan membuatmu berpikir buruk tentang kita. Seharusnya aku tak menciummu dan melakukan, yaa... Menghukummu karena melihatmu berciuman dengan mantan kekasihmu. Itu bukan urusanku, dan seharusnya aku tak melakukan apapun. Aku harap kau tak menyalah artikan tindakanku semalam. Dan aku berharap apa yang kemarin malam kita lakukan, kau bisa melupakannya. Anggap saja itu tidak pernah terjadi di antara kita!”


            Tanpa basa-basi lainnya, David pergi meninggalkan Stefa begitu saja. Serasa di hantam batu berton-ton, Stefa bergeming sama sekali di depan pintu. Perasaannya seolah di sayat oleh ribuan


pisau yang tajam.


            “Ada apa denganku? Apa yang salah denganku? Kenapa hatiku terasa sakit mendengar David mengatakan itu kepadaku?” tangannya meremas dadanya sendiri yang terasa sakit.


            Dengan perasaan yang berkecamuk, Stefa memasukan key card dan membuka pintu kamarnya. Setelah menutup pintu, tiba-tiba badannya merosot ke bawah dan melipat kedua kakinya. Memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.


            Dadanya terasa sesak. Tak menyangka jika David hanya menganggap hal tak berarti atas apa yang kemarin malam mereka lakukan. Dengan mudahnya David mengatakan bahwa tak seharusnya itu terjadi.


Tahu itu tidaklah benar, lantas mengapa David seolah memberi perhatian khusus untuk Stefa?!

__ADS_1


            “God, apa yang salah denganku? Tak seharusnya aku seperti ini. Benar apa yang diakatakan David, ini memang tak seharusnya terjadi di antara kami. Aku sadar siapa aku sebenarnya, aku tak sebanding dengannya. Tapi, bisakah dia tak mengatakan itu sekarang setelah apa yang kita leweti kemarin malam?!”


__ADS_2