My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 69 Sincere Attention


__ADS_3

Gak jadi double update dooong soalnya likenya gak tembus target... huhuhu


Yang mau baca cerita Brenda Heather yukk langsung mampir ke sebelah, yang mau tau di mana langsung tanya di komen aja atu masuk group chat ya !!!


Teruuuuus, yang mau tau ceritanya Mbak cakep Amanda sama Mas tampan Leo, kaliam bisa langsung beli versi ebooknya di Playstore atau Google Playbook !! Yang mau kekepi versi cetaknya langsung chat WA ke nomor mimin --->>> 0818331696 !!!




***


             Pria yang begitu gagah, tampan, berkarisma cenderung dingin. Pria yang selalu memiliki bakat dan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari orang lain kepada dirinya, kini berubah menjadi sosok yang memiliki perhatian yang tulus. Semenjak pria itu memiliki dua orang yang begitu berarti di dalam hidupnya, ia memutuskan untuk mengabdikan hidupnya hanya untuk memperhatikan keluarga kecilnya, membahagiakannya sampai akhir.


            Setiap hari pria itu begitu sibuk melayani calon istrinya dan juga mengurusi bayinya di saat Stefa terlelap tidur. Ia memang sosok yang tidak memiliki pengalaman mengurusi seorang anak kecil, terlebih ini adalah bayi yang baru saja terlahir ke dunia. Tetapi statusnyalah yang mendorong dirinya untuk merubah segala yang ada di dalam dirinya. Belajar menjadi sosok ayah yang pantas untuk disebut ayah oleh bayinya kelak, belajar menjadi sosok seorang suami yang pantas untuk disebut suami oleh Stefa nantinya.


            Beberapa artikel dan video telah membantunya bagaimana caranya mengurusi seorang bayi yang baru saja lahir. Ditambah, Ken dan Charlote juga turut andil dalam membantu David mengurusi anaknya sendiri, yang kemudian di lepas tanpa pengawasannya lagi. Pria itu bersikukuh agar Stefa tidak terlalu lelah karena mengurusi segala macam keperluan dirinya dan bayinya, padahal yang dilakukan oleh Stefa hanya menyusui bayinya dan mengingatkan David untuk tidak terlalu kelelahan, ia meminta Stefa untuk menikmati hiudpnya. Rasa bersalahnya


kepada Stefa begitu terasa kental tatkala David membayangkan perbuatannya di masa lalu. Sehingga ia memutuskan di masa sekarang dan mendatang, ia akan memuja Stefa dan mengagungkan Stefa selayaknya Dewi.


            Selama ini wanita itu telah berjuang mempertahankan bayi di dalam rahimnya kurang lebih selama 9 bulan. Maka saat ini, ia yang akan menggantikan perjuangan Stefa dengan cara mengurusi keduanya. Ia tidak pernah malu jika orang-orang meliriknya penuh kegelian karena mengerjakan pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh seorang wanita. Baginya, cibiran orang lain tidaklah penting. Ini hidupnya, hidup untuk calon istrinya, hidup untuk ibu dari anaknya, dan hidup untuk anaknya.


            Mereka tidak berhak menghakimi dirinya yang mengambil alih tugas seorang wanita terlebih wanita itu sebentar lagi akan menjadi istrinya.


            “Dave, istirahtlah! Kau belum beristirahat sedari tadi, tanganmu pasti pegal menggendong bayi kita terus.”


            David berhenti untuk tidak menimang-nimang bayi menggemaskan itu lagi, berjalan ke arah wanita hebat yang telah melahirkan buah hati mereka.

__ADS_1


            “Aku tidak pernah merasa lelah hanya untuk menggendong bayi menggemaskan ini, sayang.” Bela dirinya kemudian duduk di tepian ranjang perawatan Stefa.


            Bayi itu menggeliat menggemaskan, sepertinya ia merasakan haus beserta lapar karena ini sudah waktunya Stefa memberikan ASI untuk bayinya.


            “Sepertinya dia lapar, Dave. Biar aku yang menggendongnya.” Stefa merentangkan tangannya mengambil alih bayi berkualitas yang menggemaskan itu dari David. Pria itu tidak keberatan menyerahkan sang buah hati kepada ibunya. Seolah mendapatkan apa yang diinginkannya, bayi itu langsung merangsek melahap makanannya dengan lahap terkesan terburu-buru.


            Stefa meringis merasakan sakit bercampur geli, ia masih tidak terbiasa dengan menyusui seorang bayi. Tetapi kemudian rasa lega merambat naik ke seluruh tubuhnya saat bayi itu menghisap ASInya begitu banyak. David hanya memperhatikan keduanya dengan nanar bahagia yang tak pernah akan luntur, kebahagiaan yang selalu membuncah tatkala melihat pemandangan yang seperti sekarang. Bayi itu kembali terlelap dengan mulut yang masih menghisap sumber makanannya, mulutnya yang mungil terlihat begitu menggemaskan saat bergerak, kemudian sedikit terbuka sehingga tercipta celah kecil melalui mulutnya.


            “Alice.” Gumam Stefa pelan.


            Lamunan pria itu buyar, menatap Stefa dengan kening yang mengkerut dalam. “Hnn?”


            “Namanya Alice, Dave.” Stefa menatap David dengan senyumannya yang seakan tidak pernah luntur dari wajah cantiknya. Wajah yang kini lebih keibuan.


            David tersenyum, mengangguk, mengusap puncak kepala Stefa, turun ke pipi dan mengusapnya di sana dengan ibu jarinya. “Alice Agatha Fritz. Alice yang berarti merujuk pada klasik, cantik, kuat, penuh percaya diri. Agatha yang berarti merujuk pada baik, terhormat dan penuh berkah, sama seperti arti namamu, sweety. Dan namaku memiliki arti dalam karakteristik yang berarti menikmati bekerja sendiri, lembut, baik, pekerja keras, selalu diberkati, penuh kesibukan, dan selalu menggunakan logika. Begitu pas dan menyatu antara perpaduan dirimu dan diriku. Tapi aku lebih berharap dia memiliki sifat yang sama sepertimu, wanita yang begitu cantik, sempurna dan begitu tangguh dalam segala hal.” Ungkap David dengan jujur penuh ketulusan dari setiap kata yang ia ucapkan di hadapan Stefa. Setiap perkataan yang ia ucapkan seakan janjinya dan berupa permohonan kepada Tuhan.


            Meskipun diawali dengan banyak drama, derai air mata, penyesalan dan rasa sakit. Tetapi rasa kebahagiaan ini telah menggantikan semuanya. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada pria yang telah mengambil kesuciannya, menghamilinya dan kini mereka akan menikah. Stefa benar-benar dibuat jatuh cinta pada pria itu. Pria itu telah mampu membuat dirinya melupakan rasa sakitnya, tergantikan dengan rasa bahagia yang membuncah menembus relung hatinya. Menghangatkan seluruh jiwa raganya sampai ke titik terendah sekali pun.


            “Terima kasih, Dave. Terima kasih. Untuk semuanya, untuk segalanya, untuk pengorbanan kita dan untuk cinta yang kita miliki. Aku mencintaimu.” David segera merangsek mencium bibir Stefa penuh kelembutan tak terkira. Menyalurkan rasa cintanya yang tulus dan tak akan pernah usai sampai dunia kiamat pun.


            Mereka saling memberikan kelembutan, saling mengikat satu sama lain, ciuman yang begitu terasa lembut dan manis. Bibir yang saling ******* lembut itu selalu menghantarkan kehangatan, memberikan gelenyar kepuasan yang banyak dan tak berujung. Tidak menuntut tetapi penuh makna. Ciuman itu terhenti saat si bayi menggemaskan itu menangis mengganggu keduanya untuk segera memberikan jarak satu sama lain, dan lebih beralih memperhatikan dirinya. Bayi pintar.


            “Dave, sepertinya bayi kita tidak ingin Ayahnya menyentuh Ibunya. Dia cemburu.” Stefa terkekeh, lalu tangannya menepuk-nepuk bokong lembut itu beraturan. Sedangkan David mencebik kesal karena ciumannya harus terhenti karena bocah itu. Astaga. Bahkan ia merasa kesal pada bayinya sendiri. Dan apa barusan? Bayi itu seolah tidak ingin dirinya mencium wanitanya. Dasar bocah menyebalkan yang menggemaskan. David mencubit pipi bulat nan penuh itu, tidak keras, hanya sebuah cubitan lembut yang tidak akan pernah meninggalkan rasa sakit dan bekas.


            “Alice Agatha Fritz. Sepertinya aku harus mengganti namamu bocah kecil. Namamu terlalu bagus untuk ukuran bocah yang tidak ingin Ayahnya mencium Ibunya sendiri.” Stefa memukul lengan David dengan gemas, matanya melotot memberikan peringatan. Pria itu hanya menggedikkan bahunya tak acuh dengan pelototan mata Stefa.


***

__ADS_1


            Stefa kembali mengharu biru saat ia tiba di rumahnya. Di sana, rumah yang selama ini ia tempati terlihat biasa saja, sekarang terlihat begitu ramai dengan hiasan-hiasan penuh dengan kata sambutan. Baik ucapan selamat untuknya, untuk David, terutama kata selamat datang dan ungkapan untuk Alice. Di rumah itu bukan hanya ada Ken dan juga Charlote, melainkan ada Brianna, Revaldo, Lianne, dan tidak ketinggalan ada Judith dan juga suaminya. Entah direncana atau tidak mengapa mereka bisa datang secara bersamaan di waktu yang sama, mungkin mereka telah merencakan ini sejak beberapa hari yang lalu di saat Stefa masih di rumah sakit.


            “Kemarilah! Biar aku yang menggendongnya.” Lianne segera mengambil alih Alice ke dalam gendongannya, sementara ia membiarkan Stefa untuk melepas rindu dengan orang-orang yang hampir tidak pernah bertemu lagi.


            Satu persatu memeluk Stefa bergantian sembari mengucapkan kata selamat untuknya.


            “Oh, my stefa. Selamat, sayang, selamat atas kelahiran bayimu.” Judith memberikan ucapan selamat dengan memeluk tubuh Stefa begitu lekat.


            “Thank you, Mrs. Black.” Mereka berdua terkekeh dan saling melepaskan pelukannya.


            “Aku tidak pernah menyangka kau benar-benar sudah menjadi seorang Ibu sekarang.” Ungkapnya lagi setelah pelukan mereka terlepas. Sementara suaminya, tengah menggendong anak mereka.


            Stefa kembali terkekeh. “Begitu pula denganku. Aku masih tak percaya bahwa aku baru saja melahirkan seorang bayi. Asal kau tahu, David begitu bersikeras untuk belajar menjadi seorang Ayah.” Kata-kata terakhirnya senagaja ia pelankan lebih ke berbisik, takut-takut jika David mendengarnya kemudian ia menyombongkan dirinya lagi seperti yang sudah-sudah.


            “Seriously, Stefa? Pria itu? Mantan bosku? Oh, astaga. Yang benar saja. Pria itu tidak mungkin berubah dengan cepat ‘kan?” Judith ikut-ikutan berbisik, ia takut David juga mendengar ucapannya.


            Mereka berdua menatap David yang sedang asyik mengobrol dengan para pria lainnya, mungkin pria itu sedang menyombongkan dirinya kembali, padahal di antara pria itu masih ada Cordy Black yang terlebih dulu memiliki seorang anak. Pria itu terlalu bangga akan perubahan statusnya, sehingga tiada hari untuk tidak menyombongkan dirinya kepada orang-orang terdekatnya.


            Lianne menghampiri Stefa dan Judith, kemudian ucapannya membuat kedua wanita itu menatap penuh dengan persetujuan.


            “Aku yakin saat ini David sedang menyombongkan dirinya. Padahal di antara mereka, ada Cordy yang telebih dulu menjadi seorang Ayah. Calon suamimu terlalu narsis untuk seukuran pria bertubuh besar penuh dengan otot itu.” Stefa dan Judith mengangguk setuju, diikuti oleh dirinya sendiri.


            Acara gosip menggosip selesai, Charlote meminta semua orang untuk pergi ke halaman belakang, yang mana di sana sudah disediakan berbagai macam makanan yang dimasak oleh juru masak handal yang didatangkan oleh Ken. Meja-meja berukuran sedang berjejer di sana. Hari ini Stefa tak henti-hentinya merasakan haru bercampur bahagia yang tak berkesudahan. Seakan Tuhan telah menggantikan rasa sakitnya dulu dengan rasa bahagianya sekarang.


            Para wanita berkumpul di satu meja, Judith yang lebih berpengalaman dalam mengurus bayi membagi ilmu serta pengalamannya untuk Stefa. Sehingga di kemudian hari Stefa tidak merasa kesusahan saat ingin mengurusi bayinya sendiri. Mereka begitu terlihat asyik, begitu pula dengan para pria yang sibuk mengobrol yang entah membicarakan apa. Kebanyakan para wanita malah menggoda Lianne yang pada akhirnya wanita itu bisa terlepas juga dari sang bos besarnya, biasanya pria itu akan memiliki drama agar bisa menahan Lianne agar tak pergi ke mana-mana. Atau setidaknya, pria itu akan memaksa untuk ikut ke mana pun Lianne pergi.


***

__ADS_1


Habis baca nih cerita langsung klik tombol jempol biar nambak likenya, habis ituuuuu follow juga IG author @rhesirahaku !!! 


__ADS_2