
Yang mau double update, vote sama likenya tolong dikencengin dooong !!! Biar author semangat updatenya juga...
Terus buat info tambahan, cerita ini bentar lagi bakalan tamat di sini, jadi yang mau ikutan PO versi cetaknya kumpulin uangnya dari sekarang ya, kemungkinan novel ini bakalan lebih tebel isinya dari pada novel versi cetak My Love Story !!!
***
Apa pun itu jenis kebohongannya, sepintar apa pun orang yang mencoba menutupi kebohongan tetap saja akan terendus juga kelakuannya. Meskipun akan ada orang yang merasa benar-benar dibohongi dan tersakiti, tetapi si pelaku kebohongan itu tidak akan merasa bersalah karena mungkin saja terlalu sering berbohong selama masa hidupnya. Berita kali ini benar-benar telah membuat Stefa kehilangan kesabarannya. Ia menyerah, ia tidak akan bersabar lagi dan ia harus melakukan sesuatu.
Berniat untuk menghubungi Charlote dan menitipkan Alice padanya, sementara ia akan mengemas beberapa pakaian dan kebutuhan Alice ke dalam koper demi menyusul pria yang mengaku akan setia hanya kepadanya saja, tetapi nomornya tidak bisa dihubungi. Nyatanya, pria itu malah membuat kehebohan alam semesta dengan foto-foto dirinya di bandara dengan Caitlin. Stefa tidak pernah menyangka jika selama ini orang yang mengirimi pesan aneh-aneh ke nomor David adalah mantan tunangan pria itu sendiri.
Wanita itu telah menipunya bersama David. Wanita itu juga yang dulu mengatakan bahwa Stefa harus memikirkan kembali hubungan dirinya dengan David. Berusaha keras agar Stefa mau menerima David dan menjadikannya sebagai Ayah resmi dari Alice. Rupanya semua itu adalah kebohongan. Mereka berdua telah berkomplot untuk menutupi hubungan mereka yang sebenarnya. Sejak kapan mereka melakukan itu? Apakah memang sejak awal atau sejak kapan?
Stefa membanting seluruh pakaiannya ke lantai dengan berteriak membuat Alice menangis karena terkejut mendengar teriakan frustasi dari Stefa. Tangisnya pecah begitu saja bercampur dengan suara tangisan Alice. Ia lupa jika di dalam kamar itu masih ada Alice. Ia segera meraih Alice dan menggendongnya, mencoba menenangkan putri kecilnya agar tak menangis lagi. Padahal ia pun tidak mampu untuk menghentikan tangisannya sendiri. Semua kebohongan yang pria itu lakukan terlalu menyakitkan, rasa sakitnya lebih parah dari pada saat dulu ia disakiti oleh Marshal.
Ah tidak. Marshal justru jauh lebih baik dari pada David. Setidaknya Marshal mengakui dan berselingkuh secara gamblang di hadapannya. Dan permainan yang David mainkan kali ini, telah mengoyak seluruh hati dan menghapuskan cinta yang seharusnya mereka pupuk bersama-sama.
“Ssttt... ssttt. Jangan menangis, Sayang. Maafkan, Mommy, hm...” Stefa mengayun-ayun tubuh Alice seraya menepuk-nepuk bokongnya, kemudian menghapus air matanya dengan tangannya.
Dirasa Alice sudah tidak menangis lagi, Alice kembali di turunkan ke atas ranjang. Sementara dirinya kembali memunguti pakaian yang sempat ia lemparkan begitu saja karena emosi yang menguasainya. Paspor, kartu tanda pengenal, pakaian, popok Alice, semuanya sudah lengkap. Ia menutup kopernya dan segera memakaikan Alice dengan jaket kemudian menggendongnya.
“Ayo, kita temui Ayah brengsekmu itu, sayang. Tangan Mommy terasa gatal sekali ingin menamparnya sejak dulu. Ya memang, seharusnya sejak dulu aku melakukannya. Menamparnya kemudian menendang bokongnya dengan keras.”
Taksi yang ia pesan sudah tiba, sopir itu membantu Stefa memasukkannya ke dalam bagasi sebelum ia melajukan mobilnya menuju bandara, Sementara Stefa, ia sibuk mengetik mengirim pesan untuk Charlote bahwa ia akan ke London untuk menghajar David. Tanpa diketahuinya, bahwa semua ini adalah jebakan untuknya sendiri.
***
David tersenyum geli membaca pesan yang dikirim oleh Charlote. Wanita tua itu mengatakan bahwa Stefa akan datang ke London untuk menghajar dirinya. Jelas, inilah yang ia inginkan, dengan begitu rencananya akan berjalan dengan sesuai yang diharapkannya. David tidak bisa untuk tidak tersenyum geli, bagaimana cara ia membayangkan Stefa yang sedang memaki dirinya tanpa henti. Atau setidaknya wanita itu akan menyumpahinya dengan kata-kata kasar.
“Kau sudah gila.” Ketus Caitlin yang sedang memegang cangkir tehnya itu.
David berbalik dan semakin melebarkan senyumannya itu. “Rencana kita akan berhasil.”
Caitlin berdecak dan menaruh cangkir teh itu ke atas meja, membenarkan posisi duduk sebelum mengumpat atau apa pun itu. “Sial! Jangan terlalu percaya diri. Jika pun lancar, aku yang terlebih dulu yang akan dijambak oleh Stefa. Aku sendiri yang memintanya untuk memikirkan dirimu, dan aku sendiri yang berperan sebagai perusak hubungannya. Kau benar-benar gila.” Hardiknya kesal.
David tergelak dengan kencang. “Ya, ya, ya. Katakan saja seperti itu, karena kenyataannya aku memang sudah gila. Gila karena aku terlalu menginginkan wanita seksiku menjadi istriku. Dan kau! Berhenti mengumpat dan berkata kasar. Kau orang terhormat.”
“Dan aku menjadi tidak terhormat setelah foto perselingkuhan kita tersebar, bodoh!” hardiknya lagi dengan emosi yang tidak bisa tertahankan. Berbeda dengan David, pria itu justru terlihat senang dengan apa yang terjadi. Seakan ia berbahagia di atas penderitaan orang lain. Sial. Caitlin benar-benar membenci dirinya karena telah terlibat dalam rencana busuk David.
Mereka berdua memang sengaja berlaku seperti pasangan yang baru saja kembali setelah berpisah saat turun dari pesawat. Beberapa wartawan memang sudah mereka siapkan untuk membuat skandal tentang mereka berdua. Memasang judul berita yang isinya mengatakan bahwa mereka terlihat mesra saat turun dari pesawat, hubungan yang sempat kandas kini terajut kembali, dan masih banyak judul berita yang telah mereka persiapkan dengan wartawan yang telah mereka sewa.
Semua itu demi mengejutkan Stefa tentunya. Meskipun David harus meminta maaf sebesar-besarnya kepada Stefa nantinya, yang terpenting adalah berita itu yang akan memancing Stefa ke London.
Lianne yang sudah mendapatkan kabar dari Stefa bahwa wanita itu akan kembali ke London segera berangkat ke bandara, guna untuk menjemput sahabat dan juga keponakannya.
“Stefa!” teriak Lianne dan segera menghampiri Stefa dan mengambil alih koper dari tangan Stefa.
Stefa langsung berhambur memeluk Lianne dan menumpahkan kembali tangisannya. Mereka tidak mempedulikan tatapan orang-orang padanya yang menatap dengan aneh.
“Dia mengkhianatiku, Li. Mereka berdua telah membohongiku selama ini. Mereka.... mereka....” Stefa tidak mampu menyelesaikan semua keluh kesahnya, hatinya terlalu sakit untuk mengatakannya. Dan yang mampu Lianne lakukan hanyalah diam membisu, memberikan pelukannya untuk menopang tubuh Stefa yang sedang dilanda masalah besar. Untuk ke sekian kalinya, Lianne menjadi saksi hidup yang menyaksikan Stefa kembali terluka oleh seorang pria. Ia tidak pernah menyangka jika David akan melakukan pengkhianatan ini kepada Stefa, setelah semua kata dan sikap manis yang pria itu lakukan untuk Stefa. Nyatanya pria itu telah menipu semua orang, termasuk dirinya.
Terlebih lagi, wanita yang dikabarkan kembali merajut kasih dengan David adalah wanita yang dulunya
mendukung hubungan Stefa dengan David. Dasar wanita ular berwajah dua. Jika Lianne bertemu dengan Caitlin, sudah dipastikan wajah wanita itu tak akan utuh lagi seperti semula. Ia akan membalaskan rasa sakit yang sahabatnya rasakan. Tidak boleh ada yang menyakiti sahabatnya lagi, tidak itu wanita terhormat berketurunan kerajaan, tidak itu seorang pengusaha tampan nan brengsek, pokoknya tidak boleh.
“Tenanglah! Sebaiknya kau ke rumahku saja. Kita pikirkan nanti bagaimana caranya memberi pelajaran untuk si wanita ular berwajah dua dan si pria brengsek itu. Sial! Sial! Sial! Aku ingin sekali memotong barang berharga milik pria brengsek itu.” napasnya memburu karena terlalu menahan luapan emosi.
__ADS_1
Lianne melepaskan pelukannya dan membantu Stefa menghilangkan sisa air matanya.
“Oh, sayangku. Kau harus bersabar! Jika kau besar nanti, jangan mau bertemu dengan Ayahmu itu. Tetaplah hidup yang baik dengan Ibumu, Alice!”
Seolah mengerti dengan ucapan Lianne, Alice berceloteh dan tertawa dengan riangnya.
***
Setelah mendapatkan istirahat yang cukup, dan Alice yang sudah membuka matanya sejak beberapa menit yang lalu. Stefa dan Lianne bersiap untuk pergi ke tempat di mana, di sana sebuah artikel mengatakan bahwa di tempat itu David akan melamar kekasihnya. Jelas itu memancing emosi Stefa dan Lianne kembali. Tidak membawa Alice ke dalam perseteruan yang mungkin akan terjadi nanti adalah pilihan yang tepat. Sayangnya, Johannes menjadi tumbal dari rencana kedua wanita itu.
Lianne menghubungi Johannes untuk datang ke apartemennya, meminta tolong agar segera datang karena masalah serius yang terjadi kepadanya. Sehingga pria itu dengan terburu-buru mengendarai mobilnya dalam kecepatan yang jelas tidak normal, memancing umpatan kasar dari pengguna jalanan lainnya. Dan setelah tiba dengan napas yang tidak beraturan, matanya justru melihat Lianne dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan terlampau baik-baik saja karena saat ini, Lianne mengenakan pakaian yang sangat-sangat rapi. Dan jelas rasa khawatir yang sempat dirasakan oleh Johannes kepada bawahannya itu tergantikan dengan rasa menuntut meminta penjelasan.
Lianne hanya mampu mengulum senyumannya merasa tidak enak karena seolah ia telah berbohong pada bosnya itu.
“Aku ingin meminta tolong padamu, Sir. Tolong jaga baik-baik Alice, dia anak Stefa. Tentu kau tahu itu. Kami harus pergi sekarang juga, dan jika Alice lapar atau haus. Makanan dan susu formulanya sudah aku siapkan. Dan sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih.” Lianne segera menarik tangan Stefa karena tidak ingin Johannes mengumpat di depan sahabatnya itu.
“Kau harus membayar kebaikanku ini, Li!” tagihnya sebelum Lianne hilang dari pandangan matanya. Johannes menghela napasnya kemudian melirik Alice yang sedari menatap Johannes dengan tatapan anehnya.
“Bocah, bersikap baiklah selama Ibumu tidak ada di sini!” ancamnya pada Alice tetapi anak itu malah menyengir dengan menggemaskan.
Butuh sekitar satu jam untuk tiba di hotel di mana di sana, David akan melamar kekasihnya itu. Pria itu begitu berniat sekali melamar kekasihnya, buktinya hotel yang dijadikan tempat pria itu melamar adalah hotel termahal di London. Butuh berpuluh-puluh ribu dolar, bahkan mungkin ratusan ribu dolar untuk menyewa satu kamar termurah di sana. Sial. Stefa tidak akan pernah menjadi wanita seberuntung itu.
Entah mereka yang terlalu peka atau memang apa, Lianne dan Stefa merasakan bahwa resepsionis itu mengetahui sesuatu akan maksud dan kedatangan mereka berdua ke sana. Saat melihat Stefa dan Lianne melangkah menuju lobby hotel, resepsionis itu langsung menyambut keduanya dengan sangat-sangat hangat dan sopan. Tanpa bertanya keperluan dan maksud kedatangan keduanya, resepsionis itu langsung memimpin langkah mengantarkan mereka berdua ke tempat yan di tuju.
Lianne dan Stefa saling melempar tatap apakah pemikiran mereka sama atau tidak. Langkah mereka terhenti dikarenakan respsionis itu berhenti tepat di depan sebuah pintu ganda berukuran besar dan segera mempersilakan keduanya masuk.
“Thank you!” ucap Stefa dan Lianne pada resepsionis itu. Orang itu hanya
mengangguk kemudian membungkuk hormat, dan berbalik meninggalkan mereka berdua.
Ia mengangguk mantap. “Ayo, kita masuk. Kita beri pelajaran untuk mereka.”
Stefa mendorong pintu ganda berukuran besar itu. Tetapi keanehan itu kembali terjadi saat di dalam sana,
hanya ada ruangan gelap nan sepi sunyi. Apakah resepsionis itu salah mengantarkan mereka berdua atau bagaimana? Karena sejauh mata memandang, hanya ada ruangan kosong nan gelap. Tidak ada orang satu pun selain dirinya dan Lianne yang berdiri di belakang tubuhnya.
“Kau yakin ini tempatnya?” tanyanya pada Lianne yang sejak tadi hanya diam saja. Merasa tak ada jawaban, Stefa berbalik. Tetapi Lianne sudah tidak ada di sana. Ke mana perginya Lianne? Apakah sahabatnya itu sudah melangkah ke dalam menerobos masuk ke dalam ruangan kosong nan gelap tanpa ia sadari?
“Lianne, kau di mana? Kau sudah masuk?” teriaknya sedikit pelan memanggil-manggil Lianne. Tetapi kembali, keheninganlah yang menjawabnya.
“Astaga. Aku harus apa sekarang?!” seperti bertanya pada dirinya sendiri akan kebingungan yang harus ia apakan itu.
Dengan tidak tahu malunya, Stefa tetap memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam ruangan itu meskipun ia yakin bahwa di ruangan itu tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Kakinya melangkah dengan hati-hati, semakin masuk ke dalam kegelapan itu mencari sesuatu yang mungkin saja bisa memuaskan hatinya. Rengkuhan kedua tangan besar tengah mengejutkan Stefa, bahkan ia hampir memekik ketakutan.
Dua tangan besar itu memeluknya dari belakang. Bahkan Stefa bisa merasakan hembusan napas hangat dari hidung orang itu. Tubuhnya meremang karena ketakutan jika ada seorang penjahat yang mencoba melecehkannya, memanfaatkan situasi yang sedang ia hadapi saat ini. Stefa meronta-ronta meminta dilepaskan karena makin lama kelamaan, orang itu mencoba untuk mengecup lehernya turun ke pundak yang memang saat ini cukup terbuka karena Stefa mengenakan dress tanpa lengan bergaya sabrina sederhana.
“Sialan! Lepaskan aku, brengsek!” teriaknya memaki pada orang itu yang diyakini adalah seorang pria tetapi malah terabaikan.
Kecupan itu semakin ke mana-mana, semakin turun melewati pundaknya menuju belahan dadanya. Stefa bisa merasakan bahwa pria itu telah berada di hadapannya, karena kecupan pria itu yang mencoba menjelajahi bagian dua bukin kembarnya dengan tidak sopan. Matanya ingin sekali melihat siapa pria yang saat ini sedang mengambil keuntungan pada dirinya, tapi kegelapan telah membuatnya tidak mampu melihat dengan baik. Bahkan hanya untuk menatap mata pria itu pun, Stefa tidak bisa. Terlalu gelap di dalam ruangan itu.
“Lianne! Tolong aku!” suranya teriakkannya menggema di dalam ruangan itu.
“Arghh...” pekiknya merasakan gelenyar aneh sekaligus rasa sakit akibat gigitan di atas puncak bukit kembarnya. Tunggu! Apa yang terjadi barusan? Pria itu menggigit bagian sensitif tubuhnya. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa Stefa harus tidak memakai branya saat ini sehingga pria itu sedikit kesulitan untuk menjamah salah satu bagian tersensitifnya?
Demi Tuhan! Seharusnya bukan itu yang diucapkannya. Kenapa otaknya mendadak tidak waras? Stefa seakan membiarkan pria itu melakukan semua pelecehannya di ruangan gelap gulita itu dengan leluasa, tetapi sentuhan pria itu seperti tidak bisa Stefa tolak lagi. Tubuhnya kini mulai merespon setiap sentuhan pelecehan dari pria sialan yang bahkan tidak diketahui apakah wajahnya tampan atau tidak. Remang ketakutan di sekujur tubuhnya berganti menjadi remang kenikmatan yang akan menghantarkan pada sesuatu yang akan membuat dirinya banjir.
__ADS_1
Tubuhnya seolah mengenali sentuhan ini.
“He-hentikan... Ahh...” lenguhnya cepat saat ia merasakan bibir pria itu mengulum bagian tersensitifnya. Sialnya. Kedua tangan Stefa bukannya menjambak rambut pria itu kemudian menjauhkan dirinya dari pria itu, yang terjadi malah meremas kuat rambut pria itu seolah menikmati setiap sentuhan yang diterimanya.
“Kau menikmatinya, hm?” suara pria itu mengalun serak di gelapan ruangan itu.
Stefa tidak menjawab, ia terlalu menikmati sentuhan itu. Pria itu benar, Stefa menikmati sentuhan tangan besar dan bibir basah pria itu.
Tunggu! Apa tadi?
“David?” gumam Stefa setelah ia mendapatkan kesadaran dan otak warasnya. Suara kekehan menyambut kebingungan Stefa dan kewarasan otaknya.
Tiba-tiba kegelapan itu hilang, ruangan besar nan luas itu kini terang benderang dengan lampu-lampu hias besar yang menggantung di atas langit-langit ruangan itu. Stefa masih tidak menyadari bahwa ruangan besar nan luas itu bukanlah ruangan biasa pada umumnya, tetapi ada sesuatu yang telah pria itu siapkan untuk dirinya.
Stefa menatap tajam pada sorot mata David, menyatakan bahwa ia tengah marah dan ingin segera melampiaskan kemarahannya pada sosok pengkhianat di depan matanya.
“Apa yang kau lakukan, brengsek?” hardiknya dengan cepat.
David tetap tenang di tempatnya dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya.
“Kau menggerayangiku di saat malam ini kau akan melamar kekasihmu itu? Di mana letak otakmu, brengsek! Tidak, tidak. Kalian memang sepasang kekasih yang terlalu hina dan rendah. Wanita ular bermuka dua itu pantas mendapatkan pria brengsek sepertimu.” Makinya tanpa ampun. Sudah sejak lama ia memendam makian itu, dan akhirnya mampu ia ungkapkan dengan lantang.
“Menjauh dariku, sialan!” Stefa merentangkan satu tangannya ke depan menghalau David untuk tidak mendekatinya. Pria itu masih tetap tenang walau mendapatkan makian dari Stefa.
“Kau puas sekarang, David? Kau memperkosaku, menghamiliku, kemudian mendapatkan cinta dan kepercayaan dariku, kemudian kau mempermainkannya begitu saja dengan wanita sialan itu, huh. Kau puas sekarang?” Stefa tak mampu lagi membendung tangisannya. Hatinya lemah, dirinya lemah. Ia tak sekuat itu, ia butuh seseorang yang mengerti kelemahannya bukan malah dimanfaatkan seperti yang sepasang kekasih sialan itu lakukan kepadanya.
Kembali ia meronta saat dirasakannya dekapan erat dari pria yang dibencinya itu.
“Menjauh dariku, David! Jangan sentuh aku!” teriaknya di sela-sela tangisannya. Tentu saja pria itu tidak
mengindahkan pemintaan Stefa, justru ia malah semakin memeluk wanita itu dengan erat.
Suara isakan tangisnya kian melemah, deru napas memburu penuh emosi itu kian suruh tergantikan napas yang mulai teratur.
“Kau sudah selesai?” tanyanya datar, Stefa terdiam.
“Sekarang giliran aku yang berucap panjang lebar.” David menjauhkan tubuhnya dengan Stefa, membiarkan keduanya saling berpisah jarak sebentar.
David menatap ke sekeliling ruangan itu yang hanya ada dirinya dan Stefa.
“Kau lihatlat ruangan ini! Aku mempersiapkan hari ini dari jauh-jauh hari, merencanakannya dengan matang agar tidak terjadi kesalahan dan kekurangan apa pun saat hari ini tiba. Semuanya berjalan dengan lancar, kau datang ke London, berdiri di ruangan megah nan mewah ini tepat di hadapanku. Kau akan menjadi saksi betapa aku mencintai kekasihku yang sebentar lagi akan menikah denganku—“ ucapannya terpotong saat Stefa menyela begitu cepat dengan nada sinis tak percaya.
“Kau ingin kau menyaksikan kekasihku melamar kekasih selingkuhannya secara langsung?!” Stefa tersenyum kecut mendengarnya. David bergeming.
“Apa itu penting bagimu, Dave? Dengan aku yang menyaksikan dirimu berkhianat di depan mataku sendiri?” lanjutnya lagi.
“Apakah kau tidak cukup dan merasa puas karena telah berhasil menyakiti dan mempermainkan aku? Kau bukan hanya menyakitiku, tapi kau juga menyakiti putri kita. Alice. Dia ikut bersamaku ke sini—“ kali ini rentetan kalimatnya dipotong David.
“Dan aku senang Alice ikut datang ke London, jadi dia bisa melihat bagaimana aku melamar kekasihku hari ini.” Stefa kembali tersenyum kecut. Ia masih tak percaya David tega melakukan semua ini di saat mereka telah memiliki buah hati yang sudah tidak lagi bayi baru lahir.
“Sepenting itukah kehadiran aku dan Alice di acara lamaranmu ini?”
“Sangat penting!” jawabnya tegas dan cepat tapi penuh yakin.
***
__ADS_1
Follow juga instagram author @rhesirahaku & WP @RhesiKim !!!