My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 8 Merindukan Dia Yang Bukan Milikku


__ADS_3

Stefani POV


Masih di hari yang sama. Entah suasana seperti apa yang merayapi perasaanku saat ini. Ada sesuatu


yang terasa kosong di dalam sana. Aku berjalan ke arah jendela, dan membuka


jendela itu agar udara dapat masuk ke dalam kamar hotelku.


Sapuan air hujan menerpa ke area wajahku. Hujan. Ternyata di luar sedang hujan. Melihat air hujan,


seolah-olah ada sesuatu yang mengusik pikiran dan perasaanku. Ada kekosongan


dan kehampaan yang melingkupiku.


Pandanganku menatap keluar sana, melihat jalanan yang macet di tambah semakin macet karena hujan yang


cukup deras. Ada beberapa pengendara motor yang menepi, memarkirkan motor


mereka secara sembarang sehingga menambah suasa kemacetan semakin padat.


Kamar hotel yang aku tempati saat ini, memang menghadap langsung ke jalanan Ibu Kota Jakarta. Tidak


berbeda jauh dengan suasana di London rupanya. Sama-sama kota sibuk dan sering


terjadi macet.


Sekelebat bayangan pria yang menyakitiku terlintas di pikiranku. Pria yang dulu pernah meyakinkan


diriku akan pernyataan cintanya. Menjanjikan aku kebahagiaan yang sempurna,


tapi semua itu ia ingkari.


Aku teringat dulu saat masih bersama, ia selalu merayuku dan merengek agar aku mampu melakukan


hubungan intim dengannya. Dengan beralasan bahwa itu adalah sebuah pembuktian


cintaku kepadanya. Tapi aku tidak pernah mengindahkan permintaannya.


Aku hanya ingin memberikan mahkotaku untuknya setelah resmi menjadi suamiku. Tapi dia tidak


pernah mengerti. Baginya, seks adalah


sebuah kebutuhan dan merupakan bukti cinta sepasang kekasih.


Sempat terlintas, aku akan menyerahkan mahkotaku kepadanya sebelum kami resmi menikah. Tapi entah


kenapa, rasa ragu itu lebih mendominasiku. Aku takut jika aku menyerahkannya,


maka ia akan meninggalkanku begitu saja.


Dan terbukti. Tanpa aku menyerahkan mahkotaku kepadanya, jelas dia akan meninggalkanku seperti


sekarang. Membiarkan aku bergelut dengan rasa sakitku. Ku akui, aku memang


merindukannya. Wanita mana yang mampu melupakan seseorang yang pernah sangat


dicintainya begitu dalam dan tiba-tiba di khianati begitu saja?


Wanita mana yang akan langsung melupakan semua kenangan indah bersama orang yang dicintainya? Dadaku


terasa sesak, sangat sesak. Nafasku mulai memburu, terasa berat. Aku mencoba


mengatur nafasku.


“Aku merindukanmu.” gumamku lirih.


Seharusnya aku menangis saat aku mengetahui bahwa aku telah di khianati saat hari pertunanganku


sendiri. Tapi air mataku seolah enggan untuk menangisi pria bajingan itu.


Disaat aku sedang menghadapi kegugupan karena acara yang sangat istimewa,


ternyata dia sedang bercumbu dan bercinta dengan wanita yang mengaku sedang


mengandung hasil dari benihnya.

__ADS_1


Bisa saja aku mengadukan kepada orangtua Marshal. Tapi aku tidak ingin merusak hubungan


orangtua dan anak. Aku tidak sejahat itu. Saat Marshal datang menemuiku di


kantor, dia memberi tahuku bahwa wanitanya sedang mengandung.


Tapi dia seolah tidak tahu bahwa ada seseorang yang mengirimkan semua bukti itu kepadaku. Dia hanya


memberitahuku bahwa dia tidak ingin bersamaku lagi. Apakah photo dan rekaman


video itu di ambil tanpa sepengetahuan Marshal? Apa wanita itu selicik itu


untuk merebut Marshal dariku?


“Lupakan! Lupakan dia Stefa, kamu pasti bisa.” Aku mencoba menyemangati diriku sendiri untuk


melupakan pria itu.


Sungguh, aku sangat merindukannya saat ini. Aku ingin memeluknya, aku merindukan aroma tubuhnya


yang khas. Aku merindukan dia yang selalu mencium puncak kepalaku dengan


lembut. Adakah aku di hatimu barang sebentar saja Marshal?


Aku membuang nafas kasar. Mengenyahkan semua rasa rinduku padanya yang sudah jelas dia bukan lagi


milikku. Aku hanya berharap, aku bisa dan mampu melupakan semuanya dengan cepat


tanpa ada satupun kenangan aku dengannya yang tertinggal.


Lamunanku terbuyarkan saat handphone milikku bergetar. Ada sebuah pesan, pesan dari nomor yang selalu


menerorku.


“Apa lagi yang dia kirimkan untukku?”


Aku membuka pesan itu. Dan aku kembali terkejut, ku tatap sekeliling kamar hotelku. Tidak ada CCTV di


kamar ini, pikirku. Tapi dari mana orang ini tahu segala aktivitas yang aku


‘Jangan melamun! Aku tidak suka saat melihatmu melamun dan memikirkan orang lain. Hanya


aku yang boleh memenuhi otak dan pikiranmu.’


“Apa-apaan orang ini? Apa orang ini cari mati? Dari mana dia tahu semua tentangku? Astagaaa, aku bisa


gila dibuatnya.” gerutuku.


Aku bergidik karena lama kelamaan aku berdiam diri di depan jendela membuatku kedinginan. Aku


menutup kembali jendela. Dan aku menghela nafas dengan berat. Seolah ada beban


yang masih tertinggal di dalam hatiku.


Bunyi perutku memecah kesunyian yang tercipta di dalam kamar ini. Setidaknya aku tetap harus mengisi


perutku bukan?


Aku berganti pakaian, menggunakan celana hotpants dengan


kaos putih polos dan tak lupa aku menggunakan tambahan cardigan sifon panjang.


Aku mengambil sling bag favoritku, memasukkan kartu kreditku dan beberapa


lembar uang sebagai bentuk jaga-jaga jika nanti ada keadaan yang mendesak


mengharuskan aku menggunakan uang tunai.


Aku berjalan melangkah ke luar untuk meninggalkan kamarku. Dan aku berniat untuk mengajak Judith makan


bersama. Kamar milikku dan kamar Judith memang bersebelahan, jadi tidak memakan


waktu yang lama untuk mengajaknya.


Saat ini aku dan Judith sedang berada di restaurant hotel kami menginap. Kami memilih beberapa menu

__ADS_1


makanan yang cukup menggugah selera makan kami berdua. Judith tampak menikmati


makanannya. Ini kali pertamanya Judith dan aku datang ke Indonesia.


“Sumpah, ini makanan enak bangeeett. Bisa-bisa aku betah tinggal disini, tinggal selama 6 bulan yang ada


badan aku makin melar.” racau Judith.


Aku hanya tersenyum menanggapinya. Memang benar adanya jika makanan di Indonesia sangatlah enak.


Rempah-rempah yang ada di dalam masakannya-pun begitu terasa. Dan kami berdua


cukup menikmatinya.


“Permisi. Apa boleh saya bergabung untuk makan disini?” ucap seorang pria yang tiba-tiba datang


menghampiri kami.


Ku tatap sekilas pria itu, dan mengalihkan tatapanku pada Judith meminta dia untuk menjawabnya.


Sementara Judith seperti sedang menimbang-nimbang keputusannya. Dan pria itu


dengan sabarnya menunggu kami memberikan keputusan untuk meng-iyakan atau tidak


memberi ijin sama sekali.


“Emhh, boleh. Silahkan!” ucap Judith sambil tersenyum ke arah pria tadi.


Tanpa membuang waktu, pria itu langsung duduk di samping Judith dan melahap makanan nya. Aku tidak


begitu memperdulikan pria yang kini tengah bergabung bersamaku dan juga Judith.


Toh, ini adalah restaurant umum. Jadi siapa saja berhak untuk makan, bukan.


Setelah kami bertiga selesai menyantap seluruh makanan dan minuman kami. Judith meminta ijin padaku


untuk kembali ke kamar lebih dulu. Dia baru ingat bahwa handphone miliknya


tertinggal di dalam kamar.


Kini tinggal hanya ada aku dan pria yang kini berada di hadapanku. Dia menatapku seolah ingin


mengucapkan sesuatu. Aku hanya mengabaikannya.


“Ehmm...” pria itu berdeham yang membuatku langsung meliriknya. Dan pandangan kami saling bertemu


untuk sepersekian detik.


Kembali aku melirik ke arah lain. Aku tidak perduli dengan orang-orang di sekitarku, termasuk dengan


pria yang sedari tadi menatapku. Entah apa yang dia pikirkan, dia terus saja


menatapku sedari tadi tanpa henti. Aku cukup dibuat risih olehnya.


“Apa anda sedang berlibur disini?” akhirnya pria itu mengucapkan sesuatu.


“Tidak.” jawabku singkat.


“Perkenalkan, saya Revaldo!” ucap pria itu memperkenalkan dirinya.


“Stefa.” balasku singkat


Sekilas ku lihat pria itu hanya terkekeh mendengar jawabanku yang singkat.


Tunggu. Revaldo? Sepertinya nama ini tidak asing untukku. Apa aku pernah kenal dengannya? Atau


bertemu sebelumnya? Tapi dimana?


Kali ini aku yang menatap gantian pria yang bernama Revaldo itu. Dia mengangkat satu alisnya


seolah bertanya ‘ kenapa?’.


Tak mau berlama-lama dengan segala spekulasi yang hinggap di pikiranku, aku langsung pamit pada


Revaldo untuk kembali ke kamar hotelku. Sekali lagi, aku melihat dia terkekeh.

__ADS_1


Entah kali ini apa yang ia tertawakan dariku.


__ADS_2