
Stefani POV
Masih di hari yang sama. Entah suasana seperti apa yang merayapi perasaanku saat ini. Ada sesuatu
yang terasa kosong di dalam sana. Aku berjalan ke arah jendela, dan membuka
jendela itu agar udara dapat masuk ke dalam kamar hotelku.
Sapuan air hujan menerpa ke area wajahku. Hujan. Ternyata di luar sedang hujan. Melihat air hujan,
seolah-olah ada sesuatu yang mengusik pikiran dan perasaanku. Ada kekosongan
dan kehampaan yang melingkupiku.
Pandanganku menatap keluar sana, melihat jalanan yang macet di tambah semakin macet karena hujan yang
cukup deras. Ada beberapa pengendara motor yang menepi, memarkirkan motor
mereka secara sembarang sehingga menambah suasa kemacetan semakin padat.
Kamar hotel yang aku tempati saat ini, memang menghadap langsung ke jalanan Ibu Kota Jakarta. Tidak
berbeda jauh dengan suasana di London rupanya. Sama-sama kota sibuk dan sering
terjadi macet.
Sekelebat bayangan pria yang menyakitiku terlintas di pikiranku. Pria yang dulu pernah meyakinkan
diriku akan pernyataan cintanya. Menjanjikan aku kebahagiaan yang sempurna,
tapi semua itu ia ingkari.
Aku teringat dulu saat masih bersama, ia selalu merayuku dan merengek agar aku mampu melakukan
hubungan intim dengannya. Dengan beralasan bahwa itu adalah sebuah pembuktian
cintaku kepadanya. Tapi aku tidak pernah mengindahkan permintaannya.
Aku hanya ingin memberikan mahkotaku untuknya setelah resmi menjadi suamiku. Tapi dia tidak
pernah mengerti. Baginya, seks adalah
sebuah kebutuhan dan merupakan bukti cinta sepasang kekasih.
Sempat terlintas, aku akan menyerahkan mahkotaku kepadanya sebelum kami resmi menikah. Tapi entah
kenapa, rasa ragu itu lebih mendominasiku. Aku takut jika aku menyerahkannya,
maka ia akan meninggalkanku begitu saja.
Dan terbukti. Tanpa aku menyerahkan mahkotaku kepadanya, jelas dia akan meninggalkanku seperti
sekarang. Membiarkan aku bergelut dengan rasa sakitku. Ku akui, aku memang
merindukannya. Wanita mana yang mampu melupakan seseorang yang pernah sangat
dicintainya begitu dalam dan tiba-tiba di khianati begitu saja?
Wanita mana yang akan langsung melupakan semua kenangan indah bersama orang yang dicintainya? Dadaku
terasa sesak, sangat sesak. Nafasku mulai memburu, terasa berat. Aku mencoba
mengatur nafasku.
“Aku merindukanmu.” gumamku lirih.
Seharusnya aku menangis saat aku mengetahui bahwa aku telah di khianati saat hari pertunanganku
sendiri. Tapi air mataku seolah enggan untuk menangisi pria bajingan itu.
Disaat aku sedang menghadapi kegugupan karena acara yang sangat istimewa,
ternyata dia sedang bercumbu dan bercinta dengan wanita yang mengaku sedang
mengandung hasil dari benihnya.
__ADS_1
Bisa saja aku mengadukan kepada orangtua Marshal. Tapi aku tidak ingin merusak hubungan
orangtua dan anak. Aku tidak sejahat itu. Saat Marshal datang menemuiku di
kantor, dia memberi tahuku bahwa wanitanya sedang mengandung.
Tapi dia seolah tidak tahu bahwa ada seseorang yang mengirimkan semua bukti itu kepadaku. Dia hanya
memberitahuku bahwa dia tidak ingin bersamaku lagi. Apakah photo dan rekaman
video itu di ambil tanpa sepengetahuan Marshal? Apa wanita itu selicik itu
untuk merebut Marshal dariku?
“Lupakan! Lupakan dia Stefa, kamu pasti bisa.” Aku mencoba menyemangati diriku sendiri untuk
melupakan pria itu.
Sungguh, aku sangat merindukannya saat ini. Aku ingin memeluknya, aku merindukan aroma tubuhnya
yang khas. Aku merindukan dia yang selalu mencium puncak kepalaku dengan
lembut. Adakah aku di hatimu barang sebentar saja Marshal?
Aku membuang nafas kasar. Mengenyahkan semua rasa rinduku padanya yang sudah jelas dia bukan lagi
milikku. Aku hanya berharap, aku bisa dan mampu melupakan semuanya dengan cepat
tanpa ada satupun kenangan aku dengannya yang tertinggal.
Lamunanku terbuyarkan saat handphone milikku bergetar. Ada sebuah pesan, pesan dari nomor yang selalu
menerorku.
“Apa lagi yang dia kirimkan untukku?”
Aku membuka pesan itu. Dan aku kembali terkejut, ku tatap sekeliling kamar hotelku. Tidak ada CCTV di
kamar ini, pikirku. Tapi dari mana orang ini tahu segala aktivitas yang aku
‘Jangan melamun! Aku tidak suka saat melihatmu melamun dan memikirkan orang lain. Hanya
aku yang boleh memenuhi otak dan pikiranmu.’
“Apa-apaan orang ini? Apa orang ini cari mati? Dari mana dia tahu semua tentangku? Astagaaa, aku bisa
gila dibuatnya.” gerutuku.
Aku bergidik karena lama kelamaan aku berdiam diri di depan jendela membuatku kedinginan. Aku
menutup kembali jendela. Dan aku menghela nafas dengan berat. Seolah ada beban
yang masih tertinggal di dalam hatiku.
Bunyi perutku memecah kesunyian yang tercipta di dalam kamar ini. Setidaknya aku tetap harus mengisi
perutku bukan?
Aku berganti pakaian, menggunakan celana hotpants dengan
kaos putih polos dan tak lupa aku menggunakan tambahan cardigan sifon panjang.
Aku mengambil sling bag favoritku, memasukkan kartu kreditku dan beberapa
lembar uang sebagai bentuk jaga-jaga jika nanti ada keadaan yang mendesak
mengharuskan aku menggunakan uang tunai.
Aku berjalan melangkah ke luar untuk meninggalkan kamarku. Dan aku berniat untuk mengajak Judith makan
bersama. Kamar milikku dan kamar Judith memang bersebelahan, jadi tidak memakan
waktu yang lama untuk mengajaknya.
Saat ini aku dan Judith sedang berada di restaurant hotel kami menginap. Kami memilih beberapa menu
__ADS_1
makanan yang cukup menggugah selera makan kami berdua. Judith tampak menikmati
makanannya. Ini kali pertamanya Judith dan aku datang ke Indonesia.
“Sumpah, ini makanan enak bangeeett. Bisa-bisa aku betah tinggal disini, tinggal selama 6 bulan yang ada
badan aku makin melar.” racau Judith.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Memang benar adanya jika makanan di Indonesia sangatlah enak.
Rempah-rempah yang ada di dalam masakannya-pun begitu terasa. Dan kami berdua
cukup menikmatinya.
“Permisi. Apa boleh saya bergabung untuk makan disini?” ucap seorang pria yang tiba-tiba datang
menghampiri kami.
Ku tatap sekilas pria itu, dan mengalihkan tatapanku pada Judith meminta dia untuk menjawabnya.
Sementara Judith seperti sedang menimbang-nimbang keputusannya. Dan pria itu
dengan sabarnya menunggu kami memberikan keputusan untuk meng-iyakan atau tidak
memberi ijin sama sekali.
“Emhh, boleh. Silahkan!” ucap Judith sambil tersenyum ke arah pria tadi.
Tanpa membuang waktu, pria itu langsung duduk di samping Judith dan melahap makanan nya. Aku tidak
begitu memperdulikan pria yang kini tengah bergabung bersamaku dan juga Judith.
Toh, ini adalah restaurant umum. Jadi siapa saja berhak untuk makan, bukan.
Setelah kami bertiga selesai menyantap seluruh makanan dan minuman kami. Judith meminta ijin padaku
untuk kembali ke kamar lebih dulu. Dia baru ingat bahwa handphone miliknya
tertinggal di dalam kamar.
Kini tinggal hanya ada aku dan pria yang kini berada di hadapanku. Dia menatapku seolah ingin
mengucapkan sesuatu. Aku hanya mengabaikannya.
“Ehmm...” pria itu berdeham yang membuatku langsung meliriknya. Dan pandangan kami saling bertemu
untuk sepersekian detik.
Kembali aku melirik ke arah lain. Aku tidak perduli dengan orang-orang di sekitarku, termasuk dengan
pria yang sedari tadi menatapku. Entah apa yang dia pikirkan, dia terus saja
menatapku sedari tadi tanpa henti. Aku cukup dibuat risih olehnya.
“Apa anda sedang berlibur disini?” akhirnya pria itu mengucapkan sesuatu.
“Tidak.” jawabku singkat.
“Perkenalkan, saya Revaldo!” ucap pria itu memperkenalkan dirinya.
“Stefa.” balasku singkat
Sekilas ku lihat pria itu hanya terkekeh mendengar jawabanku yang singkat.
Tunggu. Revaldo? Sepertinya nama ini tidak asing untukku. Apa aku pernah kenal dengannya? Atau
bertemu sebelumnya? Tapi dimana?
Kali ini aku yang menatap gantian pria yang bernama Revaldo itu. Dia mengangkat satu alisnya
seolah bertanya ‘ kenapa?’.
Tak mau berlama-lama dengan segala spekulasi yang hinggap di pikiranku, aku langsung pamit pada
Revaldo untuk kembali ke kamar hotelku. Sekali lagi, aku melihat dia terkekeh.
__ADS_1
Entah kali ini apa yang ia tertawakan dariku.