
Open PO
My Love Sotry by RhesiKim
(357 halaman)
Rp. 96.000
Format pemesanan di kirim ke 0818331696 !!
Nama
Alamat
Kota
Kelurahan
Kecamatan
Kode pos
Nomer hp
Judul buku
Transfer ke rek 0560368836 an Diana bank bca
***
Pagi harinya Stefa terbangun dengan pikiran yang sudah lebih tenang, mungkin itu efek menghabiskan waktu sehari semalaman di luar rumah dengan mengunjungi beberapa tempat wisata. Seperti biasanya, ia akan memanfaatkan waktu pagi harinya dengan melakukan rutinitas seperti biasa. Mulai dari membersihkan tubuh, sampai ke sarapan bersama dengan Paman dan juga Tantenya.
“Semalam kau pulang jam berapa, sayang?” tanya Charlote saat mereka sudah selesai sarapan pagi bersama.
__ADS_1
“Semalam aku pulang sekitar jam 10, mungkin lebih. Kupikir Paman Ken dan Tante sudah tidur, aku langsung naik ke kamar.” jelas Stefa seraya mengelap mulutnya denga serbet yang sudah disediakan oleh pelayan.
“Setelah ini Paman ingin membicarakan sesuatu denganmu, Stefa.” ucap Ken, kemudian ia melangkah lebih dulu menuju ruang keluarga.
Stefa mengangguk kemudian melirik kepada tantenya dengan tatapan penasaran.
“Apa yang ingin dibicarakan Paman Ken, Tante?” tanyanya penasaran.
Charlote mengedikkan bahunya dengan senyuman hangat. “Kau akan mengetahuinya segera.”
Stefa kembali mengangguk. Ia langsung menyusul Ken ke ruang keluarga. Ia duduk tepat berada di depan
Pamannya yang sedang menyeruput secangkir teh hijau hangat. Konon, teh hijau itu sangatlah bagus untuk tubuh. Asalkan mengonsumsinya sesuai dengan takaran alias tidak berlebihan.
Menyadari Stefa sudah duduk di hadapannya, Ken langsung menyodorkan map berwarna merah ke hadapan Stefa. Wanita itu mengernyitkan dahinya bingung, tak urung ia juga langsung mengambil map berwarna merah itu dan membukanya.
Ia membaca dengan teliti tak ingin ada yang terlewatkan.
“Paman, kenapa kau menawariku kontrak seperti ini?” tanyanya setelah selesai membaca isi yang ada di dalam map itu.
“Sesuai dengan apa yang kau baca, Paman ingin kau menjadi salah satu model di perusahaan Paman. Itu cukup bagus untuk karir dan masa depanmu. Kau juga tak perlu khawatir dengan pekerjaanmu yang di London. Kau masih bisa bekerja di sana, tapi bedanya. Kau terikat kontrak dengan perusahaan Paman. Paman ingin menjamin hidupmu dalam keadaan baik-baik saja dan selalu berkecukupan. Paman dan Tantemu tidak ingin kau kekurangan apapun. Itulah kenapa Paman menawarkan kontrak itu padamu.” jelasnya panjang lebar.
Sejenak Stefa terdiam mencerna kata-kata yang diucapkan Pamannya itu. Memang menjadi salah satu model di perusahaan yang Pamannya kelola itu menjadi keuntungan tersendiri untuknya. Hanya saja, resikonya cukup besar. Segala kehidupan dan urusan pribadinya akan menjadi bahan kejaran para wartawan.
Mungkin bisa saja, setelah ia menjadi model. Kehidupannya tak bisa lagi merahasiakan apapun dari dunia. Wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Tapi, Paman. Kau tahu, aku tak suka kehidupanku diketahui orang banyak. Jika aku menjadi salah satu modelmu, maka secara otomatis pula kehidupanku tak lagi menjadi milikku.”
“Tentu saja itu menjadi salah satu resikonya. Tapi Paman ingin kau memiliki karir yang baik. Paman tak meragukan karirmu yang sekarang, hanya saja tak ada salahnya jika kau menjadi seorang model juga. Kau bisa menjadikan ini kesempatan yang baik, menunjukkan kepada orang-orang yang telah menyakitimu bahwa kau baik-baik saja tanpa mereka. Kau bahkan bisa mendulang prestasi yang banyak dengan menjadi modelku.” Ken berusaha untuk meyakinkan Stefa bahwa kesempatan ini harus ia ambil.
Stefa kembali membaca isi kontrak yang ada di dalam map merah itu sekali lagi. Ia menghela napas.
“Baiklah, Paman. Akan aku pikirkan terlebih dulu. Aku sangat berterima kasih padamu, Paman. Kau dan Tante adalah keluargaku yang berharga, aku pasti akan memikirkannya baik-baik.” Stefa pamit undur diri dan meninggalkan Ken di ruang keluarga itu sendirian. Stefa membawa map merah itu ke kamarnya dan menyimpannya dengan baik di tempat yang cukup aman.
Melihat dari isi kontrak itu, memang keuntungan yang Stefa dapatkan tidaklah sedikit. Bahkan bisa dibilang ia sangat untung banyak jika ia menjalin kontrak dengan perusahaan yang Pamannya kelola itu.
__ADS_1
Ken memiliki sebuah perusahaan di mana salah satunya mengelola agensi model. Ken menawarkan Stefa untuk menjadi model di bawah naungan perusahaannya itu dengan segala macam keuntungan yang ditawarkan pada keponakannya itu.
“Kau sudah membicarakannya, sayang?” tanya Charlote saat ia duduk di samping suaminya.
Ken mengangguk. “Sudah. Dia akan memikirkannya. Tapi kau jangan khawatir, aku yakin dia akan menerima menjadi salah satu model di perusahaanku.”
Charlote kemudian tersenyum dan memeluk suaminya. Ia dan Ken memang menginginkan yang terbaik untuk Stefa. Wanita itu menjadi salah satu keponakan tersayangnya, mereka akan melakukan apapun demi kebahagiaan Stefa. Memberikan penawaran karir yang baik untuknya, menjamin kehidupannya selalu terpenuhi tanpa kekurangan apapun.
“Kau sudah tahu selingkuhan pria yang telah menyakiti hari keponakan kita?” tanya Charlote masih memeluk suaminya erat.
“Tentu saja aku tahu, sayang. Itulah kenapa aku ingin menjadikan Stefa seorang model. Wanita itu juga bekerja sebagai model ternama. Aku ingin memberikan pelajaran pada wanita itu.” jawab Ken enteng.
“Kau ingin membantu balas dendam Stefa pada wanita itu?” tanya Charlote penasaran dengan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Ken.
Pria itu meraih kembali tubuh istrinya dan memeluknya erat. “Aku tak perlu mengotori tanganku, kita hanya perlu memberikan sedikit pelajaran padanya bahwa karir yang selama ini ia tekuni bukanlah apa-apa dibanding dengan keponakan kita. Aku tak akan membiarkan keponakan kita kalah begitu saja. Kau paham maksudku ‘kan, sayang?”
Charlote mengangguk paham. Ken langsung mengecup bibir istrinya itu dengan lembut. Oh Tuhan, mereka adalah pasangan suami istri teromantis di dunia ini. Keluarga Ken tak mengajarkan pada anak-anaknya untuk berurusan dengan hal kotor. Jika seseorang telah menyakiti keluarganya, maka mereka harus membayarnya dengan cara cerdik bukan licik.
Ken ingin wanita yang menjadi selingkuhan dari mantan tunangan Stefa itu merasa terancam karirnya dengan kemunculan Stefa menjadi seorang model. Jangan sepelekan agensi model milik Ken. Meskipun pria itu memiliki perusahaan itu di Jepang, namun banyak model-model di bawah naungan perusahaannya menjadi model internasional.
Dan Ken ingin Stefa menjadi model internasional juga. Menyingkirkan karir cemerlang yang dimiliki wanita
selingkuhan itu sedikit demi sedikit. Apalagi Ken sudah tahu bahwa wanita itu tengah mengandung. Tak perlu menyewa pembunuh atau semacamnya, itu bukanlah tipe Ken.
Ia hanya perlu menggunakan sedikit otaknya dan bertindak cerdas serta tepat sasaran. Sekaligus menghukum siapa saja yang telah berani menyakiti perasaan keponakannya itu. Katakanlah bahwa Ken seorang Paman yang mencampuri urusan keponakannya. Tapi semua itu ia lakukan demi kebaikan keluarganya, kebaikan keponakannya.
“Kau tak pergi ke kantor?” tanya Charlote setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan Ken.
“Sebentar lagi aku berangkat. Kau ingin ikut atau kau ingin mengajak Stefa pergi berbelanja?” tawarnya.
“Kau memang yang terbaik, tentu saja aku akan pergi berbelanja dengan keponakanku.” Charlote menyengir kuda dengan mata yang berbinar-binar.
Ken mencium pipi istrinya. “Baiklah, kau boleh pergi. Ambillah salah satu kartu di dompetku, kau perlu menggunakan itu. Kalian bisa berbelanja sepuasnya, wanita-wanitaku tentu saja harus menghabiskan uangku dan bersenang-senang.” mereka tertawa bersama.
Bagi Ken, uang bukanlah apa-apa jika sudah menyangkut kebahagiaan istri dan juga keluarganya. Sepasang suami istri sampai saat ini belum di karuniai seorang anak, mungkin Tuhan memiliki rencana lain. Ken dan Charlote tidak terlalu memusingkan perihal keturunan mereka, toh jika nantinya Tuhan menjemput mereka untuk kembali ke sisinya. Harta tidak akan di bawa mati saat mereka akan menghadap sang pencipta.
__ADS_1
Dengan kehadiran Stefa dan juga keponakan-keponakan lainnya sudah cukup bagi sepasang suami istri itu. Itulah kenapa Tuhan seakan mempermudah segala urusan mereka, karena kehidupan mereka dipenuhi dengan rasa syukur atas nikmatnya. Apapun yang terjadi di dalam kehidupan mereka, mereka akan sangat menerimanya dengan lapang dada.