
Ken dan Stefa sudah siap-siap untuk pergi ke salah satu perusahaan yang menjadi agensi para model di bawah kepemimpinan Ken selama ini. Ken sudah siap dengan pakaian formal kantorannya, begitu pula dengan Stefa.
Ia mengenakan rok berjenis Petite berwarna coklat muda yang terlihat melekat pas di tubuhnya, panjang rok itu memiliki jarak 15 senti di atas lutut dengan atasan kemeja kotak-kotak sedikit besar berwarna coklat tua dan tambahan ikat pinggang berwarna hitam sebagai pelengkap. Rambut yang sudah di buat sedikit keriting bagian bawahnya ia biarkan tergerai ke bawah.
“Kau sudah siap, sayang?” tanya Charlote saat melihat Stefa menuruni satu persatu anak tangga rumah. Stefa yang ditanya pun langsung mengangguk seraya tersenyum kecil.
“Baiklah, kita harus segera berangkat.” Balas Ken yang sudah siap sedari tadi hanya tinggal menunggu keponakannya saja untuk turun. Charlote mengantar Ken dan Stefa sampai di depan pintu rumah. Namun saat mereka akan memasuki mobil, mereka dikejutkan dengan kedatangan manusia yang diberi gelar pria mesum oleh Stefa secara tiba-tiba.
Dengan wajah tanpa dosanya, Revaldo berjalan menghampiri Ken dan Stefa yang berdiri mematung di dekat mobil. Pintu mobil bagian penumpang yang sudah sempat Stefa buka langsung ia tutup kembali.
Stefa mengernyit heran kenapa pria itu sepagi ini bisa ada di rumah Paman dan Tantenya. Bukankah seharusnya dia sibuk dengan segala macam urusannya, tapi ini malah datang ke rumah orang. Pria itu terlihat tampan dan gagah, mengenakan celana bahan berwarna dongker dengan kemeja berwarna putih yang terlihat pas di tubuhnya.
Menampilkan otot-otot yang terhalang oleh kemeja putih yang pria itu kenakan. Untuk sesaat Stefa sedikit terpana melihat otot-otot di balik kemeja putih itu, sebelum lamunannya dibuyarkan oleh suara pria yang sedari tadi sudah ada di depannya.
“Kalian akan pergi?” tanya Revaldo yang sebenarnya sudah tahu jawabannya melihat Ken dan Stefa berada di dekat mobil dan siap untuk masuk ke dalam.
“Ya. Kami akan pergi ke kantor. Kenapa kau datang sepagi ini?” jawab Stefa dengan nada datarnya.
“Tadinya aku ingin mengajak kalian makan bersama di luar.” Balas Revaldo.
Stefa mengangkat sebelah alisnya. Makan di luar? Bersama? Oh yang benar saja. Sepagi ini membuat alasan tak masuk akal. Bahkan baru semalam pria itu menumpang makan di rumah Paman dan Tantenya sekarang pria itu datang sepagi ini hanya untuk memberikan alasan konyol.
“Nak, kami sedikit terburu-buru. Mungkin lain kali kita bisa makan bersama, atau kau mau bergabung dengan kami?” tawar Ken yang membuat Stefa membulatkan matanya.
“Paman, apa-apaan ini? Kita ‘kan akan pergi ke perusahaan Paman, bukan pergi bertamasya. Untuk apa Paman mengajaknya?” jengah Stefa.
“Nak, sebaiknya kau ikut saja dengan mereka!” sela Charlote menghampiri ketiganya.
Tentu saja pria itu kegirangan mendapatkan tawaran dari Ken dan juga persetujuan dari Charlote. Stefa merasa jengkel dan sudah merasa tidak perduli akan kehadiran Revaldo di sekitarnya. Ia malas berdebat dengan pria mesum tapi sialannya sangat tampan dan gagah. Pria itu mengambil alih kemudi dan membiarkan Ken untuk duduk manis di kursi bagian sampingnya.
Stefa dengan wajah malas terpaksa duduk di belakang karena kehadiran Revaldo yang tak diharapkan sama sekali. Entah kenapa, Stefa merasa Revaldo sedang mencoba mendekatinya secara terang-terangan. Memang pada nyatanya seperti itu.
Butuh sekitar 45 menit untuk sampai di tempat tujuan mereka. Dan selama perjalanan itu pula Stefa hanya memejamkan matanya. Kedua pria yang duduk di depan fokus membahas mengenai bisnis dan itu membuat Stefa merasa bosan selama di perjalanan.
Tiba di Lobby utama perusahaan yang Ken pimpin. Mereka disambut dengan baik oleh karyawan di sana. Beberapa karyawan yang melihat kehadiran Ken langsung membungkuk ‘kan badannya sebagai memberi hormat atau salam kepada si pemilik perusahaan.
“Siapa wanita itu? Apa dia seorang artis?” Sayup-sayup Stefa mendengar seorang wanita membicarakannya yang bisa ditebak ia sedang berbicara kepada rekan kerjanya namun sama sekali tak ia hiraukan dan tetap berjalan di belakang Pamannya.
“Sepertinya kau jadi bahan sorotan
di sini.” Bisik Revaldo dengan sengaja menghembuskan napasnya di dekat telinga
Stefa membuat wanita itu memejamkan matanya.
“Bisakah kau menjaga jarak dariku? Kau seperti gurita yang selalu menempel.” Cemooh Stefa. Pria itu hanya terkekeh tapi ia juga langsung memberi sedikit jarak antara dirinya dan juga Stefa, ia sadar bahwa Stefa sedikit tak nyaman dengan keberadaannya di antara Paman dan keponakan itu.
Ketiganya berjalan beriringan menuju lift dan segera masuk setelah pintu lift terbuka. Ken menunjukkan bagian-bagian penting dari perusahaan itu pada Stefa dan Revaldo. Lebih tepatnya khusus di tujukan pada Stefa yang nantinya akan sering datang ke perusahaan itu. Dengan sabar Ken menjelaskan setiap ruangan dan lantai yang ia sabangi.
Ken mengajak Stefa dan Revaldo untuk masuk ke salah satu ruangan di mana ruangan itu sedang mengadakan pemotretan salah satu modelnya yang menjadi model dari salah satu produk kosmetik luar negeri. Stefa dibuat takjub dengan kecantikan model itu sendiri.
“Kau akan menjadi salah satu dari mereka nantinya.” Ken sedikit memberikan gambaran pada Stefa.
“Kapan aku bisa mulai bergabung?” tanya Stefa tanpa mengalihkan pandangannya dari kegiatan pemotretan itu. Matanya masih terfokus memperhatikan kru yang bekerja sama dengan baik dengan sang model.
“Jika kau bersedia, hari ini kau bisa memulai percobaan pemotretan dan jika hasilnya bagus itu akan lebih baik.” tukas Ken dan wanita itu menyetujuinya begitu saja tanpa harus berpikir panjang lagi.
Revaldo yang tak mengerti sama sekali hanya menjadi pendengar yang baik meskipun mulutnya terasa sangat gatal ingin menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka bertiga meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruangan kerja pribadi milik Ken. Di sana, Ken menyerahkan perjanjian kontrak yang harus di tanda tangani oleh kedua belah pihak.
Yaitu Ken sebagai pihak pertama, dan Stefa sebagai pihak kedua. Tanpa perlu membaca ulang Stefa langsung membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang sudah ditempeli materai. Disusul oleh Ken yang membubuhkan tanda tangannya di samping tanda tangan Stefa.
Pria itu menyerahkan salinannya padaStefa dan kontrak asli ia yang simpan.
“Tunggulah di sini, aku akan meminta salah satu karyawanku untuk mengantarmu ke ruang ganti. Mereka akan mempersiapkan semuanya untukmu.” Ken langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar, hanya menyisakan Stefa dan Revaldo saja di ruangan itu.
Revaldo sedari tadi hanya melihat dan memperhatikan. Tapi tidak untuk kali ini, ia ingin bertanya dan mengobati rasa penasarannya.
“Apa yang kalian tanda tangani?” tanyanya langsung.
“Bukan urusanmu!” jawab Stefa datar tanpa menatap lawan bicara dan malah sibuk dengan handphone miliknya dan membalas komentar-komentar yang singgah di foto yang sempat ia posting ke sosial media.
__ADS_1
“Hei, tatap lawan bicaramu!” Stefa langsung mengunci layar handphone-nya dan berbalik menatap pria itu.
“Apa?”
“Apa yang kalian tanda tangani?” Revaldo mengulang lagi pertanyaan yang belum sempat Stefa jawab.
Stefa menghela napas sejenak sebelum ia menjelaskan secara singkat pada pria mesum yang mendadak sangat ingin tahu dengan urusan orang lain. Untuk seukuran pebisnis sekelas Revaldo, pria mesum itu terlalu cerewet dan banyak bicara.
Tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang besar, dengan otot-otot kerasnya. Tapi memiliki sifat yang cerewet seperti wanita pada umumnya.
“Aku akan menjadi model. Kau puas?!” sarkas Stefa.
Revaldo mengernyit bingung. “Kenapa jadi model? Kau ‘kan memiliki perkejaan yang pasti di London.” Selidiknya lagi.
“Itu bukan urusanmu.” Stefa memutar bola matanya malas saat Revaldo menatapnya penuh selidik.
Shit! Pria itu menatap Stefa penuh selidik dengan mata indahnya membuat Stefa tak bisa untuk tak menatap mata pria itu. Meskipun ia begitu ingin membalas tatapan mata Revaldo, ia masih memiliki gengsi yang tinggi yang harus ia pertahankan agar tak membalas tatapan mata indah milik Revaldo yang sedang menyelidiknya itu.
Tak mendapat ‘kan jawaban yang memuaskan membuat Revaldo nekat untuk duduk menempel dengan Stefa. Wanita itu langsung terkejut saat Revaldo melingkar ‘kan lengan kokohnya di pinggang miliknya.
“Kau mau memberi tahuku sendiri atau aku harus paksa?” ancamnya dengan seringai jahilnya.
“What are you doing?!” Stefa mencoba melepaskan lengan Revaldo dari pinggangnya. Namun tak berhasil, pria itu justru malah semakin mengeratkan lengannya di pinggang Stefa yang terasa pas di lengannya seperti gurita yang selalu melilitkan tentakelnya pada apapun yang berada di dekatnya.
Stefa tersentak saat tubuhnya di dorong telentang di atas sofa yang ia duduki. Kepalanya bersandar pada lengan sofa itu, badannya terkurung di bawah kekuasaan tubuh besar berotot milik Revaldo. Pria itu mengurung Stefa tepat di bawah tubuhnya, dengan kedua tangan yang disimpan di kedua sisi kepala Stefa sebagai penopang berat tubuhnya sendiri agar tak terlalu menindih tubuh Stefa.
Kakinya mengunci kaki Stefa agar tak bisa bergerak dan berniat kabur darinya. Stefa menahan napasnya karena wajah Revaldo yang begitu dekat dengan wajahnya. Sampai napas hangat yang ke luar dari hidung Revaldo pun bisa ia rasakan.
“Minggir!” Stefa mendorong dada Revaldo dengan kedua tangannya dan berusaha untuk bangkit kembali duduk.
Pria itu malah menangkap kedua tangan Stefa dan menguncinya di samping kepala Stefa yang bersandar di lengan sofa. Pria itu menatapnya dengan tajam seolah sedang menelanjangi Stefa yang berada di bawahnya dan mencari sesuatu dari balik mata Stefa.
Stefa langsung menelan ludahnya kasar karena ditatap seperti itu.
“Kau memang cantik, ah tidak. Kau sangat cantik tapi kau sedikit liar. Tak bisa diatur, keras kepala, bermulut
tajam.” Papar Revaldo masih dengan menatap tajam Stefa di bawahnya.
meremang karenanya. Pria itu semakin mendekat ‘kan wajahnya ke wajah Stefa.
“Jawab saja pertanyaanku, kenapa kau ingin menjadi model padahal kau memiliki perkejaan tetap di London?!”
“Sudah kubilang itu bukan urusanmu, Revaldo. Kau tak punya hak bertanya tentang urusan pribadiku.” Entah kenapa Ken terasa sangat lama pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Untuk memanggil karyawannya saja pria paruh baya itu begitu lama, membiarkan Stefa terpojok ‘kan oleh Revaldo padahal pria itu bisa saja memanggil karyawannya melalui telepon atau interkom dan semacamnya.
“Jawab!” bentak Revaldo membuat Stefa terkesiap mendapat bentakan dari Revaldo.
“Aku hanya ingin menjalaninya saja, itu tawaran yang bagus dari Pamanku. Aku hanya ingin membuktikan pada orang-orang bahwa aku baik-baik saja meskipun mereka telah menyakitiku.”
“Kau ingin menunjuk ‘kan pada siapa?” desis Revaldo seraya menahan emosinya. Ia mengerti, sangat mengerti dengan maksud ucapan Stefa.
“Pada semua orang. Dan sekarang minggirlah, menjauh dari atas tubuhku! Aku sudah menjawab pertanyaanmu.” Stefa sekali lagi mendorong dada Revaldo untuk menjauh dari tubuhnya. Pria itu melepas ‘kan Stefa begitu saja. Stefa langsung bangkit dan menjauh dari sofa itu. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
Pada saat itulah Ken masuk ke ruangan itu dengan seorang wanita yang berumur sekitar 30 tahunan yang berjalan di belakang Ken.
“Kenapa kalian diam saja?” tanya Ken saat melihat kedua manusia itu hanya terdiam. Revaldo yang masih menahan amarahnya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Sementara Stefa langsung duduk di sofa lainnya, tak ingin berdekatan dengan Revaldo.
Ken tak menyadari situasi apa yang sedang terjadi di sana. Ia tak menyadari ketegangan antara Stefa dan juga Revaldo. Aura mendadak mencekam di antara Stefa dan juga Revaldo, seolah akan ada badai yang datang karena langit sudah menggelap.
“Stefa, dia salah satu karyawanku yang akan membantumu mempersiapkan diri di ruang ganti. Dia akan membimbingmu nantinya, kau bisa bekerja sama dengannya. Menanyakan hal apa saja yang harus kau lakukan dan hal apa saja yang tak kau mengerti. Dia akan membantumu.” Ken menunjuk wanita yang telah mengikutinya masuk ke dalam ruangan itu.
“Nah, sekarang kita bisa mulai.” Ken menggiring mereka semua untuk turun ke lantai bawah. Mereka memasuki satu buah ruangan yang ukurannya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Di dalam ruangan itu sudah ada sederet jenis pakaian wanita, dari mulai yang sangat sopan sampai ke pakaian yang sangat terbuka.
Di meja rias sudah tersedia berbagai jenis alat make up yang akan digunakan untuk merias wajah Stefa. Di ruangan itu juga sudah ada beberapa orang lainnya yang akan membantu me-make over penampilan Stefa untuk latihan pemotretan perdananya.
“Aku serahkan semuanya pada kalian.” Tukas Ken dan langsung mengajak Revaldo untuk segera ke luar dari ruangan itu dan hanya menyisakan Stefa dan beberapa orang di dalam sana.
***
1 jam sudah berlalu dan Stefa belum juga ke luar dari ruangan itu. Revaldo sudah dibuat kebosanan menunggu wanita itu tak kunjung ke luar juga membuat ia ingin mendobrak paksa pintu yang dikunci itu. Ken meninggal ‘kan Revaldo sendirian di sana, karena ia harus pergi ke perusahaan lainnya karena ada rapat yang tak bisa ia tinggalkan.
__ADS_1
Penantian satu jam yang terasa panjang itu pun akhirnya membuah ‘kan hasil. Pintu itu terbuka. Revaldo
langsung berdiri untuk menyambut siapa yang ke luar dari ruangan itu. Matanya tak bisa berfokus dengan apa yang ia lihat, wanita yang mengenakan pakaian seksi telah berdiri di ambang pintu. Wanita itu benar-benar terlihat... panas.
Baru saja Revaldo ingin menghampirinya, salah satu kru langsung menarik Stefa untuk segera masuk ke
studio pemotretan. Mau tak mau Revaldo harus mengurungkan niatnya dan kembali mengikuti ke mana perginya mereka.
Fotografer merasa puas dengan kemampuan Stefa. Ia tak perlu terlalu banyak mengarahkan gaya pada Stefa, karena wanita itu dengan lihai bisa mengatur gayanya sendiri hanya membutuh ‘kan sedikit arahan saja agar lebih sempurna lagi. Terlihat seperti seorang model yang sudah terbiasa berdiri di depan kamera. Decak kagum dari orang-orang membanjiri pendengaran Stefa.
“Bagus. Kita bisa melanjut ‘kannya lagi nanti. Semuanya sudah bekerja keras dengan baik.” Seru si fotografer itu. Untuk sesi pemotretan kali ini berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan semua orang dan tak perlu membutuh ‘kan waktu berjam-jam untuk satu sesi latihan pemotretan. Stefa memantau monitor yang menunjukkan hasil jepretan sang fotografer itu.
“Kau yakin belum pernah menjadi model?” celetuk fotografer itu.
“Tidak.” jawab singkat Stefa masih memperhati ‘kan hasil jepretan kamera.
“Tapi kau seperti seorang model profesional. Aku bahkan tak bisa mengelak bahwa kau memang terlihat seperti itu.” ucap fotografer itu lagi dan di balas senyum tipis Stefa.
Stefa kembali ke ruangan ganti. Seluruh staf membiarkan Stefa sendirian di ruangan itu, membiarkan wanita itu mengganti pakaiannya sendiri tanpa ada orang lain yang membantunya. Saat ini ia hampir telanjang bulat, ia hanya mengenakan celana dalam dan bersiap-siap untuk mengenakan bra miliknya.
Tiba-tiba tubuhnya di dorong ke dinding oleh seseorang dari belakang membuat tubuhnya menempel ke tembok seperti cicak, sebagian wajahnya menempel ke tembok. Ia lupa bahwa ia tak mengunci pintu ruangan itu yang menyebabkan seseorang menerobos masuk ke dalam.
“Kau membiar ‘kan orang lain melihat tubuh seksimu itu. Aku tak suka.” Suara yang terdengar serak dan parau menggema di telinga Stefa. Wanita itu bahkan tak bisa melihat siapa orang yang sudah lancang berbuat tak sopan seperti itu.
“Siapa kau?” desis Stefa.
Orang itu langsung membalikkan tubuh Stefa sekaligus membuatnya memekik terkejut. Matanya melotot saat melihat orang yang dengan lancangnya menerobos masuk.
“Apa yang kau lalukan?!” geram Stefa dengan menatap nyalang orang itu.
“Kau boleh tak memakai sehelai benang pun jika itu di depanku, tapi tidak di depan orang lain. Aku tak suka
jika kau menjadi model, tubuhmu akan jadi bahan tontonan semua orang.” Orang itu menggertakan giginya menahan amarah.
“Argh, lepaskan tanganku!” Stefa meringis kesakitan saat tangannya dicekal begitu kuat.
Tanpa aba-aba orang itu langsung ******* bibir Stefa denga kasar dan cepat. Menggigit bibir Stefa sedikit kencang membuat wanita itu mengerang menahan sakit di bibirnya. Lidah orang itu memaksa untuk menerobos masuk mencoba untuk membelit lidah Stefa dengan lidahnya.
Orang itu mengambil bra dari tangan Stefa dan melemparnya asal entah ke mana. Kedua tangan Stefa ia tarik ke atas membuat dua gundukan kenyal membusung menantang untuk segera disentuh olehnya. Ciuman itu turun ke leher membuat napas Stefa memburu dan terengah karenanya.
Orang itu benar-benar membuat Stefa merasa gila karena perbuatannya. Ciuman yang kasar dan panas, tubuhnya yang hampir telanjang sempurna di depan orang itu. Benar-benar di luar dugaannya sama sekali. Satu tangan orang itu meremas dua gundukan kenyal milik Stefa membuat ia melenguh mendesah. Itu di luar kendalinya.
Orang itu terlalu lihai membuatnya untuk mendesah seperti itu. Orang itu berhenti dan sedikit menjauh untuk
menatap wajah Stefa. Napasnya terengah-engah karena nafsu yang hampir membakar jiwanya.
“Kumohon jangan lagi seperti ini, aku tak suka, Stefa.” Mohon orang itu dengan menyatukan kening mereka. Stefa tak menjawab, ia hanya terdiam tak bergerak sama sekali. Tapi dadanya naik turun karena mengatur napas dan membiarkan oksigen masuk ke dalam paru-parunya.
Orang itu langsung berbalik dan meninggalkan Stefa sendirian yang sedang termenung. Ia langsung merosot ke bawah memeluk kedua lututnya. Tatapannya menerawang atas apa yang terjadi barusan padanya.
“Astaga. Apa yang aku lakukan dengannya? Pria mesum itu benar-benar membuatku hampir gila. Dan suaraku... Aku seperti wanita murahan dengan mengeluar ‘kan desahan seperti itu.” Gumam Stefa dan langsung berdiri untuk memakai pakaiannya kembali.
***
Revaldo mengantarkan Stefa kembali ke rumah keluarganya tanpa Ken. Pamannya masih sibuk dengan urusan pekerjaan jadi membiarkan mereka untuk pulang lebih dulu. Sampai tiba di pelataran rumah, mereka berdua masih saja terdiam tak ada yang membuka suara sampai pada akhirnya Stefa turun begitu saja tanpa sepatah kata pun. Untuk mengucap ‘kan terima kasih pun ia enggan.
Revaldo hanya terdiam membiarkan wanita itu turun tanpa sepatah kata. Ia memperhatikan Stefa yang melangkah masuk ke dalam rumah sampai punggung Stefa benar-benar tak terlihat lagi di matanya. Barulah, ia memutarkan mobilnya dan berbalik meninggal ‘kan rumah itu.
“Kau sudah pulang?” Charlote mendekati Stefa yang baru saja masuk.
“Iya, Tante.” Stefa langsung meletakkan tas yang ia bawa ke atas sofa. Bi Eiko langsung membawakan segelas air dingin untuk Stefa dan langsun ditenggak habis olehnya.
“Pamanmu ke mana? Kalian tidak pulang bersama?” tanya penasaran.
“Tidak. Paman bilang ia masih ada pekerjaan di kantornya.” Stefa meletakkan gelas kosong itu di atas meja.
Seharian ini badannya terasa lengket dan tidak nyaman. Stefa berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya. Sekitar 20 menitan Stefa ke luar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi dan handuk putih membungkus rambutnya yang basah.
Ia memeriksa handphone-nya namun tak ada pesan atau pun telepon yang masuk ke dalam handphone-nya. Diletak ‘kannya kembali handphone itu ke atas nakas samping ranjang miliknya. Setelah mengeringkan rambut, Stefa lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar sebelum jam makan malam tiba.
__ADS_1
Ia menarik selimut sampai sebatas pinggang untuk menutupi sebagian tubuhnya. Tak memerlukan waktu lama karena Stefa langsung terlelap tidur begitu saja. Tubuhnya tak terbiasa dengan aktivitas pemotretan seperti tadi siang. Meskipun pekerjaan menjadi model tidaklah terlalu sulit, karena ia tidak terbiasa malah membuat badannya terasa mudah lelah.