My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 70 Suspicious


__ADS_3

Minal Aidzin Waldaidzin, mohon maaf lahir dan bathin semuanya.. Semoga wabah virus corona ini cepat berlalu biar kita bisa berkumpul lagi dengan keluarga dan saudara-saudari kita tanpa resah dan takut tertular kena virus corona ini... 


Jangan lupa Like, Vote dan Komentarnya dikencengin kalau mau authornya sering-sering update di sini ya !!! Teruuuss yang dah pada dapet THR kumpulin baek2 uangnya buat beli cerita ini versi cetaknya, karena bentar lagi bakalan naik cetak.. 


Di Mangatoon, cerita ini bakalan up sampe ending tapi gak bakalan ada ekstra partnya. Kenapa kayak gitu? Supaya kalian lebih penasaran dengan cerita lengkapnya terus pada beli versi cetaknya deehhh... Hahahah (ketawa jahat)


***


            Kebahagiaan yang Stefa rasakan seolah hanya mampu bertahan dengan hitungan jari. Segala macam tingkah laku David memupuk kecurigaan Stefa yang kian hari semakin mencurigakan saja. Pria itu bersikap tidak seperti sebelumnya, segala macam kehangatan yang selalu pria itu berikan untuk Stefa seolah sirna begitu saja tergantikan dengan sikap dingin tercelanya. David hanya akan bersikap hangat kepada putri kecil mereka, mengabaikan Stefa di dekat mereka seolah ia tak pernah hadir di antara Alice dan David.


            Sikap dingin yang Stefa rasakan berlangsung setelah dua bulan kelahiran putri kecil mereka, dan sekarang. Usia putri kecil mereka sudah menginjak lima bulan lebih, jika dihitung-hitung, berarti David sudah berubah selama tiga bulan ke belakang. Awalnya sempat Stefa abaikan begitu saja, ia berpikir jika yang menyebabkan perubahan sikap David dikarenakan oleh pekerjaannya yang mungkin saja sedang tidak lancar.


            Rasa bersalah selalu menggelayuti hati Stefa jika memang itu dikarenakan kehadiran dirinya dan juga Alice.


Sehingga pria itu tidak bisa dengan leluasa melangkah pergi walaupun itu hanya untuk mengurus pekerjaannya. Suasana rumah kembali terasa dingin, David yang menjadi jarang berbicara pada Stefa, dan hanya bersikap seadanya saja. Stefa mengancam para pelayan dan penjaga yang ditugaskan oleh Ken di sana untuk tidak mengadu apa pun pada Ken maupun Charlote. Bukan hanya Stefa saja yang menyadari perubahan sikap David, buktinya para pelayan sering berdesas-desus di belakang mereka.


            Kecurigaan itu kian tumbuh dari hari ke hari. Di awali dengan Stefa yang menemukan sebuah pesan mencurigakan dari nomor yang tidak tersimpan di handphone milik David. Pesan-pesan aneh itu bisa saja terabaikan jika saja hanya satu kali atau paling banyak tiga kali Stefa mengetahuinya, tapi ini banyak sekali pesan dari nomor yang sama dengan isi yang sama mencurigakan. Mulai dari mengajak David bertemu di suatu tempat, mengajak makan malam bersama yang memang sudah dua kali David pergi dengan alasan yang sama untuk makan malam dengan seseorang yang ia sebut rekan bisnisnya, dan yang paling parah adalah orang itu meminta David untuk menjemputnya di sebuah hotel yang jaraknya sendiri tidak jauh dari rumah mereka.


            Rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan kini memuncak kembali memenuhi pikirannya selama berhari-hari, bahkan tidak bisa dikatakan berhari-hari, ini sudah lebih dari tiga bulan lamanya. Mungkinkah pria itu merasa bosan dengan dirinya? Atau mungkin merasa bahwa rasa tanggung jawab atas dirinya sudah lenyap tergantikan hanya dengan rasa tanggung jawab untuk putrinya saja? Atau, yang lebih parahnya lagi bahwa ada wanita lain di antara cinta yang baru saja mereka bina tak lama ini?


            Tidak. Stefa tidak akan membiarkan itu terjadi lagi dan kembali merusak kisah cintanya untuk kesekian kalinya dalam kehidupannya. Sudah cukup ia banyak berkorban dan merasakan sakit tak terperi itu. Tidak akan ia biarkan satu orang wanita pun untuk merebut cinta David darinya dan juga dari putri mereka, Alice. Biarkan saja ia menjadi egois untuk kali ini, David adalah miliknya, milik Alice, dan milik mereka berdua. Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat, atau bahkan lebih. Hanya untuk Stefa seorang.


            Pagi-pagi sekali, David mengepak beberapa potong pakaian yang biasanya pria itu pakai ke dalam koper berukuran sedang. Tentu saja itu memancing kecurigaan Stefa yang selama ini ia pendam sendirian yang mungkin saja tidak David rasakan atas kecurigaannya. Diam-diam Stefa mengecek handphone milik David, dan tebakannya benar. Ia menemukan pesan dari nomor yang sama dan meminta David untuk segera kembali ke London. Ada apa dengan London? Dan siapa orang yang selama ini menghubungi nomor David dengan tanpa nama itu?


            “Kau mau ke mana, Dave?” tanya Stefa pura-pura tidak mengetahui ke mana David akan pergi. Pria itu menoleh sebentar pada Stefa kemudian menyibukan diri kembali dengan pakaian serta barang yang akan ia bawa ke dalam koper.


            “Apa ada sesuatu yang mendesak, dan kenapa kau membawa koper, Dave?” tanyanya lagi untuk kedua kalinya.


           Selesai. Pria itu selesai dengan kesibukannya dan kali ini hanya menatap Stefa dengan wajah tak terbacanya, tetapi matanya melirik Alice yang sedang digendong oleh Stefa.


            “Aku harus pergi ke London.” Jawabnya tanpa peduli dengan perasaan Stefa.


            “Apa ada masalah di sana?”


            David tidak menjawab, ia mencium kening Alice yang sedang memainkan rambut Stefa dan membasahinya dengan air ludahnya sendiri. Detak jantung yang ia rasakan begitu berdebar kencang bahkan telinganya nyaris mendengar suara debaran jantungnya sendiri. Menunggu-nunggu jawaban pasti dari pertanyaannya.


            “Ya.”


            Deg!


            Jantung Stefa semakin berdebar dengan semakin kencang. Bukan jawaban itu yang membuat Stefa berbedar sekencang itu, melainkan jawaban tersirat yang ia tangkap dari jawaban David. Pria itu benar-benar akan menemui seseorang di London, orang yang sama yang telah mencoba merusak keharmonisan cinta mereka.

__ADS_1


            Stefa memejamkan matanya sesaat sebelum ia mencoba untuk bersikap tenang seperti biasanya.


            “Apa perusahaan baik-baik saja?”


            David melirik Stefa lagi, tetapi tak berniat untuk mengamini atau menyangkal pertanyaan Stefa.


            “Berapa lama kau di sana, Dave?” pancingnya lagi dan tidak mau menyerah.


            “Tidak pasti.” Singkat, padat, dan jelas.


            Baiklah. Stefa harus mengalah untuk sekarang. Membiarkan David untuk menemui orang itu di London seperti yang sudah mereka janjikan sesuai dengan balasan mengamini dari David. Ia ingin tahu, seberapa jauh David akan melakukan semua itu di belakangnya. Biarkan ia bersabar sedikit lagi, setelahnya ia akan melakukan hal yang jauh membuat David akan menyesalinya bahkan seumur hidup pun akan terasa kurang.


            “Baiklah. Kau memerlukan yang lain, biar aku yang menyiapkannya?” Stefa menurunkan Alice ke bawah, membiarkan putri kecil menggemaskan mereka bermain di lantai dengan mainannya.


            “Tidak perlu! Aku sudah memasukkan semua yang kubutuhkan. Aku pergi.” Tanpa mau menunggu jawaban dari Stefa, pria itu melangkah pergi begitu saja bahkan tidak mengajak Alice berbicara untuk beberapa menit saja.


            Suara dentuman pintu yang ditutup menyentak kesadaran Stefa, mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Rasa aliran panas yang melewati pipinya ia usap dengan tangannya, memangku Alice kembali dan menyusul David keluar. Mengantar David sampai teras depan, melihat pria itu sampai lenyap dari pandangan matanya tanpa menoleh kembali ke belakang memastikan apakah Stefa ataupun Alice baik-baik saja.


            “Mom—myhhh...” panggil Alice seraya memakan jari-jemarinya sendiri. Air ludahnya membasahi


jari-jemari mungil itu, tetapi mata bulat bersih polosnya menatap Stefa seolah kebingungan melihat Ibunya memasang raut wajah seperti itu. Stefa terkekeh melihatnya. Syukurlah. Ia masih bisa tertawa di sela-sela rasa sakit dan kecewanya.


            Alice tertawa riang seolah mengamini pertanyaan Stefa. Alice menepuk-nepukkan kedua tangannya dengan gembira, seolah ia sudah tidak sabar untuk diberi makan oleh Ibunya.


            Stefa mencium gemas pipi penuh itu sekali lagi. “Okay. Ayo, kita makan.”


***


            David tiba di bandara dan mengetik sesuatu dan mengirimnya pada seseorang yang telah menunggunya di bandara, bertanya apakah semuanya sudah selesai atau belum. Kakinya melangkah pasti semakin masuk ke dalam, 10 menit lagi pesawat yang akan membawanya kembali ke London akan lepas landas dan David segera mempercepat langkahnya disusul oleh orang yang tadi sempat menerima pesan dari David.


            Seperti biasa, kelas satu yang menjadi pilihannya. Seharusnya masih ada penumpang lain yang menaiki kelas satu itu, sialnya. David adalah orang yang memiliki banyak uang sehingga ia membeli seluruh tiket pesawat kelas satu agar di dalam sana hanya ada dirinya dan orang itu saja. Mereka duduk bersebelahan menandakan bahwa sebentar lagi akan ada pembahasan yang sangat penting di antara mereka.


            “Bagaimana persiapannya?” suara dingin tetapi penuh nada perintah itu memecah keheningan lebih dulu.


            Orang itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya sebelum menjawab. “Semuanya berjalan dengan lancar, tinggal sentuhan akhir sehingga semuanya benar-benar siap. Kau hanya tinggal menelepon siapa-siapa saja yang akan datang. Saudara-saudaramu akan datang ke sana?” David mengangguk mengerti dengan kedua tangan membaca sesuatu dari balik lembaran kertas yang tidak terlalu tebal itu.


            “Tentu saja mereka akan datang sesuai dengan rencana awal. Mereka harus mengenal siapa kekasihku. Tidurlah Cait, perjalanan masih panjang!”


            David meletakkan kembali lembaran kertas itu dan melirik ke samping.


            “Kau yakin tidak ingin mengumumkan hubungan ini ke publik? Astaga. Yang benar saja. Ini seperti sedang membohongi masyarakat. Hubungan ini pasti akan sangat heboh kalau masyarakat tahu hubungan ini.” orang itu menerawang membayangkan kehebohan yang akan terjadi akibat tereksposnya hubungan pria yang berada di sampingnya itu.

__ADS_1


            “Belum waktunya. Hubungan ini akan diekspos setelah semua rencana awal kita berjalan dengan lancar. Kau pikir aku bodoh dengan membiarkan hubungan ini terus saja tertutupi? Bahkan selama ini aku ingin sekali menggembar-gemborkan ke seluruh dunia bahwa aku memiliki kekasih yang sangat seksi.”


            Orang itu memutar bola matanya merasa malas mendengar kepercayaan diri David yang tinggi itu.


            “Hanya karena seksi? Demi Tuhan, David. Kau sama saja dengan pria lainnya. Aku yakin, kau akan kena kutukan kenarsisan oleh Dewa. Huh.” Orang itu tersenyum mengejek seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


            David terkekeh percaya diri. “Terserah kau saja. Tapi pada kenyataannya aku memiliki kekasih yang seksi.”


David mencubit gemas pipi orang itu.


            “Sakit, bodoh!” pekik orang itu seraya menggeplak tangan David untuk segera menjauh dari dirinya.


            “Bagaimana denganmu, Cait?” tanya David kemudian setelah mereka berhenti untuk saling menggoda satu sama lain.


            “Bagaimana apanya? Kalau kau berpikir aku akan terluka karena ini, jelas itu salah. Aku bahagia, dan aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Bukankah ini yang aku inginkan selama ini?!”


            David mengacak-acak rambut orang itu dengan gemas.


            Perjalanan yang cukup panjang itu memang sangat memakan waktu. David yang ditinggal tidur oleh orang di sampingnya hanya mampu memandangi awan-awan dari balik kaca di sampingnya. Langit begitu cerah, tetapi hatinya merasa gelisah. Ia memikirkan apakah yang ia lakukan belakangan ini adalah suatu kebenaran atau apa, karena pada kenyataannya hatinya begitu terasa tidak rela melakukan semua ini.


            Suasana hening dan sepi itu semakin membuat David merasa bersalah, terutama meninggalkan putri kecilnya. Ia jadi tidak bisa lagi memperhatikan tumbuh kembang putri kecilnya itu dari jarak dekat. Tidak bisa menemaninya bermain dan membuat kamar mereka berantakan seperti rutinitasnya. Oh Tuhan. Putri kecilnya pasti mencari-cari ke mana ia pergi karena seharian ini tak ada di sampingnya. Pasti Alice akan banyak merengek karena tak lagi melihat wajah David.


            Helaan napasnya terasa berat seolah ada yang mengganjal di saluran pernapasannya. Raut wajahnya tidak pasti, kedua tangannya sudah berulang kali mengusap gusar wajahnya. Tidak bisa. Ia tidak bisa kalah dan menghubungi Stefa hanya untuk menanyakan kabar Alice. Semuanya akan berantakan, rencana yang selama ini telah ia susun dan sembunyikan dari Stefa akan berantakan jika tangannya dengan segera menekan nomor handphone milik Stefa.


            “Shit! Perjalanan yang memuakkan.” Umpatnya pelan seraya membantingkan punggungnya ke belakang. Matanya coba ia pejamkan tetapi malah kembali terbuka karena teringat dengan putri kecilnya.


            “Calm down, David!” gumam orang di sebelah David.


            David melirik ke samping memastikan bahwa ia tidak salah dengar. “Caitlin, kau bangun?”


            Orang yang duduk di samping David rupanya adalah Caitlin, mantan tunangan yang dijodohkan sejak bayi dengannya. Mata itu terbuka kemudian menatap David dengan senyuman penuh kemenangan.


            “Sudah kukatakan, kau tidak akan sanggup meninggalkan Putrimu itu.”


            David menghela napas beratnya. “Yeah, kau benar. Dan sekarang aku menyesal. Apakah kita perlu terjun sekarang atau meminta pilot memutar arah?!” candanya basi.


            Caitlin tertawa sumbang mendengarnya, karena candaan yang David lontarkan jelas tidak lucu. Hell! Yang benar saja. Memutar balik katanya? Atau terjun di sini? Dari ketinggian yang tak bisa dihitung dengan jari-jarinya ini? Pria itu gila.


            “Kau pikir aku akan melakukannya, begitu? Tidak, David. Aku tidak bisa mengacaukan apa yang sudah aku lakukan menjadi berantakan. Menjadi orang yang membuat skandal denganmu saja rasanya aku tidak ingin melakukannya jika bukan karena kau yang memaksaku untuk tiba-tiba datang ke Jepang dan membuatku tinggal lebih lama. Dan membohongi istrimu itu. Ah tidak, ralat. Calon istrimu itu. Jangan berbuat konyol!” deliknya tak suka.


            “Lalu aku harus bagaimana?” pria itu menjambak rambutnya sendiri dengan gemas karena tidak bisa menghubungi putri kecilnya itu. Yang dikatakan oleh Caitlin adalah kebenaran. Jika ia kalah dalam permainannya sendiri, maka segala macam kebohongan yang ia tutupi selama tiga bulan terakhir ini akan sia-sia saja.

__ADS_1


__ADS_2