My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 21 Sarapan Bersama


__ADS_3

David dan Stefa berjalan ke arah restaurant dan


disana sudah ada Judith dan sosok pria tampan. Judith yang memang duduknya


menghadap ke arah di mana Stefa dan David berjalan, mengangkat tangannya dan melambaikan


tangan serta berseru.


“Stefa!” seru Judtih cukup keras.


Stefa melambaikan tangannya sebagai bentuk pembalasan seruan dari sekretarisnya itu. Revaldo


langsung membalikkan posisi duduknya, dan segera berdiri serta senyum hangatnya


menyambut kedua orang yang baru saja turun.


“Selamat pagi Mr. David, Stefa?!” sapa Revaldo setelah David dan Stefa sudah berada di


hadapannya.


“Selamat pagi, sir!.” Jawab Stefa dengan senyum simpulnya. Berbeda dengan David yang menyambut sapaan Revaldo tak kalah hangatnya. Senyumnya merekah dan terlihat lebih cerah seolah senyumannya akan


menyaingi sinar matahari di pagi hari.


“Mari, silahkan duduk!” Revaldo menuntun keduanya untuk segera duduk bergabung bersamanya dan juga


Judith.


Semuanya kembali duduk, Stefa memilih duduk bersebelahan dengan Judith dan membiarkan bos besarnya


duduk di depannya. Posisi duduk mereka saat ini seperti sedang mengikuti acara


kencan buta yang sering dilakukan rekan kerja Stefa dan juga Judith di


kantornya tiap akhir pekan.


Dua pasang pria tampan dan kaya serta dua pasang wanita cantik saling duduk berhadap-hadapan membuat


orang disekitarnya tampak memperhatikan mereka dan saling berbisik. Entah apa


yang sedang mereka gosipkan tentang keempat manusia itu saat ini.


“Maaf aku ikut bergabung sarapan bersama kalian tanpa meminta ijin sebelumnya. Silahkan


memesan makanannya terlebih dahulu!” Revaldo mempersilahkan Judith, Stefa dan


David untuk memesan menu sarapan mereka.


“Oh itu tidak masalah, aku senang anda bisa ikut bergabung sarapan bersama. Dan panggil saja aku


David! Aku tidak suka berbicara formal seperti ini.” jawab David dan diakhiri


dengan kekehannya. Dan Revaldo membalasnya dengan kekehan kembali.


Mereka mulai memesan menu sarapan pagi itu dan tak lama pesanan mereka pun datang di atas meja


mereka. Mereka mulai menikmati sarapan mereka dan keheningan melanda mereka


tanpa ada satu orang pun yang membuka suara untuk memulai sebuah obrolan.


Setelah acara santap menyantap menu sarapan itu, Stefa membuka suaranya untuk memulai sebuah


obrolan.


“Mr. Revaldo, apakah hari ini anda akan ikut bersama kami ke lokasi proyek?”


“Oh astaga, aku hampir saja lupa tentang ini. Kita tidak perlu ke lokasi proyek setiap hari mulai

__ADS_1


sekarang, kita akan lebih sering membahas urusan kerja sama ini di kantor saja.


Bagaimana menurutmu, David?”


“Aku setuju. Itu lebih baik untuk kita membahas masalah kerja sama ini. Mungkin kita bisa datang


kesana seminggu 2 kali saja. Bagaimana?”


Revaldo manggut-manggut menyetujui ucapan David. Memang sebenarnya mereka tidak harus tiap hari kesana


untuk mengecek secara langsung. Semua sudah diserahkan kepada ahlinya, dan


mereka hanya perlu menerima laporan dari orang yang sudah ditunjuk langsung di lapangan


serta membahas segala sesuatunya di kantor.


“Oh satu lagi. Besok malam aku akan mengadakan pesta penyambutan untukmu, David!” ucap Revaldo


sambil menatap David yang duduk di sampingnya.


“Penyambutan untukku? Kau terlalu berlebihan, meskipun kita bekerja sama tapi kau tidak perlu


mengadakan acara seperti itu.”


“Tidak apa-apa. Aku senang jika acara ini akan terlaksana dengan mewah dan meriah.”


“Wah benarkah, Mr. Revaldo? Dimana acara itu akan berlangsung?” tanya Judith antusias setelah


mendengar bahwa besok akan diadakan pesta penyambutan. Matanya menunjukan binar


bahagia, ia sudah lama tidak datang menghadiri sebuah undangan pesta. Apalagi


sekarang dirinya dan Stefa sedang di negara orang, jadi sudah di pastikan bahwa


mereka sudah cukup lama tidak merasakan yang namanya datang ke acara pesta


“Acaranya akan di adakan di Hotel ini. Bagaimana?”


Mendengar acara itu akan di adakan di Hotel yang saat ini ditempati olehnya, Judith semakin


terlihat berbinar kesenangan. Wajah bahagia dan antusiasnya tidak dapat di


tutup-tutupi.


“Kita akan mengenakan pakaian terbaik kita, Stefa. Kau harus dandan yang cantik, siapa tahu kau bisa


menemukan pasanganmu di pesta itu nanti!” Judith sedikit berbisik di telinga


Stefa dan di akhiri dengan cengiran.


“Aku akan berdandan maksimal di acara itu, tapi untuk mencari pasangan aku rasa sebaiknya kau saja


dulu. Aku tidak ingin kembali membawamu ke London dengan status jomblomu yang


tidak jelas itu.” Stefa tak mau kalah membalas godaan Judith dan di balas


dengan cebikkan Judith.


Di saat kedua wanita itu sedang sibuk dengan kegiatan saling bisik membisikkan sesuatu, tatapan


David dan Revaldo tak bisa lepas untuk tidak menatap Stefa. Menurut Revaldo


wanita yang ada di depannya itu terlihat sangat cantik dan mempesona apalagi


kalau sudah melihat Stefa tersenyum.


Namun sayang, senyuman yang Revaldo sukai sangat sulit sekali ia dapatkan. Stefa yang memang sudah

__ADS_1


berubah itu sangat sulit untuk menyunggingkan senyum di bibirnya. David


menyadari bahwa Revaldo sedari tadi tak henti-hentinya menatap Stefa sama


seperti dirinya yang sedari tadi memang ikut menatap dan memperhatikan Stefa.


Stefa menyadari kedua pria tampan dan kaya itu tengah memperhatikannya sedari tadi, itulah kenapa dia


enggan melirik kedua pria itu. Ia lebih memilih untuk meladeni setiap ucapan


yang sekretarisnya itu ucapkan.


Merasa bosan dan jengah di tatap seperti itu, Stefa langsung berdiri dan pamit untuk pergi ke toilet


untuk merapihkan penampilannya. Stefa buru-buru bangkit dari posisi duduknya


dan segera melesat dari hadapan kedua pria tertampan itu.


Setibanya di toilet khusus untuk wanita Stefa segera membasuh wajahnya.


“Kenapa mereka menatapku seperti itu? Membuatku tidak nyaman saja. Aiish, ini menyebalkan. Oh


Tuhan, kesialan macam apa ini?! Aku merasa sangat tidak beruntung hari ini.”


gerutu Stefa setelah selesai membasuh wajahnya.


Dirasa cukup untuk menghindar dari tatapan kedua pria tertampan itu, Stefa kembali untuk bergabung


bersama mereka disana.


“Kau sudah kembali?!” tanya Judith setelah Stefa berhasil kembali duduk di sampingnya.


“Hmm.”  Jawab Stefa dan mendudukan kembali pantatnya di kursi yang sebelumnya ia duduki.


“Nona-nona, bukankah seharusnya kalian melakukan perawatan sebelum pesta berlangsung?!” saran


Revaldo setelah Stefa kembali duduk.


“Oh, benar. Kita harus melakukan perawatan, Stefa. Ini akan menyenangkan!” seru Judith.


Stefa hanya tersenyum, bahkan senyumannya nyaris tak terlihat sama sekali. Hanya orang yang


memperhatikannya secara seksama baru akan menyadari bahwa Stefa baru saja


tersenyum.


“Baiklah. Semoga proses perawatan kalian menyenangkan!” ucap Revaldo lagi dengan menyungingkan senyuman


hangatnya.


Judith menyetujui semua ucapan Revaldo. Bahkan dia sudah berencana untuk membeli gaun untuk menghadiri


pesta esok hari. Menurut Stefa, mereka tidak perlu membeli lagi pakaian untuk


menghadiri pesta itu.


Bahkan gaun-gaun yang sempat di beli Stefa saat berbelanja dan menghamburkan uangnya di salah satu


mall di Jakarta, belum ada yang tersentuh sama sekali. Masih tersimpan rapih di


dalam lemari pakaiannya.


“Kau tak ingin membeli gaun lagi, Stefa?” tanya Judith.


“Tidak. Kau saja jika kau mau! Gaun-gaunku belum tersentuh sama sekali.” Jawab Stefa tanpa melirik si


lawan bicara.

__ADS_1


“Baiklah, baiklah. Terserah kau saja!” jawab Judith malas.


__ADS_2