
Setelah tiba di London, Brianna meminta Stefa untuk mengambil satu hari untuk memulihkan seluruh energi yang sudah terkuras di Paris sebelum kembali masuk ke pekerjaan intinya itu. Stefa hanya bisa mematuhi setiap perintah yang Brianna berikan padanya selama itu tidak berlebihan.
Satu hari masa pemulihan sudah berakhir, dan di sinilah ia berada. Gedung pencakar langit The Fritz Group.
Gedung yang menjadi tempat ia bekerja dan berfokus pada pekerjaan intinya. Beberapa wartawan sudah mengumpul di depan Lobby membuat Stefa kesulitan untuk menerobos masuk ke dalam.
Bersyukur, beberapa security bisa di andalkan dan mereka menjalankan tugasnya dengan benar. Menghalau wartawan yang mencoba untuk memaksa menerjang Stefa dan menodongnya dengan seribu pertanyaan mengenai karir yang baru ia geluti sekitar satu minggu lebih itu.
Suara bisik-bisik mulai memenuhi pendengaran Stefa, ada yang memuji tentang kesuksesannya, dan kebanyakan adalah cibiran para kaum iri. Mereka berkata bahwa Stefa tak puas dengan karir yang selama ini menjadi pekerjaan utamanya. Menggantungkan hidupnya dengan atas nama sebuah keluarga.
Tidak perlu dijelaskan lagi, yang mereka maksud adalah hubungannya dengan Ken. Pria yang sudah menggelar acara konferensi pers dan menjelaskan bahwa keponakannya itu akan masuk ke dunia permodelan. Tentu saja Stefa akan mengabaikan cibiran kaum iri itu dengan mudah, selama mereka tak berbuat nekad dan berlebihan.
Tak sedikit pula Stefa mendengar orang-orang kaum iri itu mengatakan bahwa Stefa mencoba menyaingi Deborah selaku perusak hubungan orang lain dan si model terkenal itu. Cih. Mereka tidak tahu apa-apa tetapi berani menghakimi orang begitu saja, bahkan mereka tidak tahu resiko apa saja yang Stefa hadapi.
Mereka hanya akan mempercayai apa yang mereka lihat dan dengar sepintas tanpa perduli fakta yang sebenarnya. Mereka tidak akan tahu perjuangan Stefa sampai saat ini seperti apa. Mereka hanya melihat Stefa yang sekarang, seorang pekerja kantoran sekaligus seorang model yang baru terjun hanya dalam hitungan hari saja. Astaga. Itu membuat Stefa lelah sendiri jika semua cibiran orang-orang kaum iri ia masukkan ke dalam telinga.
“Selamat datang kembali, Ms. Stefa. Kudengar Anda menjadi seorang model di bawah naungan perusahaan Paman, Anda. Itu sangat keren.” Sambutan dari karyawan satu divisinya menyambut Stefa saat ia membuka pintu ruangan divisi tersebut.
Berbeda dengan orang-orang yang ada di Lobby yang kebanyakannya hanya mencibir. Di bagian ini, orang-orangnya malah menyambutnya dengan hangat. Ya meskipun ada beberapa juga yang tak memberi respon baik. Setidaknya itu mengurangi pemandangan yang tak sedap di pagi hari.
“Terima kasih, semuanya. Kalian tak perlu repot-repot seperti ini.” balas Stefa dengan sedikit menyunggingkan senyumannya. Hanya sedikit.
Ruangan itu dihias dengan spanduk ucapan selamat atas keberhasilan Stefa di dunia hiburan, dan ucapan selamat datang. Beberapa balon juga turut serta memenuhi dinding ruangan itu. Salah satu karyawan memberikan kue dengan sebuah lilin yang sudah menyala ke hadapan Stefa.
“Silahkan tiup lilinnya, Miss! Dan jangan lupa ucapkan harapan dan doa atas karir dan keberhasilan Anda.” Stefa langsung menyatukan kedua tangannya dan memanjatkan doa kepada Tuhan sebelum ia meniup lilin itu.
Mereka bersorak gembira saat api lilin itu telah ditiup. Mata Stefa mencari sosok seorang Judith yang tak turut menyambutnya seperti yang lain.
“Dimana sekretarisku?” tanyanya pada salah satu karyawan yang masih berada di sana.
“Oh, itu. Sekretaris Anda tadi pagi sekali sudah datang, tapi tak lama ia kembali pergi meninggalkan kantor.” Jawab karyawan itu.
Stefa hanya mengangguk dan membiarkan orang-orang mulai kembali bekerja. Stefa tak mengambil kue itu dan membiarkan para bawahannya menikmatinya sendiri. Mungkin ia harus mengadakan acara makan malam bersama untuk membahagiakan para bawahannya karena telah bekerja keras selama ini dan menyambutnya. Pikirnya.
Stefa masuk ke dalam ruangan andalannya. Ruangan kerja pribadinya tertata rapi seperti biasanya. Rupanya Judith tetap menjaga kerapihan dan kebersihan ruangan kerja milik Stefa meskipun ia tak ada di sana sama sekali.
“Kemana perginya dia?” gumam Stefa saat menutup pintu ruangannya. Kemudian mengirimkan pesan pada Judith menanyakan tentang keberadaannya.
Stefa langsung membuka satu persatu map yang sudah disimpan di atas meja kerjanya sembari menunggu balasan pesan dari Judith. Matahari sudah tepat berada di puncaknya, namun Stefa masih belum mendapatkan balasan apapun mengenai Judith.
Ia khawatir akan keberadaan sekretarisnya, takut-takut ada hal buruk yang terjadi pada sekretarisnya itu. Melirik jam di tangan yang menunjukkan sudah jam makan siang, Stefa terpaksa meninggalkan ruangan itu sendirian tanpa Judith yang menemaninya.
Ia turun ke lantai bawah di mana kantin para karyawan berada. Tak seperti kantin-kantin perusahaan lainnya. Di gedung pencakar langit itu, kantin di sana terlihat seperti restaurant mewah. Suasana yang nyaman, lantai yang selalu terlihat bersih. Bahkan untuk debu pun tak berani menempel di lantai itu.
Berbagai jenis makanan yang lezat dikerjakan oleh para koki khusus yang dipilih langsung oleh David. Karyawan hanya tinggal mengambil menu makanan itu dan membayarnya nanti. Tak perlu mengantri untuk memesan makanan seperti di kantin perusahaan lainnya.
Itulah mengapa para karyawan betah berlama-lama untuk tinggal berada di dalam kantin. Mereka rela menghabiskan waktu istirahat dan jam makan siangnya lebih lama di dalam kantin. Perusahaan itu juga menyediakan buah-buahan dan jus gratis untuk para karyawannya.
Mereka hanya perlu membayar tagihan makanan lainnya saja. Oh, itu adalah surgawinya para karyawan. Kantin karyawan adalah surganya para karyawan karena mampu membantu mereka menghemat saat pertengahan bulan menuju akhir bulan karena ada beberapa menu lainnya yang turut di gratiskan.
Stefa duduk sendirian di salah satu meja di pojokkan belakang. Ia tak ingin menjadi sorotan banyak orang ketika sedang menyantap makanannya dan mulai bergosip kembali mengenainya. Sudah hampir setengahnya makanan itu habis sebelum seseorang menduduki kursi di depannya.
“Wow, seorang model baru rupanya bisa makan di sini.” Suara itu terdengar tidak bersahabat sama sekali. Nada sinis dan sindiran yang justru lebih mendominasi.
__ADS_1
Stefa tak mengacuhkan orang itu. Ia tetap menikmati makanannya yang sebelumnya sempat
melirik orang itu sekilas.
“Setelah menjadi seorang model, kau menjadi sombong rupanya.” Celetuk orang itu lagi
yang kali ini membuat Stefa harus memberhentikan kunyahannya. Ia mengambil jus lemon di depannya kemudian memandang orang itu remeh.
“Sombong atau tidaknya itu tergantung siapa yang melihat dan bagaimana cara pandangnya.
Kurasa di negara ini semua orang berhak berpendapat, begitu juga dengan Anda.” Stefa tak kalah sinisnya saat mengatakan itu.
“Well, well, well. Jadi setelah menjadi seorang wanita murahan, penggoda, kini kau beralih menjadi seorang model. Apa kau sudah mendapatkan tawaran untuk naik ke ranjang salah satu model terkenal lainnya dan menjadikanmu wanita simpanannya?!” Sungguh. Ucapan itu kembali menyentil ego Stefa. Ia tak habis pikir dengan orang yang berada di depannya ini.
Setelah menganggapnya sebagai wanita murahan dan penggoda, sekarang ia di cap sebagai wanita simpanan. Astaga. Tidakkah itu begitu keterlaluan untuk seukuran orang yang tak pernah menjalin hubungan dan tak terlalu dekat?! Ya meskipun beberapa kondisi pernah membuat mereka terlihat dekat.
“Uhm, simpanan ya?!” Stefa tampak berpikir.
“Sebenarnya aku yang sedang mencari simpanan, sih. Tapi ya Anda tahu sendiri, saya baru saja naik menjadi seorang model. Dan sayangnya dugaan Anda kurang tepat kali ini. Karena sampai saat ini belum ada model terkenal atau manusia lainnya yang menawari saya menjadi simpanannya. Apakah Anda tertarik?” Stefa melantunkan sederet kalimat panjangnya yang membuat orang di depannya menggeram dan mengepalkan tangan.
Stefa dibuat terkekeh melihatnya. Mungkin maksud orang itu adalah untuk membuatnya kesal yang nantinya berujung pada mempermalukan diri Stefa sendiri. Tapi sayangnya, setelah sekian kejadian kesakitan yang menimpanya. Stefa lebih mampu mengendalikan emosinya. Stefa membalikan keadaan. Ia yang harus menjadinya korban kini malah membuat tersangka utama menjadi korban kelakuannya sendiri.
Lagipula, untuk apa orang itu berada di kantin karyawan. Memang pada dasarnya sah-sah saja orang itu datang, hanya saja tak seperti biasanya. Orang itu akan pergi setiap jam makan siang dan memasuki restaurant mahal hanya untuk sekedar menyantap menu makan siangnya.
Bukannya saling menyapa, memberikan dukungan, atau lebih singkatnya mengucapkan selamat
atas kedatangannya kembali dan karir barunya. Orang itu malah datang untuk membuat masalah dengannya. Nafsu makan Stefa hilang begitu saja. Padahal niatnya adalah untuk mencuri makan sepuasnya mumpung tidak ada Brianna yang mengawasinya.
“Lantas, kau tertarik untuk menjadi wanita simpananku?” tawarnya dengan tersenyum miring.
“Jangan khawatir, saya akan memikirkan tawaran Anda jika saya benar-benar tidak mendapatkan tawaran dari orang lain.”
“Gosh! Perutku mendadak kenyang padahal makanan di piring belum juga habis.” Gerutu Stefa mengabaikan orang itu begitu saja lantas berdiri dan meraih handphone-nya di atas meja.
“Kalau begitu saya permisi, Mr. David.” Stefa benar-benar meninggalkan David sendirian di dalam kantin. Sebenarnya tidak sendirian. Hanya saja Stefa membiarkan orang itu duduk sendirian di meja makan itu tanpa dirinya.
Orang-orang yang berada di sana menatap David heran yang sesekali menatap kepergian Stefa
dari kantin karyawan. Mereka buru-buru memalingkan pandangan mereka setelah David menatap mereka satu persatu dengan tajam.
David bangkit dan pergi meninggalkan kantin itu. Ia menyesal telah memutuskan untuk
mengikuti Stefa ke tempat itu yang malah membuatnya harus menahan amarah yang tak tersalurkan itu.
“Ada apa dengan, Mr. David? Mereka memiliki hubungan apa ya?” bisik salah satu karyawan.
“Sstt!! Kau jangan membicarakan mereka dan berkata sembarangan, kau tak ingin nasib pekerjaanmu hilang begitu saja ‘kan?!” rekannya yang lain mencoba untuk memperingati orang itu agar tak berkata sembarangan.
***
“Oh, kau sudah kembali?” sapa Stefa saat melihat Judith sudah duduk di balik meja kerjanya. Judith langsung berdiri dan menghampiri Stefa dengan raut wajah yang.... muram.
“Maaf tadi saya tidak sempat meminta izin dan tak memberikan kabar pada Anda. Saya ada urusan yang tak bisa saya tinggalkan.” Jelasnya dengan sikap formal.
__ADS_1
Stefa mengerutkan keningnya dengan sikap formal Judith. Melihat dari mimik wajahnya, Stefa yakin bahwa Judith sedang menutupi sesuatu hal darinya.
“Tak apa. Dan jangan bersikap formal padaku, aku masih rekan kerjamu juga!” Judith menepiskan senyumannya yang telihat terpaksa itu.
“Kau bisa datang ke ruanganku setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu barusan!” Stefa langsung berbalik dan meninggalkan Judith.
Selang setengah jam kemudian Judith mengetuk pintu ruangan Stefa dan segera masuk setelah mendapat izin dari si pemilik ruangan itu. Judith menyerahkan laporan terbaru mengenai kerja sama dengan perusahaan Revaldo yang berada di Indonesia. Ia mendapatkan laporan langsung dari sekretaris Revaldo.
Stefa menerima laporan itu dan membacanya dengan teliti. Membaca setiap angka itu dengan teliti, menelaah setiap kata yang tersusun rapih menjadi gabungan kalimat. Mimik wajah Stefa berubah-ubah sesaat saat tangannya bergerak membuka tiap lembar laporan itu.
“Kau yakin laporan ini sudah benar semua?” tanya Stefa dengan nada tegasnya tanpa mengalihkan matanya dari laporan itu.
“Aku sudah memeriksa dan laporan itu sudah benar. Apa kau menemukan sesuatu yang salah?” tanya Judith hati-hati.
Stefa mengangguk kemudian menutup laporan itu. “Ada beberapa kalimat yang terlihat ambigu di sana, angka-angka nominal itu pun ada yang salah. Hubungi pihak Indonesia untuk mengirim ulang laporan yang benar setelah mereka memeriksa ulang laporan itu!” seperti sebuah ultimatum bagi Judith, tak perlu mendengar perintah untuk kesekian kalinya lagi. Wanita itu langsung mengambil kembali laporan yang sudah Stefa baca.
Judith bergerak dengan cepat menuju meja kerjanya dan menelepon pihak Indonesia mengenai laporan yang mereka kirimkan ternyata ada kesalahan. Stefa kali ini meloloskan Judith begitu saja atas keteledorannya karena tak memeriksa laporan itu dengan baik dan lebih teliti lagi.
“Aku sudah menghubungi pihak Indoenesia.” Ucap Judith melapor kembali dan Stefa mengangguk.
“Duduklah!” titahnya seraya ia menunjuk sofa di tengah ruangan itu. Judith sedikit bingung sesaat, tapi
setelahnya ia juga langsung mengikuti titahan Stefa.
Stefa mengambil posisi duduk tepat di samping Judith yang sedang menatap kosong. Seolah raganya tak memiliki jiwa lagi. Entah kemana jiwa Judith pergi saat ini, tatapannya benar-benar kosong.
Sentuhan hangat di lengannya menarik kesadaran Judith kembali dan memandang sebuah tangan tengah menyentung lengannya dengan tatapan mata yang khawatir. Judith tersenyum seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
“Kau bisa katakan apa yang kau sedang alami, aku tak tahu apa yang terjadi padamu!” Stefa mulai membuka pembicaraan mereka untuk mengorek sedikit informasi mengenai sekretarisnya itu.
“Aku tidak apa-apa. Kau jangan khawatir!” Judith tersenyum, namun tidak dengan matanya yang menyiratkan kekecewaan, marah, sedih dan juga bingung.
“Kau bisa mempercayaiku, bukan?! Katakan apapun yang saat ini tengah menyita pikiranmu.”
Judith menarik napasnya begitu panjang kemudian menghembuskannya dengan berat. Ia mulai bercerita mengenai masalah yang telah menimpanya. Dan itu menjelaskan mengapa ia tak hadir untuk menyambut Stefa di kantor saat Stefa kembali dari Paris. Mendengar cerita Judith, Stefa turut merasakan hal yang sama dengannya.
Marah, kecewa, sedih dan juga bingung. Ia kesal dengan sikap seorang Cordy Black yang tak memiliki rasa tanggung jawab. Ya, Cordy Balck. Pria itu telah membuat sekretarisnya mengandung benih hasil percintaan mereka beberapa waktu lalu saat mereka masih sering bertemu di Indonesia.
“Kalian tak menggungkan pengaman?” tanya Stefa.
Judith menggeleng lemah. “Dia bilang, dia tak suka mengenakan pengaman. Itu membuat aktivitas kami terlihat tak nyaman. Aku lupa tidak meminum pilku juga. Astaga. Ini benar-benar membuatku gila.” Judith mengerang frustasi.
Stefa memeluk Judith dengan mengusap pelan punggung wanita itu.
“Dia benar-benar tak ingin bertanggung jawab?” tanyanya lagi.
“Dia hanya mengatakan bahwa dia akan memikirkannya dulu.” Stefa langsung berdiri dan berkacak pinggang, mukanya langsung memerah menahan amarahnya.
“Sialan! Dia pikir dia siapa, huh? Dia bilang ingin memikirkannya? Sudah jelas dia menanam benih di dalam rahimmu. Dia pikir, dia bisa lari begitu saja dari masalah dan tanggung jawabnya. Dasar ******** brengsek, sialan!” umpatan demi umpatan ke luar dari mulut Stefa.
“Dengarkan aku! Jika dalam dua hari ini dia tak memberimu kepastian, kita yang akan menemuinya di Indonesia! Jangan beritahu dia kalau kita akan menemuinya untuk meminta pertanggung jawabannya, kau hanya harus mengikuti ucapanku. Kau mengerti?!” Judith mengangguk.
Ada rasa syukur di dalam hatinya karena Stefa tak menghakimi dan menilainya sebagai wanita gampangan. Mungkin jika ia bercerita pada orang lain, saat ini ia akan di hakimi sedemikian rupa. Menilainya dengan buruk tanpa tahu kebenaran sesungguhnya.
__ADS_1
“Don’t worry, everything will be fine!” Stefa kembali memeluk Judith dengan napas yang memburu karena manahan luapan emosinya yang belum terpuaskan semuanya. Ia tak sabar ingin menemui Cordy di Indonesia dan melukis cap tangan di kedua pipi pria itu.
Rasa-rasanya pria yang ia kenal tak ada yang berkualitas sedikit pun. Sikap mereka seolah wanita adalah barang satu kali pakai yang bisa mereka buang begitu saja jika manfaatnya sudah mereka dapatkan. Seperti buah jeruk, mereka hanya akan memakan isinya dan membuang kulit jeruk karena tak memiliki arti lagi.