
Tiba di Bandara Internasional, London. Stefa dan Judith langsung berpelukan, mereka langsung berpisah saat tiba di pintu keluar dan pergi ke tujuan masing-masing. Mereka memiliki waktu beberapa jam untuk istirahat sebelum esok hari mereka kembali ke kantor untuk menyerahkan laporan ke kantor pusat.
Stefa menarik kopernya berjalan sedikit menjauh dari pintu keluar. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Stefa
melihat Lianne sedang menunggunya dengan tubuh yang menyender ke badan mobil miliknya.
Wanita itu melambaikan tangannya seraya tersenyum. Stefa segera berjalan mendekati Lianne, sahabatnya. Mereka berpelukan melepas kerinduan setelah kurang lebih enam bulan mereka tak bertemu. Bahkan, untuk sekedar bertukar kabar melalui handphone pun jarang mereka lakukan.
“Kau sudah makan?” tanya Lianne saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Stefa menggeleng. “Belum. Kau sudah makan?”
“Aku sudah makan tadi sebelum kau tiba. Ayo, kita cari tempat makanan yang bisa memberimu energi positif. Aku yakin, kau saat ini sedang dalam aura yang tidak baik.” Lianne tertawa jahil sembari mulai menyalakan mesin mobilnya.
Butuh waktu sekitar satu jam menuju tempat tinggal Stefa. Selama perjalanan itu Lianne membiarkan sang sahabat untuk tidur, dan akan membangun ‘kannya jika ia sudah menepi di sebuah tempat parkir restaurant.
***
Tiba di sebuah restaurant yang tak cukup ramai, Lianne langsung membangunkan Steffa dan mengajaknya turun untuk mengisi perut sahabatnya itu. Mereka berdua memasuki restaurant dan langsung memilih meja yang sebelumnya sudah memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.
“Oh, ya. Ngomong-ngomong, kapan kau akan pergi ke Jepang?” tanya Lianne sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya setelah beberapa menit yang lalu si pelayan mengantarkan pesanan mereka.
“Pertama, aku akan ke kantor besok untuk menyerahkan laporan tertulisku ke kantor pusat. Kedua, aku akan menulis surat pengambilan cuti panjangku dan menyerahkannya kebagian HRD. Ketiga, aku akan berangkat satu atau dua hari setelahnya. Kau tak ikut?”
Lianne mengangguk paham. “Sepertinya aku tak bisa ikut, aku masih banyak pekerjaan yang tak bisa ku tinggalkan. Kau tahu, Jo tidak akan membiarkan aku pergi begitu saja. Aku akan menyusulmu setelahnya.”
Mereka tak melanjutkan obrolan mereka dan langsung menyantap kembali makanannya. Barulah mereka kembali melanjutkan perjalanan yang tinggal setengahnya saja setelah membayar ke kasir sebelum benar-benar pergi dari sana.
Sesampainya di area tempat tinggal Stefa, Lianne membantu wanita itu membawa kopernya untuk naik ke lantai dimana Stefa tinggal. Beberapa petugas yang bekerja di area tempat tinggal Stefa menyapanya. Stefa hanya membalasnya dengan anggukkan kepala tanpa tersenyum seperti biasanya.
Lianne sedikit bingung dengan Stefa yang tak tersenyum. Ya memang, setelah kejadian dimana Marshal mengkhianati sahabatnya itu, Stefa tak lagi seceria dulu. Hanya saja kali ini berbeda, Stefa benar-benar berbeda dari sebelumnya. Apa yang terjadi dengan sahabatnya itu?
“Astaga, akhirnya aku bisa mendaratkan bokongku di atas sofa milikku.” Ucap Stefa yang di susul Lianne duduk di sampingnya.
“Oke, babe. Aku sudah mengemas beberapa keperluan yang kau inginkan di koper lainnya sesuai
dengan yang kau inginkan. Kau pergilah tidur, aku akan kembali ke sarangku!”
Stefa mengangguk dan memeluk sahabatnya itu setelah mengucapkan terima kasih karena telah mau direpotkan olehnya.
Ke-esokkan Harinya...
Seorang wanita turun di depan Lobby dan meminta petugas parkir memarkirkan mobilnya di
tempat yang seharusnya. Ketukan sepatunya menggema dan menarik perhatian karyawan-karyawan lainnya yang memiliki tujuan yang sama dengannya. Bekerja.
Seorang wanita dengan pakaian yang warnanya begitu mencolok dan berani-merah terang, Blazer Dresses berpotongan rendah di bagian dadanya. Wanita itu sengaja tak mengenakan penghalang lainnya yang mampu menutupi dada penuhnya. Memadu-padankan dengan rok span yang panjangnya hanya mampu menutupi setengah pahanya dengan warna merah terang yang sama persis.
Make up yang sengaja dibuat agar terlihat dirinya menjadi lebih dewasa dan terkesan menggoda. Sapuan lipstik di bibirnya dengan diberi warna coklat gelap dengan sentuhan warna ungu bagian bibir dalamnya semakin mendukung bahwa aura ke-seksiannya terpancarkan.
Beberapa karyawan yang mengenal siapa Stefa terperangah melihat wanita itu berdandan dan berpakaian tak seperti biasanya. Stefa berjalan melewati Lobby dengan mengangkat dagunya penuh percaya diri, ketukan sepatu dengan hak tingginya masih menggema seiring ia berjalan di Lobby.
Bokongnya meliuk kesana kemari mengikuti ritme kakinya melangkah, seolah meminta para pria untuk menyentuhkan tangannya di atas bokong miliknya. Dan saat akan melewati segerombolan wanita, Stefa mendengar salah satu di antara gerombolan wanita itu memberikan julukan baru untuknya.
“Lihatlah dia, A Sexy Woman. Dia terlihat hot untuk seukuran karyawan disini. Julukan A Sexy Woman memang pantas untuknya.”
Stefa tersenyum dalam batinnya saat mendengar julukan untuknya. Oh ya, jangan lupakan kacamata yang bertengger di hidungnya. Ia melepaskan kacamata itu saat hampir mencapai pintu lift dan berbalik menghadap ke segerombol wanita tadi.
“Terima kasih atas pujian dan julukan yang kau berikan padaku. Kau juga sangat sexy dan hot.” Kemudian
Stefa hilang di telan pintu lift dan segera melesak naik ke lantai dimana ruang kerjanya berada.
Para karyawan dibuat heboh setelah Stefa mengatakan itu.
__ADS_1
“Waaah, gila. Dia benar-benar hebat, sexy and hot. Bukankah dia sudah lama tidak datang ke kantor?” tanya salah satu pria pada gerombolan wanita tadi.
Salah satunya mengangguk membenarkan. “Ya, dia sudah lama tidak datang ke kantor. Kudengar, dia baru
kembali dari Indonesia karena pekerjaan. Dia benar-benar berubah.”
“Dia terlihat keren dan sangat berani berpakaian seperti itu.” wanita lainnya menimpali.
“Aku tak bisa membayangkan pria akan berebut untuk naik ke atas ranjangnya. Hahaha.” Akhirnya mereka tertawa kemudian membubarkan diri untuk ke ruangan masing-masing.
***
Saat sampai di lantai dimana ia biasa bekerja, sesuai dengan dugaannya. Seluruh karyawan di bagian yang sama dengannya dibuat melongo karena penampilan berbeda Stefa. Sebagian wanita menatapnya tak suka secara terang-terangan, dan sebagian wanita lainnya malah memuji penampilan baru Stefa.
Untuk sesaat ia menyempatkan untuk menyapa rekan-rekannya yang lain. Mereka menanyakan kabar Stefa yang sudah sangat lama tak hadir di kantor. Berbeda dengan karyawan lainnya, saat Stefa akan masuk ke ruangan kerja pribadinya. Judith sudah duduk disana dan sedang bergelut dengan pekerjaannya.
Tuk, tuk..
Stefa mengetuk meja kerja Judith untuk menyadarkan wanita itu bahwa atasannya sudah berada tepat di depannya.
“Astaga, ya Tuhan. Kau membuatku terkejut.” Judith memegang dadanya karena terkejut dengan kedatangan Stefa. Judith tak menyadari ada orang lain yang berdiri di hadapannya, dan orang itu adalah atasannya langsung yang sempat tinggal selama 6 bulan di Indonesia bersamanya.
“Kau sudah menyelesaikan laporan yang akan diserahkan?” tanya Stefa dengan tak menanggapi keterkejutan Judith.
“Sebentar lagi sele... Ya, Tuhan. Ada apa dengan pakaianmu hari ini?” Judith tak percaya melihat Stefa mengenakan pakaian yang begitu menantang untuk datang ke kantor. Dadanya jelas begitu terekspos, begitu bulat, kencang, dan penuh.
“Ada apa dengan pakaianku?” pertanyaan yang Stefa lontarkan lebih menyiratkan sebagai pertanyaan “memang ada yang salah dengan bajuku?”
“Kau.. Kau benar-benar berpakaian seperti ini ke kantor? Dan kau akan menghadap para direksi dan pejabat lainnya saat di rapat nanti. Astagaa, ada apa denganmu? Kepalamu tidak terbentur 'kan sebelum kau berangkat ke kantor?” Judith sudah berdiri di hadapan Stefa dan membolak balikkan tubuh Stefa untuk mengecek sekali lagi penampilan wanita yang menjadi atasannya langsung.
Stefa menahan Judith. “Tidak ada yang salah denganku. Jangan banyak tanya, dan kerjakan serta selesaikan saja pekerjaanmu. Lima menit sudah harus aku terima di atas meja kerjaku!” Stefa langsung berlalu meninggalkan Judith yang masih terpaku disana.
Stefa duduk di atas kursi kebanggaannya. Ia sudah menyusun berbagai macam strategi untuk membuat pria
Ya. Semalam sebelum ia tidur, tiba-tiba saja ide licik itu muncul di benaknya. Ia tahu, semua pria sama saja.
Mereka penyuka ************ wanita seksi, dengan dada serta bokong yang besar dan bulat. Stefa dengan sengaja berpenampilan seperti itu untuk memberikan pelajaran kepada si pria brengsek yang menjadi atasannya.
Ia akan membuat pria itu tergila-gila padanya, dan barulah ia akan mencampak ‘kannya begitu saja. Sama saat ia di campakkan begitu saja oleh pria brengsek itu. Bahkan ironisnya, ia dicampakkan sebelum mereka memulai sesuatu yang spesial. Huh. Rasanya Stefa sudah tidak sabar untuk membuat kehebohan di ruang rapat nanti.
Stefa memutar-mutar kursinya dengan senyum penuh arti. Gerakannya terhenti saat Judith mengetuk pintunya dengan membawa beberapa lembar kertas yang cukup tebal. Diyakini bahwa itu adalah laporan yang ia minta sebelum masuk ke ruang kerja pribadinya.
“Ini laporan yang anda minta, Ma’am.” Judith meletakkan laporan itu di atas meja kerja Stefa. Ia langsung
menerima dan membaca sekilas laporan itu.
“Thanks! Aku akan membawa laporan ini ke rapat nanti. Kau siapkan alat-alat yang kau
butuhkan nanti disana!” Stefa memberikan intruksi kepada sekretarisnya dan di balas dengan anggukkan kepala.
***
Semua para pejabat alias petinggi di perusahaan itu sudah hadir. Hanya tinggal menunggu Stefa dan Judith datang sebagai pelengkap peserta rapat kali ini. David sudah duduk di singgasananya dengan raut yang terlihat... khawatir.
Pria itu beberapa kali tertangkap membuang napasnya berat dan tertangkap oleh sekretarisnya sendiri. Beberapa kali pula pria itu bergumam tak jelas dan meremat jari-jemarinya sendiri.
Suara ketukan pintu membuat semua orang menoleh ke arah pintu ruangan. Dan masuklah wanita yang seksi diikuti oleh sekretarisnya yang berpakaian lebih sopan dari si wanita seksi itu.
“Maaf saya sedikit terlambat.” Ucap wanita itu yang tak lain adalah Stefa.
“Wow. Anda begitu berbeda hari ini, Miss?!” Ucap salah satu petinggi perusahaan itu.
Stefa menarik sudut bibirnya sedikit sebelum ia duduk di salah satu kursi yang terlihat kosong, dan itu memang kursi untuknya.
__ADS_1
“Saya rasa anda salah mengenakan kostum, Ms. Stefa?!” David melontarkan perkataan yang begitu sinis.
“Terima kasih atas pujian anda, sir.” balas Stefa kemudian ia duduk dengan tenang sampai rapat dimulai.
Stefa diminta untuk mem-presentasikan laporan yang sebelumnya sudah ia dan Judith siapkan. Stefa
melaporkan semuanya dengan baik mengenai proyek kerja sama dengan perusahaan milik Revaldo. Semua para petinggi itu setuju dan menyukai hasil dari laporan yang Stefa jelaskan.
Tak sedikit dari mereka yang langsung memberikan kata-kata dukungan untuknya dan rasa terima kasih karena telah bekerja dengan baik. Stefa hanya menanggapinya dengan sedikit menarik bibirnya dan membungkuk hormat.
Saat rapat selesai dan semua orang menghilang satu persatu dari ruangan rapat. Tinggallah David dan Stefa yang berada di ruangan itu. Stefa masih sibuk dengan catatannya, tinggal sedikit lagi yang perlu ia selesaikan baru akan meninggalkan ruangan itu.
David berjalan mendekati Stefa yang terlihat fokus dengan catatannya.
“Sepertinya kau memang wanita seperti yang aku katakan sebelumnya. Penggoda.” sinis David saat sudah berdiri di samping Stefa dengan menyenderkan bokongnya di meja. Stefa langsung meletakkan pulpennya dan mendongakkan wajahnya.
Kemudian tersenyum manis. “Ya, seperti yang anda lihat dan sesuai dengan yang anda katakan. Aku memang wanita PENGGODA.” Stefa menekankan kata penggoda di akhir kalimatnya kemudian kembali menyelesaikan catatannya dan mengabaikan David sepenuhnya.
David menggeram saat Stefa dengan beraninya menjawabi perkataan David seperti itu.
“Kepalamu tidak rusak ‘kan sampai-sampai kau harus berpakaian tak pantas seperti ini di saat meeting berlangsung?!” kembali David menyerang Stefa dengan kalimat pedasnya,
Entah kenapa, rasanya David begitu sangat menyebalkan. Sebelumnya, pria itu tidak semenyebalkan ini.
“Uhum, kau benar. Kepalaku memang bermasalah dan sedikit rusak sampai-sampai aku berpakaian seperti ini. Asal kau tahu saja, aku suka dengan pakaianku ini.” Stefa menjawabi ucapan David dengan tenang. Wajahnya kali ini terlihat datar dan dingin.
Sejujurnya, Stefa sedang menahan amarahnya agar tak membludag dan menyembur David dengan segala sumpah serapahnya. Stefa langsung bangkit dari posisi duduknya dan mengambil buku catatannya.
Ia menatap David dengan wajah datarnya, matanya begitu tajam menyorot mata David yang sama tajamnya. Tanpa di duga, Stefa mengecup sudut bibir David kemudian tersenyum sinis.
Kemudian berlalu meninggalkan David yang masih terdiam terkejut karena kecupan singkat dari Stefa. Pria itu menyentuh sudut bibir yang baru saja di kecup oleh Stefa. Pria itu mendengus geli melihat tingkah laku wanita yang sempat hampir membuat ia membobol gawang Stefa. Ia masih tak habis pikir dengan Stefa yang berpakaian sangat berani datang ke kantor bahkan pakaian itu digunakan untuk rapat. David akui, memang tubuh Stefa sangatlah menggiurkan. Tapi otaknya masih waras untuk tidak menerjang Stefa saat itu juga.
Katakanlah kalau David ini munafik, ya karena pada kenyataannya memang begitu adanya. Dia menyukai lekuk tubuh Stefa, tapi enggan mengakui di hadapan wanita itu. Alhasil, dia akan selalu mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan bagi Stefa.
Beberapa bulan tidak bertemu dengan wanita itu, membuat wanita itu terlihat berubah sangat banyak. Dari cara berpakaian, cara merias wajahnya, tatanan rambutnya, bahkan sifatnya seolah ikut berubah juga. Dosa yang pernah David lakukan terhadap wanita itu masih ia ingat begitu jelas. Namun, sekali lagi egoismelah yang mengendalikan diri David.
Format pemesanan langsung chat admin 0818331696
Nama
Alamat
Kota
Kelurahan
Kecamatan
Kode pos
Nomer hp
Judul buku
Transfer ke rek 0560368836 an Diana bank bca
Jangan lupa untuk Follow akun Instagram ku juga ya.. @rhesirahaku !!!
Dan biasakan untuk selalu meninggalkan jejak Follow, Like dan Comment di setiap bab yang di update !!!
__ADS_1