My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 11 Rencana Stefa


__ADS_3

Kemarin Stefa memang berencana untuk mengalihkan tanggung jawab dan tugasnya pada Judith untuk


menghadap si pemilik Star Company yang menjadi partner dalam pengerjaan proyek kali ini. Namun rencana itu ia


urungkan, meskipun bagaimanpun juga ia tetap harus bersikap profesionalitas dalam bekerja.


Ia tidak ingin mengecewakan perusahaannya yang berpusat di London. Kesempatan emas tidak boleh


ia buang sia-sia begitu saja apalagi mengabaikannya hanya karena urusan pribadi


yang menurutnya begitu tidak terlalu penting.


Stefa sudah berada di kantor pusat Star Company bersama Judith selaku sekretarisnya. Salah satu


resepsionis sudah mengarahkan mereka untuk menaiki salah satu lift khusus untuk


eksekutif.


Tiba di lantai dimana si pemilik perusahaan berada. Mereka di sambut dengan seorang pria yang sudah


berpakaian rapih dan tampan. Mereka di giring untuk masuk ke dalam ruangan


pribadi milik Revaldo.


Sebelum mereka masuk, pria itu menginformasikan kepada atasannya bahwa tamu penting sudah tiba.


Dengan perintah mutlak, pria tersebut mempersilahkan mereka untuk segera masuk


ke dalam.


Saat masuk ke dalam ruangan, Revaldo sedang terfokus dengan setumpuk dokumen di atas meja kerjanya.


Dengan kacamata kerjanya yang setia bertengger di hidung. Saat Stefa membuka


suara, memberikan tanda bahwa mereka sudah ada di hadapan Revaldo. Barulah


Revaldo mengangkat wajahnya dan berpaling dari setumpuk dokumen.


“Kau?” ucap Stefa tak percaya saat melihat wajah Revaldo.


Revaldo hanya menyeringai, berdiri dan langsung berjalan menyambut mereka tanpa sepatah kata.


Judith yang mengingat wajah pria yang kini ada di hadapannya, nampak terkejut


dan membelalakkan matanya dengan sempurna. Untung saja dia tidak menjerit


histeris karena terkejut.


Stefa terkejut saat melihat sosok pria yang kini tengah berada satu ruangan dengannya. Ah ralat.


Maksudnya, Stefa dan Judith yang kini tengah ada di dalam ruangan pria itu.


Pria yang sempat ikut bergabung saat makan bersama beberapa hari yang lalu.


Segera Stefa mengganti lagi mimik wajahnya seperti biasa, dingin. Tidak ada lagi tampang terkejutnya.


“Silahkan duduk!” Revaldo mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di salah satu sofa


kebanggaannya untuk menerima setiap tamu yang datang ke kantor pribadi


miliknya.


“Kita bertemu lagi.” ucap Revaldo dengan santai seolah mereka telah begitu akrab. Melupakan sikap


formalnya saat bertemu dengan tamu pentingnya.


Namun Stefa dan Judith tetap pada sikap formalitasnya.


“Perkenalkan saya Stefani Agatha, anda dapat memanggil saya Stefa. Dan ini sekretaris pribadi


saya, Judith!” ucap Stefa memperkenalkan dirinya dan juga Judith setelah mereka


mendaratkan pantatnya di salah satu sofa itu.


“Nama yang manis. Aku Revaldo Gunawan. Pemimpin sekaligus pemilik perusahaan ini.” jawab Revaldo


dengan santai serta tak lupa ia memuji nama Stefa yang menurutnya manis.


Mendengar kalimat pujian yang dilontarkan Revaldo kepadanya, Stefa tampak tak acuh dengan pujian


itu. Ia tidak perduli dengan pujian tersebut. Baginya, ia datang hanya untuk


urusan pekerjaan. Bukan untuk sebuah pujian, apalagi pujian yang menurutnya


memberikan kesan gombal.


Mereka mulai masuk ke dalam topik inti, dimana mereka membahas tentang proyek yang akan mereka jalani


dan kembangkan bersama dalam ikatan kontrak kerja sama yang mutlak di atas


hitam dan putih nantinya.


Sesekali Stefa juga membahas mengenai lahan yang mereka gunakan untuk pembangunan Hotel. Karena


kemarin Stefa, Judith dan juga team lainnya telah meninjau langsung lokasi


proyek. Masukkan-masukkan atau beberapa pendapat sempat Stefa lontarkan, dan


ditanggapi antusias oleh Revaldo.


Sebenarnya bukan karena beberapa masukkan atau ide yang Stefa lontarkan. Melainkan Revaldo begitu


antusias dengan kegigihan dan sikap cekatan yang dimiliki Stefa. Tidak sia-sia perusahaan


yang menjalin kerja samanya itu mengirimkan Stefa untuk menangani proyek. Pikir


Revaldo.


“Baiklah. Untuk pertemuan kali ini cukup sampai disini dulu. Jika kalian memerlukan yang


lainnya, kalian bisa menghubungiku atau asisten pribadiku.” putus Revaldo.


“Tentu. Kami akan menghubungi pihak anda jika kami memerlukan sesuatu atau berkaitan dengan


pekerjaan. Dan dimana asisten anda, yang anda maksud?” tanya Stefa.

__ADS_1


“Asisten pribadiku adalah orang yang tadi menyambut kalian. Namanya Hendrick Damara. Kalian bisa


memanggilnya Hendrick.” jelas Revaldo dan mendapat balasan anggukkan dari Stefa


dan juga Judith.


“Bagaimana kalau kita makan siang bersama terlebih dulu Stefa?”


“Tidak terima kasih. Aku masih ada keperluan lainnya. Mungkin lain kesempatan kita bisa makan siang


bersama.” Stefa menolak halus ajakan makan siang dari Revaldo.


Tak lama dari itu. Stefa dan juga Judith pamit undur diri dan meninggalkan ruangan Revaldo. Ia


ingin segera meninggalkan ruangan itu. Stefa tampak tidak nyaman dengan


Revaldo. Selama mereka membahas urusan pekerjaan, tatapan Revaldo begitu


membuat Stefa sangat risih.


Entah tatapan apa yang dimaksudkan oleh Revaldo, tapi yakinlah. Itu tatapan yang membuat orang yang di


tatapnya sangat risih. Jadi Stefa menolak ajakan makan siang dari Revaldo untuk


menghindari tatapan anehnya itu.


“Aku akan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan disini. Kau mau ikut atau langsung ke Hotel?” tanya


Stefa saat mereka sudah berada di Lobby utama.


“Kau mau apa kesana?” tanya Judith.


“Aku akan membeli beberapa pakaian dan make up. Aku ingin merubah sedikit penampilanku. Cukup membosankan


dengan tampilan seperti ini setiaps aat. Kau mau ikut?” jelas Stefa dan


bertanya kembali pada Judith tentang ajakkannya barusan.


Judith mengangguk antusias dengan ajakkan dari Stefa. Ia pikir, sekalin jalan-jalan. Judith


memutuskan untuk menikmati perjalanan bisnis ini selama 6 bulan dengan suka


cita meskipun harus menghadapi rasa lelah nantinya.


Mereka memasuki mobil yang sudah disiapkan perusahaan untuk mengantar dan menjemput kapanpun dan


kemanapun mereka pergi. Stefa mengarahkan sopir itu untuk menuju ke salah satu


pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.


Di dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Stefa membuka akun sosial medianya. Sudah beberapa


hari ia tak mengecek atau bahkan membuka akun sosial medianya itu.


Saat membuka akun sosial medianya, sebuah postingan photo dari salah satu akun yang sudah


berteman dengan akun miliknya terpampang nyata disana. Hati Stefa seolah


ditusuk ribuan jarum berulang kali.


bermesraan dengan selingkuhannya yang kini telah menjadi kekasih resmi dari si


pengkhianat itu.


Stefa *** handphone miliknya, matanya mulai memanas. Ia ingin sekali mengumpat kasar, tapi ia tahan


demi harga dirinya yang terluka itu. Untuk menangispun rasanya ia harus tahan


sampai mereka tiba di Hotel nanti.


“Sialan. Dasar tidak tahu malu. Bastard!” umpat Stefa dalam hatinya.


Ia memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas. Memejamkan mata dan membuang nafas panjang mampu


mengalihkan perhatian Judith.


“Kau kenapa? Ada masalah?” tanya Judith saat mendengar Stefa membuang nafas panjang. Seolah ada


beban atau ada sesuatu yang menghampiri Stefa.


“No. Aku baik-baik saja.” jawab Stefa dan membuka kembali matanya yang sempat terpejam sebagai


bentuk upaya meredam emosinya dan rasa sakit ke hatinya.


Perjalanan dari perusahaan Star Company menuju pusat perbelanjaan yang mereka maksud,


membutuhkan waktu sekitar 20 menit jika tidak terjadi kendala macet yang


menghambat perjalanan mereka.


Dan disinlah mereka sekarang. Mereka sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di


Jakarta. Mereka langsung turun dari mobil, dan berjalan menuju salah satu


Lobby. Stefa mulai memindai ke sekeliling, ada beberapa toko pakaian yang


menarik perhatiannya.


“Ayo kita kesana!” seru Stefa pada Judith yang berada di sampingnya.


“Oke.” jawab Judith.


Mereka mulai masuk ke salah satu toko pakaian dengan merek terkenal di dunia. Sudah dipastikan


barang-barang yang toko itu jual, bukanlah barang seharga ratusan ribu. Bahkan


mungkin, untuk satu helai pakaian bisa sampai jutaan atau puluhan juta.


Stefa mulai memilih-milih pakaian, ia ingin mengganti gaya berpakaiannya. Dan beberapa


potong pakaian sudah ia ambil.


“Kau yakin ingin memakai pakaian itu?” tanya Judith tak percaya saat Stefa mengambil beberapa


baju yang menurutnya bukanlah gaya berpakaian Stefa. Jauh dari kata gaya Stefa.

__ADS_1


“Sure. Sudah aku bilang, aku ingin mengganti cara berpakaianku dan juga make up.” jawab Stefa


dengan santai.


“Kau gila? Ini bukan gayamu,Stefa! Kau akan memakai baju-baju ini untuk bekerja atau apa?” kini


Judith sedikit menaikkan intonasi suaranya. Sungguh ia tak percaya dengan apa


yang ia lihat.


“Jika aku gila. Maka mantan kekasihku adalah seorang psikopat.


Sudahlah, diam saja! Aku akan merubah semua penampilanku. Jangan banyak


bertanya dan protes kepadaku. Kau jadi cerewet” balas Stefa.


“Terserah terserah terserah... Semua terserah kau saja, Stefa. Kau memang tidak bisa ditebak.


Semenjak kau tak bersama dengan pria itu, kau bukan lagi Stefa yang aku kenal.”


Stefa langsung menatap tajam pada Judith. Ia kesal karena Judith baru saja membuka luka yang menganga


di hati Stefa. Dan mengingatkan kembali pada sebuah postingan photo si bajingan


itu.


“Cukup, Judith! Sudah aku bilang, jangan membahas itu.” Stefa pergi meninggalkan Judith sendiri yang


tengah merutuki mulut lancangnya karena berani membahas pria bajingan itu.


Stefa menyerahkan beberapa pakaian yang sempat ia pilih ke konter kasir. Dan membayarnya dengan


kartu kredit andalannya. Judith menyusul Stefa ke konter kasir. Ia benar-benar


menyesal karena telah mengungkit masalah itu.


Setelah membayar, segera Stefa berganti ke toko-toko lain yang menarik di matanya. Masuk ke salah


satu toko sepatu, dan memilih serta mencoba beberapa pasang sepatu dan heels. Dan berganti lagi toko, dan kini


mereka masuk ke dalam toko yang menyediakan berbagai jenis make up dari


berbagai merek. Mulai dari merek lokal sampai merek luar.


Kali ini Stefa benar-benar melakukan shopping besar-besaran. Ia menghabiskan uangnya dengan


jumlah yang tidak sedikit. Judith tak berani membuka suara, dia hanya akan


mebuka suara saat Stefa meminta beberapa pendapatnya mengenai barang-barang


yang akan ia beli.


Perlu kalian tahu, bahwa gaya berpakaian Stefa saat bekerja sangatlah memberikan kesan manis dan


polos. Meskipun Stefa sering mengenakan pakaian kerja yang sedikit menonjolkan


lekut tubuhnya. Tapi tetap saja itu bukan pakaian yang terbuka apalagi seksi.


Make up natural menjadi pelengkap sempurna yang biasa Stefa pakai. Tapi tidak untuk kali ini. setelah


ia memutuskan untuk merombak penampilannya secara menyeluruh. Ia ingin


mengenakan pakaian yang benar-benar menonjolkan lekuk tubuhnya dan seksi.


Menggunakan make up dengan gaya matte make up atau bold make up menjadi


pilihannya.


Judith hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat semua isi barang belanjaan milik


Stefa. Tidak biasanya wanita itu berbelanja sebanyak ini. Judith masih tidak


percaya dengan pakaian-pakaian yang dibeli Stefa dan berbagai jenis make up


yang dipilih oleh Stefa.


“Kau benar-benar menghabiskan uangmu, Stefa.” keluh Judith saat mengetahui berapa total nominal


yang telah Stefa keluarkan.


“Hahaha.. tak apa. Ini adalah awal yang baru untukku. Thanks, kamu sudah menemaniku berbelanja.” jawab


Stefa sambil tersenyum.


“Kau...kau tersenyum? Kau tersenyum barusan?” tanya Judith tak percaya saat Stefa tersenyum ke


arahnya.


“Bukankah aku memang selalu tersenyum?” kini bergantian Stefa yang bertanya pada Judith.


“Ya memang. Tapi itu dulu, sebelum kau...” Judith tidak berani melanjutkan kalimatnya.


“Ayo kita makan dulu, setelah itu kita pulang!” ajak Stefa. Ia tahu apa yang akan di katakan


sekretarisnya itu.


Akhirnya mereka berdua menghampiri salah satu restaurant terkenal di Jakarta. Tak tanggung-tanggung,


Stefa memesan beberapa jenis makanan sekaligus. Membuat Judith memelototkan


matanya tak percaya dengan semua jenis makanan yang dipesan Stefa barusan.


Lagi-lagi, Judith tak mau menegur Stefa. Biarkan saja wanita itu menghamburkan uangnya selama ia


mampu melupakan segala jenis beban dan kesedihan yang meliputinya. Pikir


Judith.


Tak lama, makanan sudah ada di atas meja. Aroma yang begitu menggugah selera, tampilan yang membuat si


pembelinya enggan untuk menyantap makanan itu. Tapi mau tidak mau mereka tetap


harus memakannya. Karena fungsi makan ya memang untuk dimakan, bukan hanya


untuk dijadikan bahan penyegar mata saja.

__ADS_1


__ADS_2