
Kemarin Stefa memang berencana untuk mengalihkan tanggung jawab dan tugasnya pada Judith untuk
menghadap si pemilik Star Company yang menjadi partner dalam pengerjaan proyek kali ini. Namun rencana itu ia
urungkan, meskipun bagaimanpun juga ia tetap harus bersikap profesionalitas dalam bekerja.
Ia tidak ingin mengecewakan perusahaannya yang berpusat di London. Kesempatan emas tidak boleh
ia buang sia-sia begitu saja apalagi mengabaikannya hanya karena urusan pribadi
yang menurutnya begitu tidak terlalu penting.
Stefa sudah berada di kantor pusat Star Company bersama Judith selaku sekretarisnya. Salah satu
resepsionis sudah mengarahkan mereka untuk menaiki salah satu lift khusus untuk
eksekutif.
Tiba di lantai dimana si pemilik perusahaan berada. Mereka di sambut dengan seorang pria yang sudah
berpakaian rapih dan tampan. Mereka di giring untuk masuk ke dalam ruangan
pribadi milik Revaldo.
Sebelum mereka masuk, pria itu menginformasikan kepada atasannya bahwa tamu penting sudah tiba.
Dengan perintah mutlak, pria tersebut mempersilahkan mereka untuk segera masuk
ke dalam.
Saat masuk ke dalam ruangan, Revaldo sedang terfokus dengan setumpuk dokumen di atas meja kerjanya.
Dengan kacamata kerjanya yang setia bertengger di hidung. Saat Stefa membuka
suara, memberikan tanda bahwa mereka sudah ada di hadapan Revaldo. Barulah
Revaldo mengangkat wajahnya dan berpaling dari setumpuk dokumen.
“Kau?” ucap Stefa tak percaya saat melihat wajah Revaldo.
Revaldo hanya menyeringai, berdiri dan langsung berjalan menyambut mereka tanpa sepatah kata.
Judith yang mengingat wajah pria yang kini ada di hadapannya, nampak terkejut
dan membelalakkan matanya dengan sempurna. Untung saja dia tidak menjerit
histeris karena terkejut.
Stefa terkejut saat melihat sosok pria yang kini tengah berada satu ruangan dengannya. Ah ralat.
Maksudnya, Stefa dan Judith yang kini tengah ada di dalam ruangan pria itu.
Pria yang sempat ikut bergabung saat makan bersama beberapa hari yang lalu.
Segera Stefa mengganti lagi mimik wajahnya seperti biasa, dingin. Tidak ada lagi tampang terkejutnya.
“Silahkan duduk!” Revaldo mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di salah satu sofa
kebanggaannya untuk menerima setiap tamu yang datang ke kantor pribadi
miliknya.
“Kita bertemu lagi.” ucap Revaldo dengan santai seolah mereka telah begitu akrab. Melupakan sikap
formalnya saat bertemu dengan tamu pentingnya.
Namun Stefa dan Judith tetap pada sikap formalitasnya.
“Perkenalkan saya Stefani Agatha, anda dapat memanggil saya Stefa. Dan ini sekretaris pribadi
saya, Judith!” ucap Stefa memperkenalkan dirinya dan juga Judith setelah mereka
mendaratkan pantatnya di salah satu sofa itu.
“Nama yang manis. Aku Revaldo Gunawan. Pemimpin sekaligus pemilik perusahaan ini.” jawab Revaldo
dengan santai serta tak lupa ia memuji nama Stefa yang menurutnya manis.
Mendengar kalimat pujian yang dilontarkan Revaldo kepadanya, Stefa tampak tak acuh dengan pujian
itu. Ia tidak perduli dengan pujian tersebut. Baginya, ia datang hanya untuk
urusan pekerjaan. Bukan untuk sebuah pujian, apalagi pujian yang menurutnya
memberikan kesan gombal.
Mereka mulai masuk ke dalam topik inti, dimana mereka membahas tentang proyek yang akan mereka jalani
dan kembangkan bersama dalam ikatan kontrak kerja sama yang mutlak di atas
hitam dan putih nantinya.
Sesekali Stefa juga membahas mengenai lahan yang mereka gunakan untuk pembangunan Hotel. Karena
kemarin Stefa, Judith dan juga team lainnya telah meninjau langsung lokasi
proyek. Masukkan-masukkan atau beberapa pendapat sempat Stefa lontarkan, dan
ditanggapi antusias oleh Revaldo.
Sebenarnya bukan karena beberapa masukkan atau ide yang Stefa lontarkan. Melainkan Revaldo begitu
antusias dengan kegigihan dan sikap cekatan yang dimiliki Stefa. Tidak sia-sia perusahaan
yang menjalin kerja samanya itu mengirimkan Stefa untuk menangani proyek. Pikir
Revaldo.
“Baiklah. Untuk pertemuan kali ini cukup sampai disini dulu. Jika kalian memerlukan yang
lainnya, kalian bisa menghubungiku atau asisten pribadiku.” putus Revaldo.
“Tentu. Kami akan menghubungi pihak anda jika kami memerlukan sesuatu atau berkaitan dengan
pekerjaan. Dan dimana asisten anda, yang anda maksud?” tanya Stefa.
__ADS_1
“Asisten pribadiku adalah orang yang tadi menyambut kalian. Namanya Hendrick Damara. Kalian bisa
memanggilnya Hendrick.” jelas Revaldo dan mendapat balasan anggukkan dari Stefa
dan juga Judith.
“Bagaimana kalau kita makan siang bersama terlebih dulu Stefa?”
“Tidak terima kasih. Aku masih ada keperluan lainnya. Mungkin lain kesempatan kita bisa makan siang
bersama.” Stefa menolak halus ajakan makan siang dari Revaldo.
Tak lama dari itu. Stefa dan juga Judith pamit undur diri dan meninggalkan ruangan Revaldo. Ia
ingin segera meninggalkan ruangan itu. Stefa tampak tidak nyaman dengan
Revaldo. Selama mereka membahas urusan pekerjaan, tatapan Revaldo begitu
membuat Stefa sangat risih.
Entah tatapan apa yang dimaksudkan oleh Revaldo, tapi yakinlah. Itu tatapan yang membuat orang yang di
tatapnya sangat risih. Jadi Stefa menolak ajakan makan siang dari Revaldo untuk
menghindari tatapan anehnya itu.
“Aku akan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan disini. Kau mau ikut atau langsung ke Hotel?” tanya
Stefa saat mereka sudah berada di Lobby utama.
“Kau mau apa kesana?” tanya Judith.
“Aku akan membeli beberapa pakaian dan make up. Aku ingin merubah sedikit penampilanku. Cukup membosankan
dengan tampilan seperti ini setiaps aat. Kau mau ikut?” jelas Stefa dan
bertanya kembali pada Judith tentang ajakkannya barusan.
Judith mengangguk antusias dengan ajakkan dari Stefa. Ia pikir, sekalin jalan-jalan. Judith
memutuskan untuk menikmati perjalanan bisnis ini selama 6 bulan dengan suka
cita meskipun harus menghadapi rasa lelah nantinya.
Mereka memasuki mobil yang sudah disiapkan perusahaan untuk mengantar dan menjemput kapanpun dan
kemanapun mereka pergi. Stefa mengarahkan sopir itu untuk menuju ke salah satu
pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.
Di dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Stefa membuka akun sosial medianya. Sudah beberapa
hari ia tak mengecek atau bahkan membuka akun sosial medianya itu.
Saat membuka akun sosial medianya, sebuah postingan photo dari salah satu akun yang sudah
berteman dengan akun miliknya terpampang nyata disana. Hati Stefa seolah
ditusuk ribuan jarum berulang kali.
bermesraan dengan selingkuhannya yang kini telah menjadi kekasih resmi dari si
pengkhianat itu.
Stefa *** handphone miliknya, matanya mulai memanas. Ia ingin sekali mengumpat kasar, tapi ia tahan
demi harga dirinya yang terluka itu. Untuk menangispun rasanya ia harus tahan
sampai mereka tiba di Hotel nanti.
“Sialan. Dasar tidak tahu malu. Bastard!” umpat Stefa dalam hatinya.
Ia memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas. Memejamkan mata dan membuang nafas panjang mampu
mengalihkan perhatian Judith.
“Kau kenapa? Ada masalah?” tanya Judith saat mendengar Stefa membuang nafas panjang. Seolah ada
beban atau ada sesuatu yang menghampiri Stefa.
“No. Aku baik-baik saja.” jawab Stefa dan membuka kembali matanya yang sempat terpejam sebagai
bentuk upaya meredam emosinya dan rasa sakit ke hatinya.
Perjalanan dari perusahaan Star Company menuju pusat perbelanjaan yang mereka maksud,
membutuhkan waktu sekitar 20 menit jika tidak terjadi kendala macet yang
menghambat perjalanan mereka.
Dan disinlah mereka sekarang. Mereka sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di
Jakarta. Mereka langsung turun dari mobil, dan berjalan menuju salah satu
Lobby. Stefa mulai memindai ke sekeliling, ada beberapa toko pakaian yang
menarik perhatiannya.
“Ayo kita kesana!” seru Stefa pada Judith yang berada di sampingnya.
“Oke.” jawab Judith.
Mereka mulai masuk ke salah satu toko pakaian dengan merek terkenal di dunia. Sudah dipastikan
barang-barang yang toko itu jual, bukanlah barang seharga ratusan ribu. Bahkan
mungkin, untuk satu helai pakaian bisa sampai jutaan atau puluhan juta.
Stefa mulai memilih-milih pakaian, ia ingin mengganti gaya berpakaiannya. Dan beberapa
potong pakaian sudah ia ambil.
“Kau yakin ingin memakai pakaian itu?” tanya Judith tak percaya saat Stefa mengambil beberapa
baju yang menurutnya bukanlah gaya berpakaian Stefa. Jauh dari kata gaya Stefa.
__ADS_1
“Sure. Sudah aku bilang, aku ingin mengganti cara berpakaianku dan juga make up.” jawab Stefa
dengan santai.
“Kau gila? Ini bukan gayamu,Stefa! Kau akan memakai baju-baju ini untuk bekerja atau apa?” kini
Judith sedikit menaikkan intonasi suaranya. Sungguh ia tak percaya dengan apa
yang ia lihat.
“Jika aku gila. Maka mantan kekasihku adalah seorang psikopat.
Sudahlah, diam saja! Aku akan merubah semua penampilanku. Jangan banyak
bertanya dan protes kepadaku. Kau jadi cerewet” balas Stefa.
“Terserah terserah terserah... Semua terserah kau saja, Stefa. Kau memang tidak bisa ditebak.
Semenjak kau tak bersama dengan pria itu, kau bukan lagi Stefa yang aku kenal.”
Stefa langsung menatap tajam pada Judith. Ia kesal karena Judith baru saja membuka luka yang menganga
di hati Stefa. Dan mengingatkan kembali pada sebuah postingan photo si bajingan
itu.
“Cukup, Judith! Sudah aku bilang, jangan membahas itu.” Stefa pergi meninggalkan Judith sendiri yang
tengah merutuki mulut lancangnya karena berani membahas pria bajingan itu.
Stefa menyerahkan beberapa pakaian yang sempat ia pilih ke konter kasir. Dan membayarnya dengan
kartu kredit andalannya. Judith menyusul Stefa ke konter kasir. Ia benar-benar
menyesal karena telah mengungkit masalah itu.
Setelah membayar, segera Stefa berganti ke toko-toko lain yang menarik di matanya. Masuk ke salah
satu toko sepatu, dan memilih serta mencoba beberapa pasang sepatu dan heels. Dan berganti lagi toko, dan kini
mereka masuk ke dalam toko yang menyediakan berbagai jenis make up dari
berbagai merek. Mulai dari merek lokal sampai merek luar.
Kali ini Stefa benar-benar melakukan shopping besar-besaran. Ia menghabiskan uangnya dengan
jumlah yang tidak sedikit. Judith tak berani membuka suara, dia hanya akan
mebuka suara saat Stefa meminta beberapa pendapatnya mengenai barang-barang
yang akan ia beli.
Perlu kalian tahu, bahwa gaya berpakaian Stefa saat bekerja sangatlah memberikan kesan manis dan
polos. Meskipun Stefa sering mengenakan pakaian kerja yang sedikit menonjolkan
lekut tubuhnya. Tapi tetap saja itu bukan pakaian yang terbuka apalagi seksi.
Make up natural menjadi pelengkap sempurna yang biasa Stefa pakai. Tapi tidak untuk kali ini. setelah
ia memutuskan untuk merombak penampilannya secara menyeluruh. Ia ingin
mengenakan pakaian yang benar-benar menonjolkan lekuk tubuhnya dan seksi.
Menggunakan make up dengan gaya matte make up atau bold make up menjadi
pilihannya.
Judith hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat semua isi barang belanjaan milik
Stefa. Tidak biasanya wanita itu berbelanja sebanyak ini. Judith masih tidak
percaya dengan pakaian-pakaian yang dibeli Stefa dan berbagai jenis make up
yang dipilih oleh Stefa.
“Kau benar-benar menghabiskan uangmu, Stefa.” keluh Judith saat mengetahui berapa total nominal
yang telah Stefa keluarkan.
“Hahaha.. tak apa. Ini adalah awal yang baru untukku. Thanks, kamu sudah menemaniku berbelanja.” jawab
Stefa sambil tersenyum.
“Kau...kau tersenyum? Kau tersenyum barusan?” tanya Judith tak percaya saat Stefa tersenyum ke
arahnya.
“Bukankah aku memang selalu tersenyum?” kini bergantian Stefa yang bertanya pada Judith.
“Ya memang. Tapi itu dulu, sebelum kau...” Judith tidak berani melanjutkan kalimatnya.
“Ayo kita makan dulu, setelah itu kita pulang!” ajak Stefa. Ia tahu apa yang akan di katakan
sekretarisnya itu.
Akhirnya mereka berdua menghampiri salah satu restaurant terkenal di Jakarta. Tak tanggung-tanggung,
Stefa memesan beberapa jenis makanan sekaligus. Membuat Judith memelototkan
matanya tak percaya dengan semua jenis makanan yang dipesan Stefa barusan.
Lagi-lagi, Judith tak mau menegur Stefa. Biarkan saja wanita itu menghamburkan uangnya selama ia
mampu melupakan segala jenis beban dan kesedihan yang meliputinya. Pikir
Judith.
Tak lama, makanan sudah ada di atas meja. Aroma yang begitu menggugah selera, tampilan yang membuat si
pembelinya enggan untuk menyantap makanan itu. Tapi mau tidak mau mereka tetap
harus memakannya. Karena fungsi makan ya memang untuk dimakan, bukan hanya
untuk dijadikan bahan penyegar mata saja.
__ADS_1