My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 51 Time


__ADS_3

Open Pre-Order Novel My Love Story versi cetak 


(357 halaman)


Rp. 96.000


Untuk versi eBOOK bisa di donwload di PLAYSTORE !! 




Format pemesanan


Nama


Alamat


Kota


Kelurahan


Kecamatan


Kode pos


Nomer hp


Judul buku


Transfer ke rek 0560368836 an Diana bank bca


Online Order



***


            “Bri, bisakah kau mengatur jadwal penerbangan untuk besok lebih cepat dari jadwal sebelumnya?” tanya Stefa dengan mata yang penuh dengan permohonan saat ia akan melakuan pemotretan.


            “Kau ingin mengubah jadwal penerbanganmu?” tanya Brianna memastikan dengan satu alis yang terangkat ke atas.


            Stefa mengangguk dengan cepat sebagai jawaban pasti untuk Brianna.

__ADS_1


            “Apa kau ada masalah atau ada hal lain?” apa kata “masalah” begitu ketara dari wajah Stefa saat ini? Rasa—rasanya Brianna seolah mengetahui sesuatu dari Stefa.


            “Tak ada, hanya saja aku ingin pulang lebih awal saja. Oh ya, jangan lupa urus perpanjangan cutiku, oke! Ah


dan beritahukan Lianne kalau besok kita akan berangkat lebih awal dari jadwal sebelumnya.!”


            “Oke, akan kulakukan.” Balas Brianna.


            Seperti yang diinginkan Stefa, Brianna langsung mengubat jadwal keberangkatan mereka untuk kembali ke London lebih awal. Seharusnya mereka pulang siang hari bahkan hampir menjelang sore, sebenarnya itu dilakukan agar Stefa memiliki waktu sedikit untuk mengistirahatkan tubuhnya.


            Namun karena permintaan dadakan Stefa, mau tak mau Brianna harus mengubahnya ke jam keberangkatan pagi-pagi. Jam 7 pagi mereka sudah harus berada di bandara dan sudah harus check in.


            Setelah melakukan pemotretan terakhirnya, seluruh kru termasuk Stefa dan juga Brianna melakukan briefing untuk membahas dan mengulas mengenai kerja sama mereka. Membahas hal-hal yang telah mereka lewati selama proses pemotretan. Hasil foto yang sudah dilakukan akan mereka kirim ke e-mail Stefa, Brianna dan juga perusahaan Ken sebagai laporan bahwa semuanya telah selesai.


            Tinggal menunggu kapan mereka akan mulai mempromosikan produk makanan terbaru mereka dengan Stefa sebagai modelnya. Semoga saja dengan Stefa yang menjadi modelnya dapat mempengaruhi kenaikan harga jual di pasaran. Memberikan keuntungan yang banyak untuk perusahaan yang nantinya akan berimbas pada Stefa dan juga perusahaan Yoshida Models.


            Tepat jam makan siang Stefa dan Brianna sudah kembali ke Hotel dan mulai mengepak semua barang-barangnya. Di sana sudah ada Lianne yang sudah siap dengan koper-kopernya. Wanita itu sepertinya terlalu banyak menghabiskan uangnya. Buktinya, ia datang ke Indonesia hanya dengan satu koper berisi pakaian dan kebutuhan lainnya. Namun kali ini ia memiliki satu koper tambahan yang berisikan barang-barang baru. Bahkan sebagian barang yang wanita itu beli masih memiliki lebel harga yang belum ia lepas.


            “Kenapa kau tiba-tiba ingin pulang lebih awal, Stef? Kau membuatku kelabakan karena harus mengemas barang-barangku dengan cepat dan serba terburu-buru.” Lianne mengeluh pada Stefa karena info dadakan itu.


            “Tak ada alasan lain, aku hanya ingin cepat-cepat pulang saja. Oh ya, apa ada kabar dari Judtih?” tanya Stefa pada Lianne yang dijawab dengan bahu yang terangkat.


            Rupanya sekretarisnya itu benar-benar disibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan ayah si jabang bayi yang sedang ia kandung. Mereka akan mengadakan pesta penikahan di Indonesia tentunya, karena sebagian besar keluarga Cordy ada di Indonesia. Merekan akan mengadakan resepsi keduanya di London satu bulan setelah acara resepsi pertama dilakukan.


            Judith takut jika Stefa akan keteteran dengan pekerjaannya karena tanpa ada bantuan orang lain atau lebih


tepatnya tak ada sekretaris lagi. Mungkin Stefa membutuhkan waktu untuk mencari sekretaris baru untuk menggantikan posisi Judith. Tapi untuk saat ini, Stefa jelas-jelas akan memperpanjang cutinya dan mungkin akan mengundurkan diri juga mengikuti jejak Judith.


            Ia tak mungkin bekerja di dalam perusahaan David lagi setelah apa yang pria itu lakukan padanya. Tetapi ia tak bisa mengundurkan diri begitu saja, ia memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang harus ia lakukan dan selesaikan di sana. Ia harus bertahan lebih lama lagi, ia harus memikirkan hal terbaiknya. Ia tak boleh gegabah dalam mengambil keputusan hanya karena satu orang saja yang jelas-jelas telah memporak porandakan hidupnya dalam sekejap mata.


            Ia hanya perlu kembali menghindari pria itu seperti sebelumnya yang pernah ia lakukan. Jika memang tak ada hal yang terlalu mendesak dan tak ada hal yang mengharuskan ia bertemu dengan David, ia sebisa mungkin untuk menghindari pria itu. Terlebih ia tak ingin berurusan dengan wanita yang memiliki hubungan dengan David.


            Stefa harus kembali dipusingkan dengan hal konyol seperti ini. Ia seperti hidup di zaman kerajaan di mana jika rakyatnya memiliki kesalahan maka mereka harus dihukum mati. Ya Tuhan, skenario macam apa yang ia berikan pada Stefa saat ini? Jika Stefa masih harus bekerja di perusahaan itu, maka selama itu pula Stefa harus mengindar dari pria itu.


            “Ya, lakukan seperti itu. Itu lebih baik dari pada aku harus bertemu dengannya lagi.” Gumam Stefa menyemangati dirinya sendiri dan mulai mengemas barang-barangnya.


            Brianna masuk ke dalam kamar Stefa dan membantunya mengemas barang-barangnya. Meskipun kedua tangan Stefa bergerak merapikan barang-barang miliknya, namun tidak dengan pikirannya yang terpusat pada suatu hal yang membuat ia berulang kali menghela napas dan itu membuat menarik perhatian Brianna yang berada dalam satu ruangan dengannya.


            “Kenapa kau menghela napas seperti itu sedari tadi?” tanya Brianna penuh selidik.


            Stefa lantas terkejut. “O-oh. Tak ada. Aku hanya merasa lelah saja, selebihnya aku baik-baik saja.” Stefa


berusaha untuk tersenyum agar Brianna tak lagi mengutarakan pertanyaan lainnya.

__ADS_1


            Brianna hanya mengangguk dan kembali mengemas barang-barang Stefa. Setelah semuanya beres, Brianna dan Lianne meninggalkan kamar Hotel Stefa dan membiarkan Stefa menikmati waktunya sendiri. Mereka memiliki urusan masing-masing atau mungkin mereka akan menghabiskan sisa waktu mereka yang tinggal hitungan jam saja berada di Indonesia.


***


            Dengan susah payah Stefa dan Brianna mendapatkan hak perpanjangan cuti untuk Stefa. Pihak HRD yang menerima surat perpanjangan cuti dari Stefa yang diwakili oleh Brianna, sang manajer Stefa harus mengalami perdebatan panjang dan membuat divisi itu mengalami hawa panas karena perdebatan yang terjadi.


            Pihak HRD tidak mengizinkan Stefa untuk memperpanjang masa cutinya dengan alasan apa pun lagi. Stefa dianggap kelewatan karena terus mengambil cuti dan mengabaikan pekerjaan utamanya di perusahaan yang David bangun. Kesempatan cuti Stefa sebenarnya sudah habis, dan ia tidak bisa lagi menggunakan hak itu seperti sebelum-sebelumnya.


            Pihak HRD mengatakan bahwa Stefa akan dinilai tak bertanggung jawab atas pekerjaannya dan mendapatkan surat peringatan dari perusahaan. Berita itu dengan cepat menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. Untungnya, tak ada seorang pun yang berani memberitakan atau memposting hal itu ke sosial media mereka masing-masing. Setidaknya reputasi Stefa di dunia permodelan tidak tercemar.


            Sampai pada akhirnya berita itu terdengar oleh telinga David. Ia tak suka jika ada gosip tak sedap yang tersebar di perusahaannya. David mempekerjakan mereka dan menggaji mereka untuk bekerja dengan profesional bukan untuk menggosipkan satu sama lainnya. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih akurat, David sampai harus mendatangi langsung ruangan divisi HRD.


            Memang, berita buruk akan lebih cepat menyebar luasnya sampai ke mana-mana. Orang-orang yang bergosip dari satu mulut ke mulut lainnya akan melebih-lebihkan dan sedikit membumbui cerita yang mereka dengar itu tanpa kelengkapan cerita sesungguhnya. Menggiring opini orang-orang untuk mencap jelek seseorang akibat dari bumbu yang mereka tambahkan ke dalam cerita tersebut.


            Tiba di ruang Kepala HRD, David langsung memberondongnya dengan segala macam pertanyaan. David sengaja tak membiarkan Stefa dan Brianna untuk pergi terlebih dulu, ia ingin mendengarkan penjelasan dari kedua sisi. Kepala bagian HRD tersebut menjelaskan asal mula kronologisnya mengapa sampai terjadi keributan di sana.


            Selama kedua belah pihak saling memberikan penjelasan masing-masing, David sama sekali tak menyela. Ia menjadi pendengar dan pengamat dari keduanya, David tidak bisa membela salah satu di antara mereka karena ini berurusan dengan pegawainya, pekerjaan serta rasa tanggung jawab, dan perusahaan yang ia pimpin.


            “Baiklah, aku sudah mendengarnya!” seru David setelah beberapa waktu ia mendengarkan keseluruhan cerita dan pembelaan dari kedua belah pihak.


            “Apa yang dikatakan Kepala HRD memang benar adanya bahwa Ms. Stefa tidak bisa mengambil hak cuti atau memperpanjangnya lagi karena masa cuti yang ia miliki sudah habis. Namun menimbang dari surat keterangan dari dokter rumah sakit, kita tak bisa mengatakan kalau kita tak bisa bersikap manusiawi. Saya memutuskan untuk memberikan kesempatan sekali lagi untuk Ms. Stefa, ia akan mendapatkan masa perpanjangan cutinya.” Lanjut David. Si Kepala HRD itu terperangah karena mendengar David yang malah memberikan izin untuk Stefa.


            Brianna merasa menang dari perdebatan alot dengan Kepala HRD tersebut. Seharusnya ia mendapatkan


persetujuan ini dari tadi untuk Stefa, bukannya malah berdebat sampai hampir seluruh penghuni gedung itu menggosipkan Stefa yang tidak-tidak.


            Haruskah Stefa berterima kasih pada David saat ini dan mensyukurinya? Entahlah. Stefa tidak tahu ia harus bersyukur atau tidak atas kebaikan David. Pria itu pasti ada sesuatunya makanya kenapa pria itu bersikap murah hati seperti sekarang.


            “Tapi, Sir, kita tak bisa mentoleransinya lagi. Hak cutinya sudah habis, sesuai dengan peraturan perusahaan bahwa kita wajib memberikan surat peringatan itu jika ada yang menyalahi aturan.” Kepala HRD itu menyanggah atas pernyataan David.


            “Chh. Terlalu banyak omong. Memang hanya aku saja yang melakukan hal ini?! Seolah manusia menyebalkan ini tidak pernah melakukan kesalahan dan menyalahi aturan saja. Sepertinya aku harus berterima kasih kali ini pada pria brengsek di depanku ini.” Stefa mencibir sanggahan Kepala HRD itu dengan tersenyum sinis kemudian menatap David kembali.


            “Tenang saja, semua tanggung jawab saya yang ambil. Saya akan memberikan hak perpanjangan cuti untuk Ms. Stefa. Tiga hari, apa itu cukup?” tanya David pada Stefa.


            Apa-apaan itu, Stefa pikir David akan memberikan izinnya sesuai dengan saran dari dokter yaitu selama satu minggu penuh. Rupanya pria itu memang licik, dia bermuka tebal sepertinya. Baiklah, Stefa pikir mendapatkan izin tiga hari tidaklah masalah dibanding ia tidak mendapatkan hak cutinya sama sekali. Ucapan terima kasih dan rasa bersyukurnya terhadap David ia tarik kembali karena tak sesuai dengan perkiraannya.


            Kepala HRD itu setidaknya merasa tenang karena mendengar David yang tak sepenuhnya memberikan hak perpanjang cuti terhadap karyawannya selama satu minggu penuh. Meskipun tiga hari masihlah terhitung berlebihan dan tak sesuai dengan aturan perusahaan, dan seharusnya Stefa mendapatkan surat peringatan atau seharusnya ia didepak saja dari perusahaan itu karena terlalu sering membagi waktu dengan pekerjaan lainnya.


            Tetapi ia tak memiliki kuasa lebih selain mendengarkan perintah David untuk langsung memberikan izin pada Stefa. Setelah semuanya aman terkendali, Stefa dan Brianna meninggalkan gedung pencakar langit itu setelah Brianna mengucapkan rasa terima kasihnya untuk David.


            “Kali ini sepertinya kau harus benar-benar mempertimbangkan untuk keluar dari pekerjaan utamamu itu! Ke


depannya, kita tak bisa seenaknya lagi.” Brianna menghela napas panjang memikirkan nasib Stefa. Wanita itu yang memiliki dua pekerjaan, malah Brianna yang harus dibuat pusing sedemikian rupa.

__ADS_1


            “Setidaknya aku masih memiliki waktu tiga hari untuk berpikir keras akan nasib pekerjaanku.” Stefa turut menghela napas panjang.


__ADS_2