My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 62 Stay away


__ADS_3

Open PO Novel My Love Story versi cetak gelombang II mulai 16 April 2020 - 30 April 2020. Untuk info pemesanan langsung kirim WA ke nomor admin 0818331696 !!



Untuk versi eBook sudah bisa di download melalui Playstore dengan harga yang lebih terjangkau !!



***


            David dan Revaldo kini saling berhadap-hadapan dengan meja yang hanya menjadi penyekat di antara mereka. Beberapa jam yang lalu Revaldo menghubungi David dan mengajaknya bertemu di salah satu restaurant yang menyediakan tempat khusus bagi pelanggannya. Segala bentuk macam privasi dan kerahasiaan akan terjamin aman tanpa ada yang mengetahuinya kecuali mereka berdua saja.


            Makanan sudah tersaji sejak beberapa menit yang lalu tetapi belum tersentuh sedikit pun, makanan itu hampir mendingin jika saja mereka berdua tetap membiarkannya seperti itu. Tatapan mereka saling terkunci satu sama lain dengan pemikiran yang berbeda.


            “Kudengar kau sudah berbicara dengan calon istriku.” Revaldo berucap dengan kedua tangan yang tersimpan tegap di depan dadanya dengan mata yang masih tertuju pada David.


            David mendengus geli. “Hh... Ya kau benar, dan sepertinya berita itu lebih cepat sampai ke telingamu.”


            “Kupikir kau adalah pria terhormat dan bertanggung jawab nyatanya, kau sama saja dengan pria kebanyakan. Beruntung saja aku bergerak cepat sebelum kau menemuinya, sekarang keputusan sudah diambil. Aku tetap akan menikahinya walau tanpa persetujuan Stefa.”


            “Kau bercanda?! Kau berkata seperti itu padaku sedangkan kau juga memaksakan kehendakmu pada Stefa. Bukankah kita sama saja dalam urusan ini?!” terdengar menjengkelkan memang perkataan David, tetapi Revaldo mengabaikannya.


            “Setidaknya aku menawarkan kebahagiaan nyata dan mutlak untuknya, untuk bayi yang dikandungnya. Tidak seperti kau yang menjanjikan kebahagiaan dan masa depan yang semu, kau hanya menyakitinya. Tidakkah kau sadari itu?” balas Revaldo dengan sinis.


            Memang begitu banyak perbedaan di antara mereka berdua, sekilas mereka memang memiliki tujuan yang sama. Mendapatkan wanita yang mereka cintai dan memberikan masa depan yang cerah untuknya, sayangnya. Jika ditelaah lebih dalam lagi, cara mereka menjanjikan dan menggambarkan masa depan jelas terlihat jauh berbeda.


            David menjanjikan masa depan untuk Stefa dengan cara memaksakan kehendaknya, tetapi jauh di dalam hatinya ia memang mencintai Stefa. Meskipun apa yang ia lakukan selama ini mungkin saja semua wanita menginginkannya, tetapi tidak dengan Stefa. Wanita itu kesakitan, rasa sakit menggerogotinya. Stefa yang terlihat kuat dan tegar nyatanya ia hanyalah seorang wanita yang rapuh dan lemah, butuh rengkuhan kehangatan yang mampu memberikan kenyamanan untuknya.


            Sedangkan Revaldo, meskipun pria itu tidak menyatakan cinta berulang kali bahkan mungkin terbilang hampir tidak pernah menyatakan. Tetapi dari berbagai segala macam bentuk tindakan yang diberikan kepada Stefa, seharusnya wanita itu menyadarinya. Revaldo sama menginginkannya seperti David yang menginginkan Stefa. Revaldo selalu ada untuk Stefa, di saat wanita itu membutuhkannya ataupun tidak sama sekali.


            Revaldo akan menjadi pria pertama yang berdiri di barisan terdepan untuk Stefa yang menawarkan bantuan, kenyamanna, kebahagiaan, dan masa depan yang lebih baik dari yang David tawarkan.

__ADS_1


            “Kau tahu, aku memang terlampau sering menyakitinya. Tetapi, sesungguhnya aku benar-benar mencintainya. Mungkin ini terdengar klise untuk pria seperti kita, namun apa yang kukatakan semuanya benar adanya. Aku mencintai Stefa sepenuhnya, aku tidak tahu harus mengutarakan perasaanku padanya dengan cara seperti apa. Sehingga yang terjadi adalah aku yang menyakitinya, menyakiti berulang kali, lagi, lagi dan lagi.” David


berusaha mencurahkan seluruh isi hatinya pada Revaldo, meskipun nyatanya pria itu adalah saingan cintanya. Tetap saja David perlu menghentikkan kesalahpahaman ini pada semua orang.


            Mereka terlalu menilai David dari sisi buruknya saja, seharusnya mereka menilai David dari sisi lainnya juga.


Tidakkah mereka sadar dengan apa yang selama ini David lakukan kepada Stefa? David sengaja mengirim Stefa ke Indonesia demi memberikan kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia akan baik-baik saja meskipun mantan kekasih wanita itu-Marshal, baru saja menyakiti wanita itu.


            Ia datang secepat kilat dari London ke Indonesia saat mendengar bahwa Stefa mendapatkan masalah karena seseorang di sana, tanpa memikirkan tubuhnya yang lelah dan belum mendapatkan istirahat yang cukup. Memperlakukan Stefa dengan baik, memberinya dress, sepatu pesta, serta hal lainnya saat Revaldo mengadakan pesta penyambutan untuk mereka.


            Tidakkah Stefa sadar saat David menciumnya dan setengah mencumbunya dari awal David menjemput Stefa di kamarnya dan sampai pesta itu selesai, semua itu dilakukan dengan penuh cinta? David pikir semua yang ia lakukan untuk Stefa akan dengan mudah dimengerti oleh wanita itu.


            Nyatanya mereka semua telah salah paham pada David, sejauh ini. Tidak. Semua adalah salah David. Ia tak pernah menyatakan perasaan yang sesungguhnya pada siapa pun. Semua perlakuannya adalah salah, tentu saja itu salah David. Di sini, ialah yang salah.


            “Aku mengerti!” tukas Revaldo menanggapi curahan hati David.


            “Tapi kini sudah selesai dan kau terlambat. Aku akan menikahinya, bertanggung jawab atas hidupnya dan juga bayi yang dia kandung. Dan sekarang aku akan meminta sebuah permohonan yang harus kau ikuti dan tak bisa kau tolak sama sekali.”


            “Stay away from her! Kau sudah mendapatkan kesempatan untuk mengutarakan seluruh


perasaanmu padanya, dan itu sudah cukup bagimu.”


            David terhenyak mendengar penuturan Revaldo sekaligus permintaan pria itu. Tidak. David tidak akan menyerah semudah itu, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Bagaimanapun Stefa dan juga bayi berkualitasnya adalah tanggung jawabnya sepenuhnya.


            “Please, let me marry her and be a great father and husband to them. Aku telah banyak


melakukan kesalahan.” David tidak peduli jika ia harus berlutut di bawah kaki Revaldo jika tindakan itu mampu membuat Revaldo melepaskan Stefa untuknya.


            Revaldo tidak menjawab, pria itu bergeming di tempatnya.


            “Please! Let her go for me, let them go! Jika kau tak memberiku kesempatan, setidaknya berikan kesempatan kepada Stefa dan bayinya untuk mengenalku, bersamaku.” David hampir hilang akal, dia akan gila jika ia tak bisa mendapatkan Stefa dan juga bayi berkualitas mereka.

__ADS_1


            Tetapi, Revaldo malah berdiri dari kursinya. Ia tak memberikan jawaban atas permohonan David yang memang terdengar tulus sama sekali, ia meninggalkan David di sana sendirian. Berakhir. Pembicaraan mereka sudah berakhir sampai di sana. Tidak akan ada lagi pembicaraan yang perlu mereka lakukan, tidak ada lagi topik pembahasan yang perlu mereka bahas karena semuanya sudah usai. Revaldo tetap akan menikahi Stefa, dan David akan mendapatkan penyesalan atas hukumannya.


***


            Stefa sudah keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu, dan sekarang ia sedang menerima panggilan telepon dari Lianne. Ia kembali ke rumah yang dibelikan oleh Ken untuknya saat ia masih dalam misi pelarian dan persembunyiannya. Wartawan sudah hilang entah ke mana, mereka tidak lagi mengikuti atau berkumpul di titik yang sama demi mendapatkan berita tentang Stefa.


            Mungkin para wartawan itu lelah karena tidak mendapatkan hasil yang lebih baik dan mendapatkan bahan berita yang memuaskan. Atau mungkin saja ada seseorang yang mengambil tindakan dan mengancam para wartawan itu. Siapa yang tahu?!


            “Kapan kau akan ke sini?” tanya Stefa setelah ia tahu bahwa sahabatnya datang ke Jepang dengan Johannes, bos dari sahabatnya itu.


            “Aku akan ke sana secepatnya. Pria menyebalkan yang sialannya dia adalah bosku, terus saja menahanku di hotel dengan alasan bahwa kau butuh istirahat yang banyak jadi aku tidak bisa mengganggumu.” Keluh Lianne dengan tak luput dari gerutuannya.


            Stefa terkekeh. “Mungkin dia menyukaimu, Lianne.” Tebak Stefa.


            “KAU GILA! Mana ada dia menyukaiku. Hah. Aku terlalu tahu tipe wanita seperti apa yang dia suka. Dan semuanya adalah wanita seksi dengan bokong serta dada yang menggelembung besar. Eeww, menjijikkan. Aku yakin mereka melakukan operasi di mana-mana, tubuh mereka tidak lagi asli.”


            Stefa terbahak-bahak mendengar hinaan yang Lianne lontarkan dan sebagai bentuk visualisasi untuk wanita-wanita yang pernah bosnya sukai atau kencani.


            “Setidaknya mereka memiliki bokong dan dada yang besar, kau jelas kalah dengan mereka.” Ejek Stefa membuat Lianne mencebik kesal dan mengumpat.


            “Hell! Bokong dan dadaku jauh lebih baik, meskipun.... kecil.” Lianne mencicit di akhir kalimatnya, dan lagi-lagi Stefa terbahak-bahak karenanya.


            “Astaga, aku terlalu banyak tertawa.” Stefa mencoba menghentikan tawanya tetapi ia tak bisa. Ia terlalu


hapal dengan sifat Lianne, ia jadi membayangkan bagaimana ekspresi Lianne saat mengatakan bokong dan dada wanita kesukaan Johannes itu seperti apa. Wanita itu akan memasang wajah jijik dan seolah-olah Lianne akan muntah.


            “Kau akan kena karmamu nantinya.” Ejek Stefa lagi.


            “Kau menyumpahiku? Sahabatmu sendiri? Ya Tuhan, sahabat macam apa kau ini yang beraninya menyumpahiku? Dengar ini Nona Stefa yang terhormat yang sebentar lagi akan memberikanku keponakan yang lucu dan menggemaskan dengan pipi yang menggembul itu! Aku tidak akan pernah jatuh cinta dan terpesona pada pria bernama JOHANNES itu, catat itu!”


            “Ya, ya, ya... Terserah kau saja!” balas Stefa dengan kedua bola mata yang memutar malas. Padahal Lianne belum tentu melihat itu.

__ADS_1


__ADS_2