
Bunyi alarm di handphone Stefa berbunyi membuat si pemiliknya terusik dari tidur nyenyaknya.
Tangannya mencari-cari benda yang sedari tadi terus berbunyi mencoba untuk
mengingatkan bahwa malam sudah berganti siang.
Setelah menemukan benda itu, Stefa langsung mematikan alarm itu dengan mata yang masih terpejam. Namun
tiba-tiba, ia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal. Matanya langsung
terbuka sekaligus tanpa aba-aba, dan menatap sekeliling.
“Kenapa aku ada di kamar? Seingatku semalam aku membukakan pintu, dan aku berniat untuk kembali ke
kamar. Karena aku terlalu mengantuk, akhirnya aku berjalan menuju sofa. Lantas,
kenapa aku ada disini?” Stefa bermonolog sendiri. Ia bertanya sendiri pada
dirinya, dan dia merasakan kebingungan.
Memang seharusnya Stefa berada di atas sofa saat ini. Namun pria baik hati memindahkannya ke dalam
kamar semalam, tanpa disadari Stefa. Bahkan tidurnya hampir menyerupai orang
mati yang tidak tergoyahkan dengan gerakkan-gerakkan yang mengganggu tidurnya.
“Apa tanpa sadar aku pindah sendiri ke kamar?” Stefa bertanya kembali pada dirinya sendiri dengan
mata yang menatap ke atas seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Ah terserahlah. Yang penting aku semalam tidur dengan nyenyak. Ya, mungkin semalam aku memang pindah
sendiri kesini tapi aku tidak mengingatnya. Ya betul.” Gumam Stefa meyakinkan
dirinya sendiri bahwa dirinya pindah ke sana tanpa seingatnya.
Stefa segera bangkit dari tempat tidurnya dan merapihkan tempat tidur itu. Dia menarik selimut yang
sebagiannya menjuntai ke bawah. Setelah di rasa tempat tidurnya rapih, ia
mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Air yang keluar dari pancuran membasahi seluruh tubuh Stefa dan membuat rambutnya basah. Pagi ini
tubuhnya terasa sangat segar dan rasa lelah serta letih sudah benar-benar
hilang. Di tambah dengan guyuran air dingin menambah kesegaran yang dirasakan
Stefa saat ini.
Busa sabun menutupi tubuh Stefa dan menghilangkan keringat yang menempel di badannya. Aroma yang
menguar dari sabun masuk ke indera penciuman Stefa.
“Ini membuat tubuhku lebih nyaman.” Gumam Stefa dengan tangan yang tidak berhenti menyusuri tubuhnya
sendiri dengan busa sabun.
Untuk kali ini Stefa enggan untuk berlama-lama mengguyur tubuhnya di bawah air yang dingin. Di rasa
tubuhnya sudah bersih dari sisa-sisa sabun, Stefa langsung mengambil handuk dan
jubah mandinya.
Stefa memakai jubah mandi di depan cermin yang cukup besar di dalam kamar mandi itu. Gerak
tangannya tiba-tiba terhenti melihat titik merah di atas dadanya.
“Tunggu! Ini, ini kenapa? Kenapa dada ku merah?” ucap Stefa sambil tangannya menyentuh tanda merah itu.
Dahinya berkerut dalam.
Stefa memperhatikan tanda merah itu dengan seksama. Dan sesuatu terlintas di pikirannya.
“Astaaagaaa. Apa iniiii? Ini tidak mungkin bekas gigitan ‘kan? Siapa yang menggigitku?” pekik
__ADS_1
Stefa setelah menyadari tanda merah itu.
Stefa bukanlah wanita yang benar-benar polos. Meskipun dia masih perawan, bukan berarti dia tidak pernah mendapatkan kissmark dari kekasihnya. Dan saat ini dia tahu betul tanda merah apa yang ada di atas
dadanya itu.
“Sialan. Siapa yang berani memberikan kissmark di dadaku?! Ah, sialan!” umpat Stefa kesal melihat tanda merah itu.
Stefa buru-buru menggunakan jubah mandinya dan keluar dari dalam sana. Buru-buru dia mengambil
pakaian dalam serta baju ganti yang akan dia pakai ke lokasi proyek. Dia tidak
henti-hentinya menggerutu karena sebuah tanda merah di dadanya.
Semua menjadi pertanyaan besar bagi Stefa. Dan dia menyangkut pautkan dengan kejadian semalam
dimana di awali dengan bunyi bel yang tidak berhenti mengganggu dirinya dari
tidur, lalu saat terbangun dia sudah mendapati dirinya di dalam kamar yang
seharusnya berada di atas sofa, dan sekarang. Sekarang di tambah dengan tanda
merah yang sudah jelas itu adalah tanda kissmark.
Tidak mungkin ‘kan ada nyamuk yang menggigit di area dadanya dengan menghasilkan tanda merah seperti
itu. Ini sudah pasti ulah seseorang, dan Stefa berharap itu bukanlah mantan kekasih sialan nya itu.
“God, pagiku menjadi suram gara-gara tanda sialan ini. Untung saja di bagian yang tidak terlihat, jadi aku tidak perlu pusing-pusing untuk menutupinya dengan syal. Baru saja aku merasakan ketenangan, dan sekarang
otakku sudah dipenuhi dengan orang misterius yang memberikan tanda ini.”
Setelah semuanya siap meskipun Stefa tidak berhenti dari aktivitas menggerutunya. Dia tetap melangkah
meninggalkan kamar dan segera berjalan ke arah pintu utama kamar Hotel yang di
tempati David.
Stefa menekan bel agar David membuka ‘kan pintu. Dan tidak perlu menunggu lama, karena memang sedari
Perhitungan David memang tepat dan tidak pernah meleset.
Ceklek.
Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok pria yang teramat tampan dan gagah. Parfum mahalnya menguar
ke indera penciuman Stefa. Stefa yang terpaku melihat penampilan David hanya
diam saja, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Dibalik semua itu, David menyungging ‘kan senyum terselubungnya tanpa Stefa sadari saat ini.
“Ehm...” David berdeham dan saat itu juga Stefa bereaksi.
“Selamat pagi, Mr. David!” sapa Stefa mengenyahkan pikiran yang tidak-tidak tentang penilaian
dirinya terhadap penampilan David.
“Pagi.” Balas David singkat.
“Emh, anda sudah siap?”
“Tentu saja aku sudah siap. Seperti yang kau lihat.”
“A-ah.. Ya, betul. Anda memang sudah siap sepertinya.”
Sebenarnya David ingin sekali tertawa terbahak-bahak karena melihat mimik wajah Stefa yang gugup dan
terlihat lucu saat dirinya ketahuan mencuri pandang pada David. Namun niatnya
David urungkan karena ia masih ingin melihat mimik wajah lucu dari Stefa.
“Kau sudah sarapan?”
“Belum, sir. Saya kesini ingin mengajak anda sarapan bersama dengan Judith. Mungkin saat ini Judith sudah menunggu di bawah.”
__ADS_1
“Romantis sekali kamu Stefa.” Ucap David dengan nada menggoda.
Stefa mengerutkan dahinya tidak mengerti.
“Maksudnya, sir?” tanya Stefa bingung dengan ucapan David yang mengatakan bahwa dirinya romantis. Romantis dari mananya? Dia ‘kan haya mengajak sarapan bersama, lalu dimana letak romantis nya?
David sedikit terkekeh. “Tentu saja kamu romantis, pagi-pagi kamu sudah datang dan muncul di depan
pintu kamar ku. Dan mengajak ku sarapan bersama, bukankah itu romantis?”
Stefa menganga ‘kan mulutnya, ia tidak salah dengar ‘kan apa yang baru saja bos besarnya itu
ucapkan?! Astaga ya Tuhan.
“Hahaha. Anda sangat lucu, sir!” Stefa terpaksa tertawa seolah perkataan David barusan sangatlah lucu di dengarnya.
“Mari, sir! Kita sarapan bersama!” Ajak Stefa kembali setelah sadar dari tertawa yang dipaksakannya.
David hanya mengedikkan bahunya tak acuh dan menutup pintu utamanya. Dia berjalan di depan Stefa, dan
Stefa hanya mengikutinya dari belakang. Sungguh pagi hari yang menyebalkan.
Rasa kesal karena tanda merah itu belum hilang, kini dirinya harus mendapatkan kekesalan yang bertambah
akibat ucapan bos besarnya itu. Mungkin wanita lain akan bahagia mendapat
gombalan dan godaan dari bos besar yang tampan dan sialannya sangat kaya itu.
Tapi dengan Stefa, itu sangatlah menjijikan. Dia tidak membutuhkan godaan dan gombalan seperti itu. Oh
mungkin saja otak bos besarnya itu baru saja mengalami kerusakan sehingga mampu
menggoda Stefa di pagi harinya yang sudah suram.
“Sepertinya anda terlihat tidak senang pagi ini, Stefa.” Ucap David saat mereka sudah memasuki
lift.
Stefa langsung mendongakkan kepalanya dan menatap David dari samping.
“Ah, tidak, sir. Itu hanya perasaan anda saja.”
“Tapi sepertinya memang anda sedang tidak senang. Apa semalam tidurmu tidak nyenyak? Atau terjadi
sesuatu semalam atau pagi ini?” tanya David penasaran yang justru malah
terdengar aneh di telinga Stefa.
‘Tahu dari mana kalau aku sedang tidak bahagia pagi ini? Dan kenapa pertanyaannya
begitu aneh di telingaku? Seolah dia tahu bahwa pagi ini aku menemukan sesuatu
yang membuat pagiku suram. Atau jangan- jangan, jangan-jangan dia.. Dia.. Ah, tidak
mungkin. Mana mungkin itu dia.. Aiisshh, bisa-bisa aku gila hanya karena
kejadian semalam dan tadi pagi.’
Stefa menggerutu dalam hatinya dengan sesekali mengeluarkan suara decakkan. Dan semua itu tidak luput
dari pandangan David dan pendengaran David.
“Sepertinya semalam atau tadi pagi memang telah terjadi sesuatu denganmu ya, Stefa?!”
“Ah, i-itu.. Sebenarnya tidak ada yang terjadi apapun semalam atau pagi. Hanya saja ada sedikit ke
anehan saja, tapi itu tidak penting. Terima kasih atas perhatian anda, sir!” balas Stefa dan memberikan batasan
bagi David untuk tidak mengorek-orek sesuatu dari dirinya.
“Baiklah.” Balas David tak acuh.
Dan suasana di dalam lift menjadi hening kembali. Entah kenapa rasanya lift itu terasa berjalan
sangat lama untuk mencapai ke lantai dasar. Stefa ingin membebaskan dirinya
__ADS_1
dari aura bos besarnya itu.