My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 20 Tanda Merah


__ADS_3

Bunyi alarm di handphone Stefa berbunyi membuat si pemiliknya terusik dari tidur nyenyaknya.


Tangannya mencari-cari benda yang sedari tadi terus berbunyi mencoba untuk


mengingatkan bahwa malam sudah berganti siang.


Setelah menemukan benda itu, Stefa langsung mematikan alarm itu dengan mata yang masih terpejam. Namun


tiba-tiba, ia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal. Matanya langsung


terbuka sekaligus tanpa aba-aba, dan menatap sekeliling.


“Kenapa aku ada di kamar? Seingatku semalam aku membukakan pintu, dan aku berniat untuk kembali ke


kamar. Karena aku terlalu mengantuk, akhirnya aku berjalan menuju sofa. Lantas,


kenapa aku ada disini?” Stefa bermonolog sendiri. Ia bertanya sendiri pada


dirinya, dan dia merasakan kebingungan.


Memang seharusnya Stefa berada di atas sofa saat ini. Namun pria baik hati memindahkannya ke dalam


kamar semalam, tanpa disadari Stefa. Bahkan tidurnya hampir menyerupai orang


mati yang tidak tergoyahkan dengan gerakkan-gerakkan yang mengganggu tidurnya.


“Apa tanpa sadar aku pindah sendiri ke kamar?” Stefa bertanya kembali pada dirinya sendiri dengan


mata yang menatap ke atas seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Ah terserahlah. Yang penting aku semalam tidur dengan nyenyak. Ya, mungkin semalam aku memang pindah


sendiri kesini tapi aku tidak mengingatnya. Ya betul.” Gumam Stefa meyakinkan


dirinya sendiri bahwa dirinya pindah ke sana tanpa seingatnya.


Stefa segera bangkit dari tempat tidurnya dan merapihkan tempat tidur itu. Dia menarik selimut yang


sebagiannya menjuntai ke bawah. Setelah di rasa tempat tidurnya rapih, ia


mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Air yang keluar dari pancuran membasahi seluruh tubuh Stefa dan membuat rambutnya basah. Pagi ini


tubuhnya terasa sangat segar dan rasa lelah serta letih sudah benar-benar


hilang. Di tambah dengan guyuran air dingin menambah kesegaran yang dirasakan


Stefa saat ini.


Busa sabun menutupi tubuh Stefa dan menghilangkan keringat yang menempel di badannya. Aroma yang


menguar dari sabun masuk ke indera penciuman Stefa.


“Ini membuat tubuhku lebih nyaman.” Gumam Stefa dengan tangan yang tidak berhenti menyusuri tubuhnya


sendiri dengan busa sabun.


Untuk kali ini Stefa enggan untuk berlama-lama mengguyur tubuhnya di bawah air yang dingin. Di rasa


tubuhnya sudah bersih dari sisa-sisa sabun, Stefa langsung mengambil handuk dan


jubah mandinya.


Stefa memakai jubah mandi di depan cermin yang cukup besar di dalam kamar mandi itu. Gerak


tangannya tiba-tiba terhenti melihat titik merah di atas dadanya.


“Tunggu! Ini, ini kenapa? Kenapa dada ku merah?” ucap Stefa sambil tangannya menyentuh tanda merah itu.


Dahinya berkerut dalam.


Stefa memperhatikan tanda merah itu dengan seksama. Dan sesuatu terlintas di pikirannya.


“Astaaagaaa. Apa iniiii? Ini tidak mungkin bekas gigitan ‘kan? Siapa yang menggigitku?” pekik

__ADS_1


Stefa setelah menyadari tanda merah itu.


Stefa bukanlah wanita yang benar-benar polos. Meskipun dia masih perawan, bukan berarti dia tidak pernah mendapatkan kissmark dari kekasihnya. Dan saat ini dia tahu betul tanda merah apa yang ada di atas


dadanya itu.


“Sialan. Siapa yang berani memberikan kissmark di dadaku?! Ah, sialan!” umpat Stefa kesal melihat tanda merah itu.


Stefa buru-buru menggunakan jubah mandinya dan keluar dari dalam sana. Buru-buru dia mengambil


pakaian dalam serta baju ganti yang akan dia pakai ke lokasi proyek. Dia tidak


henti-hentinya menggerutu karena sebuah tanda merah di dadanya.


Semua menjadi pertanyaan besar bagi Stefa. Dan dia menyangkut pautkan dengan kejadian semalam


dimana di awali dengan bunyi bel yang tidak berhenti mengganggu dirinya dari


tidur, lalu saat terbangun dia sudah mendapati dirinya di dalam kamar yang


seharusnya berada di atas sofa, dan sekarang. Sekarang di tambah dengan tanda


merah yang sudah jelas itu adalah tanda kissmark.


Tidak mungkin ‘kan ada nyamuk yang menggigit di area dadanya dengan menghasilkan tanda merah seperti


itu. Ini sudah pasti ulah seseorang, dan Stefa berharap itu bukanlah mantan kekasih sialan nya itu.


“God, pagiku menjadi suram gara-gara tanda sialan ini. Untung saja di bagian yang tidak terlihat, jadi aku tidak perlu pusing-pusing untuk menutupinya dengan syal. Baru saja aku merasakan ketenangan, dan sekarang


otakku sudah dipenuhi dengan orang misterius yang memberikan tanda ini.”


Setelah semuanya siap meskipun Stefa tidak berhenti dari aktivitas menggerutunya. Dia tetap melangkah


meninggalkan kamar dan segera berjalan ke arah pintu utama kamar Hotel yang di


tempati David.


Stefa menekan bel agar David membuka ‘kan pintu. Dan tidak perlu menunggu lama, karena memang sedari


Perhitungan David memang tepat dan tidak pernah meleset.


Ceklek.


Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok pria yang teramat tampan dan gagah. Parfum mahalnya menguar


ke indera penciuman Stefa. Stefa yang terpaku melihat penampilan David hanya


diam saja, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Dibalik semua itu, David menyungging ‘kan senyum terselubungnya tanpa Stefa sadari saat ini.


“Ehm...” David berdeham dan saat itu juga Stefa bereaksi.


“Selamat pagi, Mr. David!” sapa Stefa mengenyahkan pikiran yang tidak-tidak tentang penilaian


dirinya terhadap penampilan David.


“Pagi.” Balas David singkat.


“Emh, anda sudah siap?”


“Tentu saja aku sudah siap. Seperti yang kau lihat.”


“A-ah.. Ya, betul. Anda memang sudah siap sepertinya.”


Sebenarnya David ingin sekali tertawa terbahak-bahak karena melihat mimik wajah Stefa yang gugup dan


terlihat lucu saat dirinya ketahuan mencuri pandang pada David. Namun niatnya


David urungkan karena ia masih ingin melihat mimik wajah lucu dari Stefa.


“Kau sudah sarapan?”


“Belum, sir. Saya kesini ingin mengajak anda sarapan bersama dengan Judith. Mungkin saat ini Judith sudah menunggu di bawah.”

__ADS_1


“Romantis sekali kamu Stefa.” Ucap David dengan nada menggoda.


Stefa mengerutkan dahinya tidak mengerti.


“Maksudnya, sir?” tanya Stefa bingung dengan ucapan David yang mengatakan bahwa dirinya romantis. Romantis dari mananya? Dia ‘kan haya mengajak sarapan bersama, lalu dimana letak romantis nya?


David sedikit terkekeh. “Tentu saja kamu romantis, pagi-pagi kamu sudah datang dan muncul di depan


pintu kamar ku. Dan mengajak ku sarapan bersama, bukankah itu romantis?”


Stefa menganga ‘kan mulutnya, ia tidak salah dengar ‘kan apa yang baru saja bos besarnya itu


ucapkan?! Astaga ya Tuhan.


“Hahaha. Anda sangat lucu, sir!” Stefa terpaksa tertawa seolah perkataan David barusan sangatlah lucu di dengarnya.


“Mari, sir! Kita sarapan bersama!” Ajak Stefa kembali setelah sadar dari tertawa yang dipaksakannya.


David hanya mengedikkan bahunya tak acuh dan menutup pintu utamanya. Dia berjalan di depan Stefa, dan


Stefa hanya mengikutinya dari belakang. Sungguh pagi hari yang menyebalkan.


Rasa kesal karena tanda merah itu belum hilang, kini dirinya harus mendapatkan kekesalan yang bertambah


akibat ucapan bos besarnya itu. Mungkin wanita lain akan bahagia mendapat


gombalan dan godaan dari bos besar yang tampan dan sialannya sangat kaya itu.


Tapi dengan Stefa, itu sangatlah menjijikan. Dia tidak membutuhkan godaan dan gombalan seperti itu. Oh


mungkin saja otak bos besarnya itu baru saja mengalami kerusakan sehingga mampu


menggoda Stefa di pagi harinya yang sudah suram.


“Sepertinya anda terlihat tidak senang pagi ini, Stefa.” Ucap David saat mereka sudah memasuki


lift.


Stefa langsung mendongakkan kepalanya dan menatap David dari samping.


“Ah, tidak, sir. Itu hanya perasaan anda saja.”


“Tapi sepertinya memang anda sedang tidak senang. Apa semalam tidurmu tidak nyenyak? Atau terjadi


sesuatu semalam atau pagi ini?” tanya David penasaran yang justru malah


terdengar aneh di telinga Stefa.


‘Tahu dari mana kalau aku sedang tidak bahagia pagi ini? Dan kenapa pertanyaannya


begitu aneh di telingaku? Seolah dia tahu bahwa pagi ini aku menemukan sesuatu


yang membuat pagiku suram. Atau jangan- jangan, jangan-jangan dia.. Dia.. Ah, tidak


mungkin. Mana mungkin itu dia.. Aiisshh, bisa-bisa aku gila hanya karena


kejadian semalam dan tadi pagi.’


Stefa menggerutu dalam hatinya dengan sesekali mengeluarkan suara decakkan. Dan semua itu tidak luput


dari pandangan David dan pendengaran David.


“Sepertinya semalam atau tadi pagi memang telah terjadi sesuatu denganmu ya, Stefa?!”


“Ah, i-itu.. Sebenarnya tidak ada yang terjadi apapun semalam atau pagi. Hanya saja ada sedikit ke


anehan saja, tapi itu tidak penting. Terima kasih atas perhatian anda, sir!” balas Stefa dan memberikan batasan


bagi David untuk tidak mengorek-orek sesuatu dari dirinya.


“Baiklah.” Balas David tak acuh.


Dan suasana di dalam lift menjadi hening kembali. Entah kenapa rasanya lift itu terasa berjalan


sangat lama untuk mencapai ke lantai dasar. Stefa ingin membebaskan dirinya

__ADS_1


dari aura bos besarnya itu.


__ADS_2