My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 45 He's Back


__ADS_3

            Seharian ini rasanya begitu membosankan untuk Stefa, tak banyak pekerjaan yang bisa ia lakukan di kantor karena benar apa yang Judith katakan, bahwa hampir semua pekerjaannya telah dikerjakan oleh Judith saat ia masih berada di Paris. Tepat pukul 5 sore, Stefa menyuruh Judith untuk segera pulang mengingat wanita itu kini sedang mengandung.


            Stefa merasa iba dengan kondisi Judith yang sedang mengandung. Beruntung ia tak pernah melakukan **** bebas di masa mudanya bahkan sampai detik ini. Mungkin jika hanya sekedar ciuman atau make out Stefa pernah melakukannya namun tidak sampai pada tahap itu. Stefa tak pernah menghakimi orang lain akan perbuatan orang lain selama mereka tak mengusik kenyamanannya dan privasinya sendiri.


            “Judith, kau bisa pulang tepat waktu! Kau tak perlu menungguku di sini, aku akan berdiam diri di sini sebentar lagi dan setelahnya, aku juga akan pulang.” Ucap Stefa berdiri tepat di depan meja kerja Judith.


            “Tak apa, aku bisa pulang bersamamu jika kau butuh teman.” Judith kali ini sudah bisa tersenyum tak seperti siang tadi yang menunjukkan wajah tak bersemangatnya itu.


            Stefa menggeleng tak setuju. “Kau sedang mengandung, dan pastikan calon keponakanku baik-baik saja. Jika kau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk meneleponku!” Stefa langsung berbalik dan masuk kembali ke dalam ruang kerjanya.


            Judith langsung merapikan seluruh barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tas kerjanya. Ia akan pulang tepat waktu kali ini berkat Stefa yang baik hati dan pengertian, menurutnya. Meskipun wanita itu tak sehangat dulu, setidaknya rasa manusiawinya masih ada dan pengertian terhadap orang lain.


            Kini tinggal hanya Stefa yang berada di lantai itu, yang lainnya sudah pulang beberapa menit yang lalu. Stefa tak pernah meminta bawahannya untuk pulang tak tepat waktu atau lembur. Terkecuali mereka benar-benar harus melembur karena pekerjaan yang banyak. Ia tak ingin menahan-nahan para bawahannya hanya demi kepentingan yang tak jelas.


            Brianna calling...


            “Kau mau pulang jam berapa? Aku sudah di tempat tinggalmu sekarang.” Tanya Brianna saat teleponnya sudah tersambung.


            “Emh, mungkin sebentar lagi. Aku masih ada pekerjaan di kantor. Kau bisa memakan apapun yang kau inginkan selama menungguku pulang!” Stefa menjawabi dengan santai sambil sesekali tangannya menggerakkan kursor laptop miliknya.


            “Jangan terlalu malam, ada banyak tawaran pekerjaan baru untukmu!” Stefa hanya bergumam sebelum ia menutup telepon itu. Melihat jam di layar handphone-nya, ia buru-buru bersiap untuk pulang. Di balik kaca besar ruangan itu, matahari hampir kembali ke peraduannya sendiri mengalahkan Stefa yang masih berada di ruangan kerjanya sendirian.


            Karena tak banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan di sana, jadi lebih baik Stefa menuruti apa kata manajernya itu untuk langsung pulang dak tak terlalu malam. Saat Stefa akan memasukkan handphone-nya ke dalam tas, sialnya. Benda itu malah terjatuh ke bawah dan tertendang oleh kakinya sendiri menyebabkan benda itu bergeser lebih masuk ke dalam bawah bagian meja kerjanya.


            Stefa mendengus kesal karena kecerobohannya itu, semoga saja benda keramat itu tak rusak karena


kecerobohannya. Mau tak mau Stefa harus berjongkok dan membungkuk untuk meraih handphone-nya itu di bawah kolong meja kerjanya. Rok yang terasa ketat itu menyulitkan Stefa untuk bergerak lebih leluasa di bawah meja sana.


            Bahkan Stefa harus sedikit lebih berusaha hanya untuk meraih handphone itu. Rok yang memang membungkus paha Stefa itu pun terpaksa harus ia naikkan ke atas sedikit untuk mempermudah ia bergerak di bawah sana. Syukurlah, Stefa bisa mengambil benda itu dengan mudah.


            Ia bangkit dari bawah sana dan membetulkan rok yang sempat ia naikkan sedikit dan mengecek handphone-nya apakah ada yang rusak atau apapun itu. Suara siulan seorang pria yang berada di ambang pintu membuat Stefa terperanjat dan membuat handphone itu jatuh untuk yang kedua kalinya.


            “Shit!” umpat Stefa karena terkejut dan harus mengorbankan benda itu terjatuh untuk kedua kalinya. Stefa menatap ke arah sumber suara dan di sana, di ambang pintu sosok pria menyebalkan yang menemuinya tadi di kantin karyawan sedang berdiri dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana bahan itu.


            David menatap Stefa dengan mata nakalnya, kabut gairah memenuhi pandangan matanya. David menyeringai lebar saat melihat Stefa sedang melotot ke arahnya. Apakah pria itu tidak memiliki kerjaan lain selain membuatnya mendadak darah tinggi seperti sekarang ini? Sepertinya David begitu menyukai orang lain mendadak darah tinggi karena perbuatannya itu.


            Stefa tak menghiraukan David yang berjalan masuk ke ruangannya dan duduk di atas sofa. Stefa kembali berjongkok untuk mengambil handphone-nya yang terjatuh. Stefa menghela napas lega karena layar handphone itu tak retak atau menemukan lecet sekali pun setelah terjatuh dua kali.


            “Ada yang bisa aku bantu, Sir?” tanya Stefa dengan nada sinisnya.


            David hanya terkekeh kemudian mengerlingkan matanya dengan nakal mencoba untuk menggoda Stefa. Apa-apaan itu barusan? Pria itu benar-benar berusaha untuk menggoda Stefa.


            “Jika Anda tak memiliki urusan selain pekerjaan, sebaiknya Anda segera kembali ke tempat tinggal Anda. Karena saya tidak bisa menunggui orang yang tak berkepentingan karena saya memiliki urusan lain.” Celetuk Stefa lagi dengan secara terang-terangan mengusir David agar segera enyah dari hadapannya itu.


            “Kau mengusirku dari perusahaanku sendiri? Oh ayolah, bahkan kau pun aku yang menggaji.” David mencemooh Stefa dengan begitu tenangnya. Dan sialnya Stefa mulai terpancing emosi oleh pria sialan itu.


            “Terserah Anda jika Anda masih ingin berada di sini. Saya permisi!” Stefa langsung balik badan dan mencoba untuk menggapai pintu untuk keluar. Biarkan saja pria itu duduk di dalam sana sendirian. Benar apa yang David katakan bahwa perusahaan itu memang miliknya, jadi tak ada yang salah jika Stefa meninggalkan pria itu sendirian meskipun tak sopan sama sekali.


            Stefa terkesiap saat hampir menyentuh kenop pintu dan membukanya, David dengan lancangnya membalikkan tubuh Stefa dan menghimpit tubuh Stefa ke pintu itu. Deru napas Stefa begitu memburu karena menahan emosinya. Berbeda dengan David yang terlihat tenang di hadapan Stefa, memaku mata Stefa agar menatap matanya.


            “Kau tak bisa pergi dariku begitu saja, meninggalkan aku sendirian di ruangan ini tanpa ada aktivitas yang bisa kita lewatkan bersama.” bisik David tepat di depan telinga Stefa dengan nada suara yang begitu serak. Tunggu dulu! Kenapa suara pria itu mendadak serak? Tidak mungkin ‘kan kalau pria itu sedang bergairah di situasi seperti ini.


            Stefa bergerak dan mencoba meloloskan diri dari himpitan tubuh kekar David. Berada di posisi seperti ini


benar-benar menyebalkan, berdiri di antara pintu keras dan tubuh pria yang kekar benar-benar bukan hal yang baik. Berbeda jika di antara mereka memiliki hubungan yang berarti, mungkin saja Stefa akan merasakan hal yang berbeda pula.


            “Tak ada aktivitas yang bisa kita lakukan di sini, jadi lepaskan aku dan enyahlah!” Stefa tak bisa lagi menutupi emosinya, ia mendesis tajam dengan tatapan mata menantang David dengan gamblang.


            Pria itu malah menyunggingkan senyuman miring yang sedetik kemudian menyeret Stefa ke arah sofa dan membantingkan tubuh wanita itu ke atas sofa. David menyusul Stefa dan menindih tubuh wanita itu yang belum sempat terbangun dari posisi terlentangnya.


            Astaga yang benar saja. Sekarang sudah terlepas dari himpitan pintu, sekarang malah di himpit di antara sofa. Ingin rasanya Stefa memukul kepala pria sialan itu dan membuatnya pingsan tergeletak di bawah sana. Jika saja itu bukanlah termasuk tindakan kriminal, Stefa akan melakukannya dari awal. Hei, lagi pula itu bukan tindakan kriminal. Itu tindakan pembelaan, oh ayolah jangan dibesar-besarkan mengatakan itu tindakan kriminal.


            “Kau kembali dan aku pun kembali.” Ucapnya penuh teka teki yang tak bisa Stefa mengerti.

__ADS_1


            Stefa mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”


            “Tentu saja kau tak akan mengerti. Biar kuberi tahu sesuatu padamu.” David sedikit menekan perut Stefa di bawah sana membuat Stefa semakin tak nyaman dibuatnya. Sesaat hanya kesunyian yang memenuhi ruangan itu. Untung saja di lantai itu sudah tak ada lagi orang lain karena memang yang lain sudah pulang.


            Tangan David bergerak merayap menyentuh paha Stefa yang masih tertutupi oleh rok ketat miliknya. Sentuhan ringan nan menggoda itu membuat Stefa harus memejamkan matanya menahan sesuatu, entah itu amarah, gairah atau apapun itu asalkan ia tak kelepasan.


            David menyeringai lebar saat melihat mata Stefa yang terpejam. Di matanya, David melihat Stefa begitu menggoda saat menutup mata indah itu. Apalagi jika mata indah itu tertutup dan bibir yang menggoda itu mendesahkan nama David di bawah kungkungan tubuhnya yang keras berotot.


            Seketika mata Stefa kembali terbuka dan memekik karena ulah tangan David. Rupanya pria itu telah menyelipkan jari jemarinya di balik celana dalam Stefa tanpa wanita itu sadari sedari tadi. Pria itu dengan lihai menerobos masuk melalui rok ketat dan membobol celana dalam Stefa tanpa si pemiliknya sadari.


            “Kau milikku, jadi aku bebas melakukan apapun itu. Kita akan mengulangi kegiatan yang pernah kita lakukan saat di Indonesia. Kau benar-benar milikku, kau tak bisa lari begitu saja dariku. Kau tak bisa menghindar sedetik pun dariku, karena aku akan selalu menemukanmu. Dan kau, kau akan kembali padaku.” Desisnya penuh penekanan dan ancaman telak untuk Stefa.


            David dengan nakalnya menggerakkan jari jemari itu di balik celana dalam Stefa membuat Stefa bergerak tak nyaman. Tangannya berusaha menepis tangan David dari balik kain celana dalam miliknya.


            “Dasar gila! Kau pria gila tak tahu diri!” umpat Stefa, namun tidak dengan tubuhnya. Tubuhnya seolah mendamba akan sentuhan yang David berikan, Mata yang terpejam seolah sedang menikmati sentuhan David dan meminta lebih jauh lagi.


            “Kau berkata kasar tapi kau menikmatinya.” ejek David dengan jari yang masih bergerak aktif di bawah sana. Stefa menggigit bibir bawahnya agar tak mendesah menjijikan karena sentuhan David.


            Pria itu tak mau menunggu lama lagi atau mendengar umpatan Stefa. Pria itu langsung membungkam bibir Stefa begitu mudahnya dan ******* habis bibir Stefa sampai membengkak. Memaksa Stefa untuk membuka mulutnya dan menelusupkan lidahnya untuk membelit lidah Stefa. Jari jemarinya begitu lihai memporakporandakan bagian bawah tubuh Stefa hanya dengan jari jemari David saja.


            Dengan tak sabarannya juga, David merobek celana dalam milik Stefa dengan sekali tarikan saja membuat wanita itu memekik kembali. Merobek kemeja tipis Stefa membuat semua kancingnya terlepas dan berhamburan ke sembarang arah entah kemana saja itu.


            Sebelum Stefa kembali berontak mempertahankan harga dirinya, David membuka dasi yang sedari tadi melingkar di lehernya yang terasa mencekik dan mengikatkan ke kedua tangan Stefa dan menaruhnya di atas kepala Stefa.


            Pria itu menjilati sisi rahang Stefa dan turun ke leher, menjilat dan menggigit membuat tanda kemerahan hampir memenuhi leher putih Stefa. Warna merah gelap begitu kontras dengan kulit leher Stefa yang putih. Meskipun tangannya diikat, tapi kedua kaki Stefa menendang-nendang mencoba melepaskan diri dari David.


            “Berhentilah bergerak-gerak dan menolak sentuhanku! Aku tahu kau juga menyukai dan menikmatinya, jadi jangan munafik.” David langsung ******* dua gundukan kenyal milik Stefa bergantian yang telah lolos dari pembungkusnya itu. Kedua tangan David bergerak aktif di atas tubuh Stefa, yang satu mencoba memporakporandakan bagian bawah tubuh Stefa. Dan yang satunya lagi meremas gantian memainkan dua gundukan kenyal itu.


            Begitu pula dengan bibir David yang turut bermain ******* dua gundukan kenyal itu, terkadang David membungkam kembali bibir Stefa. Menambah jejak kemerahan itu di atas dua gundukan kenyal. Stefa sudah tak sanggup. Bukan, ia bukan tak sanggup untuk menahan gairahnya lagi.


            Ia tak sanggup David harus memporakporandakan dirinya lebih jauh tanpa ada ikatan apapun di antara mereka. Stefa tahu bahwa David memiliki hubungan dengan wanita lain. Tidakkah David sadar akan perbuatan bejadnya itu? Ia seolah sedang melecehkan Stefa dan mencoba menurunkan kadar harga diri Stefa dengan paksa.


            Entah kekuatan yang berasal dari mana, Stefa menendang ************ David dengan kuat membuat pagutan mereka terlepas. Tangan yang bergerak aktif di bawah sana pun ikut terlepas. Pria itu bangkit dan meringis menahan nyeri di area selangkangannya.


            “Sial! Kau berani-beraninya menendang masa depanku.” Umpat David dengan tangan masih memegang benda yang ada di antara selangkangannya itu.


            Mereka saling berpandangan untuk sesaat. Wajah Stefa sudah memerah dan siap untuk meledakkan amunisi kemarahannya. Ia bersiap untuk menghantamkan tamparan di atas pipi David. Pria itu sudah kembali tegap meskipun selangkangannya masih merasakan denyutan kesakitan yang bersisa. Namun ia berhasil menguasai dirinya kembali.


            “Kau.. Kau pria ******** yang pernah kutemui di dunia ini. Bahkan kau lebih ******** dari pria sialan itu.


Setidaknya dia masih memiliki harga diri sejauh ini meskipun aku tak perduli lagi dengannya. Tapi setelah melihat kelakukan kau yang busuk ini, aku lebih yakin bahwa kau tak lebih buruk dari seekor ****** jalanan.” Stefa menunjuk-nunjuk wajah David dengan telunjuknya.


            Pria itu bergeming mendengarkan segala ucapan penghinaan dari Stefa. Di dalam hatinya ia mencoba menekan emosinya agar tak menghabisi Stefa saat ini juga. Namun sialnya, tamparan keras di pipinya membuat ia tak bisa lagi menahan amarahnya yang sedari tadi ia tekan di dalam sana. Harga diri David terluka karena di tampar oleh seorang wanita pembangkang dan bar-bar.


            Stefa berhasil menampar pipi David dengan keras membuat pipi pria itu merah seketika. Napas Stefa masih memburu karena marah. David menyentuh pipi yang baru saja mendapatkan tamparan dari wanita yang ada di depannya itu dengan tersenyum sinis.


            “Kau akan menyesalinya.” Ucap David penuh ancaman.


            Stefa bergidik ngeri mendengarnya, wajahnya sedikit memucat. Namun ia berhasil menguasai dirinya lagi agar terlihat bahwa ia tak takut dengan ancaman David. David tak bisa lagi menahannya, ia langsung merangsek maju dan kembali membanting tubuh Stefa ke atas sofa dengan sekali dorongan membuat tubuh Stefa terhempas begitu saja ke atas sofa dan memekik terkejut.


            Stefa mencoba bangkit kembali namun David dengan cepat mendorong Stefa kembali membuatnya kembali terlentang. Kali ini ia akan benar-benar menghabisi Stefa sampai ia mencapai kepuasan yang sesungguhnya. Ia tak akan lagi main-main dengan Stefa, ia harus menghabisi wanita itu sesegera mungkin.


            David kembali mengikat kedua tangan Stefa seperti semula. Ia benar-benar merusak pakaian Stefa sampai tak berbentuk, merobek rok ketat milik Stefa dengan tangannya yang berurat itu. David langsung melepaskan seluruh pakaiannya di hadapan Stefa tanpa malu-malu.


            Stefa melotot horor melihatnya, kali ini ia benar-benar akan mampus. Pria itu benar-benar akan membuatnya menyesal sesuai dengan ancaman sebelumnya setelah pria itu mendapatkan tamparan keras darinya. Stefa berusaha berontak dan melepaskan diri namun ia tak bisa sedikit pun. Stefa bisa melihat tonjolan keras nan besar di balik celana dalam yang David pakai saat ini yang sebentar lagi akan dilepas oleh pemiliknya.


            Stefa semakin terkesiap saat pria itu benar-benar sudah telanjang bulat di hadapannya. Mereka sama-sama telanjang bulat saat ini tanpa satu pakaian pun yang menutupi tubuh mereka berdua. Stefa berdoa semoga saja ada seseorang yang menggagalkan apapun yang akan pria itu lakukan padanya saat ini.


            “Kenapa dengan wajahmu? Bukankah kau tadi menantangku, hm? Sekarang kau ketakutan dan baru menyesal karena telah menamparku?” David kembali mencemooh Stefa habis-habisan. Ia tahu wanita yang ada di bawah tubuhnya itu saat ini sedang menggigil ketakutan. Bolehkah Stefa menyesal sekarang? Apakah itu masih berlaku disituasi macam ini?!


            “Kau tak akan pernah melakukan itu padaku pria brengsek!” teriak Stefa dengan kencang membuat David tergelak mendengarnya. Tidak sadarkah Stefa bahwa saat ini mereka sudah sama-sama telanjang? Dan apa barusan? Stefa berkata bahwa David tak bisa melakukan itu, huh? Oh yang benar saja.


            David menunduk dan menggesek-gesekkan *Little *David-nya tepat di depan pintu surganya dunia milik Stefa. Membuat seluruh tubuh Stefa meremang ketakutan, berbeda dengan David seolah begitu menikmatinya. Stefa yakin bahwa pria itu begitu berpengalaman dalam melakukan **** dengan wanita.

__ADS_1


            Srekk...


            “Argghh..” Stefa memekik kesakitan dan air matanya lolos melewati pelipisnya. David benar-benar mengubur *Little *David-nya di dalam milik Stefa yang terasa hangat dan sempit untuknya.


            David menatap Stefa yang sedang terisak dan menahan rasa sakit di bagian bawah.


            “Perawan, huh?!” David menyeringai mendapati ia adalah lelaki pertama yang mengambil kesempurnaan milik Stefa. Ia tak perlu jawaban pasti dari Stefa, karena dengan melihat darah ke luar dari milik Stefa itu sudah menjadi jawaban pasti baginya.


            David mulai menggerakkan pinggulnya memompa bagian bawah tubuh Stefa dengan irama pelan, bahkan sangat pelan dan lembut. David tak akan membuat Stefa melupakan hal ini, maka dari itu ia harus bermain dengan pelan dan lembut. Ia tak memedulikan Stefa yang kesakitan atau kenikmatan yang telah ia lakukan saat ini.


            “Aahhh..” Stefa mendesah masih merasakan sakit di bagian bawah. Air matanya kembali lolos, ia tak menyangka bahwa kesempurnaan tubuhnya akan diambil oleh pria seperti David. Ia selama ini berhasil menjaganya bahkan dari Marshal sekali pun, sial. Keperawanan dan kesempurnaan tubuhnya di ambil begitu saja oleh David.


            Bahkan mereka melakukannya di kantor. Hell! Bagaimana jika tiba-tiba ada orang masuk? Ya meskipun Stefa sangat berharap dari tadi namun tidak lagi kali ini. Jika benar pun ada orang yang tiba-tiba masuk mengganggu aktivitas David, itu semua sudah terlambat.


            “Shit! Kau begitu sempit dan nikmat.” Gumam David dengan suara yang serak dengan mata


yang berkilat penuh gairah. Tubuh Stefa berguncang akibat David yang terus menggempur di bawah sana tanpa henti. Meskipun perlakuannya begitu lembut dan pelan, tetap saja itu membuat Stefa tak terima. Ia benar-benar tak bisa menikmati sama sekali.


            Desahan demi desahan lolos dari bibir David memenuhi seisi ruangan itu hanya dengan desahan penuh kenikmatan disetiap detiknya. Tak membiarkan ruangan itu sunyi sepi walau sedetik saja.


            Dengan tiga kali hentakkan yang dalam dan begitu cepat bahkan terasa menembus dinding rahim Stefa, pria itu akhirnya mendapatkan kepuasan dan kenikmatannya. Ia menyemburkan benihnya di dalam sana tanpa memikirkan apakah nantinya Stefa akan hamil atau tidak.


            David mengubur wajahnya di antara ceruk leher Stefa yang masih terisak menangis. Sapuan napas hangat David menyentuh kehalusan kulit leher Stefa membuat wanita itu semakin merapatkan matanya yang menutup. Bagian tubuh Stefa masih bisa merasakan penuh karena Little David yang masih terbenam di dalamnya.


            “Kali ini kau benar-benar milikku.” Napas David masih terengah-engah saat mengatakan itu. Ia menyentuh perut Stefa dan mengusapnya.


            “Kuharap kau tumbuh di dalam sana agar aku bisa memilikimu seutuhnya.” David mencium perut Stefa kemudian mencabut Little David-nya begitu saja. Stefa kembali meringis karena David yang mencabutnya begitu saja tanpa peringatan terlebih dulu, lubang surga dunianya terasa sakit dan perih. Pria itu kembali mengenakan pakaiannya.


            Ia menelepon asisten pribadinya untuk mengantarkan pakaian baru untuk Stefa. Wanita itu masih sibuk dengan pikirannya yang kalut, mencerna semuanya dengan lamat-lamat tentang apa yang tengah terjadi padanya barusan. Tubuhnya tak ingin bergerak sebentar saja, ia masih telentang di atas sofa.


            Matanya menatap David yang sedang merapihkan pakaiannya namun tidak dengan pikirannya yang sedang menerawang entah ke mana. Biarkan dia begitu sebentar saja untuk saat ini. Setelah selesai merapihkan pakaiannya, David membuka ikatan dasi yang melekat di kedua tangan Stefa dengan hati-hati.


            Ia menutupi tubuh Stefa yang telanjang dengan jas yang sempat ia pakai sebelum ia letakkan di sembarang


tempat saat akan menghabisi Stefa. Berulang kali David mengusap puncak kepala dan kening Stefa. Menatapnya dalam-dalam, ia akan terima jika Stefa akan mencaci makinya setelah ini. Tapi tidak akan membiarkan wanita itu menghilang dari jangkauannya.


            Dua puluh menit berlalu akhirnya asisten pribadi David datang untuk mengantarkan pesanan yang David inginkan. David menyimpan kantong belanjaan di atas meja yang terletak di antara sofa-sofa yang mengelilingi meja itu.


            “Bangunlah, kau harus kembali mengenakan pakaian yang layak!” ucap David kali ini terdengar lebih lembut dari sebelumya yang penuh dengan desisan, geraman dan ancaman.


            Muak mendengar suara David, Stefa langsung bangkit sekaligus meskipun pusat tubuhnya begitu terasa sakit dan perih namun ia paksakan. Ia bangkit dengan susah payah dan meraih kantong belanjaan itu dan memakainya dengan cepat tanpa sepatah kata pun yang ia ucapkan, ia terlalu malas untuk mengucapkan sebuah kalimat saja.


            “Aku akan mengantarmu pulang, biar mobilmu di antar oleh bawahanku.” Ucap David lagi.


            Tak mau basa-basi lagi, Stefa langsung memunguti pakaiannya yang sudah tak berbentuk itu dan memasukkan ke dalam kantong belanjaan tadi.Meskipun selangkangannya terasa sakit dan perih, ia tetap mencoba melangkah dan bergerak. Rencananya ia akan membuangnya di perjalanan menuju tempat tinggalnya agar orang-orang di kantornya tak mencurigai gerak-geriknya itu.


            Ia tak menjawabi ucapan David barusan. Ia langsung meraih tas kerjanya dan mengabaikan David dan membiarkan pria itu mengintilinya dari belakang. Tak sudi satu mobil dengan pria yang telah merampas masa depannya itu. Ia segera turun ke parkiran dan menekan kunci otomatisnya.


            “Sudah kubilang biarkan mobilmu bawahanku yang mengantarnya, kau harus pulang denganku!” David menahan tangan Stefa yang hendak meraih gagang pintu mobilnya. Stefa menatap pria itu dengan wajah datarnya. Tak ada emosi, tak ada kesedihan dan tak ada ekspresi apapun selain wajah datarnya. David pun dibuat heran dengan wanita itu. Tidak sesuai dengan perkiraannya, ia pikir wanita itu akan mencaci makinya seperti yang ada dalam bayangannya. Tetapi yang ada wanita itu hanya berwajah datar dengan mulut yang terkatup rapat.


            “Ayo, ikut ke dalam mobilku!” ajak David lagi.


            Stefa kembali menatap David dengan wajah datarnya itu. “Kau tak perlu merasa bersalah atau merasa bertanggung jawab. Aku akan pulang sendiri.” Stefa langsung melesak masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya.


            David mengetuk-ketuk kaca mobil Stefa agar wanita itu membuka ‘kan untuknya namun yang terjadi Stefa malah menancap gas mobilnya meninggalkan David sendirian di parkiran.


            “Sial! Dasar wanita keras kepala, sok jual mahal sekali dia.” David mengumpat kasar.


            “Sir, mobil sudah siap.” Sopir pribadi David datang menghampirinya, David berjalan lebih dulu dan diikuti oleh sopirnya dari belakang.


            “Pastikan wanita itu tak pergi kemana pun, dan pastikan bahwa ia baik-baik saja. Karena aku tak ingin terjadi sesuatu pada wanita dan calon bayiku.” Titah David pada asistennya.


            Michael membisu mendengar kata bayi. Segila itu kah bosnya? Mendapat perintah untuk menyiapkan pakaian dan mengantarnya sendiri ke ruangan Stefa sudah memberikan penjelasan padanya tentang apa yang dilakukan bosnya itu. Hanya saja ia tak mengerti dengan kata “bayi” itu.

__ADS_1


            Tidak mungkin ‘kan kalau bosnya itu menginginkan anak dari wanita yang tak memiliki hubungan dengannya. Sudahlah! Semua itu bukan urusannya, yang terpenting ia menjalankan tugasnya dengan baik sesuai keinginan David saat ini.


            “Baik, Tuan.” Jawab Michael dengan tegas dan yakin.


__ADS_2