My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 55 Don’t Leave Me


__ADS_3

            Keluar dari pekerjaan utama, berhenti jadi model yang bahkan belum sempat  digeluti sungguh-sungguh, membawa janin berkualitas di dalam rahim ke mana-mana sungguh menyusahkan. Setelah beberapa waktu lalu Stefa meminta Ken untuk menempatkan dirinya di mana pun asalkan tempat itu aman dari jangkauan David. Wanita itu akhirnya memilih tinggal di Jepang untuk sementara sampai waktu yang Stefa butuhkan benar-benar cukup.


            Stefa menolak untuk tinggal satu rumah dengan Ken dan juga Charlote dengan alasan tak ingin merepotkan keduanya. Ia hanya menginginkan sebuah rumah sederhana, tidak terlalu mewah dan tidak terlalu besar asalkan rumah itu cukup nyaman untuk ia tempati nantinya.


            Ken membeli sebuah rumah yang tak terlalu besar namun bisa dibilang memiliki fasilitas lengkap karena mengingat Stefa sedang dalam masa persembunyiannya dari dunia luar. Halaman bagian depan dan belakang yang cukup luas, lahan parkir yang mampu menampung 2 sampai 3 buah mobil sekaligus dengan leluasa. Bahkan di dalam rumah itu memiliki kolam renang yang terletak dibagian belakang rumah itu, satu jalur menuju arah taman belakang.


            Dengan dua kamar tidur di lantai 2 dan satu kamar tidur lagi di lantai 1. Kamar tidur yang akan Stefa tempati


cukup luas dan memberikan kesan hangat dan nyaman untuk pemiliknya. Kamar itu ditata sedemikian rupa agar Stefa lebih leluasa dan tidak merasakan kesepian disaat rumah itu hanya ditinggali oleh Stefa.


            Awalnya Ken dan Charlote menyuruh Brianna untuk tinggal bersama dengan Stefa guna untuk menemani wanita itu di Jepang. Tetapi penolakan Stefa membuat mereka harus mengurungkan niatnya, begitu pula dengan Brianna yang ingin memberikan Stefa waktu untuk menyendiri.


            Ia hanya perlu datang ke sana jika Stefa memang benar-benar membutuhkannya, atau dalam keadaan darurat. Bila perlu Brianna akan datang mengunjungi Stefa untuk beberapa kali dalam sebulan.


            Stefa pergi ke Jepang tanpa ada yang tahu satu pun termasuk Lianne sahabatnya. Bahkan wanita itu tak sempat memberitahu tentang kehamilannya pada Lianne. Memang dari awal ia ingin memberitahu semuanya, hanya saja jika Stefa mengatakan kebenarannya terhadap Lianne atau mengatakan tentang kepergiannya. Takutnya David akan mencari informasi tentang kepergian Stefa pada Lianne.


            Bukannya tidak percaya terhadap sahabatnya, untuk saat ini ia hanya ingin meminimalisir segala bentuk hal yang akan menjurus pada David nantinya. Sehari sebelum kepergian Stefa ke Jepang, Marshal sempat datang ke tempat tinggal Stefa secara diam-diam untuk menemui Stefa.


            Pria itu datang pada Stefa di malam hari dalam keadaan mabuk berat. Meskipun dalam keadaan mabuk berat, pria itu tetap saja masih bisa mengoceh tak jelas dengan mengutarakan segala isi hatinya pada Stefa. Ia berkata bahwa ia sangat menyesal karena dulu pernah menyia-nyiakan Stefa begitu saja dan sudah tertipu oleh perkataan Deborah.


            Stefa hanya bisa menghela napas saat mendengar ocehan tak jelas Marshal pada saat itu. Wanita itu membiarkan Marshal untuk berceloteh sendiri yang pada akhirnya pria itu benar-benar tumbang tak sadarkan diri karena mabuk. Untung Stefa masih memiliki nomor asisten pribadi Marshal dan langsung menghubunginya meminta orang itu untuk segera menjemput Marshal di tempat tinggalnya.


            Tepat tengah malam, asisten Marshal datang

__ADS_1


untuk menjemput sang majikan yang dinyatakan sedang mabuk berat itu. Untunglah


pada saat itu Ken dan Charlote sedang ada urusan di luar sehingga mereka tidak


berada di tempat. Jika mereka benar-benar ada di sana, Marshal sudah habis


dihajar oleh Ken.


***


            “Kau yakin, kau akan baik-baik saja di sana sendirian?” tanya Charlote melalui telepon.


            “Aku akan baik-baik saja, Tante. Lagipula jarak rumah kita tak begitu jauh, aku masih bisa berkunjung ke sana kapan pun begitu juga sebaliknya.” Stefa mencoba menenangkan Charlote agar wanita paruh baya itu tak terlalu khawatir padanya.


            “Terima kasih untuk segalanya, Tante. Sampaikan rasa terima kasihku pada Paman, aku juga menyayangi kalian.” Telepon itu langsung berakhir setelah Charlote menyuruh Stefa istirahat.


            Berita tentang pertunangan David akan dilaksanakan dua hari ke depan yang mana berita itu langsung menyebar luas ke mana-mana. Hati Stefa terasa teriris saat melihat berita itu. Pria sialan itu benar-benar tak ingin bertanggung jawab atas kehamilannya, bahkan setelah Stefa memberitahukan tentang kehamilannya. Pria itu tak ada mencarinya sama sekali, untuk sekadar mengirim pesan pun sepertinya pria itu tak berniat sama sekali.


            Meskipun tak masalah dengan David yang bertanggung jawab atau tidak, setidaknya pria itu merespon tentang kehamilan Stefa saat Stefa memberitahukannya. Sialnya. Betapa bodohnya Stefa karena telah termakan ucapan pria sialan itu. Rasanya menyakitkan mengetahui ayah biologis dari bayi yang sedang dikandungnya tak berniat untuk memperjuangkan mereka bahkan setelah pria itu mengetahui yang sesungguhnya.


            Dosa apa yang telah Stefa lakukan di masa lalunya sampai-sampai Tuhan mempermainkannya sejauh ini. Baiklah, tak apa. Jika Tuhan memang membiarkan ia harus menanggungnya sendiri, maka ia akan melakukannya sendiri. Asalkan bayi itu tak akan pernah meninggalkannya sendiri.


            Stefa menghela napas kembali mengingat berita yang masih marak diperbincangkan di mana-mana tentang

__ADS_1


pertunangan David.


            “Dua hari dia akan resmi bertunangan. Sementara aku dan bayi berkualitasku harus bersembunyi dari dunia


luar agar dia tak menjangkau kita. Heh, pria sialan itu memang terlalu bermulut manis sampai aku pun termakan omongannya. Jika Tuhan sampai mempertemukan kembali aku dengan dia, akan kutendang benda pusaka kebanggaan miliknya!” Seolah Stefa sedang merapalkan janji dan sumpahnya, ia benar-benar bertekad akan melakukan itu jika sampai Tuhan mempertemukannya kembali.


            “Hei, bayi berkualitasku yang mungil!” Stefa menyentuh perutnya dengan kepala menunduk untuk melihat perutnya yang masih terlihat rata itu.


            “Bantu aku untuk kuat, oke?! Aku tak masalah dengan orang-orang yang meninggalkanku satu persatu, tapi jangan dengan kau. Kau bayi kecil berkualitasku yang berharga. Ya meskipun kau dan aku memiliki nasib malang, setidaknya kau akan aman bersamaku. Don’t leave me, okay?!” kemudian Stefa tersenyum dengan tangan yang masih mengusap-usap perutnya sendiri.


            Stefa merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar miliknya dengan mata yang terpejam. Bibirnya mengurai senyuman manis namun tidak dengan matanya. Air matanya tiba-tiba saja turun tanpa permisi pada si pemilik mata. Hatinya masih terasa sakit, begitu sakit, sangat sakit.


            Satu tangannya mengusap aliran air matanya itu dengan cepat. Matanya perlahan kembali terbuka dan air mata itu malah ikut turun kembali membasahi pipi Stefa begitu saja. Air matanya tak bisa berhenti meskipun Stefa mencoba untuk menghilangkan jejak air mata itu. Ia tak menginginkan air mata itu turun mengalir terus menerus, sepertinya air mata itu menginginkan keluar begitu deras untuk mengurangi rasa sesak di dada Stefa.


            “Hei, kenapa aku menangis? Aku ‘kan tak ingin menangis. Dasar air mata bodoh, kau turun begitu saja dengan derasnya! Kau sengaja ingin meledek karena nasib sialku ini, huh? Berhentilah untuk keluar terus menerus seperti ini, mataku bisa sembab karenanya!” Stefa memaki air matanya sendiri seolah ia sedang berbicara dengan perwujudan dari air mata itu.


            Stefa tertawa dalam keadaan air matanya yang tak mau berhenti. Ia persis seperti orang gila, tertawa tapi


menangis. Oh, bayi berkualitasnya yang begitu malang. Bahkan ia tak memiliki waktu untuk bermanjaan dengan ayah kandungnya sendiri. Pria itu malah akan bertunangan dengan wanita konglomerat setengah bangsawan itu sebentar lagi.


            Bayi mungil berkualitasnya yang malang. Seberapa pun berkualitasnya bayi mungil itu, tetap saja ia akan lahir tanpa seorang ayah di sisinya. Stefa hanya berharap bayi mungil itu berkualitasnya itu tetap bertahan sampai akhir, menunjukkan pada dunia bahwa mereka baik-baik saja tanpa mereka.


            Mereka yang telah menyakitinya dan membuat mereka sampai seperti saat ini akan menyesal melihat mereka akan baik-baik saja nantinya. Stefa yang mulai merasakan mual-mual tak terkendali memang sedikit kesusahan sampai Stefa sulit untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya.

__ADS_1


            Namun, ia tetap harus menjaga tubuhnya dan juga bayi mungil berkualitasnya harus tetap mendapatkan asupan makanan agar tetap menjadi bayi berkualitas.


__ADS_2