
Sesuai dengan janjinya, Revaldo kembali mengantarkan Stefa ke Hotel sebelumnya. Setelah Judith datang
di kediaman pribadi milik Revaldo, tanpa perlu basa basi lagi Revaldo langsung
mengantarkan mereka kembali. Judith yang tidak tahu asal ceritanya, dia menatap
heran pada Stefa untuk meminta penjelasan dan di balas dengan gelengan kepala.
Revaldo sengaja tidak membawa kendaraan pribadinya, sehingga saat ini mereka bertiga berada dalam
satu mobil yang sama. Mobil yang biasa sering mengantar jemput Stefa dan
Judith, kini bertambah satu penumpang, Revaldo.
Untuk memecah keheningan diantara mereka bertiga, akhirnya Revaldo membuka suara terlebih
dahulu.
“Aku akan menyiapkan Hotel baru untuk kalian tinggal selama beberapa bulan lagi disini.”
Stefa yang notabenenya duduk di samping Revaldo langsung menolehkan kepalanya ke arah Revaldo.
“Tenang saja, Hotel itu juga masih milikku. Kali ini tidak akan ada lagi kejadian yang sama dengan
sebelumnya. Aku akan menyuruh beberapa orang untuk menjaga ketat di area sana.”
Ucap Revaldo yang kali ini membuat Stefa dan Judith malah mengangakan mulutnya.
“Tidak perlu seperti itu, Mr. Revaldo. Kami tidak perlu penjagaan seperti itu, semua akan baik-baik
saja.” Jawab Stefa dan diikuti anggukkan kepala Judith yang sedang duduk di
samping sopir. Meskipun anggukkan kepalanya belum tentu bisa di lihat oleh
keduanya, tapi setidaknya Judith menyetujui dengan apa yang Stefa ucapkan
barusan.
“Aku tidak jamin bahwa orang itu tidak akan kembali lagi. Jadi aku lebih baik memberikan penjagaan
ketat untuk kalian.”
“Tapi....”
“Tidak ada penolakkan, Ms. Stefa!” ucap Revaldo penuh penekanan dengan kalimat terakhirnya yang
menyebutkan nama Stefa.
Stefa hanya bisa menghembuskan nafasnya berat. Dia merasa tidak perlu untuk mendapatkan
penjagaan ketat. Stefa sangat yakin jika pria sialan itu tidak akan mencarinya
kembali. Dia seorang bos, seorang pemimpin dari sebuah perusahaan yang cukup
besar di London. Tidak mungkin dia akan meninggalkan perusahaannya untuk
berlama-lama di Indonesia.
Sampai mereka tiba di Hotel, mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Pria tampan dengan lekuk
tubuhnya sempurna, dibalik baju yang di kenakannya sudah pasti ada perutnya
yang kotak-kotak sempurna disana.
“Mr. David?” gumam Stefa pelan saat melihat pria itu adalah bosnya sendiri. Bos besarnya sedang
berada di Indonesia. Untuk apa?
David berjalan mendekati mereka bertiga. Mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan
Revaldo.
“Selamat siang, Mr. Revaldo. Saya David, David Fritz.” David memperkenalkan dirinya pada Revaldo
__ADS_1
dengan mengulurkan tangannya.
Ulurran tangan itu disambut baik oleh Revaldo.
“Selamat siang, Mr. David. Saya Revaldo Gunawan. Senang bertemu dengan anda!” balas Revaldo dengan
memperkenalkan dirinya dengan bibirnya yang tersenyum ramah.
“Mr. David, kapan anda datang?” tanya Stefa mewakili pertanyaan yang ingin di tanyakan oleh Judith.
“Oh, Stefa, Judith. Aku baru saja sampai.”
Awalnya, David memang berencana berangkat ke Indonesia keesokkan harinya saat Judith memberitahukan
bahwa telah terjadi sesuatu dengan Stefa. Namun karena rasa tidak sabarannya
sudah mengalahkan dirinya, akhirnya David memutuskan untuk berangkat pada hari
yang sama setelah menerima panggilan telepon dari Judith.
“Dimana anda akan menginap, sir?” tanya Judith kali ini.
David diam seolah sedang memikirkan dimana dia akan menginap. Sampai akhirnya dia mengatakan
untuk menginap di Hotel yang sama dengan Stefa dan juga Judith. Mau tidak mau,
mereka harus memesan Hotel berbintang 5, karena tidak mungkin seorang bos besar
harus menginap di Hotel bintang 4 yang sama seperti mereka.
Setelah memasukkan baju-baju dan barang lainnya ke dalam koper, Stefa segera meninggalkan kamar
itu. Mengetuk pintu kamar Judith yang berada di samping, dan ternyata Judith
pun sudah selesai dengan barang-barangnya.
Mereka segera turun ke bawah, karena David dan juga Revaldo sedang menunggu mereka di restaurant. Terlihat dua pria yang memiliki kadar ketampanan di atas rata-rata sedang terlibat obrolan ringan.
David sempat menanyakan perihal kejadian yang menimpa Stefa, namun Revaldo yang
“Maaf, kami terlalu lama.” Ucap Stefa memotong pembicaraan kedua pria tampan itu saat dirinya dan Judith
sudah sampai di dekat mereka.
David dan Revaldo sama-sama menganggukkan kepalanya berbarengan. Jangan lupakan senyuman Revaldo
yang selalu terlihat menawan.
“Silahkan, kalian duduk! Kalian bisa memesan makanan terlebih dahulu!” Revaldo mempersilahkan
kedua wanita itu untuk duduk bergabung bersama mereka.
“Tidak perlu, Mr. Revaldo. Kami akan langsung ke Hotel yang baru, dan sepertinya Mr. David butuh
istirahat secepatnya.” Jawab Stefa.
“Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan mengantarkan kalian semua ke Hotel yang baru, aku sudah meminta
salah satu karyawanku disana untuk menyiapkan kamar yang pantas untuk kalian.
Dan untuk Mr. David, kamar anda sudah kami aturkan juga.” Terang Revaldo. Dan
david hanya mengangguk saja.
“Kalau begitu, mari kita berangkat!” ajak David.
Mereka berempat segera meninggalkan Hotel itu, dan memasuki mobil. Judith dan Stefa menaiki mobil yang
biasa mereka gunakan, sementara David dan Revaldo di mobil mewah yang sama.
Sebenarnya, Revaldo tidak rela berpisah mobil dengan Stefa. Hanya saja untuk
menghargai David, jadi dia memutuskan untuk menggunakan mobil yang sama dengan
__ADS_1
David.
Setibanya di Hotel yang baru, mereka disambut baik oleh seluruh petugas Hotel disana. Barang-barang
milik David, Stefa dan Judith sudah di antar ke kamar masing-masing. Setelah
semuanya sampai di Hotel itu, Revaldo segera berpamitan untuk kembali ke perusahaan
utamanya karena harus menghadiri rapat yang tidak bisa ia tinggalkan.
“Stefa, aku harus segera ke kamarku untuk membereskan semua barang-barangku. Karena lantai kita
berbeda, jika kau memerlukan bantuanku jangan lupa untuk menghubungiku, oke!”
ucap Judith yang kenyataannya kamar miliknya dan Stefa ternyata berbeda lantai.
“Oke. Aku akan menghubungimu jika aku memerlukan bantuanmu. Kau segera lah beristirahat! Aku
akan naik juga.” Balas Stefa.
Judith meninggalkan Stefa dan David berdua yang masih berada di dekat meja resepsionis. Stefa yang
menyadari bahwa dirinya telah satu lantai dengan David, hanya bisa menghela
nafasnya saja. Akan sangat canggung jika mereka harus satu lantai yang sama. Meskipun
mereka tidak tinggal di dalam kamar yang sama, tapi mendengar bahwa seorang
bawahan dan atasan berada di lantai yang sama nantinya pasti akan membuat
sesuatu lebih canggung.
Stefa dan David segera memasuki lift dan menuju lantai dimana kamar mereka telah disiapkan. Di lantai
itu, hanya ada dua pintu saja yang terlihat setelah Stefa dan David sampai.
Rupanya Revaldo memilihkan tipe kamar yang paling mahal disana, President Suite.
Di lantai itu, hanya ada dua pintu kamar yang masing-masing di balik pintu kamar itu memiliki
fasilitas yang sangat mewah dan lengkap. 1 pintu yang menunjukkan disana adalah
kamar milik David, dan yang satunya lagi merupakan milik Stefa.
Kamar yang akan Stefa tempati posisinya cukup dekat dengan lift dan berada di depan, sementara kamar
milik David berada di ujung lorong besar itu. Keduanya berpisah setelah Stefa
memasuki kamar miliknya. Ia merasa terkejut dengan segala bentuk fasilitas yang
ada di dalamnya.
“Waaah, rupanya dia rela menghamburkan uangnya untuk menyewakan kamar ini untukku. Dasar orang
kaya.” Gumam Stefa sambil menarik kopernya masuk ke dalam.
Sebelum Revaldo meninggalkan mereka bertiga di Hotel baru, Revaldo sudah mengatakan bahwa
tagihan kamar di bebankan kepada perusahaan milik Revaldo. Dia mengatakan
sebagai bentuk permintaan maafnya atas kejadian yang menimpa Stefa.
Awalnya David menolak, karena itu adalah tanggung jawabnya. Tapi Revaldo tetap memaksakan
keinginannya. Meskipun Judith tidak di tipe kamar yang sama dengan kedua
atasannya, tapi tetap saja kamar yang ditempatinya termasuk ke dalam tipe kamar
yang cukup mahal dan mewah.
Sepertinya Revaldo benar-benar pria tampan yang kaya dan suka membuang-buang uangnya hanya untuk
sebuah kata maaf. Baiklah, jangan dibuang sia-sia kebaikan Revaldo begitu saja.
__ADS_1
Nikmati saja selama itu tidak merugikan mereka.